Gadis Di Club Malam Itu

Gadis Di Club Malam Itu
Kamu Hamil?


__ADS_3

UDAH FOLLOW KAN? JANGAN LUPA LIKE!!!


Gue mematung untuk sesaat. Lagi, Alexa selalu hadir dengan caranya yang tak pernah ada kata permisi. Gadis itu menatap sendu, ia berlari dan memburu pelukan yang tak sedikitpun gue balas.


Tak ada pertanyaan, tak ada pula rasa penasaran. Terlalu muak untuk dapat bercengkrama dengannya. Mengingat bagaimana ia memperlakukan gue dahulu, juga mendorong Caca hingga tercebur ke kolam tempo hari. Muak sekali!


"Lexa ...." Gue melerai pelukan itu.


"Papa, Papa masuk rumah sakit, Vin. Ditusuk orang suruhan laki-laki itu, laki-laki yang minta ketemu sama kamu."


Apa peduli gue? Selama ini mereka hanya memikirkan egonya sendiri. Dengan tenang, kaki ini melenggang menuju meja kasir, tak menghiraukan meski Lexa menangis.


"Vin! Papaku sakit karena kamu! Kamu terlalu egois untuk sekedar berhadapan dengan Ayah kamu sendiri!"


Geram, mengepalkan kedua tangan hingga mencengkeram erat troli yang gue dorong di depan mata. Bisa-bisanya ia menyalahkan gue atas kesalahan yang tak pernah gue buat.


"Lo terlalu pengecut, Vin! Pengecut untuk menghadapi kenyataan bahwa bokap lo seorang kepala mafia!"


"Cukup, Lexa!"


Gadis itu tersentak. Ini kali pertamanya gue melepaskan amarah terhadap dirinya. Seketika bendungan di matanya itu kembali meluncur tanpa permisi. Entahlah, kini rasa iba yang dulu sudah tidak ada lagi, yang tersisa hanyalah rasa benci, tidak peduli apapun yang terjadi padanya.


Tuhan selalu memberikan posisi manusia sesuai dengan apa yang ia perbuat. Ya, dan untuk saat ini gue merasakan itu.


Dan sorry, Lexa. Posisi bokap lo dalam keadaan sekarang, itu memang pantas dan tepat untuknya. Untukmu juga.


Juna telah lama tidak muncul setelah ia pamit ke toilet beberapa menit yang lalu. Kondisi mini market memang tengah dalam keadaan ramai, mungkin di toilet juga agak antre, sama seperti jajaran orang-orang yang hendak membayar belanjaan mereka saat ini.


Beberapa orang di sana sing melirik, bahkan berbisik yang gue yakin itu membicarakan apa yang Lexa katakan barusan.


Lelucon apa ini? Gue anak seorang kepala mafia? Konyol banget!


Keadaan langkah ini menjadi linglung dengan segala pikiran yang mengganggu. Juna datang tiba-tiba. Entahlah, mungkin bekas kecelakaan kemarin masih tersisa di kepala gue. Ada sedikit penyesalan kenapa harus dipertemukan dengan orang itu? Hadi Yanwar, kini hadir seolah menjadi boomerang bagi kehidupan gue.


"Vin." Juna menopang tubuh yang hampir ambruk ini.


"Sorry, gue agak pusing."


Lepas dari tempat itu, di sepanjang perjalanan tak ada kata yang terucap. Pikiran ini melayang, agak tidak mengerti dengan cara Hadi Yanwar memperlakukan gue. Kenapa sampai segila ini? Argh!


Sebisa mungkin menyembunyikan keresahan ini dari Caca yang mematung pada saat kami sudah sampai di depan unit apartemen. Gadis itu membukakan pintu, tanpa kami ketuk terlebih dahulu.


"Abang," sapanya meraih semua belanjaan kami.


"Gak usah, sayang. Biar Abang aja." Gue mencegah.


Caca menoleh ketika gue mengucapkan itu. Entahlah, ungkapan itu seolah meluncur saja dengan sendirinya. Caca tersenyum, ada rona merah merona di wajahnya yang sangat menggemaskan itu.


"Vin," ujar Juna. "Gue lagi ada urusan dulu di luar. Kalian, gue tinggalin gak pa-pa kan?"


Kami berdua mengangguk bersamaan.


"Sini, Abang aja. Kamu istirahat ya."


"Emh, Abang ... ini masih pagi, aku juga belum lakuin apa-apa sejak Bangun tidur."


Gue meraih tubuh Caca, memeluknya dari belakang. Ini kenyamanan yang selalu dapat menenangkan di saat kepala ini mulai pusing dengan urusan kehidupan. Lelah, dan Caca pengobatnya.


Tanpa sadar, tangan ini mengelus area perutnya yang saat ini tampak lebih gemuk dari terakhir kali kami bertemu di Bali.


"Kamu gemukan?"


Caca menoleh, lagi ia tampak kikuk dengan pertanyaan ini. Apa mungkin memang cewek kerap seperti itu?


"Abang ganggu kenyamanan kamu?"


Ia menggeleng. Melepaskan genggaman yang semula stay di perutnya.


"Kamu hamil?"

__ADS_1


"Abang."


"Kamu hamil, Ca?"


Wajah gue berseri meski ekspresi Caca tak seperti yang gue harapkan. Entahlah, yakin sekali jika dia tengah mengandung. Tapi ....


"Anak Abang kah? Ca? Ini anak Abang kah?"


Sesaat ia menunduk, lalu dengan ragu mengangguk pelan sekali. Ah, senang sekali mendengarnya. Benih itu telah tertanam dengan sempurna pada tempat yang gue harapkan sejak lama.


"Kamu bener, sayang? Kamu gak bohong kan?"


"Iya, mudah-mudahan Abang gak marah ya."


"Marah? Kenapa Abang harus marah? Abang senang, bahkan sejak lama Abang berharap hanya kamu yang jadi Ibu dari anak-anak Abang kelak."


"Tapi ...." lanjut gue kemudian. "Abang sendiri yang takut kamu tidak mau. Kamu selalu nolak Abang kan?"


Tak ada jawaban. Caca hanya terdiam yang entah menikmati atau apa. Gue kembali memeluk gadis itu, bahkan membelai perutnya setelah bertekuk lutut kemudian mengecup lembut dengan penuh harap.


"Sehat terus, nak. Papa tunggu kamu di sini," bisik gue kemudian.


Caca tergelak. "Abang lucu," ungkapnya. "Bayinya belum bisa denger, Abang."


"Oh ya? Abang kira udah."


"Hihi, kan masih berbentuk darah, belum ada nyawanya."


"Masih rentan dong?"


Caca mengangguk.


"Kalo gitu, kamu jangan terlalu lelah, biar Abang yang ngerjain semuanya. Kamu duduk ya, istirahat."


"Ck, ish Abang. aku aja."


"Gak boleh, duduk aja."


Sesosok Alvin junior atau bahkan mungkin Caca junior akan hadir sebagai pelengkap hidup kami. Uh, bagaimana ini? Haruskah segera menikahinya? Ah, gue sampai salah tingkah tak tahu apa yang harus dimulai saat ini.


"Haha, Abang kenapa sih?" Gadis itu tergelak.


"Abang bingung." Gue menggaruk tengkuk tak gatal. "Kita sebenarnya harus ngapain?"


"Haha, Abang lucu banget. Makanya jangan nyuruh aku diam aja, kan gak faham apa pekerjaan cewek." Ia memanyunkan bibirnya, gemas sekali.


Gue hanya nyengir kuda yang pasti terlihat sangat konyol di depannya.


...


"Bagaimana?" tanya gue pada Karina yang langsung datang setelah dihubungi.


"Kandungannya sehat." Ia menyampirkan stetoskop pada lehernya. "Gue udah siapin beberapa vitamin yang harus ia minum. Lo jangan lupa, jadi calon Ayah yang siaga ya, jangan sampai ia kecapean."


"Pasti."


"Emh, kalo bisa ... dia harus kontrol kesehatan sebulan sekali. Biar nanti gue yang sengaja datang ke sini ya." Karina menyodorkan beberapa obat.


"Kalau begitu, gue pergi dulu ya, kebetulan ada piket di rumah sakit."


"Oke. Thank's ya, Karina."


"Buat lo. Kita kan sahabat."


Pamit, Karina sudah berlalu seiring dengan tertutupnya pintu unit tempat tinggal gue. Ada terbersit rasa tidak percaya jika sebentar lagi gue akan menjadi seorang Ayah. Bagaimana cara melamar gadis itu ya? Emh ... aduh, mendadak gue bingung sendiri.


"Abang ...."


"Hem?"

__ADS_1


"Ada yang dipikirkan?"


"Hem? Tidak." Menggeleng cepat.


"Gak usah bohong, aku tahu Abang lagi gak nyaman."


"Hah? Emh, enggak. Abang gak papa. Cuman ...."


"Cuman?"


"Abang takut kamu gak mau nikah sama Abang."


"Nikah?" Caca tersenyum geli.


"Kenapa?"


"Aku gak kepikiran aja buat ke sana."


"Tapi kita harus mikirin anak kita juga, sayang ... dia butuh pengakuan di mata hukum."


Caca tersenyum. "Kalo Abang emang serius mau nikahin aku, baiklah, aku bersedia."


"Hah? Kamu serius?"


"Iya."


Gue berjingkrak girang hingga tangan ini sedikit terbentur ke samping meja ruangan itu. Ish, sakit sebenarnya, tapi pura-pura untuk tidak apa-apa meski Caca menatap khawatir. Terlalu gengsi jika harus meringis hanya karena hal seperti itu.


"Oke, kita cari cincin? Sekarang?"


Caca mengangguk mantap.


...


Suasana mall memang agak ramai kali ini. Tak ada lagi sembunyi-sembunyi untuk menutupi kehadiran kami di depan publik. Rasanya berada di tempat ramai memang lebih aman dari kejaran para budak mafia itu. Satu persatu toko perhiasan di mall itu gue datangi bersama Caca. Beberapa kali gadis itu menggelengkan kepala tanda tidak ada satu pun model perhiasan yang ia suka.


Hingga ia terhenti dan mungkin terpesona pada salah satu ring jari dengan permata tunggal di tengahnya tersenyum dengan indah.


"Abang ...."


"Hem?"


Gue merangkulkan tangan di pinggangnya yang ramping. Sebal juga dengan mata jelalatan seorang laki-laki yang sedari tadi menatapnya dengan penuh nafsu. Biarlah semua orang tahu jika gadis ini hanya milik gue seorang.


"Yang ini?" tanya gue.


Ia mengangguk.


Bentuknya tidak terlalu mewah, tak pula sederhana. Hanya saja memang tampak serasi dengan jemarinya yang indah.


"Yakin mau yang ini?"


"Iya."


"Ada couple-nya gak, Mbak?" tanya gue pada penjaga toko itu.


"Ada, Mas. Sebentar ya."


Ia kemudian mengambilkan pasangannya yang kemudian terasa pas pula di jari manis gue. Memang cocok, tidak terlalu berlebihan pula untuk jari laki-laki.


Sepasang cincin telah dikantongi. Tinggal memikirkan masalah undangan, gaun pengantin, dekor, katering serta gedungnya. Ah, bagaimana ini? Gue terlalu buta akan hal itu.


"Abang, aku gak mau pernikahan yang terlalu mewah," ujar gadis itu menoleh.


"Tapi pernikahan hanya terjadi satu kali dalam seumur hidup, sayang."


"Gak pa-pa, yang penting sakralnya." Ia menggenggam jemari gue dengan lembut.


Sesaat kami berniat untuk mampir ke rumah, niatnya ingin mengambil beberapa barang yang masih tersisa di sana. Namun, kedatangan kami sudah disambut oleh Laksmi yang berdiri sambil memegang koper miliknya.

__ADS_1


***


Next


__ADS_2