
JANGAN LUPA FOLLOW DAN LIKE!!!
Secarik kertas dengan bertuliskan tinta hitam legam itu tergenggam dengan erat di tangan Doni. Masih menyisakan lumuran darah, bahkan masih basah meski sudah beberapa jam berlalu dan tubuh Doni sudah diamankan pihak rumah sakit.
Apa?
Kenapa harus seperti ini? Laki-laki yang beberapa bulan lalu nyaris gue hajar itu kini tubuhnya sudah tak lagi mampu bergerak. Apa yang sebenarnya terjadi?
Kertas itu gue buka, melihat tulisan berjejer rapih dengan seksama. Hingga menghela nafas beberapa kali.
**Bang, sorry karena gue gak jujur sejak awal.
Sebenarnya, dari semula pun gue sudah tahu jika kejujuran malam ini akan senantiasa merenggut nyawa gue dalam keadaan apapun itu. Maut itu selalu menanti, Bang. Ini bukan mau gue, menjadi kaki tangan Herman yang turut andil dalam setiap penderitaan kalian, itu bukanlah keinginan.
Hanya saja, gue terpaksa keadaan, karena sebuah ancaman yang sulit untuk dihindarkan.
Kematian saat ini, semoga dapat membawa gue ke pintu, di mana pemaafan itu memang ada. Meski kejujuran ini terkesan telat, setidaknya adik gue udah lulus sekolah SMA, nyawa gue lenyap pun rasanya sedikit lega.
Bang, sebenarnya sudah sejak lama gue ingin jujur tentang semuanya, bahkan melaporkan kejahatan itu. Namun, ketakutan itu seolah menjadi penghambat untuk memulai semuanya.
Gue bangga mampu jujur, meski hasilnya nyawa gue yang menjadi taruhan. Beruntung, Abang tidak meninggal sekarang, ini waktunya Abang mengungkap semuanya, membebaskan para gadis club yang hidup seolah menjadi sapi perah.
Titip adik gue, Bang.
Doni ..**
Meremas surat ini tanpa gue sadari. Rupanya ada pula alamat lengkap dari kampung halaman pemuda itu. Ya, mungkin sejak awal ia tahu keputusannya itu untuk jujur adalah salah, lalu kenapa ia lakukan juga?!
Bodoh!
Tindakan lo justru membuat gue semakin bersalah, Doni! Lo harusnya gak kayak gini, kenapa lo gak minta perlindungan hukum dulu baru ngomong ke gue? Seandainya lo jujur jika nyawa lo terancam, setidaknya gue akan cari bantuan, Berusaha agar lo bisa tetap hidup, membongkar kejahatan Herman bersama-sama.
Entah sudah ke berapa kali Caca berusaha menghubungi gue hingga akhirnya dijawab pula.
"Abang ...." Terdengar isakan dari seberang sana.
"Caca!"
"Abang ke mana aja?"
Lirih, gue tahu gadis itu tengah menangis saat ini. Maaf, Caca. Abang sedang kacau saat ini. Pulang, saat ini kondisi gue benar-benar tengah kusut dan sulit terkendali. Takut, jika harus keluar amarah tanpa dapat menjelaskan kesalahan apa yang Caca perbuat kemudian gue tahu tanpa ia mengatakannya.
Bagaimana ini? Tapi jika gue tak pulang, haruskah menyakitinya pula?
"Abang ada urusan dulu sebentar, teman Abang meninggal, Ca."
Terdengar senyap, mungkin ia pula terkejut dan bingung harus mengatakan apa.
"Maaf." Hanya kata itu yang keluar dari mulutnya.
"Sebentar lagi Abang pulang ya. Kamu sama siapa di sana?"
__ADS_1
"Sama Kak Juna."
Mungkin sudah agak reda kesedihannya dengan penjelasan yang gue sampaikan.
"Kamu tunggu ya."
"Hem."
...
Seperti yang gue duga, ia memang selalu tahu kapan tepatnya gue membuka pintu ini. Caca sudah berdiri dengan wajah yang sendu dan menundukan kepala. Peluk, hanya itu yang dapat gue lakukan. Meski hati ini masih marah karena ada rasa kecewa atas ketidak jujuran, tapi rasa cinta seolah mengalahkan semuanya.
"Abang berantakan banget." Ia membingkai wajah gue dan menatap lekat.
"Abang, Abang bingung, terlalu banyak orang yang menjadi korban, Ca."
Tangannya terlepas secara perlahan. "Korban lagi?" Caca menggeleng putus asa. "Aku pembawa sial, aku penyebab semuanya."
Tidak, gue tak bisa membuat Caca terganggu pikirannya hingga berakibat fatal pada kehamilannya. Meski kenyataannya tidak tahu janin siapa yang berada di sana. Ca, maaf. Abang hanya bisa memeluk kamu dari belakang, mencoba untuk menenangkan. Abang tak mau bayi kamu kenapa-kenapa. bayi itu tidak berdosa.
"Sebentar lagi semuanya akan terungkap, kamu sabar ya, tak akan ada lagi korban. Please, tetap bersama Abang."
Ya, saat ini hanya dia yang dapat gue percaya, meski ada sedikit keraguan yang tak dapat dipungkiri, gue memiliki hal itu, hal buruk yang gue pikirkan.
"Maaf, Ca. maaf karena Abang sudah memberi penderitaan sejauh ini sama kamu."
Gue memeluknya kian erat, membelai area di mana makhluk kecil itu berada. Tumbuhlah, siapa pun ayahmu, Nak. Papa akan selalu ada untukmu.
"Juna ke mana?"
"Membayar token, karena sudah waktunya isi."
Entahlah, bahkan pengertian Juna sudah melebihi saudara sendiri. Ia menghandle semuanya termasuk keperluan makan dan lainnya.
"Harusnya kamu bilang ke Kakak kamu kalau nanti biar Abang aja yang bayar."
"Aku sendiri gak tahu kapan Abang akan pulang, Kak Juna takut kalau listriknya mati ketika malam hari dia gak ada di rumah."
Gue memang egois, kenapa pula harus terbawa suasana hanya dengan melihat sebuah foto yang tidak tahu kenyataannya seperti apa.
Anastasya, gadis ini masih berada dalam dekapan hangat ketika ia terlelap di sofa. Gue merebahkannya, menutupi tubuhnya dengan selimut tebal yang baru saja diambil dari kamarnya. Manis, wajah ini tak jauh seperti obat penenang paling alami dalam hidup gue.
Pintu baru saja terbuka, rupanya Juna baru datang menenteng paper bag dengan merk salah satu makanan junk food.
"Udah pulang lo? Ke mana aja?" Ia meletakan barang itu di atas meja.
"Gue ... lo tahu Doni yang bartender di club?"
"Kenapa?" Ia santai meraih remote TV sambil melahap makanan dari paper bag itu.
"Dia tewas, tabrak lari."
__ADS_1
Baru saja Juna akan melahap gigitan ke dua, tangannya tertahan kemudian tercengang.
"Doni? Bartender anak buah Herman itu?"
Bahkan beritanya sendiri sudah ditayangkan di televisi menampilkan sesosok jasad terbujur kaku dengan ditutupi koran di pinggir jalan.
"Ini surat terakhir yang gue temukan di genggamannya."
Sambil menyodorkan secarik kertas yang sejak semula tak pernah gue lepas itu.
sesaat, tampak kedua mata Juna membulat tak percaya, mungkin. Wajahnya memerah, bahkan terlihat memang ada amarah di wajahnya. Juna, ia meremas kertas itu dan menghempaskan dengan kasar.
"Sial!" pekiknya. "harusnya gue sendiri yang merenggut nyawa bajingan itu."
Juna meraup wajahnya dengan kasar."Lo tahu, Vin? Dia adalah salah satu orang yang terlibat dalam penyiksaan Caca malam itu, dialah jalan di mana gue terjerat hutang ratusan juta dan membuat gue menjual adik kandung gue sendiri!"
"Tapi dia udah mati!"
"Ya! Seharusnya gue pula yang membunuh dia hanya saja tunggu waktu!"
"Juna."
"Dia juga yang telah buat adik gue lumpuh!"
"Ya, gue faham tapi dia udah mati!"
"Apa yang lo faham?! Adik bungsu gue lumpuh, bahkan adik yang lain juga nyaris jadi wanita malam apa lo pernah ngerasain itu?!"
Gue lihat sendiri bagaimana Caca sudah berdiri sambil berurai air mata. Ya, pedih, gue yakin itu sangat pedih.
Gue terhempas melorot tubuh ini ke lantai dan menunduk bingung. Bahkan hidup pun rasanya sudah terlalu rumit untuk dijalani.
"Gue emang gak bisa rasakan itu." Lirih, bahkan mungkin parau. "Tapi gue bisa rasakan bagaimana pedihnya melihat orang lain mati di depan mata gue hanya karena ingin melindungi gue. Termasuk pengorbanan lo dan Caca. Ya, gue tahu sampai mati pun tak akan pernah mungkin bisa untuk menebus semuanya. "Sesaat terjeda, menghirup nafas lebih banyak lagi.
"Tapi asal lo tahu, Juna. Gue sendiri pun lebih sakit ketika harus melawan Herman, yang ternyata dia adalah kakak dari nyokap gue, bahkan ingin melenyapkan hidup gue secara tragis, gue sakit akan hal itu. Terlebih ketika dia menggunakan Caca dan menyebabkan penderitaan baginya!"
Juna dan Caca turut tercengang serta memasang ekspresi yang gue sendiri tidak tahu apa itu artinya.
"Ya, dia bukan om kalian, dia adalah om gue yang tergila-gila dengan adik tirinya sendiri. Rumit, hidup gue itu rumit! Jika hanya dengan mati gue bisa menyelamatkan nyawa Caca, nyawa Dini dan lo, gue bersedia, tapi tidak! Bahaya masih mengancam sebelum ia benar-benar menjeblos ke penjara. Bunuh gue jika itu memang bisa menebus semuanya! Bunuh! Gue penyebab semuanya penderitaan kalian, gue penyebab semuanya!"
"Abang!"
Caca menggeleng sedih mendengar hal itu. Juna, gue yakin hatinya saat ini sangat hancur, hingga ia lebih memilih kembali pergi tanpa meneruskan makannya. Sorry, Juna.
Caca meraih kepala gue ke dalam pelukannya, Membelai dengan lembut, bahkan mencium pucuk kepala gue beberapa detik lamanya.
Damai, Ca. Meski hati ini masih sesak atas segala beban yang Abang dapatkan beberapa waktu ini. Himpitan masalah itu seolah ingin menekan dada ini lebih dalam lagi.
***
Next
__ADS_1