Gadis Di Club Malam Itu

Gadis Di Club Malam Itu
Kenapa Harus Adik?


__ADS_3

UDAH FOLLOW KAN? JANGAN LUPA LIKE!!!


Penerbangan dari Jakarta menuju Bali akhirnya berangkat pada pukul 6.30 pagi setelah mulut ini lelah memanggil Caca yang bersiap dengan segala perlengkapan make up yang ia gunakan. Entahlah, padahal yang gue tahu ia termasuk gadis polos yang penurut, pada awalnya. Namun, dapat juga menjadi seseorang yang modis mengikuti trend. Katanya ....


"Kita kan mau ke Bali, pasti di sana banyak bule kan?"


Baru kali ini gue melihat kedua mata Caca mengerling dengan genit.


"Ca ...."


"Hem?"


"Kamu kelilipan ya?"


Seketika Caca merubah ekspresinya menjadi kaku. Lucu sekali. Ingin gue mencubit kedua pipinya yang menggemaskan itu hingga ia berteriak minta ampun.


"Abang ...." Caca terdiam sebelum meniti anak tangga menuju pesawat. "Ini pertama kalinya aku naik pesawat." Wajah Caca pucat, kedua matanya membulat.


Tanpa pikir panjang. Segera gue raih tangannya untuk kemudian digenggam erat meniti bersama. Masih dalam keadaan rasa takut, mungkin. Terlebih pada saat pesawat mulai take off ia begitu kentara ketakutan.


"Sini, jangan lihat ke sana." Gue raih kepalanya ke dalam pelukan.


Bagaimana pun, gadis ini hanya punya gue sebagai pelindungnya. Tak tega rasanya membiarkan ia menggenggam erat ujung T-shirt--nya karena ketakutan.


Cukup lama perjalanan hingga menempuh dua jam lebih sebelum akhirnya sampai di Bandar Udara Internasional Ngurah Rai. Caca terlelap dalam pelukan, begitu manis. Hingga gue tergiur dengan sesuatu keindahan itu. Maaf Caca, Abang menyukaimu.


Satu kecupan lembut rasanya tak akan mengganggu tidur lelapnya. Anastasya menggelisik dalam pelukan, memberikan rasa geli, tapi juga menyenangkan. Gue tersenyum, menatap luasnya langit di luar pesawat melalui jendela.


Semakin dalam Caca tertidur dalam pelukan, detak jantung ini rasanya tidak dapat bernyanyi dengan tenang. Sesekali gue coba mainkan jemari pada lutut, berharap dapat mengalihkan perhatian untuk tidak melakukan hal bahaya padanya.


"Abang ...." lirih Caca, ia menggisik matanya. "Aku tidurnya lama ya?"


Huff ... akhirnya ia terbangun juga. Terbebas sudah dari godaan-godaan sialan yang terus mengganggu. Gue tersenyum lebar, tanpa menjawab hanya memandang ke arah luar memerhatikan pesawat bersiap untuk landing.


Pramugari cantik itu sudah berdiri memegang mikrofon untuk memberi petunjuk. Caca menoleh, gue pakaikan sabuk pengaman melilit ke pinggangnya. Entahlah, akhir-akhir ini ia terkesan manja dan menggemaskan.


"Abang ..."


Gue menoleh.


"Usia Abang berapa tahun?"


Agak terkejut dengan pertanyaan itu. Gue memperbaiki posisi duduk dan mengenakan sabuk pengaman sendiri.


"Kenapa?"


"Makin lama, Abang makin mirip Kak Juna. Abang gak keberatan kan kalo aku tetep jadi adik Abang?"


Adik? Kenapa harus adik? Abang bahkan berharap kamu jadi lebih dari sekedar adik. Maaf, Caca. Abang maunya kamu jadi istri Abang, bukan adik.


"Abang?"


Gue tersenyum, mengangguk dengan perasaan yang pahit. Guncangan itu sukses membuat Caca kembali memeluk karena takut akan turbulance pesawat. Namun, rasanya guncangan ini tak sekuat perasaan gue yang kini campur aduk rasanya. Ingin menangis, rasanya terlalu memalukan.

__ADS_1


Caca menunduk menutup wajahnya dengan kedua tangan ketika ia sadar baru saja nyaris bibir kami bersentuhan.


Beruntung turbulance tak berlangsung lama. Pesawat sudah mendarat dengan sempurna. Ragu, tapi gue tetap berusaha untuk dewasa.


"Yuk, turun." Tangan ini menadah. Caca menoleh, tapi tak seceria tadi.


Kami berjalan berdampingan sambil gue mendorong troli barang bawaan kami. Ya, ini kali pertama gadis itu menginjakan kaki di Pulau Bali. Seketika ia mengkeret, bersembunyi di belakang gue sambil menutup wajahnya.


"Kenapa?" Gue heran.


"Ada Om aku, Kak."


"Om?"


"Iya."


Gue mengerutkan dahi. Memang terdapat seseorang yang melintas ke hadapan kami dengan beberapa orang bercengkerama dengannya. Bukankah itu orang yang sempat gue lihat di TV semalam?


"Om, maksud Abang, paman yang urus kalian itu, dia orangnya?"


"Iya. Kami semua dijadikan pembantu di rumahnya. Bahkan aku nyaris dijual pada usia 15 tahun."


Orang itu sudah lewat jauh. Caca kembali ke samping gue sambil matanya tak henti mengawasi. Sejenak gue berpikir, mungkin pula ia  ... Apa perkiraan gue benar? Argh! Kepala ini terasa berat jika membayangkan bagaimana takutnya Caca saat itu, nyaris dijual ketika usia 15 tahun?


Sialan memang  Kenapa begitu banyak orang yang berprilaku bejad di dunia ini? Sungguh sangat miris. Namun, gue pun tak bisa dengan serta-merta menyalahkan dia begitu saja. Bisa jadi kan kondisinya sama dengan Juna tempo hari.


"Kamu trauma?"


Caca mengangguk dalam rangkulan hangat gue. Namun, gadis itu masih belum bisa dengan tenang mengangkat wajahnya.


Kedatangan kami disambut Laksmi Gasari yang merupakan putri tunggal dari Wa Made, katanya dulu beliau adalah teman dekat Ibu dan Ayah.


Keduanya tersenyum menyambut kedatangan kami. Terlebih gadis berkebaya khas Bali, dengan rambut diikat lilit serta beberapa bunga kamboja menghiasi surai indahnya. Mungkin ia baru selesai melakukan ibadah di Pura.


Laksmi menghampiri dengan menyuapi kami sebutir manisan. Ia tersenyum, sesaat menatap gue dan kemudian mempersilahkan untuk masuk ke dalam bangunan dengan pintu ukir yang indah dipandang mata


Beberapa pengrajin patung kayu kami lewati. Beberapa dari mereka menyapa dan gue hanya menjawab dengan anggukan kepala saja.


"Sudah lama kamu tidak datang ke sini. Laksmi sangat rindu padamu," ungkap Wa Made ketika kami sudah sampai di ruang belakang yang terbuka.


Ah, rasanya rindu pula pada ketenangan tempat ini. Tampak Laksmi Gasari menoleh sambil bersembunyi di balik pintu setelah menyuguhkan kami dua butir kelapa muda yang siap minum. Gadis itu tersipu malu, kemudian ia berlalu.


"Laksmi sudah besar sekarang. Cantik pula. Apa masih sekolah?"


"Dia baru saja lulus S1 jurusan pariwisata. Belum dapat pekerjaan."


Sesaat menoleh ke arah Caca yang duduk di samping gue. Gadis itu tanpa reaksi, selain senyum hambar yang ia paksakan.


"Ini Anastasya, gadis yang tempo hari saya ceritakan di telpon."


Wa Made sesaat menatap lekat ke arah Caca, kemudian ia tersenyum. Gue sendiri tidak tahu apa arti dari senyumannya itu.


"Laksmi sudah masak, jika kalian lapar, bisa makan sekarang, mari."

__ADS_1


Wa Made mengajak kami sambil ia sendiri beranjak menuju ruang makan. Memang sejak dari pagi kami belum sarapan apa pun. Sontak saja aroma makanan berlemak itu langsung membuat suara-suara cacing di perut bergerilya.


"Mari, Bli," ujar Laksmi menyiapkan kursi buat gue dan Caca.


"Kamu sudah besar sekarang. Cantik pula," ujar gue membuat pipi gadis itu semakin memerah.


"Biar Laksmi yang ambilkan lauknya buat Bli Alvin." Sambil ia meletakan sepotong daging sapi di atas piring gue.


Caca tampak kaku, ia mungkin merasa tidak enak dengan situasi ini. Gue sengaja menukar piring yang ada di hadapan dengan piring kosong di tangan Caca. Sambil mengambilkan nasinya pula.


"Gak usah, Abang."


"Ck, udah kamu makan aja."


"Biar aku ambil sendiri."


"Ngambil sendiri gimana? Dari tadi kamu diam aja."


Caca tak bersuara lagi. Sekilas tampak Wa Made tersenyum melihat pertengkaran kecil kami. Berbeda dengan Laksmi yang tiba-tiba berubah menjadi murung.


"Laksmi ambilkan mi ...."


Langkah gadis itu terhenti dengan genggaman tangan Wa Made di lengannya. Pria itu menggeleng, membuat Laksmi semakin murung dan kembali duduk.


"Nikmati makan yang seala kadarnya. Setelah ini kalian istirahat." Wa Made menutup perbincangan di tempat itu.


...


Mentari memang sudah berada di ujung kepala pada saat Wa Made mengajak gue ke gazebo di depan rumahnya. Memerhatikan beberapa pemahat kayu, sambil sesekali ia pun menyapu beberapa helai daun yang gugur dari pohon besar di atas gazebo itu.


"Dia memang gadis yang manis, persis seperti apa yang kamu ceritakan tempo hari." Pria itu membuka percakapan.


"Itulah kenapa alasan saya sampai sejauh ini melindunginya."


Kami duduk pada bangku kayu memanjang sambil menikmati hembusan angin menyapa kegerahan siang ini.


"Wa faham dengan apa yang kamu rasakan, nak. Tapi, mencintai tanpa dicintai itu sakit. Kamu sudah bersedia dengan itu?"


Wa Made berhasil skak mat gue dengan pertanyaan itu.


Gue tersenyum. "Saya sudah siap dengan segala konsekwensinya, Wa."


"Meski harus patah hati?" Tatapannya begitu menodong dengan  raut kening sedikit mengerut.


Lantas senyum di wajah gue seketika lenyap. Benar adanya. Apa gue sudah siap dengan kemungkinan terburuk dari ini? Mendengar Caca hanya menganggap Kakak saja sudah sebegitu sakitnya.


"Saya memang sudah patah hati, Wa." Jawaban yang sungguh sekenanya.


Wa Made hanya tersenyum menggeleng heran, mungkin kemudian ia menepuk pundak gue beberapa kali.


Lagi, tampak Laksmi yang mengintip ke arah kami sambil tersenyum di balik salah satu ukiran yang siap berbentuk leak. Sesaat gadis itu bersembunyi, kemudian kikuk karena tertangkap basah oleh pandangan gue yang tersenyum ke arahnya.


***

__ADS_1


NEXT???


__ADS_2