Gadis Di Club Malam Itu

Gadis Di Club Malam Itu
Banyak Hal Tak Terduga


__ADS_3

UDAH FOLLOW KAN? JANGAN LUPA LIKE!!!


ASLAN PRATAMA


Nama perusahaan ini persis seperti pemiliknya. Gue langsung dipersilahkan masuk dengan pengawalan beberapa orang yang mungkin sudah dipersiapkan sejak awal.


Entahlah, mungkin memang prosedur di perusahaannya seperti ini. Setiap karyawan baru akan dikawal dengan ketat, mungkin.


Jas ini adalah pakaian yang kerap gue gunakan ketika di tempat kerja terdahulu. Ya, dulu hanya staf biasa, sekarang entah akan menjadi apa.


Dari luar ruangan terdengar pertengkaran hebat yang mungkin datangnya suara dari ruangan pemilik perusahaan sekaligus pemegang saham tertinggi. Ya, plang di pintu masuk sudah terlihat jelas.


Seorang perempuan berpakaian parlente ke luar dari ruangan itu dengan sangat kasar, ia berlalu tanpa menghiraukan kami sedikit pun. Mungkin sudah biasa seperti itu.


"Masuk!" ujar dari dalam.


Gue sedikit tergopoh karena merasa ciut berada di perusahaan sebesar ini. Namun, sekuat hati tetap harus terlihat tenang, karena ini adalah hari pertama yang menentukan untuk masa depan selanjutnya.


"Silahkan duduk," kata Tuan Aslan.


Gue menuruti perintahnya.


"Anda bawa CV-nya?"


Gue mengangguk dan memberikan map yang semula berada di pelukan.


"Bagus. Nanti bisa kamu serahkan ke HRD." Ia berujar pada pengawal yang berada di samping gue.


Heran, bagaimana ia bisa menilai CV gue bagus tanpa membukanya sama sekali? Kadang pemikiran orang kaya selalu sulit ditebak. Tapi ....


Ca ... Abang takut ... takut terjebak lagi dalam permainan perusahaan seperti yang dulu Pak Surya lakukan.


"Anda tahu perusahaan ini bergerak di bidang apa?"


Pertanyaan secara tiba-tiba itu sontak membuat gue menggeleng cepat.


"Perusahaan kami, bergerak di bidang perhotelan. Awal didirikannya adalah pada tahun 1990. Didirikan langsung oleh tiga bersaudara termasuk Almarhum ayah saya. Lalu saya pribadi membuka cabang semenjak tahun 2010 dengan menggunakan nama saya sendiri. Anda harus tahu, Yanwar Samudra Group adalah musuh terbesar perusahaan ini."


"Yanwar?"


"Ya, Yanwar. Bukan berarti setiap orang dengan nama akhir Yanwar adalah musuh kami, tapi hanya perusahaannya saja." Sesaat ia menjeda ucapannya. "Kita profesional, tidak mencampur adukan masalah pribadi dengan perusahaan. Usahakan, jika ada apa-apa melakukan pelaporan dulu terhadap pihak perusahaan sebelum memutuskan pulang. Se-urgent apapun itu."


Gue mengangguk faham.


"Orang Yanwar group tidak boleh datang ke perusahaan. Boleh menemuimu di luar jam kerja, tapi jangan bahas tentang perusahaan sedikit pun. Saya punya banyak mata, jadi jangan macam-macam."


Gue tidak menjawab selain hanya mengangguk saja.

__ADS_1


"Saya tahu kamu ada masalah dengan pemimpin Yanwar."


Dari sini, gue menoleh. Memberanikan diri memandang wajah yang sedikit pun tidak menghadap ke arah gue.


"Nanti kita akan selesaikan bersama. Kamu sudah bisa masuk ke ruanganmu."


Ya seorang pengawal yang masih tersisa mengantarkan gue ke dalam ruangan bertuliskan MANAGER. Apa ini? Posisi yang tak pernah gue sangka sebelumnya. Yang lebih membingungkan lagi, bagaimana ia tahu jika gue memiliki masalah dengan orang Yanwar? Apa ketika pertempuran di jalan sepi itu ....


Bodoh, orang seperti dia tentu memiliki jaringan yang kuat dalam bidang pengawasan. Ingat betul bagaimana cara ia melawan orang-orang itu dengan tangan kosong hingga mereka semua gentar berlarian. Orang ini ....


"Tuan, anda bisa mulai bekerja saat ini."


Mungkin pengawal itu heran karena gue yang hanya terdiam tanpa membuka pintu sama sekali. Ruangan ini sangat besar, bahkan ukurannya bisa sama dengan ruangan Tuan Aslan sendiri.


Seorang wanita yang mungkin asisten pribadi yang telah disiapkan, menghampiri dengan memeluk map di tangannya. Membuka lembaran itu mengajarkan gue beberapa materi tentang perusahaan.


Tidak terlalu mencolok, ia juga sopan nampaknya. Gue nyaman, tidak merasa terganggu sama sekali.


"Emh ... Nona."


"Panggil saja Pinka. Saya asisten manager sebelumnya. Dan sekarang menjadi asisten Bapak."


Lucu, panggilan itu rasanya terlalu kolot dan menggelikan.


"Emh, Pinka."


"Anda butuh sesuatu?"


"Enggak, saya cuma mau tanya, wanita yang tadi itu ...."


"Sstt ... itu istri Tuan Aslan," ujar Pinka berbisik. "Dia marah karena suaminya baru pulang dari Bali, mengurusi Club malam yang ia pimpin di sana. Katanya, Tuan Aslan ketahuan sama gadis lain di hotel, makanya Nyonya marah. Eh, Bapak jangan terlalu cerewet ya, nanti takutnya Tuan Aslan dengar."


Gue tersenyum geli. Siapa pula yang dari tadi begitu cerewet berbicara.


"Oke, minggu depan Bapak ada pertemuan di Hotel Aslan Pratama Jakarta untuk melalukan pembahasan tentang pembukaan cabang di Bandung. Sebelumnya ini adalah projek milik manager yang lalu, tapi karena kebetulan ada masalah dan dikeluarkan, maka sekarang ini menjadi tanggung jawab Bapak."


Tak banyak bicara selain hanya mengangguk saja. Hem ... begini rasanya jadi manager?


...


Petang menjelang. Pekerjaan rasanya sudah terselesaikan sejak sore tadi, tapi gue lebih memilih terdiam sejenak, mencerna setiap perkataan Alsan juga karakternya yang sangat tenang.


Seseorang mengetuk pintu hingga tersadar dari lamunan. Tuan Aslan rupanya.


"Sudah selesai?"


Gue mengangguk.

__ADS_1


"Kita ke luar bersama?"


"Emh, maaf. Saya harus segera pulang karena sudah ditunggu di rumah."


"Istri anda ya?"


Dijawab hanya dengan anggukan saja.


"Dia cantik dan sepertinya pengertian." Kami berdua sudah masuk ke dalam lift bersama. Bahkan ia tidak sungkan bergabung dengan karyawan biasa seperti gue.


"Istri saya, tingkat cemburunya sangat tinggi. Lelah, dan muak dengan cara dia terus marah-marah. Saya butuh teman ngobrol, untuk itu menyewa seorang gadis di Bali. Dia polos, tapi akhirnya pergi karena keadaan." Sesaat ia tersenyum geli. "Istri saya menggugat cerai dan ... ya sudahlah. Muak karena ia menuntut manusia seperti saya untuk sempurna."


Sesaat ia menghela nafas lelah. "Anda ... jaga istri anda baik-baik. Jangan biarkan dia kecewa." Tuan Aslan menepuk pundak gue sebelum akhirnya berlalu ketika pintu lift terbuka.


Sejenak gue tertegun. Apa yang membuat ia menjadi tidak sempurna? Dia memiliki segalanya bahkan memiliki paras lebih tampan dari gue. Usianya mungkin tidak jauh beda, hanya berkisar beda lima tahun saja. Terbukti ia masih terlihat segar bugar dan tampan sempurna dari postur tubuhnya.


Pesan yang tersirat itu, gue sendiri tidak tahu apa yang dimaksudkannya. Ada beberapa hal yang membuat tidak mengerti. Sejak ia menolong di jalan sepi waktu itu, hubungan yang terjalin seperti tidak asing.


[Alvin, ini saya Hadi Yanwar. Saya tunggu kamu di cafe depan apartemenmu.]


Sebuah notifikasi datang ke ponsel gue. Agak malas pula jika harus berjumpa dengannya. Namun, bagaimana pun gue butuh penjelasan atas kelakuan anak buahnya tempo hari.


Seketika gue mempercepat laju kemudi memecah hiruk pikuknya jalanan ibu kota."


...


Dia datang sendiri, masih dalam keadaan berpakaian rapih. Namun, gue lebih memilih menanggalkan pakaian kerja dan mengenakan hoodie yang memang selalu tersedia di dalam mobil.


Senyum ramah itu mengembang, tapi gue muak melihatnya. Ia tak seperti dulu, sehangat ketika pertama kami bertemu. Rasanya semua yang ia tunjukan hanyalah pencintraan semata.


"Apa urusan anda?" Gue langsung to the poin.


"Nak, sudah beberapa lama ini Papa mencarimu."


Gue berpaling ke arah lain dan sangat tidak nyaman dengan posisi ini.


"Cukup, saya tidak mau lagi menjadi pengganti putra anda yang sudah meninggal. Anda jangan becanda dengan kehidupan saya, saya sudah lama menjadi anak yatim."


Matanya memejam dengan erat untuk sejenak. Entah mental seperti apa lagi yang ia persiapkan. Ia merogoh sesuatu dari saku jasnya.


"Ini, ini Hapsari? Ibumu?"


Bagaimana bisa? Di tangannya tergenggam foto gue yang dipeluk Ibu ketika kecil dulu. Wanita itu yang selama ini gue rindukan, juga Ayah. Laki-laki yang tak pernah mau satu frame bersama kami. Malah selalu bilang, ia hanya menjadi potografer tanpa perlu ikut dalam frame kebersamaan gue dan Ibu. Meski ia bisa dibilang ayah tiri, tapi gue menyayanginya.


"Ini Hapsari, istri pertamaku. Dia pula yang telah melahirkanmu, anakku, darah dagingku."


***

__ADS_1


Next


__ADS_2