
FOLLOW SEBELUM BACA!!!
Malu sekali. Tangan ini menggaruk kepala yang tak gatal sebenarnya. Caca, gadis itu sungguh anggun dan telaten. Mungkin akan seperti ini rasanya jika gue sudah mempunyai istri. Ah, memang usia sudah hampir memasuki kepala tiga, cukup pula jika mereka para kawanan yang sudah berstatus suami sejak usia muda menyebut jika seorang Alvin adalah 'bujang lapuk'.
Tak salah memang. Namun, apa terbilang pantas jika gue berpikiran aneh tentang gadis remaja di hadapan ini?
"Abang mau langsung sarapan?"
Ini pertanyaan ternyaman pertama yang gue dengar dari mulut Caca. Sekilas ia menyunggingkan senyum. Tak sadar pula mulut sialan ini mengikuti alurnya.
"Aku ganggu ya? Berisik ya?"
Tangan yang masih belepotan dengan busa sabun itu sesaat menyeka peluh di dahinya, menyisakan pula busa sabun yang tampak lucu bertengger di rambutnya.
"Sebenarnya Abang tak biasa sarapan di rumah."
Sesaat dia menoleh dengan tatapan yang mungkin sangat disayangkan. Beberapa hidangan lezat itu mulai mengundang selera untuk tak menunda waktu lama segera duduk menghadapnya. Caca terkikik, ia mencuci dan mengeringkan tangannya setelah semua piring kotor bersih tak tersisa.
"Abang mau sarapan sama iler ya?" Caca menyodorkan segelas air putih.
Malu tak kepalang. Wajah ini serasa panas dan mungkin memerah. Gadis itu masih menatap hingga gue menuju wastafel dan mencuci muka di tempat pencucian piring itu. Ini terbilang masih pagi sebenarnya, beberapa menit lagi mungkin gue mandi.
"Abang ...."
"Hem?" Tangan gue sigap meraih nasi hangat dan beberapa hidangan yang masih mengepulkan asap aroma nikmatnya. "Kamu mau ikut makan juga?"
Caca menggeleng.
"Kenapa? Makan juga sini."
"Abang, makasih udah nolongin aku semalam."
Gue seperti diingatkan sesuatu. Segera meraih ponsel yang ada dalam saku jaket hitam ini. Ah, terasa agak ribet lalu melepasnya. Caca agak heran saat gue menarik tubuhnya dan merekam beberapa jejak memar dan luka bakar akibat sulutan rokok itu. Dia agak terkejut juga, menahan T-shirt___nya saat gue hendak menyingkap kaos tipis itu.
"Abang gak mau apa-apain kamu, nurut aja."
"Aku malu, Bang."
"Ini buat laporan ke polisi kalo kamu mengalami kekerasan."
__ADS_1
"Jangan!"
"Kenapa?"
"Kalo Abang lapor polisi, nanti kakakku juga akan terlibat."
Kenapa juga dia masih peduli pada figur memuakkan itu? Kakak? Orang seperti apa yang ia panggil Kakak itu?
"Dia terpaksa menjualku, karena keluarga kami terlilit hutang." Ia menunduk membiarkan kedua telunjuk itu saling bertautan.
Dengan hati berat, gue menutup kembali rekaman vidio itu. Seperti ada hantaman batu besar yang menimpa jatuh menghancurkan dada. Sesak, seperti tak ada lagi selera untuk makan.
Tapi, melihat bola matanya yang bening menatap lekat ke arah gue, seperti meluruhkan kembali amarah yang semula membuat jemari ini mengepal kuat.
"Yasudah, kita sarapan dulu. Habis ini siap-siap untuk pergi ke dokter, buat obati semua luka kamu."
...
Seusai mandi, hari ini sengaja mengajukan cuti kerja setelah beberapa kali mengabaikan jatah itu dari kantor. Gue sengaja membawa Caca pergi ke rumah sakit, sekalian mengajukan visum tanpa dia tahu. Sungguh masih merasa gedek sama kakaknya itu yang dengan sengaja menumbalkan adiknya sebagai alat pelunas hutang. Aturan dari mana itu?
"Kamu tunggu sebentar, Abang mau buat janji dulu sama dokternya."
Caca mengkeret menahan lengan gue untuk tetap stay di sana. Raut muka gadis itu tampak menyiratkan ketakutan. Ternyata si laki-laki tambun semalam baru saja habis berobat dari tempat yang sama. Mungkin terjadi pula kerusakan pada tengkorak kepalanya, semoga saja dia mengidap amnesia.
Kulihat kembali wajah ketakutan yang masih memar itu tampak lebih jelas dari semalam. Bahkan, Caca tertangkap beberapa kali meringis kesakitan sambil menahan perutnya.
"Apa yang kamu rasakan saat ini selain ketakutan?"
"Sakit, perut aku semalam ditonjok."
"Katakan semuanya pada dokter yang nanti menangani kamu. Semua rentetan kejadian semalam."
"Tapi, aku malu ...."
"Percaya sama Abang." Gue mencoba untuk meyakinkannya. "Kamu terlalu berharga untuk tidak mendapat keadilan."
"Tapi ... Abang."
"Hem?"
__ADS_1
"Kakakku tak akan terseret hukum kan?"
Gue tersenyum. Menyentuh lembut pada ujung bibirnya yang masih menyisakan luka sudah agak mengering itu. "Ini dokter, bukan polisi."
Lenyap bayangan laki-laki tambun itu dari pandangan, Gue membawanya turun menuju ruang dokter yang sebenarnya tanpa janji pun dapat gue masuki ruangannya. Hanya saja, jika harus tak menghiraukan pasiennya, rasanya tidak enak hati. Terlebih setiap rumah sakit memiliki prosedurnya masing-masing.
Dr. Karina. Wanita itu memang teman SMA gue dulu. Hanya saja nasib dia lebih bagus hingga mampu meneruskan ke fakultas kedokteran yang sempat gue idamkan semasa kami masih memiliki mimpi dulu. Takdir berkata lain, gue hanya mampu mengambil jurusan akuntansi, itupun kelas karyawan.
"Alvin?" dahinya langsung berkerut. Setelah beberapa bulan gue tak pernah berkunjung semenjak ia meresmikan hubungannya dengan Dino, sahabat gue sendiri.
"Karina, sorry. Gue bawa temen." Agak malu juga, gue menggaruk tengkuk tak gatal.
Mata Karina melirik tertarik. Seorang gadis muncul dari belakang gue, ini memang pemandangan yang jarang sekali ia lihat.
"Udah move on sekarang?" sindirnya halus. "Silahkan duduk."
Sesaat ketika Caca menduduki kursi pasien, gue menarik Karina ke luar ruangan dan membisikan beberapa kalimat. Dokter cantik itu tersenyum simpul, menatap gue dengan pandangan terharu.
"Lo sayang sama dia, Vin?"
Sunyi, gue hanya terdiam tak tahu apa yang harus dikatakan.
"Gue akan melakukan yang terbaik." Karina menepuk pundak gue sebelum akhirnya ia masuk dan membiarkan gue yang hanya menunggu di luar.
Thank's Karina. Itulah mungkin yang membuat gue pada awalnya susah move on dari lo. Namun, meski pada akhirnya harus menjadi milik sahabat sendiri, gue rela, selama persahabatan kita tetap terjalin.
Berkali mata ini melirik ke arah pintu bercat putih itu. Menanti jika Karina datang dari sana, membawa sesuatu yang sangat gue harapkan.
Kedua telunjuk gue bergantian mengetuk besi penyanggah kursi tunggu ini, mengusap wajah dan melirik laju jarum jam yang bertengger di dinding itu. Benar-benar penantian yang mendebarkan.
Ceklek!
Pintu itu akhirnya terbuka. Karina ke luar membawa selembar surat yang mungkin hasil dari apa yang gue mau. Namun, ada raut yang tak mengenakan yang terpancar dari wajah Karina.
"Bagaimana?" tanya gue antusias.
"Dia harus di operasi."
"Operasi? Lo canda ya? Perasaan tadi kondisinya baik-baik aja."
__ADS_1
***
next???