Gadis Di Club Malam Itu

Gadis Di Club Malam Itu
Memalukan


__ADS_3

UDAH FOLLOW KAN? JANGAN LUPA LIKE!!!


Benar, kondisi Jessica memang sangat mengkhawatirkan. Gadis itu terpaksa menggunakan berbagai selang menancap di tubuhnya demi dapat membantu kehidupannya.


Takdir memang kejam, begitu mudahnya mempermainkan kehidupan manusia. Please, Jessica ... sembuh. Abang mohon sama kamu. Abang gak mungkin juga ngorbanin calon Ibu dari keponakanmu hanya karena kesalahan yang diperbuat ayahnya. Sembuhlah ... please ....


"Kondisinya selalu menurun setiap hari," ujar Hadi Yanwar sambil menepuk pundak gue.


Jika memang Jessica masih saudara se-ayah sama gue, bukankah ini terlalu kejam? Jika pun harus mengorbankan gadis lain demi untuk menebus kesalahan ayahnya, bukankah ini lebih kejam lagi?


"Anda sayang sama Jessica?"


"Tentu, Papa sayang dengan semua anak Papa."


"Jika seperti itu, kenapa tidak donorkan saja hati anda untuk Jessica? Bukankah ia bilang semua yang terjadi karena anda pula penyebabnya?"


Jelas terlihat, raut wajahnya berubah menjadi kaku mendengar apa yang gue katakan barusan. Memangnya, apa hak dia memvonis tentang salah atau tidaknya orang lain? Negara punya hukum, alam pun punya hukum. Jika memang ada salah, hukum pelakunya, jangan anaknya.


"Nak, ini terlalu pelik untuk dijelaskan. Kelak kamu pun akan tahu sendiri, betapa sayangnya Papa sama kamu. Meski nyawa yang memang harus dijadikan tebusan atas kesalahan Papa sama kamu, Papa rela. Satu yang Papa minta dari kamu. Ketika kelak maut menjemput, akuilah saya sebagai papamu."


...


"Abang, hari ini aku masak sup rumput laut. Barangkali Abang mau?" Caca menawari ketika kita berdua menonton TV bersama.


Bukan santapan utama, ia menjadikan hidangan itu sebagai camilan nonton kami.


"Kamu mau Abang makan sup-nya?"


Caca mengangguk, sambil menyodorkan sendok berisi sup itu.


"Boleh, tapi kita satu suap bersama." Gue menggoda, membuat gadis itu mengedip beberapa saat.


"Abang, jangan mesum ya." Ia ragu.


Gue menarik sendok berisi sup itu dan menyuapnya. Namun, dengan lembut menarik pula dagu Caca, hendak membagi sup dalam mulut ini untuk dirinya juga. Satu regukan bersama. Ya, semakin dekat, semakin berdebar hebat, hingga ....


Klik!


Pintu itu terbuka. Menampilkan Juna dengan dua kantong berisi belanjaan penuh. Ehm, gue dan Caca terperanjat. Kami berdua merasa kikuk terlebih ketika Juna menatap dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Kenapa kalian berdua? Kok pada bengong?"


"Enggak ...." jawab kami serentak.


"Ish, gue ganggu ya? Lagi pada romantis-romantisan nih pasti."


"Paan sih? Orang kita lagi nonton juga," jawab Caca merengutkan wajahnya.


Gue tersenyum saja, lucu kalau lihat sifat Caca yang tengah muncul kekanak-kanakannya. Gue usap kepala gadis itu dengan lembut, membuat ia pun menoleh dan tersenyum.


"Yaampun ... mentang-mentang gue jomblo." Juna berlalu sambil menenteng dua kantung belanjaannya menuju dapur.


"Sayang," panggil gue ke Caca.


"Hem?" Ia lembut mengusap perutnya yang sudah mulai terlihat.


"Kapan jadwal ke dokter?"

__ADS_1


Gue pun turut mengusap perutnya juga. Seperti ada kebanggaan yang tersimpan di dalam sana. Sebuah kehidupan, yang terlindung dalam kehidupan.


"Besok kalo gak salah."


"Abang usahakan ijin kerja ya biar bisa antar kamu ke dokter, gimana?"


"Gak usah, Abang ... kan udah ada Kak Juna. Abang kerja juga baru beberapa hari kan?"


"Tapi Abang mau tau keadaan anak kita."


Caca menghela nafas. "Abang ... Abang jangan perlu khawatir, aku pastikan anak kita baik-baik aja ya."


"Ca ...."


"Hem?"


"Abang kangen sama kamu, kita tidur sekamar ya?" Gue memeluk tubuhnya dari belakang, merasakan hangat menyeruak memberi kenyamanan yang selalu jadi sandaran.


"Abang mendadak manja sekarang." Tangannya lembut membelai pipi gue.


...


Kami sudah berada dalam satu ruangan yang sama, menatap atap kamar yang sama. Caca menjadikan tangan gue sebagai bantalnya, sedangkan satu tangan gue mengelus lembut perutnya. Gue, menjadi seorang Ayah.


Betapa terasanya kekhawatiran berlebih ketika mengingat kondisi keamanan Caca saat ini. Mungkin, ini pula yang dulu dirasakan Ibu ketika ia masih ada. Wanita itu akan senantiasa memberi perlindungan meski harus mengorbankan nyawanya sendiri. Ya, dia memang seorang wanita yang kuat setelah Ayah Bima meninggal dalam kecelakaan.


Ibu wanita terkuat yang pernah gue temui, kini sosok kekuatan itu seolah kembali hadir pada diri Caca. Gadis remaja yang kini tengah mengandung darah daging gue.


"Ca ...."


"Hem?"


Dia hanya tersenyum, mencubit jahil hidung gue.


"Ca, kalau Abang mati ...."


"Sstt ...." Jari telunjuknya berhasil menghentikan ucapan itu hingga tergantung.


"Semua orang akan mati, Abang." Ia pun berucap, "tapi tidak untuk dibahas."


Ya, benar apa yang ia katakan. Namun, kematian itu memang seolah menjadi bayang-bayang hitam yang selama ini selalu mengikuti dan siap menerkam kapan saja.


Caca mengganti posisinya, ia menghadap ke arah gue dan memainkan dada yang kini tengah menampakkan kebidangannya. Jemarinya halus menggelitik, bahkan mencubit pelan yang entah apa maksudnya.


"Abang geli, Ca."


Tangannya semakin nakal bermain, bahkan lebih gencar lagi ia menggelitiki bagian pinggang dan perut yang tentunya itu adalah area yang sangat sensitif dan bagian dari kelemahan gue.


"Ca ... Abang gelitikin balik nih." Tangan ini bersiap, tapi kemudian Caca mendahului dengan kecupan singkat di bibir gue.


Gadis ini, apa dia menginginkan sesuatu?


Tentu, mungkin. Namun, sayangnya gue gak dapat peka dan menerka. Takut nanti hanyalah keGe-Eran semata.


Tapi ... nampaknya itu adalah sorot mata hari itu, sorot kehausan, sorot di mana Caca menyerahkan dirinya sepenuhnya pada gue. Apa dia ...?


"I Love You, Abang," bisiknya lirih, ini kali pertama kalimat itu muncul dari bibirnya yang indah.

__ADS_1


Gemas, kenakalan Caca malam ini seketika membuat seluruh tubuh gue serasa panas dingin mendebarkan. Gue raih dagunya, menikmati setiap inchi yang ada pada dirinya.


Kembali rasa yang sulit digambarkan itu terjadi lagi. Bukan hanya sebatas bayangan semu, tapi tawa renyahnya seolah membuat semua beban pikiran itu sirna-lah sudah.


Caca, terima kasih sudah memberikan malam yang panjang bagi Abang, memberikan malam yang penuh makna, dan berharap semoga selalu seperti ini, hingga kita mampu untuk mendirikan bangunan tertinggi dan kokoh dalam perasaan kita.


Anastasya, apakah kamu tahu? Setiap senyum, tawa, bahkan deru nafasmu malam ini, semua terasa manis, bahkan mampu melenyapkan pahitnya takdir yang memperlakukan kita bagaikan pion di atas bidak catur.


...


Hari masih terlalu gelap ketika Caca membangunkan gue dengan kecupannya yang lembut di dahi. Ia tersenyum, gue mencubit gemas hidungnya hingga ia terlihat meringis.


"Udah pagi, Abang yang masak ya, kamu tunggu di sini."


"Gak usah, Abang ... aku kuat kok."


"Jangan dulu. Katanya semalam perutnya keram. Padahal gak Abang apa-apain."


Caca nyengir kuda, gue kembali mencubit hidungnya gemas. Lalu beranjak setelah menyibak selimut yang semula melindungi tubuh kami berdua.


Agak terkejut juga ketika melihat Juna sudah stay di ruang depan sambil menghadap secangkir kopi dan ponsel di tangannya. Ia menoleh, menggeleng kepala sebelum pandangannya kembali pada layar pipih itu.


Masa bodo dengan kondisi rambut gue yang masih acak-acakan. Segera menuju wastafel dan hanya mencuci muka saja.


Beberapa bahan makanan yang semalam baru diletakan pada lemari es nampaknya masih berdesakan di sana. Miris aja kalo itu gundukan manusia, kebayang kan bagaimana mereka saling seret dalam keadaan berhimpitan?


Sebenarnya ini kali pertama gue masak, karena biasanya hanya goreng telor, goreng ayam yang cuman digaramin, rebus mie instan, atau paling banter siram oat pake susu hangat, beres. Karena jarang pula untuk sarapan di rumah.


****!


Lupa pula kalau ini kompor induksi. Agak menggaruk kepala karena bingung pula dengan tombol yang begitu banyak. Mana keterangannya tulisan jepang semua, gimana gue mau ngerti?


Nanya ke Caca ... Akh, terlalu gengsi jika ia tahu calon suaminya ini terlalu udik. Nanya ke Juna ... pasti dia ngetawain sambil mengolok-olok.


Caca keluar dari kamar, ia menghampiri gue yang masih pura-pura memotong sayuran untuk menyembunyikan kegugupan yang terjadi.


"Perlu aku bantu?" Ia melilitkan rambutnya dan mengikat kemudian.


"Gak perlu." Segera gue raih pisau itu. "Kamu tunggu aja, temenin Juna."


Gue menggaruk tengkuk tak gatal. Sekali lagi hanya tersenyum ketika Caca menoleh sesaat sebelum ia berlalu.


Biarkanlah tentang masalah kompor itu menjadi urusan nanti. Yang penting untuk sekarang minimal muka gue terselamatkan di depan Caca.


Beberapa menit berlalu tenyata misteri tentang kompor itu tak juga terpecahkan. Bahkan beberapa tombol yang hadir tak lepas dari absenan tangan gue. Mulai dari yang gambarnya mie aceh, goreng ikan, rebusan daun singkong sampai bakar ikan lele, semuanya gagal.


"Kenapa, Bang?" Caca datang mengagetkan hingga bola mata ini nyaris saja keluar.


"Emh, bentar lagi kok."


"Kompornya belum bisa nyala ya?"


"Ah? Iya nih, rusak kayaknya. Gak papa, kita order dari luar aja."


Caca sedikit merendahkan tubuhnya, meraih sesuatu di balik kompor itu. Shi! Ternyata colokannya belom disambungin! Pantes aja kompornya gak nyala dari tadi.


***

__ADS_1


Next


__ADS_2