Gadis Di Club Malam Itu

Gadis Di Club Malam Itu
Terbunuhnya Doni


__ADS_3

FOLLOW N LIKE YA!!!


Foto itu masih setia dalam genggaman hingga matahari menyingsing di sore hari tepatnya gue berdiri pada pembatas antara danau dan diri. Ingin untuk tidak curiga, tapi keadaan keduanya tidak sedang biasa saja.


Aslan pernah mengatakan jika ia mengetahui Caca hanya dari sepintas bertemu tanpa sengaja di Bali, tapi apa yang gue lihat jelas berbeda. Sorot mata yang ia arahkan, ada perasaan lebih dari sekedar orang yang kebetulan kenal.


Red wine, itu yang menjadi teman mereka berdua di dalam foto ini. Apakah memang sedekat itu? Jelas sekarang kenapa Aslan selalu menanyakan tentang Caca juga mengurus persiapkan pernikahan kami. Tunggu, apakah anak dalam kandungan Caca ...?


Entah sudah berapa panggilan juga yang gue abaikan dari gadis yang selama ini kerap diutamakan itu. Seolah, dering ponsel menjadi sumber rasa sesak saat kini, hingga tak ingin lagi mendengarkannya.


Senyap!


Itu mode yang digunakan saat ini. Ke mana sekarang gue harus pergi? Terlalu sakit rasanya melihat wajah cantik itu berada di genggaman orang lain. Ca, apa anak itu bukan anak Abang?


Bagaimana pula gue dapat menyakiti hatinya dengan pertanyaan sekonyol itu? Tapi ... Rasa sesak ini kian meliputi seluruh nalar dan logika yang semula berjalan dengan baik. Apa? Bagaimana?


Gue meremas foto itu dan melemparkannya ke dalam mobil sebelum membanting pintu dan berlalu melesat memecah jalanan lembap di malam hari.


Club malam.


Tempat di mana pertama kalinya gue bertemu dengan Caca. Dentuman keras musik memecah telinga diiringi tarian panas para wanita berpenampilan menjijikan itu seolah kini menjadi tempat kenyamanan gue. Ya, karena tak mungkin pula mampu dengan leluasa menikmati minuman keras di rumah.


Bartender itu menyodorkan sebotol red wine pavorit gue yang kemudian dilemparkan secara kasar ke hadapannya.


"Ganti yang lain!"


Muak. Minuman itu terlaku sama dengan apa yang Caca dan Aslan nikmati di dalam foto itu. Tampak si bartender terkesiap kemudian mencari minuman yang lain.


"Berikan saya Penfolds Bin 707!"


"Abang yakin?"


Sorot mata ini menatap nyalang ke arahnya hingga bartender itu segera menuju rak wine dan menyodorkan botol berisi itu beserta zinfandel ke hadapan gue. Sesaat membukanya, kemudian membiarkan saja untuk melayani pelanggan yang lain.


Aroma yang menyengat terasa nikmat hingga entah sudah berapa kali gue meminta lagi dan lagi pada bartender itu.


"Habis, Bang. Itu tinggal stok akhir," ujarnya.


Waktu nampaknya sudah menunjukan hampir subuh. Karena pengunjung pun sudah mulai sepi. Gue sendiri tak mungkin untuk pulang menemui Caca dalam keadaan seperti ini.


"Abang gak pulang?" tanya bartender itu.


"Gue lagi males." Menjawab sekenanya.


"Takut dimarahin istri ya, Bang?" Ia sibuk membersihkan meja persegi panjang yang terbuat dari marmer itu.


Tak menghiraukan. Gue hanya terdiam sambil merasakan betapa beratnya kepala ini.


Club sudah benar-benar sepi. Bartender itu menoleh sesaat sebelum ia benar-benar pergi. Mencondongkan kepalanya, tepat menuju telinga gue.


"Club ini milik Herman Pratama, kalo Abang mau lebih jelas, ikut ke kosan gue sekarang."

__ADS_1


Mata gue memicing sesaat menerka apa yang ia katakan karena jujur kepala ini tidak sedang dalam baik-baik saja. Mafia itu ternyata dia pula, orang yang dengan sengaja menjebak Juna untuk terjerat dalam permainannya.


"Herman?" gumam gue.


...


Bangunan dengan ukuran 2x3m² Inilah rupanya yang menjadi tempat tinggal bartender itu. Gue faham, dia bukan tipe orang yang gemar meminum cairan beralkohol seperti gue. Kehidupannya di kota besar memang tak semudah yang dibayangkan orang. Tentu jika ada pekerjaan yang lebih layak demi menyambung hidup, iapun mau. Sepertinya begitu.


"Ini tempat tinggal gue, Abang bisa panggil Doni." Dia menyodorkan tangannya.


Bertahun-tahun menjadi pelanggan tetap di tempat itu, kini untuk pertama kalinya gue benar-benar tahu siapa namanya. Ia pun tanpa sungkan membawa gue ke tempat tinggalnya setelah melihat keraguan untuk pulang dini hari ini.


"Gue di sini tinggal sendiri, Bang. Bekerja buat biayain adik yang sekolah di kampung. Oh ya. Abang mau makan apa? Biar gue yang masakin. Ini ... cuman ada mie instan sih, gue belom belanja lagi." Dia berseru dari arah depan kompor. Bukan dapur, hanya sedikit sekat ruangan sebelum masuk ke dalam toilet yang gue yakin sangat kecil.


"Saya sebenarnya bosan kerja di situ, Bang. Cape. Bukan apa-apa, lihat pergaulannya."


Tak lama dua mangkuk mie instan berasap sudah tersedia di hadapan.


Sebenarnya rasa mual yang ada cukup membuat nafsu makan gue berkurang, bahkan mungkin hilang. ****! Gue harus ke kamar mandi. Ada gumpalan yang mendorong dari perut menuju kerongkongan.


"Sorry, Doni."


Gue segera berlari menuju ruangan kecil itu dan mengeluarkan seisi perut. Entahlah, entah dia melanjutkan makannya atau terganggu dengan keadaan gue.


Namun, yang gue lihat Doni tak menghiraukan dan bahkan sudah melahap habis makanannya. Terdengar bunyi sendawa tanpa rasa malu sedikit pun. Bahkan ia mengucapkan kata doa setelah makan tanpa ragu.


Ya, beginilah takdir. Tak selalu sesuai dengan apa yang diinginkan. Gue pun melihat ada garis kerja keras yang mengeraskan rahangnya. Bahkan tak terlihat pun jika dia seorang perokok.


"Bang, gue shalat dulu ya. Takut keburu masuk waktu fajar."


Gue kerap menyalahkan Tuhan dengan setiap takdir yang terjadi. Bahkan, jika dilihat kehidupan kami begitu kontras, dia yang setiap malam berkecimpung di dunia hiburan justru telah menampar gue dengan kegiatannya.


"Don, lo shalat, kenapa kerja di club?" tanya gue ketika ia melipat sejadahnya.


"Gue kan cuman lulusan SMP, Bang. Di kota besar kayak gini mau kerja apa?" Selesai tangannya mengaitkan kopiah pada kapstok menempel di dinding.


"Tapi ... itu kan ...."


"Hina? Gak ada manusia yang hina, Bang. Yang membuat mereka hina adalah dari bagaimana cara berpikir dan menilai orang lain. Abang sering kan melihat para gadis berpakaian minim dengan suka rela berganti pasangan?"


Tak ada jawaban.


"Gue gak pernah memandang hina pada mereka. Semua orang butuh hidup, gue yakin jika bisa, mereka pun tak ingin pekerjaan seperti itu. Setiap manusia itu ada masanya. Abang pun, tak selamanya ingin seperti ini kan?"


"Gue gak pernah pandang hina diri seseorang."


"Gue tahu itu. Hanya saja, kita sebagai manusia kadang lupa bersyukur, hingga kerap membandingkan kehidupan kita dengan orang lain."


Benar. Memang apa yang dikatakan Doni itu adalah fakta dari kehidupan gue yang terjadi selama ini.


Hem ... lelah, merebah pada sebuah matras lepek yang tergelar dengan bebas di atas lantai itu.

__ADS_1


"Oh ya, Abang mau tahu tentang Herman kan?"


Mata gue kembali terbuka, lalu memperbaiki posisi yang semula sudah siap terlelap.


"Dia kepala mafia, Bang. Dan yang gue tahu, memang sudah lama mengincar Abang."


"Lo tahu itu?"


"Gue sempet denger di ruangan VIP ketika mucikari itu ngobrol sama dia. Katanya Herman menyuruh orang lain untuk meminjamkan uang pada seorang pemuda, dengan bunga yang besar. Hingga dapat menjerat seorang gadis untuk dijadikan korban mereka."


Gue yakin banget kalau itu Caca dan Juna.


"Lalu, apa dia ngomongin seorang anak kecil juga?"


"Anak kecil? Bentar. Kayaknya iya. Kalo gak salah ... Herman juga yang bayar orang buat bikin kecelakaan supaya kaki anak itu patah, Bang."


Jahat!


Kedua tangan ini sudah terkepal dengan sempurna. Seketika gelora panas kian membara. Kemarahan yang hanya dapat ditahan ini menyeruak kian menyakitkan.


"Oh, ya. Abang kenal Jessica?"


Sekali lagi gue menoleh tak menyangka.


"Dia, putri pengusaha Yanwar, sakitnya juga karena itu, disuntikan apa ya? Waktu pas di rumah sakit tuh saya denger ada percakapan khusus antara Herman dan suster."


"Tunggu, dari mana lo tahu kalo gue memang bermasalah dengan Herman?" Gue mencengkeram kerah bajunya hingga ia mengkeret ketakutan.


"Saya ... saya lihat video yang tersebar di internet. Saya kira orang itu Abang. Kan sama cewek yang Abang selamatkan di club waktu itu."


Benar. Gue sendiri tidak dapat memungkiri hal itu. Mungkin alangkah baiknya gue cari tahu juga siapa suster itu. Dan ... Doni, lo harus hadir di persidangan nanti.


...


Semalaman terlelap hingga nyaris tengah hari, gue lihat Doni sudah tak ada lagi di tempat tidurnya. Bahkan tirai sudah terbuka dengan lebar. Harusnya gue bangun sejak tadi. Mungkin pengaruh alkohol semalam juga cukup membuat gue terlelap lebih lama hingga pengar ini masih terasa.


Wedang jahe yang masih mengepul di atas kompor itu gue pindahkan pada sebuah gelas kaca demi dapat menikmatinya. Berharap mampu mengurangi rasa pusing yang mendera.


Nikmat!


Itu rasa yang pertama sampai di lidah. Ini seperti wedang yang kerap Ibu buat dulu untuk Ayah Bima. Gue tersenyum mengingat momen itu, memang sudah sangat lama. Gue pun rindu, pangkuan Ayah Bima, masakan Ibu. Sekarang hanya dapat membayangkannya saja.


Samar, terdengar keributan di luar sana. Entah apa yang tengah terjadi.


Segera gue keluar tanpa menunggu lebih lama. Memastikan keributan itu yang bahkan sebagian berteriak histeris.


Doni! Tidak!


Tubuhnya sudah terkulai di samping jalan dikerumuni dalam keadaan bersimbah darah.


Gue tercengang, kenapa? Kenapa harus selalu orang yang tak bersalah menjadi korban permainan takdir hidup gue?!

__ADS_1


***


Next


__ADS_2