
UDAH FOLLOW KAN? JANGAN LUPA LIKE JUGA!!!
"Vin, please jangan pergi." Alexa memburu pundak gue. Kedua matanya masih terus mengalirkan buliran bening itu.
Ayolah Alexa, please, jangan nangis. Gue juga tak mungkin terus-terusan menciptakan kebohongan tanpa memikirkan harga diri.
"Vin, kami coba jelasin ke Papa, kalo tadi kamu cuma becanda, biar Papa gak marah, Vin. Aku yakin, Papa akan maafin kami dan balikin jabatan kamu. Vin, please ... biarpun kamu lebih cinta sama cewek itu, aku gak papa, asalkan kita nikah, aku rela gak dapat hati kamu."
Sekuat hati, gue tetap berusaha untuk tak menoleh pada Alexa meski ia memeluk dari belakang. Entahlah, gue pun merasa iba dengan apa yang ia lakukan. Terlebih, sikapnya justru cukup mempermalukan dirinya karena beberapa orang di sana menganggap jika itu merupakan tontonan gratis yang tak dapat dilewatkan.
"Lexa, please," lirih gue. "Tolong lepaskan."
"Vin ...."
"Lepaskan, Lexa. Please."
"Aku gak bakal lepasin kamu, Vin. Aku tau kamu juga cinta sama aku kan? Andai cewek itu gak pernah datang, hubungan kita juga gak bakal kayak gini."
Kenapa selalu Caca yang disalahkan? Sudah jelas hal ini terjadi karena kebodohan gue sendiri. Sorry, Lexa. Gue terpaksa harus meninggalkan lo dalam keadaan luka.
Tangan ini mencoba untuk melepaskan pelukan yang seolah telah menjadi cengkeraman yang menjerat kebebasan. Gue segera masuk ke dalam mobil sebelum Alexa benar-benar kembali memeluk.
"Maaf, Lexa."
Itulah kata terakhir yang ke luar dari mulut gue sebelum pada akhirnya melesat ke luar dari area perusahaan. Gue menoleh sesaat ke arah spion, melihat gadis itu benar-benar terluka dalam kejaran yang tiada hasil pasti untuk dirinya.
Alexa, akhirnya ia lenyap seiring dengan makin kencang pula pedal gas ini membawa gue menjauh darinya.
...
__ADS_1
Anastasya tersenyum lebar ketika melihat Juna datang bersama gue. Ya, ini adalah hari terakhirnya di rumah sakit. Gadis itu seakan lupa dengan luka yang menyayat perutnya dengan berlonjak untuk memeluk kakaknya itu. Caca meringis, kemudian ia tersenyum.
"Hati-hati, Caca," pekik gue.
"Kakak, gimana kabar Riri?" tanya Caca pada kakaknya setelah nyengir di hadapan gue. Mungkin Riri adalah si bungsu yang sempat diceritakan itu.
"Riri baik, Dek."
"Wajah Kakak kenapa? Kok lebam-lebam gini?"
Tanpa sadar, gue dan Juna saling lirik dengan pertanyaan itu. Caca masih menelisik wajah kakaknya dengan seksama. Gue memejamkan mata sambil menarik nafas dalam-dalam. Pasrah aja dah, kalaupun Juna jujur tentang pertarungan malam itu.
"Emh, wajah Kakak kepentok pintu, Dek."
Gue membulatkan mata. Ternyata Juna berbohong di hadapan adiknya. Entah ia melindungi gue atau ada maksud lain.
Caca menggeleng. "Kak Juna gak salah, ini kan dilakukan karena terpaksa. Bagaimana dengan Riri?" Dia mengulangi pertanyaan yang belum mendapat jawaban itu.
"Riri sudah bisa jalan lagi." Juna tersenyum. "Untuk sementara, dia gak tinggal sama Paman. Kakak udah bawa dia ke tempat yang aman."
Caca menghela nafas. Ia berangsur duduk dan tampak lelah tersirat di wajahnya. Entahlah. Mungkin yang Juna katakan malam itu memang benar adanya. Jujur, pada awalnya gue hanya menganggap itu sekedar alibi semata. Namun, melihat kedekatan mereka berdua, rasanya tidak mungkin pula ada kecurangan di dalamnya.
"Kamu sementara tinggal sama Bang Alvin ya."
"Kenapa? Padahal aku mau ikut pulang sama Kakak." Gadis itu merengut, tapi Juna memeluk kemudian.
"Kakak rasa kamu akan lebih aman dengan Bang Alvin. Para penjahat itu masih berkeliaran. Makanya Kakak pasang selembaran ini, seolah kamu benar-benar hilang biar mereka gak curiga."
Caca menoleh ke arah gue pada saat menerima selembaran yang sama persis dengan apa yang terlipat dalam dompet gue. Mungkin dia baru paham dari mana gue bisa tahu tentang kakaknya.
__ADS_1
"Kakak pergi sekarang ya?"
"Kenapa cepet banget? Baru juga beberapa menit." Suara Caca terdengar sedikit parau.
"Maaf, Dek. Kakak harus pergi."
Jika ditanya apakah gue sedih melihat pemandangan ini? Tentu jawabannya adalah iya. Bahkan ini lebih menyedihkan daripada apa yang gue dapatkan dari perusahaan. Dipecat tanpa adanya pesangon sepeserpun, itu memang sakit, tapi tidak terlalu.
Melihat Caca kembali murung rasanya ini lebih miris lagi. Gue beranikan diri untuk duduk di samping gadis polos itu. Menggenggam tangannya, mencoba memberi kekuatan mental seperti apa yang pernah dilakukan pada malam pertama kali kita bertemu.
"Bang, Abang gak mukulin Kak Juna kan?"
Irish yang terang itu menatap lekat ke arah gue. Jujur, bingung harus menjawab apa. Hingga terlepas genggaman itu, gue hanya meraup wajah dan kemudian mendongak untuk sesaat.
"Kamu mau Abang jujur atau bohong?"
Di balik tangisnya, Caca tersenyum. "Terserah Abang."
"Jujur, ya. Abang yang mukulin dia."
Caca mengangguk, lalu kemudian menyeka air matanya. "Aku udah tebak dari awal. "Kak Juna gak mungkin nitipin aku ke Abang kalo gak ada kejadian apa-apa antara kalian."
"Abang minta maaf."
"Kenapa Abang lakuin itu?" Kembali Caca menatap lekat, masih dengan kedua mata yang ingin kembali menggulirkan air mata.
"Abang sayang sama kamu," lirih gue.
***
__ADS_1