Gadis Di Club Malam Itu

Gadis Di Club Malam Itu
Bawaan Bayi


__ADS_3

FOLLOW N LIKE, OKE!!!


"Pak, sebentar," ujar gue pada Aslan.


Segera menghentikan aktivitas itu dan berusaha mengikuti orang asing yang akhir-akhir ini kerap tertangkap basah tengah mengawasi gue. Ia menoleh, segera gue pura-pura membelakanginya untuk tidak mengundang kecurigaan.


Naik lift, kebetulan pula beberapa orang lain turut masuk dan gue menyelipkan diri di antara mereka. Berada di jajaran paling belakang dari orang itu. Mungkin ia sudah merasa curiga, tapi kemudian menggelengkan kepala menepis kecurigaannya, mungkin.


Ia pun ke luar dengan beberapa orang berdesakan itu menuju ke kamar VIP di hotel itu. Ternyata bukan orang sembarangan. Tidak, bukan VIP, tapi PRESIDENTIAL SUITE ROOM dan masuk ke dalamnya.


Pintu itu sedikit terbuka, hingga memungkinkan gue untuk mengintip aktivitas mereka dari dalam.


Orang itu!


Dia yang pada saat itu hendak menembak gue dan berhasil dihalau oleh Aslan. Kenapa ia bisa ada di sini?


"Bagaimana? Ada kabar dari lima orang itu?" ujar orang itu yang entah siapa namanya.


Lima orang? Bukankah selama ini pula yang hendak membunuh gue berjumlah total lima orang? Apa dia termasuk kaki tangan Hadi Yanwar juga? Tapi ... bukankah Yanwar dan Aslan saling bermusuhan? Kenapa mereka bisa ada di sini?


Atau ... barangkali Hadi Yanwar memang bersekongkol dan memainkan trik untuk menipu gue sehingga terjerat dan lengah? Bahaya kalau seperti ini.


BRAK!


Tiba-tiba hantaman keras itu menyadarkan gue dan kembali pada apa yang mereka bicarakan.


"Sudah gagal membunuh bocah itu! Gagal pula mendapatkan mereka! Emang dasar gak guna!" makinya dengan kasar.


"Dia itu cuma anak haram keluarga Yanwar! Apa susahnya?!"


Anak haram? Siapa yang dia maksud? Apakah gue?


"Tapi Tuan Yanwar sangat menyayanginya, Tuan." Bawahannya itu berujar.


"Menyayangi apa?! Susah-susah gue merancang pertemuan dia dan gadis tengik itu. Mengurus tiga orang bocah yang tidak ada hubungannya sama gue, berpura-pura mengaku sebagai pamannya dan ini balasannya? Pokoknya, lo harus bisa membuat anak itu mati dalam kebencian terhadap bokapnya dan buat gadisnya mati tanpa hati! Karena hati dan kebencian itulah penyebab hidup gue jadi sengsara!"


Jadi ... Caca ....


"Dia! Hadi Yanwar telah merusak hubungan saya dan Hapsari. Awalnya kami saling mencintai, kemudian laki-laki itu datang dan menghancurkan semuanya. Membuat Hapsari meninggalkan saya." Seketika wajah orang itu berubah menjadi sendu.


"Anak itu, ia dilahirkan dalam keadaan tanpa seorang ayah lalu apa bedanya dengan anak haram!"


"Maaf, Pak. Tapi kenapa harus melampiaskannya pada anak itu? Dia tidak tahu apa-apa."


"Karena dia darah daging Hadi Yanwar! Laki-laki berengsek itu!"


BUK!


Kembali sebuah pukulan terlayang dengan tenang hingga menyebabkan anak buahnya itu terhuyung hingga jatuh.


Gue sendiri tidak mengerti, kenapa ia harus menggunakan Caca sebagai umpan? Yang padahal kami tak pernah bertemu sebelumnya.


"Gadis itu, bocah tengik itu saya sengaja menjebak mereka. Melihat persahabatannya dengan putri dari bajingan itu sangatlah dekat. Hingga timbul ingin memanfaatkannya membuat kebencian di antara Alvin dan Jessica terhadap ayahnya. Dan saya yakin, ini akan berhasil menghancurkan semuanya. Usaha yang ia bangun, hubungan yang ia dambakan, semuanya akan hancur. HAHAHAHA ...!"


Apa lagi ini? Ternyata dia dalang di balik semua ini.

__ADS_1


"Kamu tahu siapa yang membunuh suami terakhir Hapsari? Itu adalah saya ...." desisnya.


Amarah seketika membucah di kepala gue. Tangan ini sudah mengepal, bersiap untuk menghadang kedua orang di dalam sana. Berani-bernainya ia mempermainkan hidup gue sampai sedemikian rupa. Caca, Jessica dan terakhir Ayah yang selalu menimang tanpa sungkan. Juga ... ialah orang yang paling bertanggung jawab atas sakitnya Ibu dan meninggal.


Sial! Aslan segera menarik tangan gue dan membawa ke suatu tempat. Mungkin ini kamar pribadinya.


"Jangan sembarangan! Rencanakan semuanya dengan matang."


"Cukup! Tidak perlu anda berpura-pura lagi. Bukankah orang yang ada di dalam sana adalah kakak anda?!"


"Saya sudah katakan, dia memang kakak secara lahiriah, tapi tidak secara batiniah."


Gue tersenyum miring. "Lucu sekali. Kalian saling bermusuhan di depan gue tapi bersekongkol di belakang! Manusia macam apa kalian?!"


Wajah gue serasa memanas hingga entah bagaimana berair pula mata ini.


"Alvin, kamu tenang dulu. Semua bisa saya jelaskan."


"Jelaskan apa?! Hah?! Pantas saja, selama ini perusahaanmu bermasalah dengan Yanwar karena hal ini bukan? Kamu sendiri membawa saya untuk turut memberontak pada Yanwar, Ayah saya sendiri! Kalian semua sama! Bajingan!"


PLAK!


Satu tamparan mendarat sempurna di pipi gue hingga menoleh dengan keras.


"Saya pamanmu! Hapsari itu kakak saya! Faham kamu?!"


Apa lagi ini? Permainan apa lagi?


"Kami bertiga saudara satu Ayah. Keluarga kami memang terbilang rumit hingga tak banyak yang tahu jika ibumu salah satu dari bagian kami. Herman Pratama, orang yang tadi di dalam itu, dia dengan gilanya mencintai ibumu, adiknya sendiri. Hingga Papa kemudian menikahkan ibumu dengan Hadi Yanwar."


"Yanwar mengkhianati ibumu, ia menikah lagi dengan perempuan lain. Itu yang menyebabkan saya mengibarkan permusuhan antara kami."


Gue meraup wajah dengan kasar, membiarkan wajah ini menghadap lantai, membiarkan air mata bersama suara tangis tetap mengalir seperti anak kecil.


Kenapa? Kenapa takdir begitu senang mempermainkan kehidupan gue?


"Kamu tahu, siapa ayah tirimu? Dia adalah orang yang Yanwar kirim tanpa Hapsari tahu. Yanwar merasa bersalah, dia ingin menjaga ibumu melalui adik kandungnya."


Ayah Bima, dia adik kandung Hadi Yanwar?


ARGH!


Gue meraung, sambil memukul lantai berkali-kali hingga terasa kebas di tangan. Entahlah, melampiaskan dengan cara seperti ini selalu menjadi cara bagi gue untuk meledakan rasa sakit di hati ini.


"Sekarang kamu sudah tahu saya dan kenapa saya melindungi kamu. Pada waktu itu saya masih remaja, belum cukup usia untuk melindungi ibumu, kakak saya. Namun, kamu sekarang adalah tanggung jawab saya."


...


Caca memang selalu tahu kapan waktu gue pulang. Ia akan senantiasa berdiri di depan pintu, menjadi penopang di saat gue lemah tak berdaya.


Seketika jemari halus itu menenangkan, mengusap lembut punggung gue yang terasa makin hari kian rapuh tubuh ini.


"Abang tenang ya, kita duduk," bisiknya lirih.


"Abang lelah, Ca ...." Kepala ini tersandar di pangkuannya, ia menyisir rambut dengan jemarinya.

__ADS_1


"Semuanya sudah tertulis, Bang. Bahkan tanpa kita tahu. Tuhan selalu punya skenario sempurna untuk makhluknya."


"Tapi ... takdir ini mempermainkan Abang, Ca. Mempermainkan kita ... Ayah ... Ibu ... Kamu ... bahkan Juna dan adik bungsu kalian."


Sesaat ia terdiam, menghela nafas yang cukup dalam. "Kita manusia bagaikan pion, yang digerakan di atas bidak catur."


Gue terdiam, menatap jika pandangan Caca saat ini tengah menerawang entah ke mana perginya. Ya, memang benar yang ia katakan. Manusia cukup terima menjalani takdir, meski kadang takdir itu tak sesuai dengan apa yang kita harapkan.


"Abang lapar? Aku masak dulu ya."


Gue menarik tangan gadis itu. Tak ingin terlepas dari pangkuannya, ingin lebih lama lagi.


"Abang udah makan tadi di kantor. Kamu sendiri udah makan?"


Ia menggeleng. "Akhir-akhir ini nafsu makanku berkurang."


"Kamu mau makan sesuatu di luar? Mau Abang temenin jalan?"


"Jalan?" Tampak kedua matanya antusias.


"Iya, jalan. Mau gak?"


"Heemmm ...." Ia mengangguk.


...


Pusat taman bermain di Ibu Kota, kami cukup menikmati kebersamaan ini. Caca bahkan tampak seperti anak kecil berlari ke sana ke mari sambil menunjuk berbagai wahana permainan. Tangannya sigap menarik sambil terus berlarian. Duh, padahal gue panik sendiri takut kandungannya kenapa-kenapa.


"Ca, kamu gak cape lari-lari terus?" Gue rehat sejenak sambil ngos-ngosan.


"Abang, kita jarang-jarang ke sini, kenapa gak dinikmati aja?" Sambil ia menjilati eskrim di atas bikuit corong rasa coklat.


"Kalo kamu mau, tiap minggu kita bisa datang ke sini. Sampai nanti, seterusnya, sampai anak kita lahir dan kemudian beberapa anak lahir lagi kita ke sini terus."


"Ck, Abang berlebihan deh. Aku kan bahagia bisa ke sini sama Abang."


"Bukannya gitu, Ca ... itu Abang takut anak kita kenapa-kenapa."


Seperti tak menghiraukan, Caca hanya fokus menjilati eskrim--nya. Hingga di sisa terakhir eskrim itu terjatuh karena tersenggol seorang anak yang berlarian. Hancur, terinjak pula oleh anak lainnya.


"Abang ...." Caca terisak, memeluk bagaikan anak kecil kehilangan permen. "Eskrim aku jatuh," ujarnya parau sambil menunjuk sisa yang terinjak itu.


"Gak pa-pa, nanti kita beli yang baru ya?"


"Gak mau, aku maunya yang itu." Tetap merengek sambil menunjuk cairan yang mulai meleleh.


"Ca, sayang ... kita beli eskrim yang baru aja, mau berapa? Dua? Tiga? Atau bahkan lima? Abang beliin ya."


"Gak mau." Caca merajuk dan memalingkan wajahnya.


Duh kan, repot nih urusan. Bagaimana coba? Emang susah kalo udah berurusan sama yang lagi ngidam.


***


Next

__ADS_1


__ADS_2