Gadis Di Club Malam Itu

Gadis Di Club Malam Itu
GUE HARUS KEMBALI


__ADS_3

UDAH FOLLOW KAN? JANGAN LUPA LIKE!!!


"ANASTASYA."


Nama itulah yang selama ini cukup menguras emosi dan air mata. Gue terkulai, serasa semua tulang di tubuh menjadi tiada seketika.


Anastasya? Jadi gadis ini calon pendonor hati bagi Jessica? Kenapa? Kenapa seperti itu? Bahkan mungkin ia sendiri tahu jika nyawanya dalam bahaya, kenapa harus pergi?


"Jadi, calon pendonor hati kamu itu, gadis ini?" tanya gue lirih sambil menunjukan foto di wallpaper ponsel gue.


jessica tak banyak bicara selain hanya membulatkan kedua matanya. Apa yang harus gue lakukan? Baru saja momen kehangatan antara gue dan laki-laki itu terjalin beberapa jam yang lalu. Bahkan, diri ini sudah merasa jika ia memiliki sosok Ayah yang selama ini menjadi kerinduan terbesar bagi gue.


...


Tak sanggup menatap keceriaan yang harus musnah itu, gue lebih memilih mengasingkan diri di tepi pantai daripada harus merusak suasana acara bakar-bakar mereka. Semula Laksmi ingin mengikuti, tapi gue menolak. Gue butuh waktu untuk sendiri.


Ditatap raut cantik yang tengah tertidur pulas itu tergambar dalam layar ponsel gue, hati ini teramat merindukannya.


Caca ... kamu di mana? Abang rindu sekali sama kamu. Pulang, Ca. Please, pulang demi Abang. Abang gak bisa terus seperti ini, Abang gak bisa ....


"AAARRRGGGHHH ...!" Gue menonjok keras batu karang yang berdiri kokoh di samping pantai itu.


Bukan. Bukan karena sakit tangan berdarah yang membuat tangisan gue semakin parah, tapi kehilangan yang semakin lama kian menyiksa ini yang akhirnya tak mampu lagi untuk ditahan.


"CACA ...!"


Sekali lagi gue berteriak menghadap deburan ombak yang kian membesar setiap menitnya. Mungkin waktu sudah menunjukan tengah malam ketika gue putuskan untuk pulang dalam keadaan hati yang belum tenang.


Tidak, tempat gue bukan lagi di sini. Mungkin sudah seharusnya kembali ke Jakarta. Kebetulan pula Karina belum ada kabar tentang nasib rumah dan mobil gue yang sejak lama dilakukan penawaran untuk dijual. Mungkin sebaiknya memang gue kembali tempati rumah itu.


Laksmi memburu ketika gue sampai, ia begitu khawatir dengan darah yang bercucuran di tangan kian tak henti.


"Abang dari mana? Kenapa tangannya berdarah?"


Telaten ia dengan lembut menutupi luka itu dengan kain kasa. Sesekali Laksmi menyeka air matanya sambil terus menunduk.


"Laksmi ...." panggil gue lembut. "Abang tidak apa-apa." Mengangkat wajah gadis itu dengan telunjuk gue.


Gadis itu terisak, bahkan tubuhnya berguncang seiring tangisan yang terus membanjiri wajahnya.


Gue sadar, ketika melingkarkan cincin itu di jari Laksmi, mungkin ia sudah mengira jika telah ada komitmen di antara kita berdua. Cincin itu ia usap dengan lembut, setetes air matanya jatuh tepat di tengah setengah ukiran Dewi Cinta yang intens menatap kami berdua. Seolah tengah protes dengan keadaan.


"Besok Abang ke Jakarta."


Gadis itu menoleh, tatapannya tampak nanar dan memilukan.


"Abang harus pulang."


"Tapi Abang sudah janji pada Laksmi akan tetap tinggal di sini."


"Ada yang harus Abang selesaikan di sana."

__ADS_1


"Tapi ...." lirihnya.


Gadis itu terus terisak, tapi tak mampu melanjutkan kata-katanya. Mungkin ia tengah berusaha untuk faham akan kondisi gue saat ini.


Gue merebah pada sandaran kursi di ruang depan bersekat jati diukir itu, memejamkan mata, berusaha untuk menetralkan pikiran dari hal yang mungkin akan menyakiti gadis ini.


"Laksmi tak bisa jika Abang pergi." Ia memeluk dengan erat, tapi tak juga gue membalasnya.


Biarkanlah, tak baik jika membiarkan ia terus bersalah faham hingga kejadian gue dan Alexa tempo hari menjadi terulang kembali.


...


Jakarta ....


Setiap kejadian di Ubud akan menjadi cambuk bagi gue. Berat rasanya, terlalu banyak kepahitan yang tak lagi pantas untuk diteruskan. Maaf, Laksmi. Abang rasa sudah tidak ada lagi waktu untuk tetap bersembunyi. Bagaimana pun, Anastasya lebih berarti buat Abang.


Dua orang sudah berdiri tegap di menghadap rumah gue ketika kaki ini baru saja sampai di pelataran rumah. Mobil itu masih terparkir, entah sudah berapa juta debu menutupi seluruh permukaannya.


Alexa dan Pak Surya. Nampaknya itu memang mereka berdua. Untuk apa berada di sini? Bukankah semuanya telah selsai, tak ada lagi urusan di antara kami. Bukankah perusahaan itu dengan senang hati membuang gue?


"Alvin!" seru Alexa menghampiri.


Enggan, gue terlalu malas untuk menanggapi pelukannya dan wajah manja memuakkan itu.


"Alvin, syukur kamu pulang hari ini." Pak Surya ikut menghampiri.


Gue tersenyum hambar.


Pernikahan kah? Bukankah dia tahu sendiri jika dari dulu gue tak pernah menginginkan untuk menjadi menantunya?


"Saya rasa tidak ada yang perlu dibahas lagi."


"Tidak, bukan seperti itu. Tentang kamu dan Alexa ... anggap saja dulu saya telah salah. Ada yang ingin bertemu sama kamu, dia Bos besar perusahaan kami."


"Untuk?"


"Entahlah, dia mengancam akan menarik semua asetnya dari perusahaan saya jika tidak mempertemukan kamu dengannya."


Akhirnya, masa itu ada pula. Di mana berbalik ia yang mengemis dan tak perduli jika harga dirinya harus runtuh di hadapan gue.


"Saya sudah bukan lagi karyawan di perusahaan anda. Apakah anda lupa itu?"


"Tentu saja saya ingat."


"Anda dengan terang-terangan sudah mengusir saya, apa masih ingat?"


Sesaat ia melirik ke arah Alexa dan kemudian mengangguk lalu menunduk.


"Jadi? Tidak ada lagi kewajiban bagi saya untuk menuruti permintaan anda." Gue melenggang melewati mereka.


"Alvin, saya akan berikan jabatan apa pun untuk kamu di kantor kita. Termasuk menjadi pemimpin tertinggi di perusahaan cabang, saya berikan itu!"

__ADS_1


Perduli apa gue dengan masalahnya? Masa bodoh. Biarkan saja dia dengan urusannya sendiri.


Akhirnya, tubuh ini berhasil merebah pada sofa, membiarkan tas kumal berisi pakaian ini menjadi penyangga kepala. Apa yang harus gue lakukan di sini? Di tempat ini.


Seketika bayangan tentang Caca kembali hadir, terlebih dengan suara piring saling berbenturan serasa gadis itu tengah mencuci perabotan kotor bekas makan kami seperti biasanya.


Ya, ini yang selalu ia lakukan sebelum akhirnya kami memutuskan pindah ke Bali karena demi menjaga keselamatannya. Dia gadis cantik, tapi keberuntungan itu tak secantik wajahnya.


Kamar itu, apa kabar dengan kamar serba pink yang gue persiapkan untuknya? Bibir ini tersenyum, serasa jika ia masih berada di sana dalam balutan selimut melindungi tubuhnya.


Masih ingat bagaimana ekspresinya ketika pagi itu. Ya, pada saat kami tidur satu ranjang bersama. Ia begitu panik dengan ekspresi yang konyol. Seketika gue tertawa geli, tepatnya menertawakan nasib gue sendiri.


Gue hampiri tempat itu, meremas selimutnya sambil tak henti tertawa. Memeluk, bahkan berguling di tempat tidur itu, menghirup sisa-sisa aroma Anastasya yang selama ini gue rindukan. Mungkin jika orang lain melihat akan menganggap gue gila, tertawa dalam tangisan.


[Vin, lo ada di Jakarta?]


Entah dari mana Karina tahu jika gue sudah pulang. Hanya melihat sekilas layar pipih itu, kemudian gue lemparkan seolah tak mau ada siapapun yang mengganggu kebersamaan gue dengan Caca.


Entah sudah berapa jam berada di kamar ini hingga terlelap sambil memeluk selimut itu. Karina sudah berdiri di ambang pintu sambil melipat tangan dan menggelengkan kepala memerhatikan gue yang tak kunjung bangkit.


"Lo sebucin itu, Vin?" ujarnya menghampiri. "Lo gak baca WA gue ya?"


"Sorry, tadi gue ketiduran." Sambil melirik ke jendela yang sudah gelap di luar sana.


Entah mungkin Karina sendiri yang menyalakan lampu seluruh ruangan ini.


"Lo beneran gak baca WA gue?"


Hanya menjawab dengan gelengan kepala sambil menggisik mata yang terasa bengkak. Mungkin memang pada kanyataannya sudah bengkak.


"Lo dari pagi molor ya?" Karina memukul gue dengan bantal, mungkin kesal karena tidak ditanggapi serius.


"Jorok banget sih! Mandi gih sana!" Ia mendorong.


"Males ah, gue tiduran lagi aja."


"Vin, gue tahu keadaan lo seperti apa, tapi gak harus kayak gini juga, nyiksa diri lo, gak baik."


Ya, ucapan Karina memang ada benarnya. gueang sudah berubah menjadi orang yang rapuh saat ini. Tak perduli dengan ocehan Karina yang mungkin sebentar lagi akan mencakar tubuh gue saking kesalnya.


"Vin, kalo lo baca pesan dari gue, sejak awal lo akan tahu Caca di mana."


Akhirnya, kalimat itu cukup untuk membuat gue bangkit dan memburunya.


"Di mana Caca sekarang? Katakan!"


"Ck, ada sama gue."


***


Setelah part ini akan ada POV 3 yang menjelaskan bagaimana caranya Caca bisa sampai ke tempat Karina.

__ADS_1


Pantau terus ya...


__ADS_2