Gadis Di Club Malam Itu

Gadis Di Club Malam Itu
Menikmati Pantai


__ADS_3

UDAH FOLLOW KAN? JANGAN LUPA LIKE!!!


Beberapa jam berada di depan bongkahan kayu besar, hanya menghasilkan bentuk pahatan tak beraturan. Hampir seharian, hingga gue lupa jika Caca tak ke luar kamar sejak pagi. Entah, mungkin gadis itu merasa tidak nyaman berada di sini.


Untuk gue sendiri mungkin tidak masalah, tapi gadis seperti Caca nampaknya sulit untuk bergabung dengan lingkungan baru.


"Laksmi."


Gadis itu menoleh seketika. "Ada apa, Bli?"


"Maaf, apa kamu lihat Caca ke luar kamar?"


"Oh, Caca? Dia tidak mau ke luar kamar, katanya belum terbiasa. Tapi tadi sudah Laksmi berikan bubur makan siang."


Gue bernafas lega. "Terima kasih ya, kamu sudah mau  mengurus Caca."


"Tidak masalah, Caca adiknya Bli Alvin, berarti adik Laksmi juga."


Ia tersenyum dan berlalu membereskan beberapa gelas bekas hidangan kopi. Anehnya, gue merasa ada yang tidak nyaman dari kata adik itu. Apa Laksmi menaruh hati pada gue? Ah, rasanya tidak mungkin. Gadis itu begitu cantik dan menawan. Mana mau ia dengan laki-laki yang urakan seperti gue, sudah tentu Wa Made akan memberikan jodoh terbaik padanya.


Gue hanya tersenyum. Terlalu geli jika membayangkan Laksmi ada hati. Rasanya tidak mungkin.


Kangen! Itu yang gue rasakan pada Caca. Padahal kami hanya dipisah beberapa tembok penyekat saja.


Ia masih berbaring, dengan tatapan kosong ke arah jendela bertralis besi. Gue menggenggam tangannya, masih belum bisa melihat keceriaan yang biasa ia tunjukan.


"Abang segera cari rumah buat kita  Setelah yang di Jakarta laku. Kamu sabar sebentar ya."


Tak ada jawaban. Bahkan raut wajah itu semakin murung.


"Besok Abang bawa kamu jalan-jalan ke pantai ya? Gimana?"


Caca mengangkat wajahnya. Kedua mata itu berbinar, memancarkan cahaya yang beberapa hari ini redup karena kesedihan.


"Sambil cari ruko buat kita sewa."


Caca mengangguk.


"Sekarang kamu berbaur ya, kita gabung sama yang lain di sana."


Gue sangat berharap Caca merasa nyaman. Di manapun itu, asal bersama gue. Namun, entah apa pula yang membuat ia murung di kamar beberapa hari ini.


"Bang ...."


"Hem?"


"Abang suka sama Laksmi?"


"Suka. Kenapa?"

__ADS_1


Wajahnya kembali murung dan berpaling.


"Abang suka sama Laksmi, karena dari dulu pun kami bersahabat. Kamu ada masalah?"


Ia menggeleng, melepaskan genggaman itu.


"Abang faham apa yang ada dalam hati kamu. Tapi Abang tak akan pernah ninggalin kamu, sama seperti Juna yang sayang sama kamu."


Entahlah, apa gue yang merasa besar hati atau kepekaan ini nyata adanya. Gue melihat ada raut pedih yang terpancar bersama caranya yang menggigit bibir bawah dan mencengkeram selimut di atas pangkuan. Caca, tolong katakan kalau kamu suka Abang, katakan, Caca. Abang tak akan melupakan itu.


Caca, apa kamu tahu? Melihat kamu seperti ini, Abang sedih, tapi ada rasa bahagian karena kedekatan Abang dengan Laksmi bisa membuatmu cemburu. Ya, semoga kemurungan ini adalah bentuk dari kecemburuan yang tak bisa kamu ungkapkan.


"Adik Abang jangan murung." Gue menjawil hidungnya gemas. "Bergabung sama yang lain yuk."


Sentuhan itu ternyata berhasil membuat Caca sedikit menampakan senyumnya, meski tak seberapa.


...


Seperti yang sudah gue janjikan. Akhirnya Minggu pagi kami berkendara menuju pantai terdekat dari Ubud.


Pantai Lembeng. Ya, pantai ini termasuk masih virgin karena tingkat kedatangan wisatawan tidak begitu ramai seperti pantai-pantai lainnya di Bali. Jarak dari Ubud hanya memakan waktu 40 menit dengan berkendara.


Caca menginjakan kaki telanjangnya di pasir hitam, tersentuh oleh ombak yang kemudian pecah menyentuh kakinya. Gadis itu merentangkan tangan, melambai dengan indah.


Ah, serasa kami tengah menjalani bulan madu saja. Mungkin akan seperti ini jadinya jika kita berdua menikah dan mengadakan honeymoon di sini.


Gue segera menarik tubuh yang nyaris terkena bola voly pantai para wisatawan. Beberapa bule berpakaian minim itu kemudian meminta maaf dalam bahasa mereka, sambil mengambil bola yang sudah terjatuh di sisi Anastasya.


Masih memeluk dengan erat, telinga Caca berada tepat di dada gue. Ia menoleh, kemudian membenarkan dress yang ia gunakan, sebenarnya tidak terlalu kusut pula.


"Emh, maaf, Caca."


"Hari makin siang, kamu juga belum sarapan. Kita beli makan dulu yu." Gue menarik gadis itu untuk menghampiri sebuah cafe bertemakan alam.  Namun, ia menggeleng.


"Kenapa?" tanya gue.


"Aku gak mau Abang hamburin uang dengan makan di sana. Kita cari makan pinggir jalan aja."


"Oh, ada. Tapi bukan di pantai ini. Kamu mau kita jalan-jalan?"


Wajahnya berseri. Caca mengangguk sambil tak lepas dari senyum indah terpancar. Tangannya tak sedikit pun lepas meski kami sudah masuk ke dalam kendaraan.


Ah, benar-benar serasa tengah honeymoon. Bahkan gue bisa merasakan kenyamanan Caca bersandar di pundak, layaknya pengantin baru.


Sepanjang perjalanan hanya sekitar 18 menit dari tempat asal kami semula, sudah tampak beberapa kios pinggir jalan yang tentunya tertata rapih dan bersih.


Kami sudah sampai di Sanur. Caca berburu segera turun sebelum gue sendiri yang membukakan pintu. Matanya mengarah pada penjual lumpia khas Bali yang tengah mangkal di hadapan.


"Kamu mau?"

__ADS_1


Ia mengangguk.


Tak menunggu waktu lama, gue segera memesankan dua porsi lumpia itu tak lupa ditemani sate lilit yang mungkin belum pernah Caca cobain.


"Bli, yang satunya jangan pakai pedas ya, istri saya baru habis operasi," bisik gue pada pedagang itu.


Mata penjual itu sesaat melirik ke arah Caca yang berlari kecil menginjakan kaki telanjangnya. Kemudian ia tersenyum ke arah gue dan mengangguk.


Anastasya. Apa kamu tahu? Bahwa harapan-harapan itu selalu makin kuat setiap harinya? Tak pernah sedikit pun terbersit jika Abang hanya menganggap kamu adik angkat sebagaimana yang terucap. Abang akui, diri ini memang munafik akan ungkapan. Memanfaatkan orang lain sekedar ingin tahu seberapa besar isi hatimu.


Kenapa? Kenapa kamu pun harus bertutur kata lain dengan hatimu? Padahal Abang yakin jika batin kita sama, Abang yakin apa yang kita inginkan pun tak jauh beda. Cintailah Abang, rinduilah sebagaimana hatimu mampu merindu.


Air mata itu, sembab di wajahmu selalu terukir jelas manakala Abang bersama wanita lain. Laksmi, dia hanya sebagai alat atas kemunafikan Abang. Kenapa kamu pun harus demikian? Kenapa tidak jujur?


Anastasya, i always love you, always, forever and ever.


"Ini, Bli!" seru penjual itu yang entah berapa kali sudah memanggil.


"Oh, iya. Ini uangnya, kembaliannya ambil aja."


Gue beranjak menghampiri Caca yang sudah duduk memainkan pasir yang sesekali tersapu ombak ke ujung kakinya. Menggemaskan, ia nyengir ke arah gue, bahkan seolah ingin meledek dengan menjulurkan lidahnya.


"Apaan sih? Nakal deh."


Ia sedikit berlagak merajuk ketika gue monyongkan bibir ke arahnya.


"Haha, makan dulu. Kamu pasti lapar kan?"


"Abang?"


"Hem?"


"Abang pernah bawa cewek ke pantai? Selain aku." Mulutnya lahap menyantap hidangan itu hingga belepotan.


"Ck, kamu ini. Makan aja sampai berantakan begini."


Gue terbius dengan suasana dimana tangan ini membersihkan area yang indah itu. Berwarna merah muda, meski tanpa polesan apapun, ia tetap indah.


Caca, apa boleh Abang menikmatinya? Sekedar ingin merasakan bagaimana kedekatan ini bukan sekedar iming-iming yang menggiurkan. Meski tidak secara langsung bibir ini mampu menyentuhnya dengan leluasa. Namun, sebentar saja, Abang harap kamu tak melarang tangan ini memainkan lembut bibirmu. Hanya sekejap. Walau suatu saat, mungkin orang lain lah yang dapat menjadi pemilik seutuhnya.


Anastasya, Abang tahu kamu pun menikmatinya. Terlihat jelas dengan cara redup matamu perlahan terpejam. Sungguh ingin rasa lebih gila, bahkan yang paling gila jika bisa. Tapi ....


"Abang! Kalo bibir aku ketutupan gimana bisa makan?"


****! Kesemprot juga kan akhirnya?


***


Next???

__ADS_1


__ADS_2