Gadis Di Club Malam Itu

Gadis Di Club Malam Itu
Tragedi Setelah Keindahan


__ADS_3

UDAH FOLLOW KAN? JANGAN LUPA LIKE!!!


Gue dan Anastasya begitu menikmati waktu kami berdua. Hingga gadis itu sendiri menginginkan sesuatu yang tak pernah gue duga sebelumnya.


"Abang," bisiknya sambil memainkan dada.


"Hem?" Gue menoleh hingga pandangan kami saling bertemu.


"Aku mau kita berjodoh, Abang gak keberatan kan?"


Gue tersenyum tak percaya. "Gak usah godain Abang, nanti kamu nyesel lho ...." Gue mencubit hidungnya gemas.


Tanpa disangka, seiring dengan mentari terbenam menampilkan kilau keemasan yang kian redup di lautan itu, Caca nekat mencium bibir gue dengan singkat.


"Ca, jangan nakal ...." desis gue, jujur, lirih suara bahkan hingga bergetar.


"Abang, aku serius ...."


Detak jantung gue berdegup kencang. Entahlah, ini kali pertamanya ada seorang cewek yang sampai nekat membuat sekujur tubuh menggigil. Gue mengedipkan mata beberapa kali, melihat ekspresinya yang kian kikuk di hadapan.


Gila!


Ini memang benar-benar gila! Kenapa pula gadis ini begitu senang memancing kekurang ajaran gue? Ca, please, jangan.


"Abang, mau kan menjadi first boy buat aku?" Ia menggigit bibir bawahnya, ragu mungkin.


Gue tersenyum geli. "First boy? Maksudnya?"


Caca menarik tubuh gue untuk masuk ke dalam mobil. Meminta membawanya ke tempat yang jauh dari keramaian.


"Ca, Abang bukan orang baik-baik, Abang urakan. Kamu yakin?"


Anastasya mengangguk. Wajahnya begitu cantik dengan rambut terurai polos di bawah sinar lampu temaram.


"Abang percaya cincin jodoh?" tanyanya sambil tersenyum.


Gua tak menjawab dan hanya memerhatikan dia yang kian mengusik kelakian.


"Aku mau kita berjodoh. Hingga ada makhluk kecil di sini." Ia mengusap perutnya yang ramping.


"Ca, jangan. Abang gak bisa ngelakuinnya sekarang. Terlebih jika ini hanya sekedar ungkapan terima kasih kami sama Abang."


Gadis itu menggigit bibirnya. Tangan yang semula nyaris membuka kancing di dadanya itu seketika melorot. Ia berpaling, terisak.


"Ca ...." Perlahan, gue menyentuh bahunya yang berguncang.


"Aku mau Abang."


"Abang emang sayang sama kamu, cinta sama kamu, tapi Abang gak mau manfaatin kamu."


"Aku faham, Abang memang hanya mencintai Laks ... emh ...."


Segera gue raup bibirnya dengan lembut hingga ia tak mampu lagi untuk mengatakan hal yang tidak mungkin ada dalam perasaan gue. Caca terdiam, terasa kedua tangannya dingin dan gemetar. Tubuhnya seolah membeku seketika, gadis itu menatap gue dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Kamu mau anak?" Membingkai wajahnya.

__ADS_1


"Ya," lirihnya bahkan parau. "Aku mau anak dari Abang. Hingga kita tak dapat dipisahkan."


Sesaat, gue menarik nafas dalam. Memejamkan mata dengan erat, ini pertama buat gue. Apa bisa?


"This is first time, Ca."


Seketika tubuh serasa melayang hingga gue sendiri tidak begitu mampu mengungkapkannya dengan kata-kata. Sorot mata itu, ******* dan erangan itu, bahkan kami melewati waktu ini dengan peluh kenikmatan. Kami berdua telah mencapai puncaknya. Ditemani suara-suara ombak yang memecah kebisuan, kian menenggelamkan segala kesadaran dibalik tawa.


Gue yang dingin, gue yang semula tak pernah terpikat dengan wanita mana pun, gadis remaja itu telah mencairkan segala kedinginan hingga terbentuk senyum puas di wajah kami berdua.


"Makasih, Abang," ucapnya lirih, disela nafas, lalu mengecup lembut. "For everything."


"I LOVE YOU, CACA, I LOVE YOU ...." Sambil gue menciumi pucuk kepalanya yang tengah berada dalam dekapan.


...


Kami pulang sekitar jam sepuluh malam baru sampai ke rumah Wa Made. Kedatangan kami disambut dengan kerumunan tetangga serta tangisan Laksmi yang begitu memilukan. Gue berlari, seakan tak perduli dengan Caca yang semula di samping gue.


"Laksmi, kamu kenapa?"


"Ajung, sudah meninggal, Bli." Laksmi semakin terisak dan gue pun memeluknya.


Tubuh Wa Made tergeletak bersimbah darah dalam keadaan rumah yang porak-poranda. Tangan gue mengepal, rupanya kehadiran gue di tempat ini memang mendatangkan bencana.


"Apa yang terjadi?" tanya gue pada salah satu karyawan pahat Wa Made.


"Tadi, ada segerombolan orang berbaju hitam, lalu menanyakan keberadaan Bli Alvin dan Mbok Caca, mereka membuat kerusuhan di sini, hingga menyebabkan Wa Made marah dan kemudian menembak beliau."


Gue mencengkeram rambut Laksmi yang terurai dalam tangis pilunya. Memukul lantai hingga tangan berdarah, ini salah gue! Ini semua salah gue!


Apa? Kenapa? Kenapa harus orang baik ini yang mendapat imbas dari keikut campuran gue dalam urusan orang lain? Kenapa keegoisan akan cinta harus membawa petaka? Kenapa Tuhaaaaannnn ...!


Gue menjerit dalam bungkam. Menyalahkan takdir yang terus mempermainkan kehidupan manusia. Bagaimana pun kami hanyalah pion yang tak memiliki kewenangan sesuka hati. Namun, kenapa mereka bisa? Kenapa takdir menjadikan mereka kuat atas segalanya? Bahkan prilaku mereka sungguh di luar norma.


Tak terasa, air mata gue pun terjatuh. Entah siapa yang salah, gue yang terlalu ikut campur, atau takdir yang patut disalahkan. Gue pun tak mungkin menyalahkan Caca atas kejadian ini. Dia hanya korban, sama seperti gue, Juna pun Wa Made.


Tapi kematian keduanya cukup membuat hati gue teriris pedih.


"Laksmi harus bagaimana, Bli? Sekarang Laksmi sudah tidak punya siapa-siapa lagi." Semakin pilu tangisan gadis itu, menambah perihnya luka di hati gue.


Bodoh!


Kenapa gue harus menjadikan rumah seseorang sebagai pelarian? Harusnya sejak awal saja mencari tempat yang benar-benar aman. Tak perlu mengikuti istilah bodoh dengan bersembunyi di tempat terbuka.


****!


BRENGSEK!


AARRGGHH ...!


Apa ini? Nafas ini begitu terasa berat dan sesak. Terlebih melihat Laksmi yang meronta hebat ketika mayat Wa Made dievakuasi.


"Ajuuuunnggg ... Ajuuuunngg ....!" teriaknya histeris.


Gue meraih tubuh yang rapuh itu, memeluknya erat, menciumi pucuk kepalanya sambil tak henti menenangkan.

__ADS_1


"Ada saya di sini, kamu gak usah takut ya? Saya akan selalu bersamamu."


"Ajuuung, Laksmi ikut, Ajung ...."


"Bang." Ana menyentuh pundak gue.


"Ana, beri Abang waktu sebentar, ini salah Abang."


Gadis itu mundur perlahan. Gue yang masih memeluk Laksmi, menekan sudut mata karena tak henti pula air mata ini mengalir.


Wa Made, ia memang sudah menjadi sosok Ayah bagi gue. Maka tak mudah pula bagi gue untuk menerima semuanya.


...


Mayat Wa Made baru saja selesai dikremasi di tempat pertama kali ia mengatakan perasaannya pada Ibu, sesuai dengan keinginannya semasa hidup. Setidaknya tempat itu memang memiliki makna berarti baginya. Ditemani hamparan pasir dan lautan luas, Ia lebih ingin abunya dibuang di sana. Berharap, kelak dapat bersatu dengan Ibu meski sadar bahwa keyakinan keduanya berbeda.


Duka yang teramat dalam. Bukan hanya bagi Laksmi, tapi gue juga. Gadis itu masih bersimpuh menghadap laut sambil tak henti menangis.


"Laksmi, kita pulang sekarang ya?" ajak gue sambil menadah tangan ke arahnya.


Gadis itu menoleh, tatapannya begitu sendu. Ia memburu pelukan gue dan tersedu kian hebat. Tak bisa mencegahnya, karena kondisinya pun saat ini memang perlu penenang dalam hidupnya.


Kami sudah sampai di rumah ketika polisi datang. Mungkin beritanya sudah beredar di media. Hingga melakukan beberapa kali interogasi. Niatnya ingin memasang garis polisi di rumah itu, tapi mengingat semua penghuni pun tak bisa mengosongkan tempat itu, akhirnya hanya sekedar penyelidikan saja.


Laksmi sudah agak tenang memasuki kamarnya. Ia mengangguk ketika gue pamit untuk ke luar dan mencari Caca, gadis yang rela menjadikan gue pertama untuknya.


Tak ada pun ia di sana, bahkan di semua tempat, hingga salah seorang karyawan pahat menyodorkan sebuah surat ke arah gue.


Abang ...


Akhirnya aku menjerat kalian semua dengan masalah.  Maafkan aku, yang telah memberi pilu yang mungkin jika aku tetap bersama kalian, akan semakin dalam pilu itu melanda.


Abang ...


Terima kasih untuk semua yang Abang berikan buat aku. Terutama malam itu, aku akan tetap mengingatnya sampai kapan pun.


Abang ...


Aku tak bisa terus membiarkan Abang terlibat terlalu dalam dan kalian semua dalam masalah. Jangan cari aku, cukup sampai di sini. Aku gak bisa lagi melihat kematian yang aku sebabkan.


Terima kasih malam itu Abang udah selamatin aku, memberi kehidupan yang lebih layak buat aku.


Aku pamit,


Anastasya, yang mencintaimu. I LOVE YOU, Anastasya ....


"Caca! Di mana dia sekarang?"


"Tadi, Mbok Caca memberikan ini ketika kremasi jasad Wa Made. Beliau bilang, saya jangan dulu berikan surat ini pada Bli, sebelum semuanya pulang dan keadaan menjadi tenang."


Celaka! Sudah berlalu satu jam. Kenapa gue gak sadar kalo Caca gak ada?!


***


Next

__ADS_1


__ADS_2