
UDAH FOLLOW KAN? JANGAN LUPA LIKE!!!
Tatapan Anastasya meredup. Ia seperti tak mampu lagi untuk sekedar mengeluarkan suara meski itu sebatas basa-basi.
Sepanjang perjalanan pulang kami memang saling membisu, bahkan tampak ia hanya menatap ke arah luar yang sudah mulai diguyur rintik hujan.
Mungkin gue terlalu berani, mungkin pula kejujuran ini memang membuatnya terkejut. Tangan itu bahkan menolak pada saat berusaha gue genggam.
Caca, apa Abang salah?
"Aku masih remaja, Bang," ujarnya tanpa menoleh. "Usiaku masih 17 tahun."
Memang terpaut jauh. Usia gue bahkan sudah hampir menginjak kepala tiga. Tinggal menghitung bulan untuk ulang tahun yang ke 28. Sadar diri lah, Alvin. Mungkin memang sejak saat ini gue harus banyak menjaga sikap atas penolakan Caca terhadap gue.
Nasiiib ... ada cewek yang suka, guenya nolak. Ada cewek yang gue suka, dianya gak mau. Terima aja nasib lo, Vin.
"Abang bakal bayar utang Kakak kamu."
Kalimat itu berhasil membuat Caca menoleh pada akhirnya. Mungkin ini pula kesempatan gue untuk meraih hati Caca, supaya ia lebih merasa nyaman dan tidak terancam lagi dengan keberadaan gue.
"Tapi itu gak sedikit, Bang."
"Kenapa? Jika memang uang tabungan Abang cukup, apa salahnya?"
"Tapi, Bang ...."
"Kalopun gak cukup, Abang bisa jual mobil, rumah, atau apapun itu. Yang penting kalian bebas."
Meski pada kenyataannya mobil gue hanya laku beberapa puluh juta paling, itupun kalau bukan jual butuh.
"Bang, Aku tahu dan hargain niat baik Abang. Tapi ... ini bukan sekedar perkara uang."
"Lalu?"
"Ini terlalu rumit untuk dibicarakan."
Gue kesal dengan cara dia yang terus menerus menyanggah setiap apa yang akan gue lakukan. Seketika kedua tangan ini membanting kemudi ke arah kiri, berhenti dan nyaris saja menabrak pohon besar di depannya.
Caca memejamkan matanya, ia tampak sedikit menggigil dengan jemari yang kuat berpegangan pada sabuk pengaman melilit tubuhnya.
"Katakan, apanya yang terlalu rumit?" tanya gue dengan nada dingin.
__ADS_1
"A-aku ... aku masih remaja, Abang." Gue yakin, dia asal menjawab.
"Apa? Kamu pikir Abang sehina itu? Mengincar tubuh kami hanya dengan uang sekitar 300 atau bahkan mungkin 400 juta? Gitu?"
"Bukan gitu, Bang."
"Lalu? Katakan!"
Caca terperanjat dan lebih memilih menunduk tanpa kata.
"Abang tak pernah meminta imbalan pada cewek yang Abang suka atas setiap pengorbanan yang dilakukan. Tuhan melek kok, tanpa kamu balas juga Dia bakal ngasih yang lebih buat Abang. Kamu pikir Abang apa? Ngapain? Ngapain Abang bela-belain mukulin orang cuma buat nyelamatin nyawa dan harga diri seorang bocah kecil kayak kamu?! Wanita di luar sana banyak yang mau sama Abang. Kamu sendiri tau itu!"
Luruh sudah air matanya. Caca terisak dan tak berani lagi untuk mendongakan wajahnya. Alvin, lo berhasil lagi dalam membuat seorang gadis menangis. Terlalu jahat, kenapa pula harus seperti ini?
Gue meraup wajah lelah, terlebih dengan segala pikiran yang kini seolah membuat isi kepala serasa penuh dengan umpatan. Alexa, Pak Surya, Caca. Semua masalah ini telah membuat setiap amarah tak terkendali.
Oh, please, Alvin. Kendalikan diri lo!
Percuma juga rasanya jika gue meminta maaf. Air mata itu sudah kadung ke luar dari sarangnya. Hujan kian lebat, seolah tahu jika keadaan di dalam ini memang sedang tidak secerah biasanya.
...
Kami sudah di rumah. Sengaja tidak mau mengganggu Caca yang dari semalam mengurung diri di kamar. Gue siapkan sarapan, yang lebih bernutrisi dan mudah dicerna tentunya.
Setelah gue mengetuk pintu sambil menenteng sarapan di atas nampan. Tak ada suara. Meski begitu, nyatanya pintu kamar tidak dikunci.
"Sarapan," ujar gue.
Dia hanya mematung menghadap jendela kamar yang sudah terbuka tirainya. Bahkan udara pun sudah masuk melalui pintu jendela yang terbuka.
"Sarapan dulu," ulang gue. Takut jika tadi ia tidak mendengarnya.
"Simpan aja, Bang. Abang berangkat aja, nanti kerjanya kesiangan," ucapnya parau.
"Abang hari ini gak kerja."
Caca menoleh, seiring gue yang duduk di sudut tempat tidur sekalian menaruh nampan di atas nakas.
"Abang resign," lanjut gue.
Tak ada jawaban dari mulut Caca. Meski begitu, raut wajahnya kini menampilkan sirat pertanyaan.
__ADS_1
"Bukan gara-gara kamu, hanya saja ... Abang udah gak cocok kerja di sana."
"Kami sarapan dulu ya, ini udah Abang buatin bubur campur wortel. Oiya, bentar lagi Karina katanya mau ke sini. Kamu belom mandi kan? Mau Abang mandiin gak?"
Kedua mata Caca melotot menggemaskan. Ingin rasanya gue memeluk gadis itu sambil berbisik, "I LOVE YOU." Ah, rasanya terlalu diniĀ Mengingat usianya pun masih di bawah umur.
"Haha, yasudah. Abang ke luar dulu ya. Kamu jangan lupa habisin sarapannya."
Tak ada lagi sorot permusuhan ataupun tatapan sendu dari bola mata itu. Mungkin ia sudah lebih enjoy dengan cara bicara gue yang juga tak lagi kaku.
Pintu itu tertutup rapat, gue sendiri tidak tahu apa yang sedang Caca lakukan di dalam sana. Entah menyantap sarapan, entah guling-guling ataupun menari erotis, entahlah. Yang jelas, gue hanya berharap ia ke luar, memanggil dan berkata, "Abang, suapin aku ..."
Duh, pasti lucu jika Caca bersikap manja seperti itu. Hah, gue jadi tersenyum-senyum sendiri kan jadinya.
"Abang!" seru Caca sambil membuka pintunya.
Tuh, kan. Sudah gue duga jika apa yang dipikirkan itu pasti terjadi. Gadis itu menunduk, memainkan ujung piyamanya. Tinggal sebentar lagi gue menunggu sampai dia meminta untuk di suapi.
SATU ....
DUA ....
TI ....
"Aku butuh keperluan bulanan." Caca semakin menunduk.
Gue agak mengernyitkan dahi untuk mencerna apa yang ia maksud. Keperluan bulanan? Apa itu?
"Aku ... datang bulan," ulangnya terbata.
****! Gue lupa jika benda-benda itu adalah yang hendak dijadikan surprise. Namun, nampaknya memang sekarang waktunya. Tak apa Caca tidak meminta gue untuk menyuapinya. Setidaknya, ia akan merasa amazing pas tau gue udah siapin itu semua.
Terbayang sudah, raut wajah itu pasti akan sembringah sambil bilang, "makasih, Abang. Aku jadi makin cinta deh sama Abang." Aish, indah betul moment itu.
"Oh, bentar ya ... Abang ambilin sesuatu buat kamu."
Berserilah wajah gue sepanjang menuju kamar belakang. Meraih bingkisan yang berisi beberapa keperluan bulanan wanita.
"Nih." Setelah sampai di depan Caca, gue sodorkan.
Gadis itu segera meraih bungkusan besar di tangan gue. Lalu ia berbalik dan segera menutup pintu tanpa ucapan terima kasih sedikit pun. Gue hanya ternganga. Sambil bergumam, "sama-sama, Caca ... Abang juga cinta sama kamu."
__ADS_1
***
next???