Gadis Di Club Malam Itu

Gadis Di Club Malam Itu
Jalan yang Mulai Terbuka


__ADS_3

FOLLOW N LIKE!!!


Akhirnya Caca berhenti menangis juga ketika gue mengajaknya mendekati seorang penjual gulali untuk membentuk sebuah cincin melingkar di jari. Rautnya seketika berubah kian cerah. Simple aja sih, kebahagiaan gue saat ini adalah senyumannya, sebuah ekspresi yang beberapa bulan lalu sempat lenyap karena ketakutan akan kehidupan.


Peluhnya berjatuhan, menyembul di antara pori-pori di dahinya. Ia menatap saat tangan ini mengusap dengan lembut, mengakhiri aktivitas ini dengan kecupan yang lama di pucuk kepalanya.


"Abang, gimana dengan rencana pernikahan kita?"


"Kami gak perlu khawatir ya, kemungkinan semuanya tinggal 40% lagi menuju selesai. Bahkan Aslan sudah menyiapkan semuanya, kita tinggal melaksanakan acaranya saja."


"Dia bos Abang kan?" Matanya jeli menatap pada cincin gula itu.


Gue menjilat jahil cincin di tangannya hingga ia memekik.


"Abang ih, jorok banget." Caca menepuk bahu gue.


"Manis tau, mau nyobain?" Gue menyodorkan cincin gula yang melingkar di jari manis gue.


Ragu, Caca menjulurkan lidahnya dan menjilati cincin gula itu, hingga kami saling menjilati cincin satu sama lain. Derai tawa itu tercipta, sungguh cantik, menggemaskan.


"Manis?"


"Manis." Ia mengangguk dengan gaya yang melebihi gula di jarinya.


"Kamu suka?"


"Suka, Abang."


"Manis mana sama bibir Abang?"


Caca tercengang, kemudian ia tertawa sambil menepuk pelan dada gue. "Ih, Abang mesum."


"Abang suka."


"Apa?"


"Kamu."


"Ish, apaan sih?"


"Ca ...."


"Emh?"


"Bilang dong ...." rengek gue manja.


"Apa?"


"Bilang juga kalo kamu suka sama Abang."


"Abang apaan sih? Udah ah."


Hihi, gue gemas sekali melihat raut wajahnya yang memerah seperti tomat. Lucu, mencubit kedua pipinya hingga Caca meringis.


"Pulang yuk, Ca. Kamu lelah, udah mau sore juga."


Raut yang semula tampak bahagia itu seketika berubah menjadi pucat pasi dalam keadaan mata yang membulat lebar. Ada apa? Terlebih posisi gue saat ini tengah berhadapan dengannya sambil menekuk sebelah lutut.


"Ca?"

__ADS_1


GLEK!


Seakan terdengar suara jika Caca tengah menelan saliva karena kegugupannya.


Mata  ini penasaran hingga menoleh untuk melihat siapa yang ada di belakang. Ternyata, laki-laki itu, orang yang selam ini berulang kali berusaha untuk merenggut nyawa gue dengan berbagai cara.


Dia sudah berdiri dengan tegak bersama dua orang pengawal di belakangnya. Laki-laki berjas biru muda itu, tampak menyeringai sambil melipat tangan dengan santai.


"Apa kabar, keponakan Om?" katanya sambil hendak menyentuh wajah Caca.


Seketika gue tepis tangan menjijikan itu. Rasanya, dalam keadaan ramai seperti ini dia pun tidak akan dapat bertindak dengan leluasa, semoga saja.


"Kamu bahagia sekarang? Bagaimana rasanya hidup di luar? Dengan lelaki ini. Nikmat bukan? Setiap saat tidak dapat tidur dengan nyenyak karena ketakutan. Hahaha ..! Suka sekali. Saya cukup menikmati itu," desisnya.


"Jangan ganggu kami!"


Gue tahu suara itu dikeluarkan dengan mengumpulkan keberanian penuh, terdengar dari bagaimana bergetarnya tubuh Caca.


Please, Caca sayang. Jangan terprovokasi, Abang gak mau anak kita kenapa-kenapa.


Sayangnya gadis itu tidak bisa demikian. Ia bangkit dari duduknya dan mengepalkan kedua tangannya itu. Gue tahu, ia akan mencoba melawan hingga akhirnya gue pun berdiri dan menghadang Caca untuk tidak berhadapan langsung.


"Saya tahu siapa anda." Wajah ini dibuat setengil mungkin hingga tak nampak ketegangan itu di wajah gue. "Bahkan beberapa vidio CCTV yang mereka kejahatan anda ada pada saya."


Herman tersenyum miring. "Bocah tengil aja mau melawan saya. Apa gunanya CCTV itu? Kau berikan pada polisi pun tidak dapat menjerat saya ke ranah hukum!" gertaknya.


"Benarkah?"


"Ya, saya punya segalanya bahkan meski melakukan pembunuhan di depan mereka pun, tidak akan ada yang berkutik."


"Oh, anda terlalu meremehkan penegak hukum di negeri kita. Jadi begini, mungkin jika melawan uang, saya tidak akan menang dengan mudah. Tapi ... bagaimana dengan ini?"


"Ini sebatas rekaman suara." Gue mematikan rekaman itu.


"Dengan itu, kamu tidak bisa membuktikan rekaman itu memang suara saya. Karena CCTV di ruangan itu selalu mati."


"Oh ya? Lalu bagaimana dengan ini?" Foto-fotonya di kamar itu terlihat di layar hologram milik gue. "Bukan hanya foto, tapi juga videonya saya punya."


Dia menoleh dengan kasar kepada anak buah bodoh yang tadi siang dihajarnya itu.


"Oke, Om Herman. Saya tahu siapa anda dan bagaimana kondisi hubunganmu dengan Yanwar. Saya Alvin Yanwar, putra tadi Hapsari Pratama dan Hadi Yanwar."


Herman terkesiap, tampak betul wajahnya berubah menjadi kaku dan pucat.


"Dan saya tahu, lima orang Yanwar itu adalah sewaanmu yang dituntut untuk menyusup ke keluarga kami. Kamu juga pembunuh Ayah Bima, seorang Ayah yang dengan senantiasa menimang saya setiap hari itu kamu bunuh!"


Sukses! Semua orang yang semula sibuk dengan kegiatan masing-masing itu seketika menoleh ke arah kami. Herman tak dapat berkata apa-apa selain hanya memukul kosong dan pergi bersama para anak buahnya.


"Woy! Lo udah gagal tiga kali bunuh gue! Sekarang gue ada di depan mata lo, kenapa gak lo todongin itu pistol sekarang?! Pengecut lo!"


Tak ada jawaban, selain tiga punggung itu semakin menjauh. Gue lelah, terduduk di antara orang-orang yang kembali berhambur setelah mendapat tontonan gratis itu.


Caca turut duduk, memberikan sebotol air yang memang sudah ia persiapkan di dalam tasnya. Tangan itu dengan lembut mengusap punggung, bahkan ia memeluk menenangkan.


Tubuh gue terguncang, dada terasa sesak kian menghimpit hingga luruh air mata ini tanpa hambatan. Menangis, bahkan tangisan ini bukan untuk Ayah kandung gue sendiri. Ayah Bima, betapa ia menganggap gue seperti putranya sendiri. Gue rindu, serta sakit dengan bagaimana cara ia pergi.


Gue tahu, siapa orang yang pada waktu itu masuk ke dalam berita di TV. Tentu Herman Pratama ini bukanlah orang sembarangan. Bartender di club itu sempat menunjuk orang yang ada di sudut ruangan adalah dalang dari semua kehancuran hidup Caca, dan itulah dia, laki-laki bajingan itu.


Mungkin, jika pun ia membunuh gue saat ini tidaklah sulit. Namun, mengingat nama baiknya memang terjaga rapih di media, gue rasa ini alasan kenapa ia bilang polisi tak akan mampu untuk meringkus dirinya.

__ADS_1


Hem! Sombong sekali!


Seketika senyuman tergambar di bibir gue, seperti ada ide gila lainnya yang dapat gue jadikan permainan harian dari kegunaan cyber kali ini.


Tidak, bukan pada wartawan yang dapat ia bayar bungkam mulutnya dengan mudah, tapi ....


...


Mungkin Caca lelah hingga ia terlelap lebih awal dalam pangkuan gue. Wajahnya terlihat lebih tenang dari biasanya. Cantik, tangan ini membelai rambutnya yang tergerai bebas.


Akhir-akhir ini Juna memang jarang sekali di rumah. Dia selalu pulang larut hingga tertinggal tidur dan pagi hari sudah tidak ada di rumah.


Dalam keadaan seperti ini, Caca lebih menikmati karena tak selalu dijahili kakaknya itu.


KLING!


[Good job, Alvin.]


Itu pesan dari Aslan yang masuk secara tiba-tiba ke ponsel gue.


Aslan mengirimkan sebuah link video yang entah berita tentang apa itu.


Gue tercengang, ternyata efek cyber dapat sehebat itu hingga mampu menjadi trending di youtube.


'Herman Pratama Dituduh Membunuh'


'Kakak dari Aslan Pratama Grup dikabarkan Membunuh'


'Pemilik Yayasan yang Selama ini Tampak Baik, Herman Pratama Ternyata Pembunu'


Entah apa lagi judul artikel yang tersebar berita tentang laki-laki itu menjadi sorotan penting hingga ada satu judul yang begitu menarik.


'Herman Pratama Menantang Hukum : Polisi Tak Dapat Kasuskan Saya'


Ini baru awal, akan ada gebrakan lainnya yang akan gue tunjukan pada dunia. Tak selamanya wajah hangat dan ramah itu memiliki hati yang sejalan. Sayang sekali, padahal selama ini ia dikenal sebagai salah satu donatur terbesar untuk sebuah yayasan.


Sudah dipastikan, esok hari ia akan lakukan jumpa pers untuk klarifikasi. Lagu lama, semuanya sudah gue pikirkan dengan matang. Biarkan dia sibuk sana-sini menjelaskan terkait beberapa video yang diedarkan para pengunjung di pusat permainan itu.


Sejak awal gue yakin bahwa mereka yang merekam kejadian itu tidak akan membiarkan video di ponselnya memenuhi memori. Ya, itulah sebabnya gue berteriak dengan lantang.


Seketika nama Aslan tertera di layar ponsel gue. Sesaat menyeringai sebelum akhirnya menjawab telpon itu.


"Hebat, Alvin. Saya sudah duga dia akan muncul di sana. Besok hari dia akan adakan jumpa pers, kamu mau hadir untuk menghancurkan semuanya?"


"Tidak, jangan dulu. Saya akan biarkan dia sibuk dengan klarifikasi sebelum sibuk melayani para napi di penjara nanti."


"Baik, saya tunggu kapan waktu kamu bergerak. Atur saja semuanya, saya akan memfasilitasi."


"Emh, Pak."


"Ya?"


"Terima kasih."


Sesaat terdengar hening sebelum akhirnya ia menghembuskan nafas. "Selama kamu mampu menjaga Anastasya dengan baik."


Ya, mungkin itu cara ia menunjukan perhatiannya. Gue pun tak mau terlalu menyikapi berlebihan dengan kata-kata itu. Anggap saja Aslan memang mengajarkan gue untuk menghargai perempuan, seperti Ibu dahulu.


***

__ADS_1


Next


__ADS_2