Gadis Di Club Malam Itu

Gadis Di Club Malam Itu
Aku Sakit!


__ADS_3

UDAH FOLLOW KAN? JANGAN LUPA LIKE!!!


Langit tengah dalam keadaan bertabur bintang ketika tangan lembut itu menyentuh lengan gue. Rupanya Laksmi tersenyum dalam keadaan rambut terurai, cukup cantik pula. Kami duduk bersama di bangku kayu yang gue pindahkan ke depan gazebo. Mengingat masa kecil bersama.


Ya, usia kami hanya terpaut empat tahun. Banyak juga kenangan masa kecil bersama ketika Ibu menitipkan gue dulu di sini. Entah sudah berapa lama, karena waktu itu gue masih SMP. Laksmi pun masih sangat kecil. Gadis yang dulu periang dan manis, kini telah berubah menjadi pribadi pemalu yang menawan.


Ah, gue sendiri mungkin tertangkap beberapa kali tersenyum ketika menatap matanya yang indah.


"Anastasya itu, pacar Bli?" tanyanya dengan senyum lembut.


"Oh, bukan. Dia adik angkat saya."


TREK!


Terdengar sesuatu seperti terinjak seseorang di belakang kami. Gue menoleh, rupanya Caca tengah tertegun di sana.


"Caca?" Gue coba menghampiri, tapi gadis itu keburu pergi.


Mungkin alangkah lebih baik dibiarkan saja. Terlebih Caca hanya menganggap gue sebagai pengganti abangnya kan?


"Caca marah?" tanya Laksmi.


"Tidak, mungkin dia ngantuk, mau tidur."


"Oiya, zodiak Bli apa?"


"Aquarius. Kenapa?"


"Bli adalah tipe orang yang pemilih dalam pergaulan. Rela berkorban untuk orang yang Bli cintai, juga sangat takut terhadap kehilangan."


"Bagaimana kamu tau?"


"Laksmi, baca di internet. Laksmi sangat suka sekali dengan artikel zodiak dan shio."


Gadis itu tetap lembut dengan logat Bali--nya. Memang benar apa yang ia katakan. Gue teramat takut akan kehilangan. Mengingat pada saat Ibu meninggal dulu, perlu waktu bertahun-tahun untuk dapat berbaur kembali dengan orang lain.


"Kamu sendiri?" tanya gue sambil menoleh.


"Laksmi, Leo. Zodiak Leo sangat cocok dengan Aquarius. Kalau bisa, Bli harus menghindari gadis dengan zodiak Cancer, karena itu sangat berlawanan."


Gue tersenyum. Agak menggelikan juga dengan penuturan gadis itu. Ternyata Laksmi masih secerewet dulu. Hanya saja sekarang ia lebih lemah lembut dan manis dalam bertutur kata.


"Kamu masih cerewet kayak dulu. Hanya saja, sekarang lebih manis."


Laksmi tersipu. Gadis itu begitu sopan, ia bahkan masih melestarikan budaya dalam berpakaian sopan. Rambutnya tersapu angin malam hingga sedikit menghalangi wajah manisnya.


Laksmi menyibak surai itu. Hembusan angin malam sudah cukup membuat kami berdua sedikit menggigil. Hingga memutuskan untuk kembali ke dalam rumah sebelum hari kian larut.


Di ruangan itu, gue lihat Caca belumlah tidur. Wajahnya tampak sedikit sembab menatap ke luar jendela kamar. Tangannya erat, mencengkeram tralis di kamar itu tanpa menoleh sedikit pun ke arah gue.


Ya, hanya sepintas menatap dari samping wajahnya. Gue memberanikan diri masuk ke dalam sana untuk memastikan sedang apa dia.


"Belum tidur, Dek?"


Akhirnya panggilan yang tak pernah gue harapkan ini keluar pula dari tempatnya.

__ADS_1


Caca menoleh. Ia seperti menyeka buliran bening yang gue sendiri tidak tahu sejak kapan meluncur dengan bebas.


"Kamu nangis ya?"


Caca berhambur, memeluk dengan erat hingga terisak di dada gue. Kedua tangan ini bersiap untuk mendekapnya, tapi mengingat ia hanya menganggap gue sebagai pengganti abangnya, rasanya tidak pantas. Berat, hanya mampu mengepalkan kedua tangan ini sambil mendongak dan menutup mata rapat-rapat.


"Aku sakit, Bang."


"Kamu sakit apa?"


"Kepalaku sakit, lidah juga terasa pahit. Bahkan dadaku terasa sesak, aku gak tahu kenapa kayak gini."


Gue menarik nafas panjang. Entahlah, kenapa pula seolah apa yang Caca katakan itu adalah gejala yang gue alami sejak ia menginginkan kita menjadi adek dan Abang.


Laksmi menatap kami dengan mata yang redup. Ia mengangguk sopan sambil tersenyum, kemudian berlalu.


"Kamu lebih baik tidur. Ini sudah malam." Gue melorotkan pelukannya dan membawa dia ke tempat tidur.


"Aku takut."


"Takut apa?"


Gue bersimpuh di hadapannya dan menggenggam tangannya. Caca menoleh, air mata itu masih dengan kurang ajarnya berani keluar. Tak tega, tak biasa dan tak bisa.


"Bilang sama Abang, apa yang kamu takutkan?"


"Temani aku di sini, Bang." Tak biasanya ia menggenggam tangan gue dengan begitu erat.


Sekilas tatapan ini berarah ke luar ruangan di mana Wa Made tersenyum dengan anggukan lembut. Mungkin memang Caca mengalami ketakutan. Karena begitu banyak pula peristiwa nahas yang menimpa ia akhir-akhir ini.


Caca mengangguk. Dia menurut saja ketika gue rebahkan tubuhnya kemudian menyelimuti tubuh itu dengan lembut.


"Kamu tidur ya."


Gue hendak beranjak untuk mengambil tikar dan bantal ketika Caca menahan dengan genggaman tangannya.


"Abang ambil tikar dan bantal. Selimut juga, karena malam ini dingin. Kamu gak mau kan kalo ketakutan hari itu jadi kenyataan?"


Cengkeraman itu melorot. Gue merebah sambil menyilangkan kedua tangan di bawah kepala yang menengadah ketika tikar dan perlengkapan tidur lainnya sudah tersedia. Caca membiarkan tangannya tergantung ke arah gue, seolah tak keberatan jika gue menggenggamnya.


"Abang ...."


"Hem?"


"Abang pacaran sama Laksmi?"


Pintu memang dibiarkan terbuka supaya tidak menimbulkan fitnah ke luar sana. Beruntung ketika gue melirik ke arah pintu sudah tidak ada siapa-siapa di sana.


"Dia udah kayak adik Abang sendiri. Sama kayak kamu."


Terdengar hempasan nafas panjang. Sayangnya gue tak dapat dengan leluasa untuk melihat ekspresi seperti apa yang Caca tunjukan saat ini.


"Abang ...."


"Kenapa ...?" jawab gue lembut.

__ADS_1


"Tapi Abang sayang sama dia?"


"Kenapa memangnya?" Gue merubah posisi menjadi duduk. "Kamu keberatan kalo Abang sayang sama dia?"


Caca menunduk dan menggigit bibir bawahnya. "Aku gak papa kok. Lagian hak aku apa buat larang Abang sayang ke orang lain?" Suaranya terdengar lirih.


"Tentu akan ada hak kalo kamu jadi istri Abang. Sekarang kamu tidur ya. Jangan melek terlalu malam." Gue menggusel kepalanya dan kembali berbaring di lantai.


Tempat ini memang tidak dekat dengan pantai. Perlu waktu hampir satu jam perjalanan kendaraan untuk sampai ke Pantai Kuta. Nyaman juga, karena suasana lebih tenang dan angin tak terlalu kencang.


Dari arah pintu, Laksmi datang dengan membawa secangkir teh jahe kegemaran gue. Masih ingat, jika pada masa lalu kami kerap berebut minuman ini.


"Bli, ini Laksmi buatkan spesial." Gadis itu tersenyum sambil menyodorkan cangkir dalam genggamannya.


"Kamu masih ingat minuman kesukaan saya dulu."


"Bukan hanya ingat pada minumannya, tapi Laksmi juga ingat ketika kita suka berebut minuman ini." Deretan giginya berjajar rapih kala ia tersenyum.


Entahlah, seperti ada hal lain yang ia harapkan dari diri gue yang entah kenapa gue sendiri tak dapat memenuhi harapannya.


"Sudah malam, tidurlah."


"Bli tidak tidur di kamar sendiri?"


"Emh, mungkin untuk malam ini tidak. Kamu tenang saja, pintunya akan tetap dibiarkan terbuka supaya tidak terjadi apa-apa di antara saya dan Caca."


"Emmhh ... bagaimana kalo Caca biar Laksmi yang temani?"


"Tidak perlu," ujar gue lembut.


"Kalau begitu, Laksmi permisi."


Gue mempersilakan sambil membalas senyum manis yang terpancar sebelum akhirnya ia lenyap di balik tembok. Perlahan mata ini beralih pada Anastasya yang terbaring nyaman dalam balutan selimut tebal menutupi. Terbersit, apa yang hendak gue lakukan untuk sekedar dapat menyambung hidup kami? Rasanya tak mungkin terus-menerus menadah tangan pada Wa Made.


Laksmi Gasari, ia memang gadis anggun satu-satunya yang dimiliki Wa Made saat ini. Melihat bagaimana cara ia tumbuh, tentu karena kasih sayang ayahnya sendiri. Ya, gue tahu sendiri bagaimana cara Wa Made dulu begitu tulus menyayangi Ibu. Sayangnya, mereka tidak berjodoh karena beda keyakinan.


Namun, meski begitu, hal itu tak jadi penghalang bagi mereka untuk tetap memberikan kasih sayang sebagaimana mestinya.


Terbukti sekarang pun, Wa Made tak pernah menganggap gue orang lain, meski Ibu sudah tiada, kasih sayangnya selalu tulus memperlakukan gue layak anaknya sendiri.


Memang ketika Ibu membawa gue bekerja di sini, ia dan Wa Made nyaris menikah. Namun, kemudian Ibu memutuskan untuk tidak melanjutkannya karena pada kenyataannya prinsip beribadah keduanya tidaklah sama. Percayalah, cinta tak harus selalu memiliki. Selalu itu yang dipegang Wa Made sampai saat ini. Meski semenjak kepergian Ibu beliau tak pernah ada niatan untuk menikah menikah dengan orang lain dan lebih memilih membesarkan Laksmi seorang diri.


Banyak kenangan yang gue dan Ibu ukir di sini. Kami dulu kembali ke Jakarta setelah keduanya benar-benar memutuskan untuk berpisah, mengakhiri semuanya. Itu pula kali pertama gue melihat air mata Ibu dan pria itu luruh, tapi tidak saling menguatkan dalam sentuhan apa pun.


Tak terasa mengingat sosok wanita bidadari itu air mata ini mulai meronta dari tempat persembunyiannya.


"Engh ...."


Terdengar suara Caca bergumam dalam tidurnya. Hingga keringat dingin itu tampak menyembul di antara pori-pori dahinya.


"Caca."


***


Next?

__ADS_1


__ADS_2