
JANGAN LUPA FOLLOW N LIKE!!!
Mobil itu melesat jauh nampak sama seperti yang tadi siang mengawasi gue dan Caca ketika di rumah sakit. Siapa sebenarnya orang itu? Ck, argh! Kenapa harus serumit ini permasalahan yang gue hadapi?
"Abang?"
Suara lembut itu muncul dari dalam kamarnya. Memang hanya terpisah satu sekat tembok antara kamar gue dan Caca. Mungkin gadis itu merasa agak ngeri dengan kondisi seisi rumah yang gelap gulita.
"Mati lampu ya?" Lagi ia berucap.
"Kenapa, Ca?" Gue masuk dan segera menuju kamarnya setelah menekan satu tombol untuk menyalakan semua lampu.
Caca tampak menggisik matanya. Tersirat dengan jelas raut khas bangun tidur itu. Ia bangkit, tapi tak lepas dari perlindungan selimut dalam dekapan.
"Kak Juna, ada di kamar?"
"Katanya hari ini ada urusan mendadak. Dia suruh kamu jangan banyak pikiran juga." Sambil gue usap lembut kepalanya.
Caca tersenyum menikmati setiap sentuhan di kepalanya. Malah, tampak ia membiarkan kepala itu bersender pada tangan yang sudah mulai turun ke area leher.
"Tadi, kenapa lampunya mati?" suaranya khas serak baru bangun tidur.
"Abang lagi mau nikmatin malam aja. Biar lebih kerasa kalo lampunya dimatiin. Kamu takut?"
Caca menggeleng. "Selama ada Abang sama aku, gak ada lagi istilah takut itu."
"Yasudah, kamu mau bobo lagi? Mau Abang temenin?" Gue tertawa melihat ekspresi killer dari wajahnya.
"Aku mendadak lapar, Bang."
"Kamu mau makan sesuatu? Mau Abang buatin?"
Caca menggeleng, melepaskan tubuh dari perlindungan selimut hangat itu. "Nanti gak beres-beres lagi kayak waktu itu."
Gue tersenyum geli mengingat kejadian waktu itu. Bodoh banget, sudah siap dengan beberapa bahan masakan, bahkan dengan bridalnya ingin sok caper di depan Caca, tapi malah gagal total karena tidak tahu cara penggunaan kompor modern bertulskan Bahasa Jepang itu.
Caca sudah lebih dulu keluar dari kamarnya dengan gaya melilit rambut kemudian mengeratkannya dengan penjepit rambut. Uh, menggemaskan sekali. Tampak jelas jika ia masih menahan kantuk dengan cara berjalannya. Untung saja Caca masih terbilang menggunakan pakaian yang aman sehingga tidak mengundang setiap pikiran jelek di kepala gue.
Tangannya cekatan mencuci sayuran yang hendak ia potong, mugkin jika tidak dipasak secara utuh.
"Kamu mau buat apa?" tanya gue sambil merebut pisau di tangannya, tak ingin ia terluka.
"Abang, ish." Ia berusaha untuk merebut pisau ini.
"Biar Abang aja yang motong, kamu jangan sampai terluka tangannya."
"Abang, aku bisa."
"Udah, kamu duduk aja, biar Abang yang masak. Kamu mau makan apa? Hem?"
"Aku mendadak mau capcay, Bang."
"Oke, Tuan Putri tunggu dulu ya, Sang Pangeran masak dulu."
"Haha, apaan sih?"
__ADS_1
Tawa yang indah, tawa yang tulus, yang membuat gue selalu ingin melindunginya setiap saat. Ia masih terduduk, bahkan ekspresi ngantuk itu tak dapat lepas dengan mudah dari wajahnya. Kenapa gak cuci wajah dulu aja coba?
****! Gara-gara memandang wajahnya sepanjang memotong wortel, tangan gue teriris hingga mengeluarkan sedikit darah terasa hangat dan perih. Tak ingin membuat ia khawatir, gue mencucinya dulu sesaat sebelum melihat ekspresi wajah itu sudah terlelap berbantal lengan di atas meja makan.
Hem, lucu, ketika tidur bahkan ia begitu menggemaskan seperti bayi.
Sesaat menyeka keringat yang keluar pada saat gue memanaskan beberapa jenis sayuran itu untuk beberapa menit di atas wajan. Entahlah, gak ngerti juga dengan peralatan jaman sekarang, meski tidak mengeluarkan api, tapi panasnya tak jauh beda dengan kompor biasa.
Tersentak kaget, ketika dengan lembut tangan itu menelusup dari belakang memeluk gue. Sesaat, gue terdiam untuk menikmati kehangatan serta getaran itu. Ya, sentuhannya memang tak pernah lolos tanpa rasa begitu saja. Bahkan sekarang Caca sudah berani nakal dengan memainkan dada gue tanpa ragu.
"Ca, sayang. Abang geli kalo kamu kayak gini. Nanti masaknya gak beres-beres lho."
"Gak pa-pa, Bang. Aku nunggu kok sampe beres, hihi ...."
****!
"Anjrti lo!"
Tampak Juna tengah nyengir kuda tanpa ada rasa bersalah sedikit pun. Pantas saja begitu berani, Caca mah gak mungkin lah kayak gitu.
"Gimana, Bang? Sentuhan aku enak gak?" tanya Juna dengan gayanya yang genit. Ish, jijik gue bergidik membuat tawanya semakin lebar.
Rasa tak tega membangunkan Caca yang terlelap dalam mimpinya meski makanan yang ia pesan sudah siap di atas meja. Gue hanya menatap saja, sambil menarik kursi yang kemudian duduk di atasnya secara terbalik dan menghadap pada Caca sambil menopang dagu.
"Lo apain adik gue sampe dia kelelahan kayak gitu?" Juna yang baru selesai membersihkan diri tiba-tiba ia datang dan menepuk pundak gue.
"SIalan lo! Orang dia bangung sendiri minta makan."
"Berarti dari pagi lo gak kasih dia makan?" Matanya melotot.
"Lha, kan lo kakaknya gimana sih?"
"Emh ...." Terdengar Caca melenguh sambil mengangkat kedua tangannya. "Udah matang?"
"Udah."
"Eeemmm ... enak ...." Juna dengan wajah tanpa dosanya membawa sepiring capcay itu ke kamarnya.
"Woy, itu buat Caca, lu jadi kakak bener-bener ya!"
"Gue laper, buat Caca masih ada di wajan!" teriaknya dari dalam kamar.
"Itu buat gue!"
"Lo ngalah aja, gue laper banget, Vin ...!"
Caca tersenyum geli melihat kelakuan gue dan kakaknya. Itulah, senyum yang mampu membuat segala luka menjadi suka, membuat segala keresahan menjadi kebahagiaan. Mungkin ia melihat kalo gue dan kakaknya tak jauh seperti anak kecil saja.
"Abang makan sama aku aja ya."
"He ...." Gue menggaruk kepala tak gatal. "Gak pa-pa. Abang masih kenyang kok. Kamu makan aja."
Tangannya cekatan menarik tisyu yang ada di samping tubuhnya itu. Caca menyeka setiap buliran keringat yang menyempul di antara pori-pori kening gue. Hingga turun ke area leher kemudian tangan. Tak sadar, gue lupa menyembunyikan luka yang tadi sempat tergores pisau dapur itu.
"Abang itu curang. Aku aja gak boleh luka, tangan Abang ini malah luka."
__ADS_1
"Abang gak pa-pa, Ca. Ini hanya luka sedikit."
"Tapi bahaya kalo gak langsung diobatin."
"Tadi Abang udah cuci."
"Abang, aku gak mau makan kalo luka di jari Abang belum diobatin. Abang tunggu di sini ya, aku ambilin kotak obat dulu."
...
Malam ini Caca terkesan sangat manja hingga ingin menghabiskan waktu berdua di ruangan TV. Menonton drama Korea, ia biasa menyebutnya dengan nama drakor yang gue sendiri sungguh gak faham apa istimewanya film seperti ini. Sampai Caca tak berkedip melihat setiap adegan yang tergambar di layar TV.
"Abang ...." isaknya.
"Kamu kenapa nangis, Ca?"
"Aku takut ...."
"Takut?"
"Iya, aku takut kita gak berjodoh kayak di film itu ...." Tangannya menunjuk lurus ke arah layar yang menayangkan tokoh laki-laki tengah menangisi sebuah pemakaman.
"Abang gak faham, Ca ...."
"Ceweknya kena tembak, gara-gara selamatin si cowok yang mau dibunuh penjahat."
Entah kenapa, gue yang pada awalnya tidak begitu menghiraukan seketika tersentuh hati menjadi sakit entah kenapa. Terlebih melihat tangis Caca yang begitu miris, kenapa ini?
Gue raih kepala itu, memeluknya dengan erat hingga tanpa sadar terjadi cengkeraman ringan pada rambut Caca mengingat beberapa hari ini begitu banyaknya kejadian aneh menimpa gue.
Ca, jika Abang harus jujur, sebenarnya akhir-akhir ini juga perasaan Abang diliputi kegelisahan yang begitu hebat. Mugkin, jika kamu tidak ada, entah akan seperti apa Abang sekarang. Kamu penguat hidup Abang, Ca.
Kamu tahu apa yang Abang takutkan saat ini? Bukan, bukan kematian atas pribadi Abang sendiri, tapi Abang takut kematian itu memang menimpamu, gadis yang Abang sayangi selama ini, sama seperti pada tayangan di TV itu.
"Kamu tenang ya, Abang akan selalu jagain kamu, apa pun itu yang terjadi."
Gue mematikan TV itu dan membimbing Caca menuju ke kamarnya. "Kamu bobo ya, udah malam gak baik bagi kesehatan anak kita."
Wajah itu tampak sendu dengan sesekali menyeka air mata di pipinya ketika dengan lembut gue mengecup keningnya.
"Tidur ya, sayang. Abang ke kamar dulu."
"Emh."
...
Cukup melelahkan setelah semalaman tak dapat tidur dengan nyenyak. Beberapa bayangan mengerikan itu selalu mengganggu setiap malamnya. Sulit dipecahkan, meski jawaban kian nyata di depan mata, tapi seolah semakin rumit dan sulit untuk dihindari.
Beberapa kali gue mendapat teguran halus dari Aslan karena terganggunya fokus pada saat kami mengadakan rapat di Aslan Hotel miliknya. Namun, meski ia tipe orang yang tegas, terhadap gue seperti tengah hilang ketegasan itu meski karyawan lain beberapa kali mengalami teguran keras.
"Ada apa?" Akhirnya ia bertanya pada saat kami tengah istirahat untuk makan siang.
"Tidak, saya hanya ...."
Tunggu, orang itu ....
__ADS_1
***
Next