Gadis Di Club Malam Itu

Gadis Di Club Malam Itu
ANASTASYA!


__ADS_3

UDAH FOLLOW KAN? JANGAN LUPA LIKE!!!


Orang ini memang terbilang hangat, bahkan kami menghabiskan waktu bertiga di perahu nelayan yang sengaja ia sewa untuk dapat berlayar ke lautan bersama seorang pengemudi perahu. Beberapa kali kail kami mampu menghasilkan ikan yang cukup besar seukuran betis manusia. Beberapa kali pula ia tertawa puas dengan hasil pancingan kami.


Jessica, gadis itu terdiam menatap lautan tanpa kata. Gue memberanikan diri untuk mendekatinya, siapa tahu dapat mendengar suaranya meski cuman sekedar mendeham saja.


"Kamu gak bahagia ya?" Mencoba untuk basa-basi dan asal menebak saja.


Ia yang semua berpangku tangan itu menoleh, tapi tak ada sedikit pun suara yang keluar dari mulutnya. Hanya kibasan helaian rambut bergerak bebas tersapu angin, bergulir bebas di wajahnya yang kerap sendu dan pucat.


"Mau coba mancing?" Sekali lagi gue coba, tetap tak ada suara. Malah, pandangannya kembali menghadap lautan lepas.


Jika ditatap dengan lekat, garis wajahnya memang tidak beda jauh dengan Anastasya, gadis yang selama ini gue rindukan. Entah di mana dia sekarang.


Jessica, gadis itu tetap tak bergeming meski gue menunggunya beberapa saat lamanya. Tuan Hadi Yanwar sesaat melirik ke arah kami, menunjukan hasil pancingannya yang terus mampu memikat ikan ia jatuhkan ke dalam wadah yang tersedia.


"Lihatlah, Alvin. Papa dapat lagi. Haha ... kamu kalah telak sekarang." Ia tertawa bangga mengangkat pancingannya.


Gue tersenyum. Sebutan Papa itu sengaja ia sematkan demi mampu mengingat putranya yang entah di mana berada.


"Alvin, ayo lanjut mancingnya, Kalau perlu, sampai sore. Haha ...." Lagi, kail itu ia jatuhkan kembali menuju hamparan air yang sedikit bergelombang.


...


Lelah, kami berpulang ke rumah Wa Made. Pak Hadi sengaja ikut, ia bilang kalau pulang ke hotel akan sangat kesepian. Terlebih putrinya tetap tak mau bicara.


Padahal Jessica sendiri tidak memiliki raut yang jutek selain hanya berdiam diri dam murung. Jessika mematung di hadapan jendela kamar yang dulu milik Caca, persis seperti gadis itu, seseorang yang gue rindukan.


"Abang rindu kamu, Ca." Tanpa sadar bibir ini berucap, gadis itu menoleh sendu.


Dia, hanya menatap lekat, tapi tak urung pula bersuara. Gue menekan sudut mata yang lagi hendak meluncurkan bulir bening menyapa kesedihan.


CENGENG! Memang gue cengeng sekali. Laksmi yang semula hendak masuk ke kamar itu, ia merasa enggan hingga hanya menunggu di luar.


"Laksmi, kenapa?" Gue menghampirinya.


"Maaf, Abang. Ikan bakarnya sudah siap di luar." Ia segera pergi, tak ada senyum lembut seperti biasanya.

__ADS_1


"Jessica, kamu mau ikut ke luar?"


Sorot matanya masih tetap sendu. Entah apa yang ia sembunyikan dari gue. Seperti ada kekecewaan yang tak dapat ia sampaikan.


"Jessica ...." Gue menyapanya dengan lembut. "Kamu ada masalah? Kamu bisa panggil saya Abang kalo mau."


Masih tak bicara. Namun, gue tetap berusaha sabar dengan membiarkan ia menyimpan rahasia itu. Entahlah, melihat kesedihannya seperti ada yang mengiris hati gue dengan kejam.


"Jessica ...." panggil Pak Hadi dari luar. "Mari kita makan dulu, nak. Ikan bakarnya sudah siap."


Jessica terbatuk sesaat. Tangan yang menutup mulutnya itu tampak menunjukan noda merah.


"Jessica!" seru Pak Hadi memburu tubuh putrinya.


"Jangan sentuh aku!"


Gue tersentak, akhirnya gadis itu mau bicara, tapi bukan ini yang menjadi ekspektasi awal. Gue kira hubungan mereka baik-baik saja. Namun, ternyata mungkin kekecewaan itu memang berarah pada ayahnya sendiri.


"Jangan sentuh aku! Aku jijik sama Papa!"


"Jessica ... jangan seperti ini, Papa sedih lihatnya." Tangannya merentang, berusaha meraih putrinya.


Gadis itu menghindar, ia bersembunyi di belakang gue sambil mencengkeram erat T-shirt yang gue kenakan. Gadis itu terisak, pedih.


"Jangan pernah Papa sentuh aku! Semua salah Papa, setiap apa yang aku alami adalah salah Papa! Aku lebih baik mati daripada harus lihat jasad sahabatku sendiri!"


"Jessica!"


Gue masih terdiam melihat pertentangan kedua orang itu. Bahkan, beberapa penghuni rumah sudah mulai berdatangan. Rasanya tak enak pula jika masalah intern ini harus menjadi tontonan gratis.


"Om," gue coba menengahi. "Biar saya saja."


Pak Hadi menarik nafas panjang. Ia lebih memilih mengalah ketimbang memicu keributan yang lebih hebat lagi. Laki-laki paruh baya itu keluar bersama yang lainnya juga. Membiarkan gue yang tetap ingin menemani gadis ini dalam kesendirian hatinya.


"Jessica ...." Gue coba memanggilnya dengan lembut. "Kamu tenang ya, ada Abang di sini."


Jessica terisak. Tubuhnya terguncang tekanan perasaan dalam hatinya. Bahkan ia menggigil dalam pelukan gue.

__ADS_1


"Apa masalah kamu? Bisa kamu ceritakan sama Abang?"


Jessica menggeleng. Tubuhnya masih menggigil sambil tangan erat mencengkeram pakaian gue.


Sifat gadis ini, Kalau diperhatikan persis seperti Caca ketika pertama kali kami bertemu. Entahlah. Apakah suatu saat ia akan setegar dan seceria Caca, atau menjadi pribadi yang tetap seperti ini?


"Jika kamu punya masalah sama papa kamu, selesaikan secara baik-baik, kasihan papa kamu."


"Dia Papa yang jahat, dia yang sebabkan Mama meninggal."


Mungkin terlalu rumit hingga menumpuknya masalah dalam hidup gadis ini. Namun, setidaknya dia masih punya seorang Ayah untuk tempat ia mengadu. Sedangkan gue, cukup tersenyum hambar ketika tahu, bahkan apa yang menjadikan gue iri bukanlah hal yang menyenangkan bagi orang lain.


"Jessica, Abang sekarang hidup sendiri, bahkan iri sama kamu. Bahkan, Abang pikir kamu terbilang beruntung karena masih memiliki Papa."


"Enggak! Kamu itu gak pernah tahu seperti apa dia sebenarnya!" Ia melepaskan pelukan itu dan menunjuk ke arah gue dengan penuh amarah.


Gue cukup memejamkan mata, pahit terasa. Ya, mungkin ia benar, tak semua dapat gue ketahui hanya dari beberapa hal yang gue alami. Seperti kepergian gadis itu pun, entah dimana dia sekarang.


Jessica terhuyung karena amarahnya. Darah itu kembali mengalir dari hidungnya, bahkan saat ini dia sudah enggan untuk bersentuhan dengan gue.


"Kamu tahu, kenapa aku lebih memilih patung yang kamu sudah buat daripada sketsa yang Papa kasih ke kamu?"


Gue menggeleng. Rasanya cukup untuk sok tahu pada apa yang tidak gue ketahui.


"Papa ingin menggantikan sahabat aku, orang yang hendak ia jadikan korban untuk pengambilan hatinya buat aku, dengan patung itu."


"Sahabat kamu? Patung itu?"


Bagaimana bisa? Wajah itu hanya gue sendiri yang tahu. Bahkan itu adalah moment yang orang lain mungkin tidak akan sama persis dengan itu meskipun ada yang sama.


"Siapa nama sahabat kamu?" tanya gue lirih, wajah ini sudah terasa memanas. "Siapa nama sahabat kamu?!" Akhirnya gue emosi karena ia tak urung menjawab.


"ANASTASYA!"


***


next

__ADS_1


__ADS_2