Gadis Di Club Malam Itu

Gadis Di Club Malam Itu
Caca!


__ADS_3

UDAH FOLLOW KAN? JANGAN LUPA LIKE!!!


Jam sudah menunjukan pukul delapan pagi pada saat Karina datang ke rumah. Di luar dugaan, ia berdiri tepat di hadapan bersama Vino ketika gue membuka pintu.


"Oh, silahkan masuk," ujar gue sambil melebarkan pintu.


"Gue gak papa kan ikut?" tanya Vino.


"Ya, tentu saja. Udah lama juga kan kita gak ketemu?" Mencoba untuk tetap biasa saja. Karena sekarang Karina sudah bukan yang tertinggi di hati gue.


"Caca ada, Vin?" Akhirnya Karina yang bertanya.


"Ada, dia lagi sarapan dulu. Bentar gue panggilin ya."


Pintu itu memang menjadi tujuan utama gue. Selain hendak memanggil Caca, tentu pula untuk memastikan jika gadis itu mungkin lupa mengucapkan kata terima kasih.


"Caca, Abang masuk ya ...." Sambil mengetuk pintu.


"Jangan dulu! Aku baru abis mandi!" serunya dari dalam.


"Wah, bagus dong. Abang masuk ya ...."


TREK!


Mungkin tanpa pikir panjang dan banyak bicara ia langsung mengunci pintu itu. Ah, kenapa pula gue harus minta ijin dulu? Bukankah akan lebih asyik kalau langsung masuk?


Aduh, nampaknya otak ini sudah mulai korslet karena gadis remaja itu.


Tak begitu lama, akhirnya Caca ke luar juga. Dia sekarang sudah terlihat lebih fresh dan wangi. Memang tepat sabun pilihan gue, enak pula dihirupnya.


"Dokternya udah datang?" Sambil kepalanya celingukan.


"Ada di depan."


"Yaudah."


Dan, lagi-lagi. Mungkin Caca lupa jika pemuda tampan ini sedang menunggu ucapan romantisnya di sini.


"Sama-sama, Caca ...."


Kembali gue berhalusinasi kalau Caca mengucapkan kata terima kasih dengan gaya yang romantis di hadapan gue. Namun, faktanya ia tetap lupa. Ya naseeeb ....


Caca sudah berhadapan dengan Karina ketika gue hampiri mereka. Namun, Doni tak terlihat lagi bentuknya. Mungkin ia berangin di luar sana.


"Na, lo udah biasa di rumah ini kan? Kalo mau minum, ambil aja di kulkas," ujar gue sambil berlalu.


Tampak Caca menoleh mengetahui kedekatan gue dengan dokter pribadinya itu. Lalu dengan genit gue mengedip, membuat ia tersipu malu tanpa tampak kikuk. Lucu sekali.


"Gue ke luar dulu," ujar gue pada Karina.


"Oke."

__ADS_1


Vino tampak tenang memandang kolam ikan kecil di hadapannya. Sambil sesekali menaburkan pakan, membuat hewan warna-warni itu saling berkerubun.


"Ehm!" Gue coba untuk membuka suara.


Sudah lama pula semenjak hari pernikahannya dengan Karina. Mungkin kondisi persahabatan kami tak sedekat dulu. Entahlah, gue mungkin memang egois. Padahal tahu sendiri jika jodoh sudah ditakdirkan yang kuasa.


"Thank's ya. Karena lo udah berhasil buat Karina bahagia." Gue merebut kantung pakan di genggamannya.


Vino tersenyum hambar. "Justru gue merasa udah jahat banget selama ini. Kedekatan lo dengan Karina selama bertahun-tahun, gue sendiri tidak tahu. Sahabat macam apa gue?"


"Dahlah, nasi dah jadi bubur. Lagian gue udah punya abege. Tuh." Sambil menunjuk Caca yang sesekali curi pandang ke arah kami.


"Itu cewek lo?" Vino terperanjat kaget. Ia tampak antusias untuk tersenyum.


"Baru calon. Dia masih remaja soalnya, baru tujuh belas tahun."


"Wah, pinter banget lo nyari cewek, kenal di mana?"


Hem tertunduk dan tersenyum. "Dari sebuah kecelakaan. Dia dalam bahaya, gue yang bawa dia ke mari."


"Keren ... udah modelan film superhero barat aja." Sesaat Vino kembali mendongak dan bersandar pada tembok di belakang kami. "Gue doain, semoga semuanya lancar."


"Thank's, bro ...."


"Eh, by the way kami ke sini juga ada maksud lain. Nih."


Vino menyerahkan sebuah undangan berwarna merah muda ke hadapan gue. Masih ingat betul, jika warna itu adalah kegemaran Karina dulu. Ternyata ia masih sama. Tertulis jika itu adalah undangan pesta anniversary pernikahan ke satu antara Vino dan Karina.


"Dateng ya." Vino menepuk lengan gue. "Jangan lupa bawa Karina juga."


...


"Kita pamit dulu. Lo jangan lupa dateng ya." Doni kembali memastikan.


Sungguh, jika gue boleh jujur. Perasaan ini ibarat tengah menjaga istri yang baru saja selesai operasi caesar saja.


Caca bersandar pada sofa sambil memejamkan matanya. Wajah yang manis sekali. Meski kosmetik yang ia gunakan tak setebal Alexa atau pun Karina, rautnya bahkan tak dapat dikalahkan oleh mereka.


"Gimana dengan luka operasinya?" Gue duduk di sampingnya.


Caca membuka matanya, lalu ia memperbaiki posisi duduk sambil menggosok matanya pelan.


"Kata dokter udah mulai kering."


"Baguslah. Jadi beberapa hari lagi kita bakal hadirin acara anniversary Karina dan Vino."


"Sama aku?" ia menunjuk dirinya sendiri.


"Iya, sama kamu. Sama siapa lagi?"


"Kak Alexa?"

__ADS_1


"Abang ma dia gak pacaran, Caca ...."


"Massa?" Mata Caca berkedip genit.


"Ck, ish ... yadahlah."


Gue dibuat kikuk dengan pandangan itu. Ish, gemes deh pengen *********


...


Para tamu yang menghadiri pesta ini memang cukup ramai, termasuk beberapa teman kantor gue pun nampaknya datang. Entahlah, tapi memang mereka tidak memandang buruk pula pada gue dan Caca yang baru sampai di sana.


Tema garden party ini mungkin memang cocok bagi mereka yang hendak bersenang-senang hingga malam. Melihat Karina di podium sana melambai tangan bersama Vino, gue akhirnya menghampiri.


"Akhirnya kalian datang juga," seru Karina antusias memeluk Caca.


"Gue gak dipeluk nih?"


Sontak mata Karina melotot dan Vino pun tertawa.


"Sini gue yang peluk," ujar Vino. Kami tertawa renyah.


"Ini ada bingkisan kecil." Gue menyodorkan sebuah kotak yang berhiaskan kertas silver itu ke hadapan Vino dan Karina.


"Thank's. Tumben lo mau repot-repot bawa kado." Vino tertawa geli.


Gue hanya menoleh ke arah Caca yang tampak cantik malam ini. Dia memang idaman, dengan sengaja pula gue membawa dia ke salon terbaik, demi pamer pada yang lain jika seorang Alvin memiliki pasangan tercantik malam ini. Biar tidak dikatakan bujang lapuk terus.


Dalam keadaan mengenang masa kuliah dulu, tatapan yang semula menyisir. keadaan itu terhenti pada sosok yang telah coba gue jauhi beberapa hari ini.


ALEXA dan PAK SURYA.


Mereka berjalan berdampingan sambil melewati bibir kolam renang dengan mengangkat kepala. Bahkan Alexa yang gue lihat sekarang itu terasa lebih angkuh dari biasanya. Mungkin ini pula kesalahan gue.


Merasa tidak nyaman dengan keberadaan mereka. Gue lebih memilih untuk pergi ke tempat tersedianya beberapa jenis makanan termasuk buah-buahan di sana.


"Kamu tunggu di sini ya, Abang ambilkan salad buah buat kamu."


Caca mengangguk. Ia pun tampak tenang dan nyaman ketika bercengkerama dengan Karina dan Vino.


Ya, gue merasa tenang dengan keadaan itu. Sesaat menghela nafas lega, mereguk beberapa taguk minuman yang tersedia di sana.


Meski pengar dan pahit, tapi cairan ini tetap menjadi kegemaran. Tak terlihat lagi Alexa dan Pak Surya. Mungkin mereka sudah ke tempat lain di dalam pesta itu.


Caca pun sama, di mana gadis itu? Seketika mata ini menyisir setiap area yang terpampang dengan lebar. Tak ada pun Caca di sana. Panik, gue segera meninggalkan area makanan itu demi mencari Caca dan memastikan ia baik-baik saja. Hingga ....


BYUR ....


Seseorang meluncur ke dalam kolam dan tengah berusaha untuk berenang di dalam sana.


"CACA!"

__ADS_1


***


next???


__ADS_2