
JANGAN LUPA FOLLOW N LIKE!!!
Deburan ombak itu tak terlalu besar seiring menyentuh ujung kaki yang menjuntai menyentuh pasir. Gue dan Juna saat ini tengah sedikit lebih tenang sambil menyaksikan indahnya pemandangan tenggelamnya mentari membias cahaya langit berwarna jingga.
"Sorry, gue gak tahu permasalahan lo lebih parah dari apa yang gue alami." Ia mulai membuka suara.
Gue hanya tersenyum kemudian menepuk pundaknya pelan. Ada terbersit rasa ingin menertawakan diri sendiri. Namun, rasa bersalah itu kembali muncul.
"Gue pikir lo udah tahu sejak awal."
Juna menarik nafas panjang, pandangannya kembali pada ujung yang kian menggelap di kejauhan.
"Meski gue iku Aslan sejak lama, tapi bukan berarti dapat mengetahui semuanya."
Aslan, nama itu seketika kembali menggores luka dan menciptakan kebencian di hati gue. Tapi ... please Alvin, lo gak bisa egois kayak gini!
Gue meraup wajah kasar merasa resah pada diri sendiri. Tidak mungkin juga pikiran ini hanya bergelut pada satu kemungkinan yang belum juga benar adanya.
Mungkin, ini sudah waktunya gue untuk lebih bijak lagi dalam menyikapi sesuatu yang terjadi. Seolah bayangan betemu Ibu di dalam mimpi kembali muncul di ingatan.
'Apapun yang terjadi nanti, tetaplah pada hatimu, tetap pada pendirianmu. Ibu tahu kamu memiliki batin yang kuat. Tidak mudah goyah pada apapun. Perbaiki hubunganmu, perbaiki apa yang menurut kamu salah, perbaiki semuanya, Ibu yakin kamu pasti mampu.'
Kalimat itu seolah menjadi cambuk bagi diri gue. Kenapa begitu bodohnya? Kenapa batin dan nalar gue seolah tidak berfungsi dengan baik?
Caca, maafin Abang, sayang. Seharusnya Abang tidak memiliki pikiran buruk terhadap kamu. Pertemuan hati kita pada waktu itu tentu saja membuahkan hasil yang baik bukan? Benih itu, Abang yakin itu memang janin kita, darah daging Abang.
Gue merogoh foto itu tanpa Juna tahu, membakarnya ketika ia berlalu sekedar membeli makanan ringan.
Di dalam sebuah komitken, tentu kepercayaan adalah landasan utama yang patut dipertahankan. Lantas apa gue ini? Bagaimana ketika Caca tahu kalau keraguan ini telah meraksuki? Akankah ia masih dapat menerima secara gamblang dan terbuka?
"Ada yang lo pikirin?" Pertanyaan itu sontak membuat gue meraup wajah secara kasar. Terlihat sekilas mata Juna melirik terbias cahaya lampu malam.
"Ini foto Caca sama Aslan. Ge bakar karena gak mau kalo sampe Caca liat ini."
"Lo ragu sama adik gue?" Ia menyodorkan sebungkus kacang kulit rebus.
"Sempat, tapi akhirnya gue percaya, adik lo gak akan melakukan hal yang konyol di belakang gue."
"Baguslah." Juna menepuk pundak gue. "Calon adik ipar," lanjutnya kemudian.
"Haha."
....
__ADS_1
Rampung, persiapan pernikahan sudah 100% selesai. Tiba waktunya pakaian serba putih seindah sinar merpati ini gue kenakan. Entah seperti apa kecantikan Caca yang berbalut gaun pengantin di dalam kamar sana. Mereka, Karina, Laksmi dan Jessica sengaja menyembunyikannya dari gue.
Tangan ini tergenggam erat dalam rengkuhan jemari kuat Juna. Aslan dan Vino turut hadir sebagai saksi janji suci gue untuk Anastasya, gadis yang gue selamatkan di Club malam itu.
Papa, begitu dia ingin gue menyebutnya sekarang. Ia tersenyum sambil sesekali menekan sudut matanya. Laki-laki hangat itu entah kenapa melihat aura wajahnya begitu berbeda dari biasa.
Akhinya, sah sudah Caca menjadi milik gue sepenuhnya. Kalian tahu, rasa bahagia seperti apa yang kini menghiasi di seluruh nafas gue? Sulit untuk digambarkan. Seolah semuanya berubah menjadi kian berwarna.
Caca, si gadis penyimpan benih cinta gue itu pada akhirnya keluar juga. Ia tersenyum malu-malu dalam balutan gaun pengantin warna putih gading. Sungguh cantik, bahkan rupawannya melebihi ekspektasi di dalam pikiran gue.
Tiga gadis lainnya yang sama berjasa dalam hidup gue, mereka mengiringi di belakang Caca.
Karina, dia beberapa kali menyelamatkan hidup Caca, bahkan ketika gue berada di dasar kesulitan, tak pernah ia berkhianat sebagai seorang sahabat, terutama pahlawan medis. Ya, Karina adalah pahlawan bagi gue, karena ia berjasa pula atas bersatunya kembali seorang Alvin Yanwar dan Anastasya Yanwar. Sengaja menyematkan nama itu di belakang nama gadis yang kini sudah berstatus sebagai istri gue.
Laksmi Gasari, dia pun gadis cantik yang tak kalah berjasa bagi gue dan Caca. Laksmi pun sama, tidak egois dalam memenuhi keinginannya. Bahkan, ia rela untuk melepaskan ikatan yang pernah kami jalin demi bersatunya gue dan Caca.
Jessica, dia satu-satunya gadis yang menemani Papa selama ini. Meski tengah sakit parah dan dapat terenggut maut kapan saja, bahkan dia lebih memilih mati daripada harus mengorbankan persahabatan demi seonggok hati.
Ketiga paras cantik itu mengantar Caca ke palaminan di mana gue sudah duduk menunggu sambil tak sabar ingin segera memeluknya, bahkan jika tidak malu, ingin rasanya mencium bibir itu dengan gemas.
"Papa." Gue memeluk laki-laki itu dengan hangat. Pelukan yang selama ini sangat dirindukan itu pada akhirnya dapa dirasakan juga.
"Selamat, nak, pada akhirnya kalian bersatu juga."
Gue terkejut diiringi para tamu undangan yang berhamburan mengamankan diri. Darah, kembali harus menyaksikan adanya korban berjatuhan hanya demi melindungi gue. Cairan merah dan kental itu menyiprat ke pakaian dan wajah gue memberi noda contras di antara warna pakaian putih.
Seisi gedung berteriak histeris, tapi tak kunjung dapat terlihat siapa yang melakukannya terhalang keributan yang terjadi.
Papa!
Kedua tangannya masih erat merangkul hangat pada tubuh gue meski sudah nyaris merosot.
"Papa!" Jessica berlari dari arah samping dan meraih tubuh Papa yang sudah melorot tapi tetap gue tahan.
"Papa ...." Lirih, Jessica menangis sambil memeluk tubuh berlumuran darah itu.
"Jessica, sayang. Maafkan Papa yang telah membuat mamamu meninggalkan kita lebih dulu." Terbata, tangan kirinya mencengkeram bagian dada yang terus mengucurkan darah segar.
Lidah gue terasa kelu dan sulit untuk mengeluarkan kata-kata selain kedua tangan yang memeluk tubuh Papa terhuyung ke lantai.
"Alvin ... maafkan Papa karena telah menelantarkanmu begitu lama. Papa ... sangat sa-yang sama kamu."
Berat sekali lidah ini selain tenggorokan yang terasa kian mengeras menahan air mata yang tak kunjung dapat ditahan. Kenapa? Kenapa harus bokap gue juga?
__ADS_1
"Alvin, tersenyumlah untuk Papa. Meski ini terakhir kalinya, Nak."
"Tidak, Papa akan selamat, Alvin janji itu, Pa ... Alvin akan balaskan dendam Papa. Siapa pun orangnya, Alvin akan bunuh dia, Pa!" Gue terus memeluk tubuh yang kini sudah terbaring tak berdaya itu. Bahkan nafasnya sudah terasa semakin terengah.
"Alvin ... Papa ... titip Jessica. Hanya kamu yang dia punya ... berikan hati Papa untuk dia, kuburkan ... kuburkan Papa di samping mama kamu ... Papa ... Papa sudah tidak kuat, nak ...."
Gue menggeleng kasar. "Tidak, Pa ... Papa gak boleh pergi ... Kalo Papa pergi Alvin sama siapa, Pa?"
Melemah, denyut nadi di pergelangan tangannya pun terasa kian menjauh.
"Panggilkan ambulance, siapapun itu tolong saya ...!"
Juna dan Aslan kemudian datang dengan meringkus seorang wanita yang mungkin tadi sempat melakukan penembakan itu. Wanita itu tampak raut beringas bahagia.
"Hahaha ... mati saja kau!" Lancang sekali mulutnya.
"Kamu!" Jessika bangkit dan menghampiri wanita itu. "Kenapa kamu lakukan ini sama Papa saya?! Apa salah kami sama kamu?!" Jessica pun tampak memegang dadanya.
"Salah kalian? Kamu lihat foto ini?!" Matanya membulat merah.
Wanita itu menunjukan foto laki-laki yang nampaknya beberapa kali melakukan percobaan pembunuhan pada gue.
"Ini suami saya yang telah dibunuh papa kamu!" ujarnya membuat para tamu menatap entah ke arah kami.
Gue tahu, mungkin orang yang dalam foto itu adalah mata-mata Herman yang kemudian disingkirkan Papa.
Terdengar sayup Karina menelepon polisi dan menghubungi ambulance. Sebisanya, Karina menutup luka di dada kiri Papa dan menekan menggunakan jarinya.
"Dudukan dia," ujar Karina. "Jangan biarkan darahnya tetap mengalir.
"Karina, bokap gue bisa sembuh kan?"
Sesaat ia menghela nafas. "Gue akan berusaha, tapi kemungkinan pelurunya menembus jantung, bahkan mungkin bersarang. Bokap lo harus di operasi, Vin."
"Please, Karina, please! Ini orang tua gue satu-satunya."
"Sebentar lagi ambulance sampai, lo siap ya. Temenin bokap lo, Jessica biar sama gue."
"Aku mau ikut Papa, Kak."
"Jessica, kamu sakit, kamu ikut sama saya."
***
__ADS_1
Next