
UDAH FOLLOW KAN? JANGAN LUPA LIKE!!!
Gadis itu tersenyum lembut tengah membagikan makanan pada beberapa anak panti yang tengah berjajar rapih menghadap meja makan. Ada sedikit perubahan pada bentuk tubuhnya, agaknya badannya gemukan sekarang.
Anastasya masih belum sadar juga dengan kehadiran gue di tempat ini bersama Karina. Kami berdua memerhatikan dari kejauhan, saling melirik sesaat sambil tak tahan gue tersenyum lega. Akhirnya kekhawatiran gue selama ini terbayarkan dengan melihat Caca yang tengah dalam keadaan sehat.
"Dia gue temukan di Bali dalam keadaan tak sadarkan diri dan tubuhnya demam saat itu. Mungkin pengaruh dari bekas operasinya, hingga harus menjalani perawatan intens selama beberapa hari. Beruntung dia kuat, hingga bisa melewati masa kritisnya. Apa lo gak pernah kasih obatnya ke dia, Vin?"
"Obat?" Gue menoleh.
"Ya, obat yang harus diminum rutin beberapa bulan setelah operasi."
"Caca gak pernah bilang apa-apa sama gue, malah dia bilang obat yang lo kasih waktu itu udah cukup."
Karina menggelengkan kepala. Ia mendecak, mungkin kesal juga karena gue yang gak peka sama kesehatan Caca.
"Pantes aja, sekarang bahkan tubuhnya tidak akan terlalu kuat dengan udara dingin. Apalagi kalau kehujanan lama-lama."
Miris, ia masih terlihat ceria meski kondisi tubuhnya sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja. Gadis itu, kenapa ia selalu dapat menyembunyikan masalahnya di balik tawa? Bahkan jika orang melihat, tak akan menyangka jika Caca memiliki masalah besar dalam hidupnya.
"Lo samperin, gih." Karina menyenggol lengan gue.
"Apa? Emh, nanti, gue masih gugup."
"Ck, cepetaaan ...."
Karina mendorong tubuh gue hingga kami berpapasan dan kentara jika Caca terkejut dengan kehadiran gue di tempat ini. Entahlah, rambut gue memang agak gondrong saat ini. Mungkin Caca sudah tidak terlalu mengenali.
"Abang ...."
Akhirnya suara itu berhasil melelehkan perasaan yang selama ini diliputi kesedihan. Terasa hangat, bahkan sampai ke wajah yang mungkin saat ini terlihat persis seperti kepiting rebus.
"Abang ...." Lagi, suara itu membuat mulut ini ternganga.
"Ya, Ca-ca." Gue terbata.
Menghela nafas panjang, memeluk tubuh itu dengan erat seolah tak perduli pada anak-anak panti yang menatap kami aneh. Mungkin pula merasa takut dengan penampilan gue yang begitu berantakan.
"Abang rindu sama kamu, Ca. Rindu banget."
Hanya cengkeraman erat yang gue dapatkan kemudian gadis itu berusaha untuk melepaskan pelukan gue.
"Tak enak, di sini ada anak-anak," bisik Caca kemudian.
"Ah, sorry. Abang excited."
"Abang ...."
"Ya, Caca ...." Gue masih belum mampu berbicara banyak, hanya senyum konyol yang mampu ditunjukan.
"Mau sarapan di sini atau di taman?" tawarnya, tak lepas dari senyum yang selama ini gue rindukan.
__ADS_1
"Abang mau."
"Abang ...."
"Hem?"
"Jawabannya yang bener ih."
"Hah? Abang mau kita ke taman maksudnya." Tersenyum konyol, menggaruk kepala tak gatal.
Caca tersenyum geli, tak lama kami sudah berada di taman depan panti itu. Caca telaten menyuapi gue dengan makanan di atas pangkuannya. Sangat yakin jika ini adalah olahan buatannya. Ya, rasanya begitu familiar di lidah.
"Sejak kapan Abang pulang ke Jakarta?" Sambil tak lepas sendok itu mengaduk nasi bercampur sayur, tak jauh beda seperti memperlakukan seorang anak kecil.
"Ca ... Abang udah bisa makan sendiri." Gue hendak meraih piring itu, tapi tangan Caca sigap menahannya.
"Kenapa? Abang gak mau aku suapin?"
Ish, manja sekali. Ini yang membuat gue tak bisa lepas ingatan tentangnya. Begitu menggemaskan.
"Abang rindu sama kamu." Gue membelai pipi lembut itu.
Caca menghentikan gerakan tangannya, ia menunduk dan hanya menatap butiran-butiran nasi itu seperti sekumpulan mata yang tengah memerhatikannya.
Gadis itu menghela nafas, mendongak dan memejamkan matanya.
"Aku tahu itu. Tapi ...."
"Laksmi?"
Ia memainkan cincin kayu yang masih setia melingkar di jarinya. Ah, betapa bodohnya gue. Kenapa pula harus merelakan cincin itu pada orang lain? Sudah pasti sejak awal Caca akan memerhatikan jari ini.
"Abang sama Laksmi gak ada apa-apa, kami sekedar hubungan saudara, kakak beradik."
"Bukannya kita juga kayak gitu?"
"Kita? Kakak beradik? Lalu apa arti malam itu?"
Dada gue sungguh terasa sesak mendengar semua ini. Kakak beradik dia bilang, lalu kehangatan malam itu, apa artinya? Tenggorokan gue serasa tercekat, bahkan mungkin tak sanggup lagi mereguk air minum meski hanya setetes.
"Kamu begitu senang mempermainkan perasaan Abang, Ca? Hari itu kamu sendiri yang bilang, kalo kamu mau Abang jadi laki-laki pertama kamu. Lalu apa itu artinya? Hanya mau nyakitin Abang kah?" Sesak, gue berhenti sesaat. Sekedar menahan air mata yang akan menjatuhkan harga diri.
"Abang ...." Sesaat Caca menutup matanya. "Aku yakin, suatu saat Abang akan ngerti."
"Ngerti apa?! Apa yang Abang gak ngerti dari kamu?! Selama ini kamu yang gak ngertiin Abang! Selama ini, Abang pikir kesedihan Abang akan ada akhirnya, Abang pikir, penantian Abang akan membuahkan hasil yang baik. Ternyata apa yang Abang dapatkan dari kamu, Ca? Kamu pikir Abang ini apa?! Abang gak bisa seperti ini. Sejak kehadiran kamu dalam hidup Abang, Sejak itu pula kamu jadi tujuan hidup Abang dan Abang harap kamu ngerti itu!"
Gue bangkit, meninggalkan dia yang tak lagi bersuara dan hanya terdiam tanpa mengejar untuk menjelaskan sesuatu.
Bodoh, Alvin! Lo terlalu bodoh dalam hidup! Rela mati demi seorang gadis yang bahkan tidak sedikitpun menaruh hati sama lo. Bodoh!
AAARRGGHH ...!
__ADS_1
POV AUTHOR
Caca hanya menatap tubuh yang kian menjauh itu sambil salah satu tangannya membelai lembut perut yang mungkin kelak akan membesar itu. Alvin hanya tinggal bayangan, bahkan wajah itu kini tak mampu lagi ia capai.
Air mata yang sejak awal berusaha bertahan itu sudah tak mampu lagi berdiam diri. Ia dengar dengan jelas Alvin berteriak dalam mobilnya, sebelum akhirnya kendaraan itu melesat meninggalkan tempatnya berada.
Seketika penyesalan itu menyeruak memenuhi rongga dadanya, hingga terasa menghimpit begitu berat.
Pertemuan yang harusnya diwarnai kebahagiaan, terpaksa ia nodai dengan ucapan bodoh demi membuat Alvin benci padanya.
"Caca ...." Suara Karina lembut memanggilnya.
Tangan itu lembut membelai punggung Caca, lalu memeluknya sebagaimana seorang sahabat.
"Aku begitu jahat, Dok. Aku jahat ...." Ia terisak dalam pelukan Karina. "Aku terpaksa lakuin ini sama dia, aku gak mau dia terluka."
"Sudahlah, mungkin ini yang terbaik buat kalian berdua. Tapi saya lebih sarankan kamu jujur sama dia. Jangan biarkan Alvin hancur karena ini, kamu juga."
Caca menggeleng. "Ini bukan masalah dia, Bang Alvin tak seharusnya terus terlibat dengan masalah ini. Biarlah aku yang menyelesaikan semuanya."
Karina hanya dapat menghela nafas panjang. Tak mungkin juga ia harus memaksakan kehendaknya sendiri. Bagaimana pun, ia hanya memberi saran tanpa harus selalu diikuti jika tidak mau.
PLASHBACK
Malam itu adalah hari yang paling membahagiakan bagi Anastasya. Kebersamaannya dengan Alvin satu hari ini, membuat ia merasa jika dirinyalah satu-satunya gadis yang Alvin sayang. Hingga dengan begitu saja merelakan hal paling berharga dalam hidupnya.
Pertama kalinya. Bahkan ia sendiri merasakan Alvin masih kaku dalam melakukannya. Senyum itu tak henti menghiasi, hingga akhirnya lenyap ketika melihat sendiri kejadian mengerikan di depan matanya. Bahkan Laksmi tak segan melayangkan tatapan menyalahkan padanya atas kejadian ini.
Melihat orang tua keduanya tengah tak sadarkan diri, sontak Alvin melepaskan genggaman yang semula hangat melindungi jemarinya itu.
Caca tahu pada akhirnya, posisi dirinya si hati Alvin tidak seistimewa itu. Terlebih, Alvin sendiri menolak ketika ia menyentuh bahunya.
Tersentak gadis itu. Ia merasa, mungkin sudah saatnya ia membebaskan Alvin dan tak terlibat terlalu dalam dengan masalahnya.
Caca menuliskan sebuah surat, sebelum akhirnya menitipkan pada salah satu karyawan Wa Made yang menghadiri acara kremasi sekaligus pengantaran abu jenazah Wa Made ke bibir pantai.
"Sudah saatnya aku tak lagi melibatkanmu," ujar Caca kemudian berlalu.
Hatinya pedih melihat Alvin hanya fokus memeluk Laksmi yang terus menangis. Tak ada yang menoleh padanya, semakin meyakinkan jika Caca memang harus pergi dari tempat itu. Tak perduli jika hanya sehelai pakaian yang melekat erat di tubuhnya itu.
Caca ingat betul, jika dulu Alvin memungutnya dari sebuah kubangan kotor dan berusaha untuk membersihkannya dari noda busuk itu. Hingga Caca hidup dengan harum, sampai akhirnya ia merelakan dirinya.
Kini, dia tak seperti dulu. Caca pun merelakan dirinya demi bertahan hidup dan tak melulu terikat pada sosok Alvin yang kini seolah tak meliriknya sedikitpun. Tanpa tahu, bahwa di tempat lain Alvin begitu cemas mencari keberadaannya.
Dengan mantap, Caca melangkahkan kakinya pada club malam itu, menarik perhatian seorang perempuan berambut blonde yang tengah menghisap rokok di sudut ruangan.
Ya, dia seorang penadah perempuan malam.
***
Next
__ADS_1