
UDAH FOLLOW KAN? JANGAN LUPA LIKE!!!
Patung itu, seolah bayangan Caca berada di sana. Ia menatap ke arah gue sambil tak lepas tangan itu mempertahankan harga diri.
Gue tersenyum, membelai wajahnya yang polos sebelum benar-benar tersapu cat pelapis berwarna bening kecoklatan. Tak lupa pula gue torehkan beberapa luka memar pada wajah itu, persis seperti apa yang ditemukan ketika pertama kali ia diselamatkan.
Caca, apa kamu tahu? Setiap waktu Abang merindu, selalu berharap kamu datang dan tersenyum dengan indah. Meski mungkin ada orang lain di sisi Abang saat ini, tak sedikit pun ia dapat gantikan posisi kamu di hati Abang.
Ca, ini Abang buatkan patung untuk kamu, persis dengan raut saat pertama kali kita bertemu. Abang sengaja buatkan dengan ukuran dan bentuk sama persis, supaya suatu saat ketika kamu melihatnya, kamu akan tahu kalau ini spesial buatan Abang untuk kamu.
Caca, nampaknya Abang hanya ada harapan kalau kelak patung ini bisa sampai ke kamu. Ada seseorang yang menginginkannya dan Abang tak dapat menolak, karena Abang juga ada tanggung jawab untuk ketahanan usaha yang Wa Made rintis sejak beberapa tahun yang lalu. Tak ada lagi keluarga yang Abang punya saat ini selain Laksmi, putri dari Wa Made yang sudah dianggap sebagai adik sendiri.
Ca, gadis yang selalu berada dalam hati Abang, mohon ijin ya, Abang mau selipkan inisial nama kita berdua di patung ini, berharap semoga suatu saat dapat kembali bertemu. Abang tulis sekarang ya, kamu gak marah kan?
Lekas tangan ini meraih sebuah pisau ukir dengan ukuran terkecil. Menorehkan inisial AA tepat pada bagian penyangga patung itu. Lalu membiarkan cat keemasan mengalir dengan bebas, membentuk dua inisial yang sama.
I LOVE YOU CACA ....
Tampaknya melupakan seseorang memang tak semudah yang dibayangkan. Meski selalu berusaha, tapi kerap kegagalan yang menimpa. Terlebih setiap yang gue ukir saat ini selalu berhubungan dengannya.
Dalam keadaan jam makan siang, kami kedatangan tamu dari Jakarta. Dialah Hadi Yanwar, orang yang pada waktu itu tertarik pada patung buatan gue yang di-posting Laksmi.
Kami berdua berjabat tangan yang cukup hangat. Ia pun membawa serta seorang gadis, mungkin putrinya. Gadis itu tampak pucat dan tak bercahaya.
"Ah, Tuan Hadi Yanwar?"
"Betul sekali. Anda ... pembuat patung wanita itu kan?" ia menunjuk sambil tersenyum.
"Ah, betul sekali. Silahkan duduk."
"Haha, tidak masalah. Perkenalkan, ini putri saya, namanya Jessika Yanwar."
Gadis itu menyodorkan tangan dan terasa begitu dingin. Sedikit pun senyum yang ia pancarkan tidak memiliki keindahan. Dia seperti lesu, tak bertenaga.
"Putri anda ... apa dia sakit? Mohon maaf jika saya lancang."
Raut wajah Hadi Yanwar sedikit murung. "Benar sekali. Dia sudah lama mengidap kanker hati. Beberapa bulan yang lalu saya sempat menemukan donor yang tepat, tapi kemudian orangnya menghilang, tak tahu kemana."
Ia duduk bersama putrinya pada kursi kayu yang tersedia.
"Bagaimana bisa hilang?" gue mengernyitkan dahi. Dan sesaat berterima kasih pada Laksmi yang menyediakan hidangan untuk para tamu.
"Mungkin belum jodoh," ungkapnya. "Ini ... putri dari pemilik semula?"
__ADS_1
"Betul sekali."
Laksmi kemudian ikut gabung meski hanya sekedar duduk dan tak banyak bicara.
"Sebenarnya ini memang pemilik asli, saya hanya pengelola. Kebetulan ... kami masih ada ikatan kekerabatan."
"Oh, begitu? Tapi nampaknya, jika kalian berjodoh pun, cukup serasi."
Sontak hal itu membuat Laksmi tersipu malu. Sedangkan gue hanya tersenyum tanpa menanggapi berlebihan.
"Oh iya, ngomong-ngomong terkait patung yang di-posting waktu itu, apa sudah siap?"
"Baru finishing. Mungkin sekitar beberapa jam lagi. Anda silahkan menikmati suasana terlebih dahulu."
"Ah, baiklah. Ada kemungkinan saya juga menginap di hotel terdekat, nanti malam kami akan ke sini lagi. Saya lupa, siapa nama anda?"
"Alvin Yanwar."
"Alvin Yanwar?"
Dahinya berkerut. Ia tampak sedikit terkejut yang gue sendiri tidak begitu tahu apa sebabnya. Laki-laki di hadapan gue ini seketika kembali merubah ekspresi wajahnya menjadi biasa saja. Memangnya, apa yang salah dengan nama itu? Apa karena nama belakang kami terbilang sama?
"Tenang saja, saya yatim piatu."
Malam telah tiba dan bertabur bintang ketika Tuan Hadi Yanwar itu turut duduk di bangku kayu yang biasa tersedia di depan gazebo. Turut memandang langit, seperti apa yang pernah gue lakukan.
Mungkin jika orang awam melihat hal ini, mereka akan mengira jika kami berdua adalah Ayah dan anak. Ya, itupun gue harapkan. Tanpa dapat dipungkiri, kehadiran pada sosok Ayah itu memang sejak lama gue idamkan.
Sering waktu sekolah dulu, ketika anak lain dibela ayahnya hanya karena kecelakaan permainan anak-anak, gue hanya dapat bersembunyi di balik punggung Ibu yang tak pernah gentar membela putranya. Menjadi dua figur sekaligus, tentu itu bukanlah hal mudah.
Meski banyak orang yang bilang kalau nyokap gue adalah orang yang garang, tapi bagi gue ia adalah sosok Ibu sekaligus Ayah yang baik. Tak pernah membentak, meski gue melakukan kenakalan terparah sekalipun.
Pernah gue bertanya terkait kehadiran sosok Ayah dalam hidup gue. Ia hanya menjawab ....
"Ayah adalah Ibu, karena Ibu juga bisa jadi Ayah. Mereka perlu dua orang untuk jadi figur itu, tapi kamu cuma perlu satu. Jadi siapa yang lebih hebat di sini?" Wajahnya selalu lembut dan penuh senyum ketika mengatakan itu.
Pernah juga, mungkin Ibu lelah karena pertanyaan itu selalu berulang hingga gue SMA. Ia hanya menjawab sambil menghela nafas yang dalam.
"Ayahmu sudah meninggal sejak kamu dalam kandungan. Ayah Bima itu, dia yang mengurusmu, dia juga ayahmu."
Jawaban terakhir itu, cukup membuat gue bungkam dan tak berani bertanya tentang Ayah lagi. Bagaimana bisa, selama bertahun-tahun Ibu mampu menjadi dua sosok sekaligus?
Jika pun berada di posisinya, apa gue bisa? Kehilangan pun rasanya begitu sesak, sebak di dada. Gue menghela nafas panjang dan menekan sudut mata ketika sentuhan hangat itu menyentuh bahu.
__ADS_1
"Saya pun pernah punya anak laki-laki. Jika dia masih ada, mungkin sudah seumuran kamu." Laki-laki itu turut menghela nafas.
"Dulu, hanya ada kabar jika istri dan anak saya berada di suatu tempat, tapi ketika tempat itu didatangi, keadaannya sudah kosong. Orang sekitar bilang, anak saya laki-laki."
Gue hanya menanggapi dengan tersenyum dan menatap jari yang saling bertautan.
"Lalu orang tua saya menjodohkan saya dengan anak temannya, orang yang saat ini menjadi istri saya, mamanya Jessica. Kami dikaruniai seorang anak, setelah tiga tahu menikah. Ya, memang sulit melupakan seseorang, meski sudah bertahun lamanya. Bahkan saya memerlukan waktu dua tahun untuk dapat menerima pernikahan yang baru."
Biarlah untuk sesaat gue hanya menjadi pendengar semata. Rasanya berdekatan dengannya, serasa kami memang sudah kenal sejak beberapa tahun yang lalu.
"Nak, jika ada yang mampu mencintaimu, pertahankan dia dengan sebaik mungkin. Jangan kecewakan dia dengan cara pengecut. Ya, saya dulu seorang looser. Bahkan sampai saat ini pun, saya tetap looser. Terlalu menurut pada orang tua, tidak memiliki pendirian hidup. Sampai tak tahu anak dan istri saya di mana hingga sekarang."
"Tapi bukankah setiap pilihan orang tua itu yang terbaik, Om?"
"Betul. Itu tidak salah. Namun, kita juga sebagai laki-laki harus punya prinsip, jangan pernah mau mengekor atau diatur orang lain."
Ia menghela nafas sesaat, mendongak menatap langit. "Saya mengalami penyesalan yang amat panjang. Selalu takut pada karma yang mungkin saja akan terjadi. Biarlah, jika Tuhan mau menghukum saya, ya ... saya bisa berbuat apa?"
Kami saling terdiam beberapa saat. Ada sedikit pertanyaan untuk orang ini yang agak sungkan gue utarakan. Kenapa ia memberi sketsa wajah gadis yang begitu mirip dengan Caca? Apa Tuan Yanwar ini mengenalnya?
"Oh, iya, Om."
"Kenapa?"
"Sketsa itu? Apa Om mengenal gadis itu?"
Sesaat ia terdiam. "Oh ... haha, itu wajah anak saya."
"Anak Om?"
"Iya, Jessica. Yang tadi siang ikut ke sini."
"Jesssica?"
Gue mengerutkan dahi, menyamakan bayangan sketsa itu dengan garis wajah Jessica. Memang agak mirip, tapi tidak sama persis.
Ah, mungkin tak perlu pula gue terus menanyakan hal-hal aneh terkait pesanannya. Kebanyakan orang memesan bentuk leak atau naga ketika datang ke tempat kami. Namun, baru kali ini ada pelanggan yang menginginkan patung seorang gadis.
"Oh iya, nak. Jika kamu menemukan orang yang bersedia mendonorkan hatinya, tolong kabari saya. Berapa pun akan saya bayar."
Gue tersenyum geli. Emang dia pikir nyari hati manusia semudah dapetin hati ayam?
Next
__ADS_1