
UDAH FOLLOW KAN? JANGAN LUPA LIKE!!!
Orang itu bersama kedua anak buahnya kembali mencecar para begundal dengan pukulan dan tendangan yang sungguh seperti dalam film. Tak perduli meski jas parlente melekat di tubuhnya, seolah bebas saja dalam bergerak tanpa hambatan.
Keren!
Gue dan Juna hanya memandang takjub, tapi kemudian kembali bergerak gesit melawan sisa dari kelompok pembawa pentungan itu pun sudah terlihat kewalahan.
BUK!
Pukulan terakhir berhasil membuat mereka berlari tunggang langgang.
Mampus lo!
Orang yang tadi membantu itu berjalan menghampiri gue. Ia tampak ramah meski memiliki garis wajah yang dingin dan datar.
"Terima kasih," ujar gue dalam keadaan ngos-ngosan.
"Ya, tidak masalah."
"Sepertinya saya pernah melihat anda di perusahaan Surya Compeny," lanjutnya.
"Oh, iya. Memang beberapa bulan yang lalu, saya seorang karyawan di sana."
"Ini kartu sama saya." Ia menyodorkan sebuah kartu dengan tulisan berwarna silver. Mungkin orang ini sangat menyukai kemewahan.
"Anda bisa datang ke kantor kami. Ada posisi yang cukup tepat untuk anda tempati."
Gue ternganga. Baru saja ia membantu melawan para preman itu, sudah kembali membantu pula dalam masalah keuangan. Siapa dia sebenarnya?
"Anda ...."
"Saya tahu kinerja anda selama di perusahaan terdahulu. Sudah sejak lama meminta anda untuk dipindahkan, tapi Pak Surya tak pernah menyetujui."
Gue tersenyum kecut. Malah laki-laki itu dulu menghempaskan gue dari perusahaan, tanpa perasaan.
"Saya tunggu anda besok pagi." Ia menepuk lengan gue dan berlalu.
Terlihat sepintas matanya melirik ke arah pintu mobil yang baru saja terbuka dan muncul Caca bersama Laksmi dari sana. Laki-laki itu menghentikan langkahnya, matanya berbinar menatap Caca.
Gue seperti mendengar ia sedikit bergumam, "Anastasya ...."
"Tuan." Nampaknya gue mengagetkan orang itu.
ASLAN PRATAMA. Itulah nama yang tertera di kartu namanya. Terlihat gagah, seperti orangnya.
"Emh ...." Ia terlihat gugup.
"Anda mengenalnya? Gadis ini." Gue merangkul Caca.
"Kami hanya sekali bertemu, itu pun secara kebetulan. Oh ya, selamat atas kehamilan istri anda."
Gue mengernyitkan dahi mendengar ucapannya. "Anda tahu?"
"Kebetulan saya yang membawa istri anda ketika beliau pingsan. Di sana bertemu juga dengan Dokter Karina."
"Anda mengenal Karina juga?"
"Sama, hanya sekali bertemu. Benda ini tertinggal, jadi saya tahu istri anda dalam keadaan hamil. Selamat ya."
Ia menyodorkan sebuah plastik kecil dengan dua garis merah. Rupanya Caca sudah memeriksa ini sejak lama. Tidak ada pikiran buruk, karena setiap kebetulan bisa saja terjadi.
"Oke, saya pamit dulu, besok ditunggu di kantor."
__ADS_1
Ia benar-benar pamit, seketika seperti merasa sudah dekat dengan orang itu. Dia memang keren, bahkan terlihat hebat dengan dua orang ajudan yang sejak tadi tidak merasa jenuh mengikutinya.
Siapa dia sebenarnya?
Seperti telah tertimpa bulan, benar-benar Tuhan memberi jalan. Gue sendiri sadar, tidak mungkin terus menerus menggunakan tabungan sebagai panganan hidup. Terlebih dengan rencana pernikahan yang akan kami gelar dekat-dekat ini.
"Kamu kenal dia?" Gue menoleh pada Caca.
"Hanya sekali bertemu," jawabnya tersenyum.
...
Lelah, gue lebih memilih merebah di sofa ruang depan ketika Caca membawa Laksmi ke kamarnya. Ya, unit ini hanya memiliki dua kamar saja, sehingga gue memilih tidur di kamar lain bersama Juna.
Entah mereka mungkin tengah berkutat dengan kamar masing-masing, sejak kepulangan tadi kami sudah tak lagi banyak bicara.
Caca juga sempat mengompreskan es ke memar-memar di lengan gue sebelum ia benar-benar tak kembali dari kamarnya.
Ada kelelahan setelah kejadian pertempuran di jalanan sepi tadi. Ya, seluruh tubuh ini terasa pegal, bahkan gue merasakan ngilu di bagian lengan yang tadi sempat dengan berlagaknya menangkis pukulan benda tumpul.
Dulu, sebelum datangnya Caca ke kehidupan gue, memang tidak jarang bertindak kasar jika ada orang yang menyinggung, itu pun gue melawan dalam keadaan tidak sadar karena kerap terpengaruhi alkohol.
Gue menggeliat ketika ada terasa kelembutan dari kecupan kening pada saat mata ini terpejam. Siapa? Sosok itu seakan memberi misteri. Jemari lentik dan halusnya menyapa, membingkai dengan indah di wajah.
Ibu?
Ini jemari Ibu!
Ya, wajah cantik bercahaya itu tersenyum, memeluk dengan penuh cinta. Ini yang selama ini gue rindukan, akhirnya ia sudi datang juga.
"Alvin, sayang ... Ibu rindu ... sekali sama kamu."
Air mata ini meleleh, kerinduan yang sekian lama menggunung akhirnya dapat terobati pula, meski gue tak tahu apakah ini mimpi atau nyata.
Seperti ada terbersit luka di wajahnya. Kenapa? Apa yang ia pikirkan? Bukankah Ibu susah bahagia di sana?
"Ibu, Ibu tahu Caca?" Mata gue membulat disela air mata yang terusap. Tubuh ini dengan nyaman bersimpuh, mengingat jika dulu kerap tidur di pangkuan.
"Ya, sayang. Ibu tahu, dan Ibu merestui kalian." Senyum itu memang selalu terpancar dengan indah.
Bidadari gue, yang pertama dalam hati bertahta dan tak akan pernah tergantikan. Ya, dia selalu menjadi ratu. Antara Ibu baik pun Caca, gue memiliki cinta yang sama besar dengan posisi yang berbeda. Tentu tak dapat dibandingkan, karena keduanya sama istimewa.
"Sayang ...."
"Hem?"
"Apa pun yang terjadi nanti, tetaplah pada hatimu, tetap pada pendirianmu. Ibu tahu kamu memiliki batin yang kuat, tidak mudah goyah pada apapun. Perbaiki hubunganmu, perbaiki apa yang menurutmu salah, perbaiki semuanya. Ibu yakin kamu pasti mampu."
"Alvin gak faham, Bu." Gue berharap ada penjelasan dari setiap ucapannya.
"Ibu pergi dulu, sayang. Jaga dirimu dan hatimu baik-baik ya."
Bayangan itu semakin tak jelas hingga pandangan hue terasa kabur. Ke mana dia? Kenapa semakin menjauh? Kaki gue melangkah berlari sekuat tenaga meraih bayangan itu. Ke mana dia? Kenapa begitu sebentar? Ibu! Alvin masih kangen, Bu ... kenapa Ibu pergi lagi? Biarkan Alvin berada dalam pangkuan Ibu lebih lama lagi, Kenapa Ibu pergi lagi ...?
Benak gue terus memanggil, berteriak, bahkan menjerit memanggilnya. Ada perasaan luka yang tak pernah tahu apa sebabnya, luka ini begitu mengiris, sakit!
"Abang!"
Seseorang menyadarkan. Caca sudah berada si hadapan dengan raut wajah khawatir. Basah, seluruh tubuh terasa berkeringat semua. Mimpi tadi seakan menjadi nyata, ada pertanyaan yang masih terbersit, memberi beban tersendiri.
"Abang mimpi?"
Tak ada jawaban. Lidah gue terasa kaku dan kelu. Semua seolah tengah mengawasi saat ini, bahkan rasa tengah divonis keadaan pun tak dapat terhindari. Ada apa ini?
__ADS_1
"Sini, Abang bangun." Caca meraih kepala gue ke dalam pelukannya. "Kalau Abang belum siap cerita, gak pa-pa. Abang tenang ya."
Detak jantung Caca seolah bernyanyi, memberikan ketenangan tersendiri dari peliknya pemikiran tak terpecahkan yang gue rasakan. Tangan halus itu, dengan lembut mengusap punggung tanpa henti.
"Ca ...." Akhirnya gue mampu menggerakkan lidah yang semula terasa kebas.
"Hem ...? Aku di sini, Abang."
"Kamu gak bakal ninggalin Abang lagi kan?" Gue mendongak, menatap wajah yang kini tersenyum lembut.
"Ya. Aku gak bakal ninggalin Abang lagi."
"Janji?"
"Janji, Abang ...."
Mungkin ia merasa gue sangat berlebihan dengan tingkah manja yang kekanak-kanakan. Namun, kondisi hati saat ini memang sangat labil, gue juga tak mungkin mengatakan semua dalam mimpi itu padanya. Takut jika ia turut khawatir dan akan mengganggu kehamilannya.
"Kenapa kamu belum tidur?" Gue melirik jam yang menunjukan angka tengah malam.
"Aku mau minum, dengar Abang mengigau lalu ke sini. Abang mimpi buruk?" Ia bertanya dengan sangat hati-hati.
Sesaat gue terdiam. Bingung harus memberikan jawaban apa. "Abang cuma ...." ucap gue lirih. "Cuma takut kamu ninggalin Abang lagi."
Tak ada jawaban selain hanya senyum manis uang Caca tunjukan.
"Ca ...." lirih gue.
"Hem?"
"Tidur sama Abang ya? Abang takut, Ca."
Gadis itu mengangguk lembut, sambil tak lepas pula pelukannya. Kami merebah, pada satu sofa yang sama. Gue bergantian memeluknya, membiarkan ia terlelap dalam dekapan. Sungguh sendiri pun tak mengerti, entah bagaimana gadis ini memiliki efek penenang seperti yang nyokap dulu miliki.
Caca memang lembut, meski terkadang ia terkesan kekanak-kanakan. Namun, hal itu sedikit pun tak pernah membuat gue muak ataupun jijik seperti pada Alexa sebelumnya.
...
Pagi menjelang. Bau semerbak menggiurkan liur sudah berhasil membuat deretan cacing dalam perut berteriak histeris. Sial, genderang perang yang para cacing itu tabuhkan telah berhasil membuat perih di perut hingga terasa begitu melilit.
Dua gadis cantik tersenyum ketika melihat gue terbangun. Rupanya Caca sudah meloloskan diri dari pelukan ini. Tak lepas pula Juna yang terlihat merecoki dua gadis yang tengah menyiapkan makanan itu.
"Vin, tidur lo kebo banget sih? Bukannya hari ini udah mulai masuk kerja?" Juna melahap sarapan yang nampaknya tak disiapkan untuknya. Terbukti Caca menepuk lengan ia gemas. "Apaan sih Ca?!" semprotnya dengan mata melotot.
"Kakak jorok banget, bukannya cuci tangan dulu!"
"Ya kan tadi udah, sambil cuci muka."
"Tapi itu ngambilnya juga harus pake sendok! Kebiasaan deh."
Pemandangan yang segar di pagi hari. Akhirnya gue dapat melihat sendiri bagaimana serunya adik kakak yang tengah berdebat sengit. Ah, andai gue punya adik, pasti dapat seseru itu.
Kesal mungkin, Caca mengambil sodet yang masih dipakai Laksmi untuk masak itu dan mengayunkan hendak memukul kakaknya. Haha, lucu. Juna berlarian menghindar, bahkan menggunakan tubuh gue sebagai tameng.
"Vin ...." Juna memelas.
Gue menghela nafas sesaat, kemudian menatap Caca secara intens. "Ca, kalo sodetnya kamu ambil, Laksmi gimana mau masak?"
Baru tersadar. Caca akhirnya menurunkan benda itu dan berjalan menuju Laksmi yang masih memperhatikan dengan raut bingung.
"Lo utang sejuta ke gue," bisik gue sama Juna sambil berlalu menuju kamar mandi.
"Lha, cuman ngomong gitu doang, sejuta?"
__ADS_1
***
Next