Gadis Di Club Malam Itu

Gadis Di Club Malam Itu
Patung Anastasya


__ADS_3

UDAH FOLLOW KAN? JANGAN LUPA LIKE!!!


Entah sudah sejak pesisir mana gue berjalan, tapi tak ada sedikit pun bayangan atau sekedar kabar burung tentang gadis itu. Semua seakan bagai hembusan angin yang lewat begitu saja.


Tak pernah terpikir sebelumnya jika kehangatan itu akan berakhir dengan kepahitan yang kini gue rasakan. Terpikir, bagaimana bisa ia pergi setelah dengan apa yang kami lalui bersama? Caca, kenapa?


Hingga kaki ini terhenti tepat di pinggir pantai dimana kami melewatkan kehangatan bersama. Tak terlupa sedikit pun, bagaimana ia tersenyum, bagaimana dengan rela memberikan semuanya, apa ini tidak terlalu sakit?


Sebenarnya jika mau, mungkin gue akan bersenang hati tak perlu tanggung jawab setelah menodai seorang gadis kecil, terserah kabar ia bagaimana nanti. Namun, rasanya sulit, karena hati ini begitu sakit mengingatnya.


Ditinggalkan, setelah merasakan bagaimana mencairnya gunung es yang selama ini meliputi hati gue. Tak ada yang mampu menyingkirkan bongkahan itu, selain dia. Kenapa? Kenapa harus seperti ini?


"Caca ..! ANASTASYAAA ...!"


Tak peduli bahkan meski para pengunjung itu merasa terganggu dengan teriakan yang gue keluarkan setiap sorenya selama beberapa hari ini. Ya, terserah meski harus mati konyol karena kekesalan mereka pun, gue tak peduli!


Hari-hari berlalu dengan bayang-bayang kenikmatan yang hanya merupakan memori semata. Laksmi selalu memandang sendu ketika gue sampai di pekarangan rumah Wa Made dalam keadaan kusut tak terurus.


"Laksmi tak bisa lihat Bli terus seperti ini, Bli harus sayang sama diri Bli sendiri, Laksmi sedih. Ajung tiada, Bli seperti ini, apa kehadiran Laksmi merupakan petaka bagi kalian berdua?"


Gadis itu berlari sambil tersedu menuju kamarnya. Hingga gue merasa bahwa diri ini telah jahat padanya. Padahal sejak awal sudah berjanji untuk menghilangkan kesedihan dari wajah gadis itu. Tapi apa ini? Beberapa minggu berlalu, gue justru menyayat luka beberapa kali, ke beberapa orang yang gue sayangi.


Ya, gue pun sayang pada gadis berambut indah itu, tapi sebatas sayang, tidak sedalam rasa yang tersimpan untuk Anastasya.


Mungkin memang sudah saatnya gue melek dan tak mengharapkan yang tak menginginkan. Anastasya, mungkin kita tak berjodoh. Nampaknya Abang harus sudah melupakanmu.


"Tidak," jawab gue akhirnya. "Kamu bukan sumber petaka, tapi saya yang menyebabkan Ayah kamu meninggal. Maafkan saya, Laksmi." Gue mengatupkan kedua tangan di hadapannya.


"Bli, Laksmi tak ingin lebih, Laksmi hanya ingin melihat Bli kembali tersenyum seperti biasanya. Sudah berminggu-minggu Bli seperti ini, Laksmi merasa bersalah atas kepergian Caca, mungkin ia cemburu."


Gue menghapus air mata dan tersenyum ke arahnya. "Dia sendiri yang memilih untuk pergi, sekarang saya akan selalu senyum di hadapanmu. Maafkan saya, ya."


Laksmi yang semula mengunci diri di dalam kamarnya, akhirnya ia keluar, memburu pelukan gue dan kembali tersedu.


"Sekarang, kamu juga jangan nangis ya?" Menyeka buliran bening yang membasahi kedua pipinya itu.


...


Perlahan, gue coba untuk terima keadaan dan menata hati supaya lebih mampu mengiklaskan segalanya, termasuk Wa Made dan Caca. Belajar memahat untuk membuatkan beberapa pesanan ukiran kayu yang sudah mulai membludak pembeli. Ramai, akhir-akhir ini memang kerap ramai pengunjung yang datang ke kediaman kami.


Tak terpikir lagi untuk mencari pembunuh Wa Made yang sebenarnya, karena Laksmi sendiri sudah mengiklaskan dan lebih memilih tidak menekan kepolisian untuk segera menangkap penjahatnya.


"Apa gunanya? Kalo pun penjahat itu tertangkap, apakah Ajung akan hidup lagi? Biarlah sang Hyang Widi yang menghukum perbuatan mereka." Itu kalimat yang selalu ia ucapkan ketika kami bersama.


"Bli, ada pesanan lagi, yang ini katanya suruh kirim langsung ke Jakarta."


Seseorang berucap sambil menghampiri.

__ADS_1


Jakarta, entah sudah berapa bulan gue seolah melupakan kota besar itu. Tempat di mana pertama kali gue bertemu dengan seorang gadis remaja, yang cukup menguras energi beberapa bulan terakhir.


"Atas nama siapa?" tanya gue.


"Hadi Yanwar."


Gue tertegun mendengar nama itu. Seolah hati ini seperti terhantam sesuatu yang keras menghujam ke dasar hati. Nama itu? Nama gue sendiri Alvin Yanwar. Kenapa nama orang ini bisa sama?


Nyokap pernah bilang kalau nama Almarhum bokap adalah Hadi Yanwar. Apakah ini orang yang sama? Ah, rasanya tidak mungkin karena sudah jelas bokap meninggal ketika gue masih dalam kandungan.


Mungkin sekedar nama saja yang sama. Mungkin pula karena gue kangen sosok Ayah. Tapi ... sudah lama juga tidak mendengar nama itu, nama yang sama.


"Patung apa pesanannya?"


"Patung seorang wanita, ini sketsanya."


Orang itu memberikan sebuah sketsa patung dalam lembaran kertas. Wajahnya pun tidak asing, hanya saja tidak begitu jelas karena bukan merupakan foto yang utuh. Sekilas mirip Caca, tapi tidak mungkin juga. Mungkin hanya garisnya saja yang sama.


"Biar saya yang buat, Bli."


"Baiklah," ujarnya sambil berlalu setelah pamit.


Laksmi menghampiri dengan sepiring makanan ringan beserta teh hangat di atas nampan. Ia duduk di bangku samping, kemudian memperhatikan garis yang gue ukir dengan lekat. Patung seorang wanita.


Dia gadis berbalut kain penutup tempat tidur, sedang berusaha mempertahankan kainnya dari hempasan angin yang ingin menarik ia hingga terlepas semua.


Anastasya, ingin gue ukir nama itu pada tiang penyangga tubuhnya, tapi kembali melirik jika di samping ada wanita lain yang mungkin hatinya akan terluka. Memang ini sudah waktunya bagi gue untuk membuang semuanya, membuka hati untuk yang lain, mungkin, jika saja bisa.


"Ini tubuh siapa?" tanya Laksmi sambil melirik lembut.


"Seorang gadis, yang sedang mempertahankan marwahnya."


Dia tersenyum dan mengangguk. "Sebentar lagi selesai kan? Apa boleh Laksmi foto dan bagikan di media sosial?"


"Tentu."


Tinggal finis. Sisa-sisa debu kayu yang masih menempel itu gue sapu menggunakan brush yang sudah tersedia. Meniupi beberapa kali, hingga mengerjap mata Laksmi kelilipan.


"Eh, sorry." Gue segera meraih wajah Laksmi, membingkainya dan meniup matanya beberapa kali.


Ia menggisik sesaat, lalu mengedipkan dengan cepat.


"Udah baikan?"


Laksmi mengangguk dan tersenyum.


"Gadis ini sepertinya cantik," ujar Laksmi lagi.

__ADS_1


"Ya, semua gadis juga cantik. Termasuk kamu."


Laksmi tersipu, wajahnya memerah, mungkin karena malu.


"Emh, Bli. Apa boleh, Laksmi panggil Abang?"


Sesaat tangan yang semula masih menyapu ukiran itu terhenti. Gue menoleh, agak ragu juga untuk mengiyakan. Karena bagaimanapun, panggilan itu selalu tertutur lembut dari mulut Caca.


"Eh, kalau tidak boleh juga tidak apa-apa, Laksmi tidak marah."


"Boleh, kamu boleh panggil saya Abang. Kenapa tidak?"


"Terima kasih, Bli. Eh, Abang." Ia kikuk dan hampir memeluk tubuh gue. Mungkin malu.


Gue sendiri sengaja menarik tubuhnya untuk dipeluk. Membayangkan jika ini adalah tubuh Caca, aroma Anastasya. Bahkan entah sudah berapa lama Laksmi menggunakan aroma ini. Malah, kini penampilannya pun tak lagi seperti dulu, ia sendiri seperti menghadirkan sosok Caca dengan memakai dress seperti yang kerap gadis itu kenakan.


Entahlah, awalnya Laksmi lebih suka mengenakan rok dan sweater rajut. Setelah keterpurukan gue waktu itu, Laksmi seolah merubah dirinya, berganti menjadi sosok yang lain.


"Abang, ini Laksmi."


Gadis itu mengingatkan ketika tanpa sadar dengan lirih bibir ini memanggil Anastasya.


"Maaf, Laksmi."


"Tidak apa, Laksmi faham." Ia tersenyum dan pamit dengan rengkuh.


Oh ... nama itu ... kenapa begitu sulit untuk lenyap dari ingatan gue? Semakin berusaha melupakannya, bahkan semakin dalam ia menyiksa.


"Laksmi!" panggil gue.


Gadis itu menoleh, ia tersenyum.


"Emh, saya ... ada cincin. Siapa tahu cukup buat kamu." Sambil membuka ring kayu yang melingkar di jari manis gue.


"Ini buat Laksmi? Tapi kebesaran." Ya, cincin itu lebih cocok digunakan di jari tengah. "Nanti kalo saya ada uang, kita beli cincin asli."


Wajah gadis itu berbinar, kedua sorot matanya memancarkan kebahagiaan. Mungkin ini saatnya bagi gue untuk membagi kebahagiaan dengan orang lain. Mungkin pula, hal ini sedikitnya akan membuat gue melupakan Anastasya.


"Bli, Pak Hadi Yanwar katanya rubah pesanan. Mau patung yang tadi baru diposting sama Mbok Laksmi."


"Patung itu?"


"Iya, katanya beliau mau langsung datang ke sini."


***


Next

__ADS_1


__ADS_2