Gadis Di Club Malam Itu

Gadis Di Club Malam Itu
Kemarahan


__ADS_3

...FOLLOW SEBELUM BACA!!!...


Alexa, masih teringat betapa gadis itu bersimpuh di depan pintu lift pada saat gue meninggalkannya tadi sore. Ucapan itu begitu menyakitkan, kenapa ia tidak bisa membedakan mana wanita malam dan mana korban kejahatan malam?


Gue agak sedikit kecewa dengan cara Alexa memandang sesuatu hanya dari satu sisi saja. Dia tidak tahu, betapa tersiksanya Anastasya malam itu. Menghadapi laki-laki kekar, dengan keadaan tubuh lemah serta memiliki kesakitan yang tidak ia tunjukan sama sekali.


Lexa, andaikan ia lebih bijak dalam menilai sesuatu. Mungkin bentakan itu tak akan pernah terlontar di hadapannya.


Dan kali ini gue sudah berdiri di dalam bangunan terbengkalai yang seharusnya rampung jika saja pengerjaan mereka benar. Entah karena pengerjaannya yang buruk atau kekurangan biaya akibat terlalu banyaknya tikus berdasi yang bermain di dalamnya. Entahlah.


Sudah hampir tiga puluh menit menengok ke arah yang seharusnya muncul seseorang dari sana. Juna. Akhirnya pria itu muncul juga.


Sebatang rokok yang baru beberapa kali dihisap itu segera gue hempaskan dan berjalan cepat ke arah laki-laki berjaket parasut berwarna hitam itu dan langsung meraih area lehernya mencengkeram kuat T-shirt yang ia gunakan, menghantam beberapa pukulan tepat di area wajahnya.


Laki-laki itu tampak sungguh keheranan. Nyaris saja kepalan tangan ini mendarat tepat di matanya jika saja ia tidak segera minta ampun.


"Sabar, Bang." Dia terengah beberapa saat. "Apa masalah lo sama gue? Kita baru ketemu kenapa lo nyerang gue?"


"Masih tanya kenapa gue nyerang lo?!"


Mata gue semakin membesar kian sengit menatapnya. Sambil beberapa kali memukul, gue sebut pula area penderitaan Caca sesuai tempat mendaratnya pukulan gue.


"Ini ketika Caca dijual sama lo!"


"Yang ini buat bayar karena Caca disiksa di club gara-gara lo!


"Ini, buat Caca yang ditelanjangi tanpa ampun!"


"Dan ini, untuk penderitaan Caca karena usus buntunya harus dioperasi gara-gara lo!"


Buk!

__ADS_1


Tendangan terakhir pada perutnya sukses membuat Juna meringkuk tak berdaya.


Belum puas, tapi gue tak mungkin pula harus membunuhnya di sini. Gue seret tubuh itu tepat pada ujung bangunan hingga nyaris ia terjatuh dari lantai tiga.


"Ampun, Bang. Ampun. Sebenarnya gue sayang sama Caca."


"Sayang?!"


Gue benar-benar muak dengan alibi itu. Apa sebenarnya devinisi sayang menurut orang seperti dia?


"Devinisi sayang lo terlalu berengsek!"


Buk!


Tepat di ujung bibirnya hingga membuat cairan merah kental itu mengalir dari sana. Terlalu sakit yang gue dengar dengan kenyataan pahit yang Caca dapatkan. Akhirnya gue hempaskan tubuh itu tepat menghantam tiang penyangga bangunan.


"Sejak awal gue berharap lo mendekam di penjara, tapi Caca terlalu sayang sama lo." Nada gue melemah. Entah kenapa tiba-tiba bulir bening itu terasa hangat di pipi.


"Pertanyaan bodoh macam apa itu?!"


"Bang, dengerin penjelasan gue dulu." Kedua tangannya menyilang di depan wajah ketika kepalan tangan gue hendak kembali mendarat. "Gue terpaksa lakuin ini, Bang." Dia terengah. "Caca korban, gue dan adik kami juga korban, kita semua korban!"


"Apa maksud lo?" Sungguh tangan yang nyaris kembali menimbulkan luka ini kini melemah seketika.


"Kami bertiga adalah yatim piatu, dipelihara oleh paman kami. Sejak awal kehidupan kita memang tidak senyaman orang lain. Gue juga tahu kalo Caca ada usus buntu."


"Lalu kenapa lo jual dia?!"


"Gue terpaksa, Bang. Adik bungsu kami mengalami kecelakaan hingga menyebabkan dia harus dirawat di rumah sakit. Paman tak mau membantu, terpaksa gue pinjam uang ke mafia."


"Bodoh!"

__ADS_1


"Ya, gue emang bodoh! Bahkan gue sangat bodoh! Gue bodoh ketika tahu Caca hilang dari club itu, pikiran gue udah kalap, gue kira Caca udah lenyap."


"Itu yang lo mau kan?"


"Gue juga gak kalo akhirnya bakal kayak gini! Mafia itu cuma bilang kalo Caca hanya sebagai jaminan sampai utang gue lunas, sedangkan bunganya tiap hari berkembang. Gue juga bingung!" Tampak ia mungkin memang tengah putus asa.


"Kenapa lo gak lapor polisi?"


"Mereka bukan orang bodoh. Jika gue lapor polisi, adik bungsu gue bisa terancam bahaya."


Lesu sudah. Gue ambruk dan tak mampu lagi mengeluarkan suara. Rumit memang. Kenapa takdir begitu senang mempermainkan manusia? Seolah semua hanya pion yang dapat dimainkan kapan saja.


Bagaimana ini?


"Berapa utang lo?"


Mungkin ini adalah hal gila yang gue lakukan. Menanyakan jumlah utang seseorang demi menyelamatkan nyawa seorang gadis yang baru gue kenal beberapa hari.


"Gue cuma pinjam sepuluh juta, kini berbunga total menjadi tiga ratus juta. Dan kemungkinan akan terus bertambah setiap harinya. Mereka bilang, utang akan benar-benar lunas jika Caca tidak ditebus selama tiga bulan atau Caca meninggal."


"Lo mau jual adik lo lagi? Atau lebih gila mau bunuh dia?!"


Sungguh kepala ini kembali mendidih ketika mendengar penuturan laki-laki yang kini rasanya sulit untuk berdiri. Dia terseok, mencoba meraih kaki gue yang kemudian ditendang karena merasa jijik.


"Abang memperlakukan gue seperti ini, gue yakin Abang sayang sama Caca. Jadi gue harap, Abang tetap jaga dia sampai masalah ini benar-benar dapat selesai. Gue akan buat berita seolah Caca benar-benar meninggal, gue titip Caca, Bang."


Tak ada suara. Hanya yang kini tengah terpikir, apa gue akan benar-benar merelakan tabungan selama ini hanya untuk menebus seorang gadis? Nominal itu akan terus bertambah setiap harinya. Kalimat itu pula yang tak boleh gue lupakan.


"Bang, sekarang Caca ada di mana?"


***

__ADS_1


next???


__ADS_2