
JANGAN LUPA FOLLOW N LIKE!!!
Jasad itu telah terkubur bersama segala kekecewaan yang mungkin ia rasakan selama hidupnya. Ya, kecewa karena dia belum mendapat kebahagiaan dari gue.
Entahlah, harus bagaimana nanti gue menjelaskannya pada Jessica. Gadis itu bahkan sampai saat ini masih terbaring lemas di rumah sakit.
Caca meremas pelan kedua bahu gue, hingga tangan ini dengan sendirinya melingkar di pinggangnya sambil tak henti menatap jasad yang kian terjejal kuat di dalam tanah.
Lelah untuk menangis, gue menekan kedua mata supaya tak ada lagi air mata yang mengalir.
Caca selalu tahu kondisi hati suaminya ini. Tangannya lembut mengusap dada gue, sambil bersandar dalam pelukan.
Aslan, ia tampak mengeraskan rahang. Matanya menatap tajam ke arah kerumunan yang masih menjejal hingga diakhiri papan nisan sebagai penanda.
Tinggal beberapa pengawal Papa yang hadir di pemakaman ketika semua orang yang turut hadir membantu proses pemakaman Papa. Aslan menghampiri, ia menepuk pelan pundak gue.
"Semua memang sudah terjadi. Segala keputusan ada padamu."
"Papa meminta wanita itu dibebaskan."
Tangan yang semula erat itu melorot dengan sendirinya. "Melepaskan pembunuh?"
"Itu permintaan terakhirnya."
Aslan menghela nafas, kemudian ia hanya mengangguk saja dan menunduk. "Ya, mungkin dia lebih tahu apa yang terjadi. Pelakunya memang masih menunggu putusan."
"Cabut saja laporannya!"
"Baiklah. Dan sekarang kamu telah menjadi pemimpin utama Yanwar. Jadi, sebaiknya saya berhentikan kamu dari kantor. Tidak keberatan kan?"
Gue hanya menoleh, kemudian tersenyum geli. "Ya, Yanwar dan Pratama memang tidak bisa disatukan."
"Alvin." Sesaat ia mendongak, kemudian menarik nafas panjang. "Dalam bisnis mungkin kita memang lawan, tapi dalam hal lain, kita saudara. Kamu tetap keponakan saya."
...
Juna dan Laksmi masih setia menunggu Jessica sambil tak henti menghibur gadis itu. Tampak sekali, jika ia memang jarang memiliki sahabat sejak kecilnya. Caca pernah bilang, jika Jessica memang tipe gadis yang tidak mudah akrab sejak kecilnya. Tentu juga karena proteksi yang dilakukan Papa setelah Mama Jessica meninggal.
Mereka menoleh ketika gue dan Caca datang ke ruangan itu. Jessica tersenyum, ia merentangkan kedua tangan berharap Caca memeluknya.
"Sejak dulu kita bersahabat, sekarang jadi saudara. Aku bener-bener gak nyangka, Ca."
Caca lembut membelai kepala Jessica. "Oke adekku, sekarang udah waktunya kamu istirahat ya. Biarkan kami pinjam Kak Juna dan Mbok Laksmi terlebih dahulu."
"Oiya, Papa mana? Di ruangan mana dia dirawat?"
Semua orang di ruangan itu hanya dapat saling menoleh satu sama lain. Apa yang harus dijelaskan? Gue sendiri hanya dapat menggaruk tengkuk sambil berusaha mencari alasan untuk menenangkan dia sejenak.
Bagaimana pun, Jessica baru saja selesai operasi dan tidak diperkenankan mengalami drop karena tekanan pikiran yang terlalu berat.
"Nanti aku mau ketemu Papa ya, Kak." Ia tampak sedikit memohon ke arah gue.
Bagaimana pun, dada ini masih terlalu sesak untuk mengingat bagaimana lenyapnya nyawa Papa yang masih dalam pelukan saat itu. Sejumlah orang berharga dalam hidup gue harus rela kehilangan nyawa mereka dengan cara yang tragis.
Apa ini permainan Tuhan? Harus bagaimana gue menghadapi paman gue sendiri yang tak lepas dari rasa dendam konyolnya itu?
Harus dari mana?!
"Kak," ujar Jessica kembali menyadarkan.
"Papa ...."
"Iya." Caca segera menjawab. "Nanti kita ketemu Papa."
...
__ADS_1
Orang ini, yang pada saat itu berada di hotel bersama Herman. Dia sudah ada di hadapan gue.
Tunggu!
Bukankah orang ini pula yang menganiaya Caca di Club tempo hari dan berada di TV pula pada saat gue berada di hotel dekat air port? Kenapa dia bisa datang bersama Aslan?
Pertemuan kami terbilang private. Tampak laki-laki itu menunduk, sedikit pun tak berani untuk menatap wajah gue secara langsung.
"Saya sengaja bawakan dia buat kamu. Ini di luar jam kantor, tentu Yanwar dan Pratama tidak memiliki masalah bukan?" ujar Aslan tak lepas mencengkeram erat lengan laki-laki itu.
"Dia kaki tangan Herman. Sangat tahu seluk beluk kehidupannya. Bahkan beberapa bisnis hitam milik Herman, dia yang pegang berkasnya."
Tampak laki-laki itu mendelik beberapa kali. Tertangkap sudah jika ia tidak secara legal memilikinya.
"Jujur pada kami, kau selamat. Tapi kalau sampai Herman tahu berkas itu kau curi, habislah dirimu dan anak istrimu!" gertak Aslan berhasil membuat tegang ekspresi laki-laki itu.
Tak bisa berkutik. Orang-orang Aslan dan anak buah Papa sudah mengelilingi tempat ini. Berontak pun ia akan percuma.
"Cukup amankan orang ini, berikan ia kursi saksi di pengadilan kelak. Saya punya cara bermain sendiri." Gue hanya menatapnya dengan pandangan sengit.
Ingin rasanya mengeluarkan amarah saat mengingat bagaimana ia menyiksa Caca dahulu, tapi ... sudahlah. Terlalu sayang jika biarkan tangan kotor gue berbuat demikian. Lagipula, ini akan menyebabkan proses hukum menjadi alot dan bisa saja membuat dia melakukan banding dengan tindakan gue.
Papa, jika sejak awal kelahiran Alvin dapat membuat nyawa orang-orang yang Alvin sayang akan melayang begitu saja, mungkin sejak awal tak perlu lahir ke dunia ini.
Ruangan ini sudah sepi, sekarang. Jam kantor memang sudah selesai sejak lama, Aslan pun sudah berlalu dan tinggal gue sendiri di sini. Memandangi wajah beberapa orang yang pernah hadir dalam hidup gue, kecuali Ayah Bima. Ia tidak pernah membiarkan wajahnya tergambar jelas pada sebuah foto.
Dering ponsel membuyarkan segala lamunan yang semula tergambar dengan jelas. Ya, mungkin Caca khawatir jika suaminya ini tidak pulang hari ini. Tergambar jelas bagaimana ia merengut ketika gue jawab panggilan video itu.
"Abang mau gak pulang kayak waktu itu?" katanya merengut.
"Sebentar lagi Abang pulang, sayang. Juna ke mana?"
"Lagi pacaran sama Laksmi."
"Masa?"
"Jessica?"
"Dia lagi di kamarnya, tadi baru abis dikasih obat."
"Sebentar lagi Abang pulang. Kamu mau Abang bawain apa?"
"Aku ... mau ...." Sesaat matanya menoleh ke atas sambil menunjukan ekspresi yang menggemaskan. "Ck ish, Abang gak usah bawa apa-apa, cukup pulang aja sekarang. Kita udah masak banyak, nungguin Abang buat makan malam!" cecarnya.
Busyet! Sampe kaget gue.
"Pulang sekarang, gak?!" Matanya melotot siap membunuh.
"Iya iya, ih, killer banget."
"Apa?!"
"Enggak."
...
Gue senyum sendiri menyadari gimana cerewetnya wanita yang gue sayang. Tinggal tunggu waktu, lengkap sudah kebahagiaan yang Tuhan kasih ke gue.
Beberapa pengawal itu sengaja gue suruh berjaga saja di rumah, tak ingin membiarkan mereka repot terus mengikuti perjalanan yang sebenarnya membosankan. Ya, perjalanan terkepung macet adalah hal membosankan.
Sementara menunggu lampu merah berubah, gue menghubungi polisi untuk mencabut tuntutan atas kasus wanita yang membunuh Papa waktu itu. Ya, polisi segera melakukan pencabutan laporan.
Ternyata memang benar, gue mengikuti wanita itu secara diam-diam, melihat bagaimana seorang balita menadah tangan berharap digendong olehnya. Mungkin ini pula alasan utama Papa mengampuni wanita itu.
Sejenak berhenti tepat di depan mini market sekedar membeli camilan untuk nanti di rumah. Wajah cantik Caca menghiasi layar ponsel gue saat kami melakukan panggilan video. Katanya, ia penasaran gue sudah sampai mana.
__ADS_1
"Kamu mau ini gak, sayang?" Menunjukan satu produk alat kontrasepsi pada layar ponsel itu.
Caca tersenyum, bahkan wajahnya tampak memerah. "Aku udah hamil, Abang. Ngapain pake begitu?"
"Bukan alatnya, tapi yang di fotonya. Sayang disensor. Kamu mau gak kayak gini?"
"Apaan sih? Abang gak malu ya? Itu kan depan umum."
"Enggak, kasirnya aja ketawa tuh." Sambil gue mengarahkan kamera para penjaga mini market itu dan menaruh kembali produknya.
"Abang kangen, sayang. Malam ini mau ya." Membujuk ketika gue sudah sampai di dalam mobil.
"Apa ...." lirihnya, suka sekali dengan suara itu.
"Kangen ...."
"Iya, makanya pulang cepet."
Panggilan masih terhubung ketika mobil ini melaju. Sesekali gue melirik ke arah layar yang masih menampilkan Caca terbaring di atas tempat tidur.
Sial! Kenapa ini?!
Rem mobil gue tiba-tiba blong ketika beberapa saat lalu masih baik-baik aja. Caca tampak sedikit khawatir melihat perubahan ekspresi wajah gue.
"Abang, ada apa?"
"****!" Masih belum stabil juga.
"Abang, jangan bikin aku takut."
"Enggak, sayang. Abang gak pa-pa. Cuman kaki agak keram."
"Abang berhenti dulu, tunggu kakinya pulih."
Gimana bisa berhenti, Caca? Ini remnya blong. Sial! Argh!
"Ca, please rekam sekarang, apa pun yang terjadi di layar ini kamu rekam!"
"Oke, bentar. Tapi Abang gak pa-pa?"
"Abang oke, sayang. Kamu tunggu Abang pulang ya."
****!
Sebuah mobil melintas tepat di hadapan gue dan menghalangi jalanan. Perekam video sengaja gue arahkan ke kamera belakang. Membiarkan ponsel yang tertempel pada layar itu merekam setiap bukti kejadian. Salah gue sendiri juga tak memasang CCTV pada mobil.
Sial! Kenapa kendaraan itu seolah sengaja memblokir jalan dan membuat gue panik?
"Abang?!"
"Abang oke, kamu tenang aja ya, jangan lihat layarnya, biarkan saja merekam."
Berhasil, mobil itu melaju kian cepat dan tak lagi memblokir jalan. Namun, seperdetik kemudian, tiba-tiba datang sebuah truk dengan muatan besar dan ....
BRUK!
Mobil gue berhenti tepat setelah menabrak pembatas jalan dan beruntungnya kaki tidak terjepit mobil yang penyok.
Terdengar ricuh dari arah ponsel itu yang kemudian gue kurangi volume suaranya.
Terdiam, selama tidak mencium bau bahan bakar, gue hanya dapat terengah dan menunggu akan ada permainan apa yang terjadi malam ini.
Sesuai dugaan, ini adalah kail yang menjerat pemancingnya sendiri.
***
__ADS_1
Next???