Gadis Di Club Malam Itu

Gadis Di Club Malam Itu
Permainan yang Membingungkan


__ADS_3

UDAH FOLLOW KAN? JANGAN LUPA LIKE!!!


Tidak banyak yang bisa gue ceritakan dari pekerjaan. Karena sejatinya Aslan pun tidak banyak memberi masalah dalam kehidupan gue.


Kami bahkan kerap terlihat seperti saudara. Kadang pula memiliki ikatan batin yang kuat. Bukan gue mungkin, tapi dia. Karena selalu datang pada saat masalah itu menghadang. Aslan seolah tahu ke mana dan di mana rawannya perjalanan gue.


"Kamu sedang mencari gedung untuk pernikahan kan?"


"Iya. Sebenarnya ... mungkin tak perlu mewah."


"Saya ada beberapa rekomendasi." Ia menyerahkan tab dengan beberapa sample gedung melindungi pelaminan.


"Ah, ini terlalu mahal sepertinya. Biar nanti saya cari yang lebih terjangkau saja."


"Kamu tak perlu memikirkan apa pun, biar nanti saya yang urus semuanya. Yang penting, jaga istri kamu. Jangan buat dia terluka."


"Emh, Pak. Mohon maaf. Kenapa anda selalu membantu saya ketika dalam kesulitan? Dan ... bahkan anda selalu tahu kalau saya sedang dalam bahaya."


Sesaat ia memperbaiki posisi duduknya. "Di rumah mungkin kamu bukan siapa-siapa, tapi di sini kamu adalah karyawan saya. Dan kamu selalu mengalami masalah ketika pulang dari kantor bukan? Tentu perusahaan bertanggung jawab penuh atas keselamatan pekerjanya. Kamu baca kontrak kerjanya kan? Semua tertuang di sana." Dengan tenang ia mereguk minumannya.


Benar pula. Tapi ... apa memang segila itu hingga harus mengorbankan nyawa hanya demi karyawan biasa saja?


"Sudahlah, terkait dengan semua fasilitas yang kamu dapatkan pun memang sudah tertuang di kontrak kerja. Jadi ... nikmatilah."


Sebuah notifikasi tiba-tiba saja mengganggu makan siang kami.


[Nak, besok Papa tunggu kamu di tempat biasa. Ada yang mau Papa bicarakan sama kamu]


Cukup membacanya melalui layar ponsel tanpa membukanya sama sekali. Masa bodoh, ia terlalu jahat dengan ingin menyingkirkan Caca untuk mengambil hati itu sebagai ganti hati anaknya. Egois sekali.


"Pemimpin Yanwar?" Pertanyaan Aslan cukup membuat gue tercekat.  Ia bahkan bertanya tanpa memalingkan wajahnya dari ponsel miliknya.


"Temui saja ...." lanjutnya. "Dengarkan apa yang ingin dia katakan, lakukan recording pada ponselmu. Jika urusan perusahaan, saya akan turun tangan sendiri. Namun, jika itu urusan pribadi kalian, silahkan selesaikan."


Aslan bangkit dari duduknya. Ia membenarkan jasnya sebelum menaruh dua lembar uang seratus ribu, lalu kemudian berlalu tanpa pamit.


Jika Aslan menjadi bahan curiga, rasanya terlalu jahat. Entahlah, gue sendiri kadang kerap terjebak ke dalam prasangka yang tak semestinya.


Tapi ... Juna. Sampai saat ini ia masih bungkam dengan kenyataan kenapa bisa berada di sana.


...


Gue membuat janji di luar bersama Juna setelah ia mengantarkan Laksmi ke bandara. Tepatnya di sebuah cafe, dekat bandara itu.


"Jadi ... lo udah curiga, Vin?" Ia mengaduk minuman di hadapannya.


"Lebih tepatnya ... iya. Gue sendiri tidak tahu kenapa lo begitu sering ke luar hingga berhari-hari tidak pulang. Gue sendiri tidak tahu pekerjaan apa yang lo lakukan hingga mampu menyewakan gue sebuah apartemen. Gue sendiri tidak tahu, kenapa lo bisa selamat dari tembakan itu, juga ada pada saat seseorang nyaris merenggut nyawa gue. Dan ... yang paling gue sendiri tidak mengerti, apa gue kenal lo atau tidak, Jun. Lo seperti orang asing akhir-akhir ini." Lirih, rasanya tak sanggup lagi untuk seakrab dulu.


"Sebenarnya ... ketika kejadian waktu itu ...."

__ADS_1


POV AUTHOR


Mata Juna menerawang ke ingatan beberapa bulan silam. Ketika ia tengah berada di ambang kematian, sulit sekali rasanya lolos dari maut kali ini. Dada yang kian terasa sesak, bahkan telah memberikan efek kebas hingga salah satu tangannya sulit lagi tergerak dengan sempurna.


Juna memejamkan mata rapat-rapat, siap menerima keyakinan jika maut menjemputnya saat ini. Tiba-tiba ....


DUAR!


Suara tembakan itu terdengar beberapa kali. Suara mobil Alvin pun telah lama lenyap dari pendengaran. Ia rasa tidak ada lagi peluru yang menembus hingga serasa membakar daging di tubuhnya untuk ke sekian kali, tapi ... tidak mungkin pula peluru itu mengarah pada Alvin.


Ternyata orang tambun yang semula ingin merenggut nyawanya itu sudah terkapar dengan beberapa tembusan peluru di kepalanya. Nahas, dia langsung tewas.


Seseorang berdiri masih mengepul sisa tembakan di ujung senjatanya, ia menatap dengan tenang. Menadahkan tangan untuk membawa Juna pergi dari tempat itu.


POV Back Alvin


"Dialah Aslan," ujar Juna.


"Jadi ...."


"Selama ini gue jadi bawahan dia buat jaga lo."


"Kenapa gue?"


"Karena ... gue sendiri gak tahu apa alasannya." Juna menghirup minuman yang sejak tadi ia aduk menggunakan sedotan stainless di hadapannya.


"Kenapa lo gak nanya?"


"Gue masih heran, ada dua orang yang hadir secara tiba-tiba dalam kehidupan gue. Semuanya memberi kesan buruk. Gue sendiri gak tahu, mana yang memang menjaga, dengan mana yang sekedar memanfaatkan."


Juna menepuk pundak gue. "Vin, menurut gue, lo cukup ikuti kata hati dan jalani semuanya."


Entahlah, takdir sepertinya memang tengah mempermainkan gue.


Sesaat teringat pada ajakan Hadi Yanwar ketika kemarin. Ini memang masih terbilang pagi, bahkan penghuni cafe baru beberapa orang yang terlihat.


Masih menimbang, apakah perlu untuk gue penuhi? Tapi ... pesan Aslan sendiri memang masuk akal.


Tangan ini mulai sigap membuka pesan yang kemarin sempat gue abaikan.


^^^[Ketemu jam berapa?]^^^


Langsung terkirim dan menimbulkan centang dua biru.


[Sekitar 30 menit lagi. Papa sedang di perjalanan]


Muak sekali membaca sebutan Papa itu darinya. Sekitar tiga puluh menit lagi, memang tempat yang sudah dijanjikan tidak terlalu jauh dari sini. Bisa sesaat untuk menghabiskan minum dan sarapan pagi gue supaya tidak ada basa-basai lebih lama ketika bertemu nanti.


...

__ADS_1


"Mobil baru?" tanyanya ketika kami bertemu di depan cafe dan melirik kendaraan yang gue punya.


"Pinjam, punya teman."


Matanya seperti tengah menyelidik, menatap dengan begitu intens. Hingga akhirnya ia tersadar ketika tangan ini menepuk bahunya.


Hadi Yanwar. Seseorang tidak akan mengira di balik wajah ramahnya mampu menyimpan sisi gelap darinya. Beberapa kali anak buah Yanwar itu nyaris merenggut nyawa gue. Apa seperti ini yang dinamakan seorang kasih sayang Ayah?


"Bagaimana dengan pekerjaan kamu? Nyaman?" Kami sudah saling berhadapan pada meja bundar dan gue siap membuka record tanpa ia tahu.


"Ya, seperti yang anda lihat."


"Kamu tidak berniat pindah ke perusahaan Papa? Mengelola semuanya sendiri."


"Maaf, Om. Sejak kecil saya memang sudah terbiasa melakukan semuanya sendiri."


"Nak, saya ini papamu. Kenapa harus seperti ini?"


Gue tersenyum kecut. Papa? Apa yang istimewa dari sebutan Papa?


"Kamu mau pesan sesuatu? Untuk sarapan pagi misalnya."


"Tidak, terima kasih. Saya sudah sarapan tadi, sebelum ke sini."


"Nak, kenapa kamu seperti ini sama Papa? Saya papamu, orang yang saat ini ada untukmu, hanya Papa."


"Yang saya tahu seorang Ayah akan senantiasa menjaga keselamatan anaknya. Bukan begitu, Om Hadi Yanwar?"


Dia mungkin lelah, bahkan terdengar dari cara dia membuang nafas. "Apa yang kamu maksud? Selama ini Papa kerahkan anak buah untuk menjagamu. Tapi kenapa kamu lebih memilih jadi karyawan kecil di perusahaan orang lain daripada Perusahaan papamu sendiri?"


"Jadi orang yang sering menghadang dan hendak mencelakai saya itu anak buah anda?"


"Mencelakai?" Wajahnya mengernyit. Entah itu sungguh-sungguh atau sekedar menutupi kesalahannya semata.


"Ya, beberapa kali. Bahkan terakhir kali mereka tidak segan untuk menggunakan senjata api demi membunuh saya." Bergetar suara gue. Mengingat kembali kecelakaan yang membuat mobil terbalik hingga mengalami cedera di bagian kaki untuk beberapa minggu.


"Itu tidak mungkin! Mereka Papa bayar untuk mengawalmu."


"Mengawal?" Gue tersenyum pahit. "Mengawal hingga membuat mobil saya terbalik dan nyaris mati?"


"Tidak mungkin."


"Tapi itu kenyataannya. Saya harap anda tak mengganggu kehidupan saya lagi. Terutama Anastasya, calon istri saya. Karena perlu anda tahu, Caca tengah mengandung anak saya, darah daging saya, pun darah daging anda, jika memang benar anda menganggap saya putra anda."


Gue bangkit dan berlalu. Tak ingin berlama-lama dalam permainan yang menyulitkan.


"Alvin!" serunya. "Adikmu kritis, dia sakit, Vin."


***

__ADS_1


Next


__ADS_2