
UDAH FOLLOW KAN? JANGAN LUPA LIKE!!!
Back to POV Alvin
Entah di mana, entah sudah jam berapa, entah bagaimana pula caranya. Pada saat mata ini terbuka, gue sudah berada di sebuah ruangan dengan beratap putih polos. Terdengar bunyi monitor pendeteksi jantung yang berdenting-denting.
Tubuh ini serasa kebas semua, sulit untuk digerakkan. Di mana ini? Apa yang sebenarnya terjadi?
Tunggu, terakhir kali tubuh ini terhempas dengan kencang. Siapa yang sudah membawa gue ke tempat ini? Siapa pula yang melakukan hal segila ini? Berusaha membunuh gue?
Ingat betul wajah-wajah sialan itu. Bagaimana mereka tertawa sambil meluncurkan cairan menjijikan dari moncongnya dengan gaya yang memuakkan.
Seketika dada terasa sesak, bahkan lebih parah dari yang gue rasakan ketika kecelakaan tadi. Gue terbatuk, membangunkan seseorang yang entah siapa sudah sejak tadi berada di atas sofa sambil menunduk, mungkin tidur.
"Alvin, lo udah bangun?"
Suara itu, apa dia Juna? Tidak mungkin! Setahu gue Juna sudah tewas sejak beberapa bulam yang lalu dengan letusan peluru yang bertubi-tubi tempo hari. Apa dia ...?
Ya, dia rupanya. Juna terlihat sedikit lebih kurus dari semula. Rambutnya agak gondrong, mengenakan baju hitam berbahan wol.
"Lo sadar, Vin?" Wajahnya tampak panik, kemudian urat-urat di wajahnya mengendur ketika gue tersenyum tipis.
"Gue baik."
Tak ingin banyak bicara. Respon Caca tadi masih memberi luka di sini. Bahkan sakitnya lebih parah dari apa yang terjadi pada tubuh gue.
"Sorry, gue telat," ujarnya.
Mata ini mengerjap sesaat, berusaha meraih oksigen lebih banyak sebelum akhirnya bersuara.
"Gue kira lo udah gak ada."
Juna tersenyum. "Waktu itu ... gue berhasil rebut pistolnya. Menghabisi dia di tempat. Ck, sialan! Bekas pelurunya cukup merusak pemandangan dada gue." Sambil ia tunjukan bekas peluru itu dan tertawa.
"Eh, by the way, Caca gimana?"
Pertanyaan itu lolos begitu saja tanpa sadar membuat gue memalingkan wajah. Tak sanggup melihat ekspresi yang sangat menyakitkan.
Caca, dia yang sudah membuat gue seperti ini, celaka, bahkan hati gue terluka parah. Namun, ini bukan sepenuhnya salah dia. Salah gue sendiri yang mencintai seseorang tanpa mampu membuat ia jatuh cinta.
"Vin?"
"Adik lo pergi, ninggalin gue."
Karena memang pada kenyataannya seperti itu. Tampak raut wajah Juna berubah sendu. Bahkan hingga ia lebih memilih bungkam dan tersenyum hambar.
"Oh, gue faham," ujarnya mundur.
"Juna, siapa mereka?"
...
Sekitar dua hari, gue lebih memilih untuk pergi dari rumah sakit. Kembali ke tempat tinggal yang dulu, rasanya terlalu sakit jika melihat setiap kenangan tentang Anastasya berada di sana.
Juna sengaja menyewakan sebuah apartemen di dekat rumah sakit itu. Entah dari mana ia memiliki uang untuk membayarnya. Yang jelas, gue sendiri tidak pernah bertanya banyak hal.
Tatapan kosong terarah pada layar tembok tanpa corak. Membiarkan tubuh tetap bersandar pada ranjang yang cukup besar.
Tak pernah menyangka sebelumnya, jika pintu kamar itu akan terbuka kemudian muncul sosok yang sangat gue rindukan sentuhannya selama ini.
Caca, gadis itu sudah mematung dengan wajah sendu serta mata yang berkaca-kaca. Untuk apa dia ke sini?
"Abang ...."
__ADS_1
Panggilan lembut itu cukup untuk membuat gue tersenyum menyambut kedatangannya.
Lelah. Gue segera bersandar pada bahu gadis yang sudah berada di depan mata. Cukup nyaman. Sentuhan tangannya yang membelai kepala, serasa semua kesakitan itu lenyap seketika.
"Kenapa harus seperti ini?" tanyanya lirih.
"Ssttt ... Abang lelah, boleh bersandar sejenak?"
"Hm."
Tak banyak bicara. Cukup menikmati sandaran ini hingga gue lupa bahwa Caca pernah meninggalkan. Hingga lupa jika Caca pernah tidak peduli dengan hati hue. Sssttt ... jangan. Jangan katakan hal apapun yang menyakitkan. Cukup ini, Cukup biarkan rasa dan kenyamanan ini lebih lama di sini. Selalu, tanpa jeda.
Ijinkan waktu ini berhenti beberapa detik saja. Hingga waktu sendiri lupa bagaimana caranya untuk berjalan. Hingga waktu sendiri benar-benar hanya mengijinkan kita bersama dalam perjalanannya.
Ca ... ini yang Abang mau dari kamu. Tidak lebih ... bahkan jika kenyamanan ini harus dibayar dengan nyawa sekalipun, Abang senang. Abang gak bisa kalau kamu abai, Abang gak kuat.
"Abang ... jangan seperti ini lagi ya ... jangan buat aku sedih ...." Suaranya terdengar parau. "Aku gak bisa kalau lihat Abang seperti ini, hati aku sakit, Abang."
Gue tersenyum. Kini berbalik menjadi ia yang bersandar di pangkuan. Setetes air mata itu terasa hangat mengalir di jemari. Caca menangis, untuk gue.
"Abang ...."
"Hem ...?"
"Janji, gak bakal kayak gini lagi." Ia tampak merajuk.
Gue tersenyum, menyentuh kepalanya lembut. "Abang janji. Asal kamu juga janji sama Abang."
Caca menoleh dengan wajah polos.
"Jangan pernah tinggalin Abang lagi."
Caca tersenyum. Sepertinya cukup menikmati pula kenyamanan yang gue berikan melalui belaian tangan pada pipinya.
"Jangan pergi lagi ya ...." lirih gue kembali.
...
[Vin, seseorang mencari lo ke rumah gue.]
Sebuah pesan chat dari Karina masuk ke ponsel gue yang tergeletak si samping.
[Apa gue bilang lo lagi di luar kota?]
[Katanya dia bokap lo.]
Pesan terakhir cukup menarik perhatian gue. Bagaimana orang itu bisa mengaku bokap gue? Sedangkan Ayah sudah meninggal sejak gue berusia 5 tahun dulu dan Ibu pernah bilang juga kalau Ayah Kandung meninggal pas gue di dalam kandungan.
[Hadi Yanwar, katanya dia bokap lo.]
Nama itu cukup membuat gue meremas ponsel dalam genggaman. Hingga tampak sedikit retak pada bagian layarnya. Dia, orang itu masih berani mengakui sebagai ayah gue setelah ia menjadi penyebab utama kehancuran hidup Caca.
Ya, ia memang mengakui gue seperti anaknya sendiri. Namun, tak semestinya mengaku kepada semua orang kalau gue putra kandungnya juga kan?
"Abang ...." Suara Caca menyadarkan gue dari amarah yang membucah. "Kenapa?" tanya gadis itu dengan raut khawatir.
"Abang tidak apa-apa. Kamu tahu dari siapa Abang ada di sini?"
"Dokter Karina. Dia bilang Abang ada di sini."
Ya, memang terdapat pula percakapan antara gue dan Karina di pesan chat itu. Mungkin Juna yang memberitahunya.
"Ca ...."
__ADS_1
"Hem?"
"Kamu gemukan ya sekarang?"
Gadis itu tampak kikuk karena ucapan gue barusan. Apa yang salah dari kata-kata gue? Ia memang terlihat agak cabi dengan tubuh sedikit gemuk. Mungkin makanannya selalu enak sehingga membuat ia segemuk ini.
"Abang, belum sarapan kan? Aku buatin makan ya."
"Abang udah sarapan, tadi Juna yang buatin."
"Kak Juna ada di sini?" Kedua matanya membulat sempurna, berbinar terang.
"Ada, dia yang udah selamatin Abang."
"Syukurlah, aku kira ...." Ucapannya menggantung.
"Hem? Kamu kira kenapa?"
"Eh, gak apa-apa."
"Ca, apa kamu tahu sesuatu yang Abang gak tahu?"
"Enggak ...."
"Ca ... jujur sama Abang. Kamu kira kenapa?" Gue membingkai wajahnya dengan lembut.
"Aku kira Kak Juna udah gak ada."
"Kamu tahu itu?"
Caca mengangguk. "Hari itu, aku ada di tempat kejadian, tanpa Abang tahu." Sejenak ia menunduk. "Aku gak mau nambah korban lagi, terlebih Abang. Kalo Abang terus sama aku, aku takut korban selanjutnya itu Abang." Ucapannya terhenti.
Gue menghela nafas panjang. "Jadi karena itu kamu mau Abang menjauh? Justru karena kamu gak sama Abang, kondisinya jadi seperti ini kan? Abang sakit, Ca. Hati Abang lebih sakit dari tubuh yang Abang rasakan."
Tak ada jawaban selain hanya menunduk sambil menautkan kedua tangannya.
Gue meraih wajah yang penuh rasa bersalah itu, membiarkan telinganya dengan jelas merasakan detak jantung gue yang terus berdegup kencang ketika ingat tentangnya.
"Kamu dengar ini, Ca?"
"Hem." Gadis itu mengangguk.
"Kamu tahu kenapa ini bisa tetap ada?"
Ia menggeleng.
"Karena kamu, kamu yang udah buat hidup Abang lebih berarti dari sebelumnya. Kamu, Ca ...."
Senyum gadis itu mengembang seiring dengan air mata yang terjun bebas membasahi pipinya. Please, jangan biarkan kebahagiaan ini cepat berlalu. Biarkan Caca tetap seperti ini, jangan biarkan dia berubah lagi. Gue gak bisa ... sungguh teramat tidak bisa.
Gadis ini terlalu berharga bagi gue. Bahkan disaat orang lain menganggap ia hanyalah sampah, dia tetap berlian yang kerap indah meski dalam kubangan lumpur.
Tidak, Caca tak akan lagi masuk ke sana. Kubangan itu sudah lama ia tinggalkan, pada saat gue sendiri yang menariknya dari sana.
Ya, berlian memang teramat berharga, hingga begitu banyak orang yang memperebutkannya.
...
Lepas Juna menemani gue ke mini market, Ia minta ijin untuk ke toilet sejenak. Hingga langkah gue yang menuju kasir ini dihentikan dengan kehadiran seseorang.
"Alvin ...."
***
__ADS_1
Ciye..... yang seneng Alvin ma Juna masih idup... Ehem, BTW, si Caca udah balik lagi tuh, rujuk mereka..
Next