Gadis Di Club Malam Itu

Gadis Di Club Malam Itu
Aku Gak Mau Abang Terbebani


__ADS_3

UDAH FOLLOW KAN? JANGAN LUPA LIKE!!!


"Abang ... sakit ...." ringisnya sambil memegang area perut.


"Caca, kamu gak papa kan?" Gue panik.


"Engh, sakit, Bang ...."


"Mana yang sakit? Bilang sama Abang." Sambil gue sendiri bingung mana yang harus disentuh.


"Ca, mana yang sakit?"


"Perut aku, Bang. Perut aku sakit banget."


"Emh, boleh ... Abang lihat perutnya?"


Tanpa berpikir panjang. Gue segera menyingkap selimut dan kemudian mengangkat sedikit piyama yang ia kenakan. Memang luka bekas operasi itu tampak sedikit memar terlihat.


Entah salah faham atau bagaimana, Laksmi yang ternyata mungkin terbangun karena berisiknya kepanikan gue, ia menutup wajahnya dan melipir bersembunyi di balik tembok.


"Laksmi, kami tidak sedang apa-apa," ujar gue. "Kamu bisa tolong bantu saya?"


Akhirnya gadis itu masuk ke dalam kamar yang pintunya memang terbuka. Ia pun sedikit keheranan dengan memar yang ada di perut Caca.


"Caca sakit?" Wajahnya menoleh ke arah gue.


"Iya, dia baru selesai operasi beberapa hari ini. Lukanya memar lagi."


"Mungkin Caca makan berlemak siang tadi. Setahu Laksmi, orang baru habis operasi besar tidak boleh makan berlemak."


"Lalu bagaimana? Saya bingung apa yang harus dilakukan. Saya gak tega lihat Caca seperti ini." Gue menggaruk kepala, frustasi.


Laksmi berlalu entah kemana. Kemudian selang beberapa menit ia datang dengan membawa ramuan serta obat tumbuk yang gue sendiri tidak tahu untuk apa itu.


Caca membuka matanya, ia masih tak lepas dari ringisan dengan tangan tetap menggenggam perutnya.


"Ini, rebusan daun binahong, cocok untuk luka dalam. Sementara yang ini, tumbukan jeli dari lidah buaya, nanti bisa dioles ke bekas luka operasinya. Kalau sampai besok belum sembuh, segera bawa ke dokter."


Laksmi tak pernah lepas dari senyum manis yang selalu ia pancarkan.


"Kami sudah terbiasa gunakan jenis tanaman ini untuk obat luka. Biasanya tidak lama langsung membaik."


"Terima kasih ya."


"Mau Laksmi bantu oleskan?"


"Terima kasih biar nanti saya oleskan."


Gadis itu berlalu setelah ia mengangguk ramah. Sesaat gue melirik jika ia menghentikan langkahnya sejenak, sebelum benar-benar ke luar dari melewati ambang pintu.


"Laksmi, terima kasih ya."


Ia hanya menjawab dengan senyum manis kemudian berlalu.


Caca masih meringis saat gue membantunya untuk duduk. Gadis itu sesaat menatap, entahlah gue sendiri pun tak tahu apa arti tatapan itu.

__ADS_1


"Minum dulu obatnya ya."


"Pahit gak, Bang?" Rautnya masih ragu.


"Dicoba aja."


Tampak jelas di wajah Caca jika ia masih ragu untuk meminum ramuan yang ada dalam genggaman gue. Rasanya, pun Laksmi tak mungkin memberi racun pada minuman itu.


Gue mengangguk lembut, meyakinkannya untuk minum. Hingga obat tumbuk itu dengan gemetar dioleskan pada area luka memar bekas operasi di perutnya. Perut yang gue harap kelak akan bersedia dengan senang hati untuk mengandung darah daging buah cinta gue dan Caca.


Anastasya, dia menatap saja sepanjang tangan ini dengan lembut membelai dengan bayangan-bayangan konyol atas mimpi gue.


"Abang ...."


"Hem?" Gue menoleh, menutup kembali pakaian yang tersingkap itu.


"Aku udah baikan. Abang tidur aja."


Canggung, seketika ekspresi Caca berubah menjadi kaku. Ia kembali tidur dan kini lebih memilih membelakangi.


...


Suasana Ubud memang sejuk di pagi hari. Laksmi sengaja mengajak gue berjalan-jalan, menikmati pemandangan hijaunya hamparan sawah sebagai wadah cuci mata yang paling baik di pagi hari.


Gadis itu memiliki kegiatan mengantarkan makanan kepada para petani yang mengurus sawah milik Wa Made.


Segar, bahkan tetesan embun yang menyentuh kaki beralaskan sandal jepit ini seakan memberi terapi tersendiri di pagi hari.


Gue menarik nafas dalam-dalam. Merentangkan tangan menikmati suasana yang sudah lama ini gue rindukan. Suasana Jakarta memang tak setenang di sini.


"Bli, mari ikut makan!"


Tak terasa matahari sudah menampakan cahayanya menghangatkan tubuh yang kian melangkah pulang.


Laksmi tampak tenang berjalan di pematang sawah sambil menenteng bakul makanan yang tadi sempat dimakan isinya oleh para petani itu. Sesaat ia berbalik, menertawakan gue yang agak kesulitan berjalan.


"Hahaha, apa perlu Laksmi yang tuntun jalannya?"


Gue hanya menaggapinya dengan nyengir kuda. Kemudian gadis itu berbalik lagi dan kembali melangkah menuju jalanan setapak yang sudah menampakan bayangan rumah tempat kami tinggal sekarang.


Beberapa pekerja pahat kayu sudah melakukan aktifitas mereka ketika gue dan Laksmi memasuki pekarangan rumah. Di sana, Wa Made duduk sambil memerhatikan beberapa pahatan, mungkin tengah mengarahkan bentuk akhir dari kayu itu.


"Ini sulit tidak, Bli?" tanya gue pada salah satu pemahat di sana sambil menunjuk relief detile benda itu.


Wa Made menoleh, kemudian beranjak ke arah gue. "Alvin ...." Wa Made menepuk pundak gue dengan lembut. Kemudian ia menarik sebuah kursi kayu dan mendudukinya. "Pahat kayu itu seperti layaknya kehidupan." Ia menunjuk salah seorang karyawannya untuk menyediakan kursi yang hendak gue duduki. "Semakin indah bentuk yang ia buat, maka semakin mahal pula harganya. Kepuasan pun semakin tinggi. Tapi ... kamu harus ingat satu hal, kesabaran adalah merupakan kunci dari keindahan sebuah pahatan kayu, tekun yang utama. Ini sebagai gambaran ... Jika hidupmu ingin mendapatkan kebahagiaan yang sesuai dengan keinginan hati, maka kamu harus semakin sabar dalam menjalaninya, tidak lupa berdoa dan bertindak sesuai jalur yang sudah ditentukan. Seperti pahatan ini, semakin sabar, semakin tenang hati dalam membuatnya, makan akan semakin indah hasilnya, semakin mahal pula harganya. Jadi, kesabaran itu mahal harganya."


Ia tertawa renyah dan menepuk punggung gue beberapa kali dengan lembut. "Alvin ... Alvin ... saya tidak menyangka jika kisah cinta terdahulu, akhirnya bisa dialami oleh dirimu sendiri. Anak dari wanita yang saya cintai." Sesaat ia menghela nafas panjang. "Semoga ... akhir cinta kalian bahagia."


Kemudian terdengar samar Wa Made menyenandungkan sebuah lagu dalam Bahasa Bali. Gue tidak tahu apa artinya, tapi dari sorot matanya, mungkin itu lagi cinta.


...


Caca masih terdiam di kamarnya ketika gue menghampiri. Semangkuk bubur sudah tersedia, pasti Laksmi yang menyiapkan. Nampaknya, makanan itu tidak tersentuh sedikit pun.


"Mau Abang suapin?"

__ADS_1


Caca menggeleng. "Aku rindu sama Kak Juna."


Terbersit rasa bersalah yang amat dalam di hati gue. Mengingat betapa tragisnya kematian Juna, yang sudah gue pastikan akan sangat membuat Caca kecewa ketika kelak ia tahu semuanya.


Gue duduk di ujung tempat tidur Caca. Gadis itu tak sedikit pun ingin mengarahkan tatapannya ke arah gue, seolah ia sudah merasa kecewa sebelum waktunya.


"Abang, kita sampai kapan di sini?" Pertanyaan itu sontak membuat seperti ada yang menghujam ke dasar hati.


"Abang juga tidak tahu." Seiring dengan helaan nafas yang berat.


"Abang, maaf kalo kehadiran aku membuat Abang kesulitan."


"Mau sampai kapan kamu minta maaf? Melihat kamu dalam keadaan baik-baik saja, Abang sudah bahagia."


"Abang ...."


"Hem?"


"Aku ...." Caca menggigit bibir bawahnya. Kedua tangannya meraih untuk menggenggam tangan gue dan diarahkan ke dadanya.


"Kenapa?" tanya gue lembut menyibak helaian menutupi wajahnya.


"Aku ...."


"Bli Alvin, dipanggil Wa Made di pekarangan."


Seseorang memanggil gue dan membuat genggaman tangan Caca mengendur.


"Ada apa, Bli?"


"Tidak tahu, saya hanya menyampaikan pesan saja."


"Baiklah, nanti saya ke sana."


Orang itu hanya mengangguk kemudian berlalu. Gue kembali pada Caca yang masih belum mau untuk menyentuh hidangan sarapan paginya. Sebenarnya ini sudah hampir siang, tapi tak tahu apa sebab sebenarnya ia tidak mau makan.


"Tadi mau ngomong apa?" tanya gue sambil mengaduk bubur untuk kemudian menyuapinya.


"Enggak, aku cuma mau bilang kalo aku lapar." Wajahnya berpaling ke arah lain.


"Abang suapin lagi ya?"


"Gak usah, biar aku aja yang makan. Abang dipanggil pemilik rumah."


Agak geli melihat ekspresi ngambeknya yang seolah tengah dalam keadaan cemburu. Padahal yang manggil kan laki-laki, kenapa harus seperti itu?


"Yasudah, habiskan makannya. Abang ke pekarangan depan dulu." Sambil beranjak dan menggusel kepalanya gemas.


"Abang ...."


"Ya?"


"Aku gak mau Abang terbebani."


"Kamu ngomong apa sih? Siapa yang merasa terbebani? Abang nyaman ada kamu. Yasudah, habiskan makannya ya." Gemas, gue mencubit hidungnya hingga ia meringis.

__ADS_1


***


Next???


__ADS_2