
UDAH FOLLOW KAN? JANGAN LUPA LIKE!
Sebenarnya setelah dari Sanur, gue mau mengajak Caca untuk memilih-milih ruko yang akan ditempati kami. Namun, Caca mencegah karena katanya rumah sama mobil yang di Jakarta belum ada kabar apakah terjual atau belumnya.
Kami akhirnya memutuskan untuk menghabiskan waktu sekedar berjalan-jalan di pasar tradisional untuk menikmati kebersamaan. Caca di depan sana berjalan mundur sambil tersenyum ke arah gue. Entah apa maksud dari yang ia lakukan itu, yang jelas, gue suka. Dan terhibur dengan semua tingkah kekanak-kanakannya hari ini.
Hingga akhirnya ia terhenti pada stand aksesories dengan pandangan takjub pada beberapa perhiasan dari kerajinan tangan itu.
Salah satunya sepasang cincin berukir Dewi Cinta terbuat dari kayu mengkilap. Tangannya meraba etalase, hingga penjaga stand mengeluarkan dua benda itu.
Sepasang cincin dengan bentuk masig-masing sabelah hati yang retak serta terukir wajah Dewi Cinta yang juga retak. Jika benda ini disatukan, maka akan utuh jadinya.
Entah ini terbuat dari kayu jenis apa, yang jelas, gue yakin si pengukirnya memang sepenuh hati membuat kedua cincin ini.
"Berapa sepasang?" tanya gue pada penjaga stand itu.
"Seratus ribu aja, Bli. Ini cincin jodoh, jika seseorang memberikan cincin ini pada pasangannya, maka dia akan berjodoh dengan Bli." Gadis penjaga stand itu menjelaskan panjang lebar.
Gue hanya tersenyum. Tidak terlalu percaya juga dengan tahayul yang belum tampak kebuktiannya. Namun, nampak dari wajah Caca, sepertinya ia memang menyukainya.
Satu ring gue pakai sendiri, karena tak mungkin juga Caca mau memakaikan ke jari gue. Satunya lagi, gue pasangkan cincin itu ke jari manis Caca. Gadis itu menoleh, seolah tak percaya atau tak menginginkannya. Entahlah, gue pun tak faham dengan ekspresi yang ia tunjukan.
"Ini buat kamu, yang di jari Abang ini, kamu bisa ambil setelah dapat cowok yang cocok menurut kamu buat jadi jodoh kamu."
Caca tersenyum. "Seandainya aku gak nemu juga cowoknya?" Tatapannya begitu menantang. Ish, ingin sekali meraup wajahnya hingga ia tak kuasa menatap dan hanya terpejam nikmat.
"Berarti jodoh kamu ada di depan mata." Gue mengerling genit.
"Ih, maunya... Abang genit deh."
Ia tersipu malu kemudian berlari dan menjulurkan lidahnya ke arah gue. Tentu, tak akan jauh jika keinginannya adalah gue mengejarnya.
Ya, kami menikmati itu. Seolah semua masalah yang semula membebani itu hilang sirna seketika. Melihat ia tersenyum ceria, tanpa beban, itulah satu-satunya kebahagiaan gue saat ini.
Anastasya, apakah kamu tahu? Sebenarnya dari cincin yang kita gunakan bersama, Abang berharap kelak kamu faham jika Abang menginginkanmu saat ini, esok dan seterusnya. Sampai kamu sendiri pun bosan dengan diri Abang, hati ini tetap tak akan berpaling.
Anastasya. Apakah kamu tahu? Sejak malam itu, hati ini begitu sakit melihat begitu banyak luka di tubuhmu yang lemah. Bahkan mengetahui luka itu begitu parah, Abang marah, sakit semua yang dirasa. Meski suatu saat keinginan itu tidak tercapai, setidaknya kita masih memiliki memori yang menyimpan moments indah tentang kebersamaan kita. Jika pun kamu atau Abang ditakdirkan untuk lupa ingatan di suatu saat, Abang harap untuk memori tentang ini tidaklah hilang.
__ADS_1
Caca, maafkan Abang jika tak bisa untuk tidak mencintaimu. Meski perih, kelak melihatmu bahagia, Abang pun bahagia.
Ck, sebenarnya sebal dan muak pula dengan watak gue yang pada saat ini seolah menjadi lemah. Ya, mungkin gue lemah karena cinta. Hal yang memang banyak merenggut logika dalam hidup gue. Seakan kini berjalan tanpa dasar, cukup melihat ia tersenyum sudah seperti booster bagi gue, ini benar-benar gila!
"Abang! Ngelamunin apa?"
Gue tersadar dari setiap bisikan hati yang hanya gue sendiri yang tahu.
Hati ... oh hati ... kenapa lo gak bisa milih yang emang mencintai lo aja sih? Mungkin beda ceritanya kalau gue dan Laksmi saling mencintai. Pengorbanannya pun tak akan sesulit ini.
Gue menghela nafas panjang. Mencoba mengejapkan mata sambil mengganti setiap senyuman Anastasya yang muncul itu dengan sosok lain, tapi tetap tidak bisa.
Kami berdua berbaring pada hamparan pasir pantai dengan kepala saling menghadap. Biarlah orang mengira jika kami berdua pengantin baru yang sedang honeymoon. Anggap saja memenuhi harapan yang gue sendiri tidak tahu apakah akan tercapai atau tidak.
"Abang ...." Tangan Caca merangkul wajah gue hingga berbalik menatapnya.
"Hem?"
"Jika kelak Abang mengalami kesulitan karena aku, tolong lepaskan aku ya. Jangan terlibat terlalu jauh, aku gak mau Abang celaka."
Gue tersenyum dan kembali menatap langit bercahaya redup di sore ini. "Kamu itu ngomong apa? Gak ada gunanya juga kamu ngomong kayak gitu. Abang tuh bukan orang yang mudah diatur."
"Apa? Siapa dan kenapa harus terlibat? Abang sendiri yang melibatkan diri di dalamnya."
"Abang ... aku serius ...."
Gue merubah posisi menjadi duduk, begitu pun Caca.
"Caca, Anastasya ... Abang tak pernah merasa diberatkan disulitkan atau apa pun itu." Gue membingkai wajah yang sudah mulai menunjukan tatapan berembun itu. "Abang melakukan semuanya tulus, dari dasar hati. Abang sayang sama kamu."
Jatuh, air mata itu kembali membasahi pipinya yang sebenarnya gue tak rela melihat tangisnya. Dengan lembut, gue seka air matanya, kemudian memeluk erat membiarkan ia terisak hingga tenang.
"Abang, aku gak tau harus gimana caranya buat ngucapin terima kasih sama Abang." Disela-sela tangisnya.
Cintai Abang, Ca ... please ... cintai Abang sepenuh hatimu, itu pun sudah cukup bagi Abang.
Pengecut!
__ADS_1
Itulah gue yang tak berani berkata secara lantang padanya.
...
Langit sore memang indah untuk dinikmati. Cahaya kuning keemasan di ufuk barat seolah menandakan jika hampir lenyapnya mentari bersembunyi di balik bayangan laut berwarna keemasan.
Tangan kami saling terpaut, sedikit pun Caca tak menghindar lagi ketika tangan gue menginginkan ketenangan dari genggamannya. Tentu saja, sebenarnya bukan hanya gue yang memberi ketenangan padanya, tapi juga dia pada gue.
Melihat ia menangis, bersedih, hati gue teriris. Genggaman tangan ini, pelukan yang ia atau pun gue yang memulai, itulah pengobatnya.
"Abang ...."
"Hem?"
Ia bersandar pada bahu gue. "Aku nyaman kayak gini. Nyaman ... banget."
Kamu nyaman? Abang pun. Sayangnya tak bisa dengan leluasa mengatakannya. Gue terlalu pengecut untuk jujur, kemudian merasa kecewa karena perasaan ini tidak terbalaskan.
"Abang pernah bawa cewek ke pantai gak selain aku?"
"Only you."
"Bohong ah."
"Gak percaya? Yaudah."
"Ih, Abang nyebelin deh."
Dia memukul lengan gue beberapa kali. Hingga kami main kejar-kejaran di tempat itu.
Bahagia!
Ya, ini kebahagiaan terbesar buat gue. Sekalinya ia nyaris menyentuh tubuh gue, segera saja mengelak membuat tawa kami semakin lebar. Hah, semoga keceriaan ini tak segera berakhir. Gue, gue bahagia!
"Abang! Abang curang ih!"
"Hahaha, wle ...."
__ADS_1
***
Next