
...follow ya.... jangan pelit-pelit......
"Dia adik sepupu aku."
Tak ingin Alexa yang nyaris berkaca-kaca itu semakin salah faham dengan penampakan yang terjadi. Caca yang semula hendak mengenakan hoodie pada tubuhnya itu terjeda sesaat sebelum akhirnya melanjutkan kegiatannya.
"Adik sepupu yang mana?" tanya Alexa penuh selidik.
"Dari ... itu, dari kampung. Dia baru datang jadi ... aku yang nampung dia sementara."
"Oh."
Entah Alexa faham atau sekedar tidak ingin memperpanjang masalah yang ada. Gue menariknya untuk lebih jauh dari sana. Supaya Caca si gadis kecil itu tidak merasa kaku dengan kehadiran kami.
"Kamu ngapain ke sini?"
Alexa mengangkat alisnya dan bergelayut dengan manja.
"Kok kamu nanya gitu sih? Bukannya seneng aku udah pulang."
Dia pura-pura merajuk seperti biasa jika ekspresi gue tak memuaskan hasratnya. Dia memang beberapa hari ini menghilang, katanya pergi berlibur ke luar negeri entah ke mana. Pada saat pamit beberapa minggu yang lalu pun tak begitu dihiraukan.
Dia sebenarnya anak dari bos tempat gue kerja. Hubungan kami ini tidak terlepas pula dari pertentangan keluarga besarnya. Hanya saja bos memang profesional dalam bekerja. Selama gue tidak melanggar aturan kantor, dirasa itu mungkin tidak cukup kuat alasan untuk mengeluarkan gue dari perusahaan.
"Papa kamu, tahu kamu ke sini?"
Alexa menggeleng. Masih tidak sudi untuk melepaskan kedua tangannya dari lengan gue.
Caca sudah berdiri mematung di samping mobil sambil menghadap ke arah kami dengan pandangan yang gue sendiri tidak dengan mudah mengartikannya. Namun, seperti ada terbersit luka dari tatapan itu. Entahlah, mungkin gue yang terlalu percaya diri.
"Kami pulang dulu, besok kita jumpa di kantor." Perlahan melorotkan genggaman yang membuat tidak nyaman itu.
__ADS_1
"Oh, ya. Vin, dia bakal jadi sepupu aku juga, kan?"
Pertanyaan itu terkesan sepele, tapi juga membuat hati gue tak nyaman karenanya. Langkah yang semula membelakangi kemudian menoleh kembali untuk sesaat.
Gue faham apa yang ada dalam pikiran Alexa. Dia sangat berharap jika hubungan yang berjalan selama ini segera akan diresmikan. Namun, entah sudah berapa kali telinga ini mendapat ceramah dari bos terkait dengan kedekatan gue dan Alexa.
"Aku akan segera dapatkan restu Papa."
Itu kalimat terakhir sebelum ia tersenyum dan gue pun masuk ke dalam mobil untuk kemudian pamit.
Jujur, dia memang cantik, bahkan bisa dibilang sangat cantik. Ada banyak laki-laki di luar sana berharap memiliki kesempatan yang gue dapatkan saat ini. Entah apa pula yang ia lihat dari diri seorang Alvin yang hanya tinggal sendiri dan bekerja sebagai karyawan biasa.
Diri Alexa sudah lenyap seiring dengan berjalannya laju kendaraan menuju belokan di depan sana. Lampu merah yang menyala itu, seolah memberi kesempatan bagi gue dan Caca untuk saling berpandangan sebelum akhirnya beberapa klakson berisik meneriaki kami karena lampu sudah berubah warna.
Kain penutup tubuh Caca sudah gue lempar tepat di pinggir jalan sebelum akhirnya kami memasuki pelataran rumah yang tak begitu besar.
"Ini pertama kalinya Abang bawa cewek ke rumah."
Caca hanya terdiam. Namun, dari sorot matanya seolah mengisyaratkan pertanyaan, bagaimana dengan Alexa?
Caca membulatkan bibirnya. Dia berjalan perlahan dengan kedua tangan saling terikat, tampak jelas jika masih ada kegugupan dari gestur tubuh yang diperlihatkan.
"Kamar di sini hanya ada dua. Yang belakang itu gudang. Kamu tidur di kamar depan ya, nanti Abang bisa tidur di kamar gudang."
"Gak usah, aku tidur di sofa aja."
"Gak baik anak gadis tidur di sofa. Biar Abang yang tidur di sofa." Sambil gue merebah lebih dulu.
Caca berjalan menuju kamar depan sesuai petunjuk yang diberikan. Celaka, gue ingat jika pakaian dalam masih bertumpuk di ujung tempat tidur.
Tak pikir panjang lagi. Gue langsung menyambar pintu sebelum Caca menyentuhnya. Gadis itu menoleh heran, ia menyunggingkan senyum.
__ADS_1
"Gak pa-pa, aku tidur di sofa aja," ujarnya.
"Eh, maksudnya bukan gitu. Kamarnya masih berantakan, jadi Abang mau rapihkan dulu biar gak bau laki."
"Oh ...."
Sesuai dengan apa yang ada di kepala. Beberapa benda keramat itu memang masih teronggok dalam tumpukan pakaian yang baru dicuci di ujung tempat tidur. Sigap, gue tumpahkan semua pada keranjang kosong di sudut ruangan kemudian ditutup dengan selembar handuk untuk meninggalkan jejak.
Beres! pikir gue.
Caca masih menunggu sambil pandangannya mengedar ke beberapa arah. Mungkin merasa kagum juga dengan interior rumah ini.
"Besok Abang pindahkan semua pakaian ke kamar belakang. Jadi nanti lemari itu kamu yang isi." Sambil lirikan mata itu menunjuk ke arah lemari berbahan panel di dalam ruangan itu.
"Oh, iya."
Tak banyak bicara. Senyum itu terulas dengan indah sebelum akhirnya lenyap ditelan tertutupnya pintu kamar.
Sigap kedua tangan menyilang di atas kepala. Memang mata ini tak begitu berat setelah kejadian di club tadi. Sialan memang. Laki-laki bertubuh tambun itu seperti hewan tak berotak yang hendak mencincang habis mangsanya.
Lebih tak terpikir lagi, seorang kakak yang harusnya menjaga adiknya itu justru orang yang paling keji dengan menjerumuskan Caca ke dalam kubangan penuh lumpur beracun.
Tak terasa, entah sudah berapa lama mata menatap atap rumah hingga kemudian gelap tak lagi ingat jika hari sudah pagi.
Kesadaran gue mulai tergugah dengan aktifnya Indera penciuman atas aroma lezat terasa di kerongkongan.
"Siapa yang masak?" gumam gue dalam mata masih lengket.
Terdengar bunyi piring dan perabotan lainnya seperti tengah beradu satu sama lain. Sial! Gue baru ingat jika perabotan kotor masih bertengger di atas wastafel yang entah sudah berapa tumpukan berada di sana.
Gadis kecil itu menoleh sambil tersenyum dengan polos. Ah, manis sekali.
__ADS_1
***
next ...