
UDAH FOLLOW KAN? JANGAN LUPA LIKE!!!
"Cantik," ujar wanita itu. Ia melirik Anastasya dari ujung kaki hingga ujung rambutnya.
Tenang ....
Bisik hati gadis itu. Dia hanya menjalani ini sampai memiliki uang dan kesempatan untuk melarikan diri dari pulau ini.
Pada akhirnya, Caca merelakan diri untuk terjun ke dunia yang sebelumnya sangat ia benci. Gadis itu sedikit mengkeret ketika dihampiri dua orang laki-laki berbadan tegap di hadapannya.
"Virgin?" tanya wanita itu.
Caca menggeleng, ia masih menunduk sambil menautkan kedua tangannya. Tubuhnya gemetar tak Karuan. Hampir saja ia terkulai lemah jika tidak menguatkan mental dirinya sendiri.
Wanita itu masih dengan tenang menghisap rokok di genggamannya. "Pernah bekerja seperti ini? Terikat komitmen?"
Caca kembali menggeleng.
Gerakan kepala wanita itu menuntut para anak buahnya pergi meninggalkan ruangan khusus di club itu. Suara dentuman keras musik bergema masih terdengar dengan jelas meski ruangan tertutup rapat.
Wanita itu bangkit dan mematikan rokoknya. "Saya punya tamu khusus untuk kamu. Sebaiknya ini suatu keberuntungan. Karena klien ini hanya butuh teman bicara, tidak untuk menidurimu."
Entah ini memang keberuntungan atau sebaliknya.
"Saya tidak tega menjerumuskan gadis polos sepertimu, kami hanya cari orang yang menikmati profesi ini, tanpa ada paksaan."
Caca menghela nafas lega. Ia memejamkan matanya sesaat, sebelum akhirnya mengikuti wanita itu menuju sebuah kamar yang spesial disiapkan untuk orang penting, mungkin.
Sesaat Caca terdiam, hingga ia mulai melangkahkan kakinya ketika wanita itu membuka pintu. Seorang pria berpenampilan rapih duduk membelakanginya.
Satu hentakan telah membuat Caca berada dalam ruangan terkunci itu. Sebuah pintu otomatis yang sungguh ia sendiri tak akan mampu membukanya.
Kamar ini terlihat lebih mirip seperti kamar hotel, tak ada sedikit pun suara dentuman keras itu. Beberapa wanita penghibur sebelumnya memang telah me--loby Madam Lola si mucikari itu untuk menemani laki-laki yang entah sejak kapan berada di tempat ini. Namun, tak ada satu pun dari mereka yang memenuhi kriteria si klien.
"Duduk," ujar laki-laki bertubuh tegap itu. "Saya gak akan pernah menyentuh tubuhmu."
Ragu, Caca duduk di lantai ruangan itu.
"Siapa yang nyuruh kamu di sana? Saya suruh kamu duduk di atas tempat tidur ...."
"Tapi, Tuan ...."
"Aslan, panggil saya Aslan."
"Emh, iya."
"Saya hanya butuh teman ngobrol. Kamu gak perlu tinggi hati dengan mengira saya akan menyentuh kamu malam ini." Tak sedikit pun laki-laki itu menoleh ke arahnya.
"Jadi ... kita mau ngobrol apa? Aslan." Caca ragu-ragu.
Laki-laki itu berbalik. Memang tidak dapat dipungkiri ia memiliki paras tampan juga karisma yang cukup menarik perhatian. Tidak heran para wanita malam itu berebut untuk melayaninya.
Tak berselang lama, Nampaknya Caca memang berhasil menarik perhatian laki-laki itu. Hingga mereka berdua tersenyum bahagia ketika ke luar kamar itu.
Hal itu sontak membuat para wanita malam di tempat itu merasa tersingkir. Hingga mereka menarik rambut Caca dan menyudutkannya ke sudut ruangan.
__ADS_1
"Anak baru, berani lo ya?!"
"Akh ...." Caca meringis ketika cengkeraman itu semakin erat.
"Bocil aja sok laku lo!"
"Bocil mending pulang sana, balik ke rumah Mama."
Tak henti dari sekedar jambakan. Tubuh gadis itu diseret, didorong hingga terhuyung ke lantai. Mami Lola menangkap tubuh Caca yang lemas. Ia memang sejak pagi tidak menemukan makanan sama sekali. Mata Mami Lola mengedar dengan tajam.
"Gila kalian! Masih aja kayak kucing berebut ikan."
"Mami sih, udah tau kami bekerja lebih lama di sini, masa bocil baru ini yang dapat berlian, kami cuma dapat bongkahan besi," jawab seseorang dari mereka.
"Tutup mulut kamu! Tidak semua tamu mau ditemani dengan wanita kecentilan kayak kalian!"
"Lha, terus bocil ini apa kalo bukan kecentilan?"
"Setidaknya Tuan Aslan merasa nyaman dengan gadis ini, kalian mau apa? Protes? Mampu kalian? Rebut hatinya aja gak bisa!" Sambil membawa Caca menjauh dari mereka.
"Kamu tidak apa-apa?"
Caca menggeleng.
"Untuk sementara, kamu tinggal di kontrakan Mami ya? Kebetulan Mami tinggal sendiri."
Gadis itu terharu. Wanita yang semula ia anggap akan menyiksanya seperti penjual wanita tempo hari, justru berbanding terbalik dengan yang pernah ia jumpai.
Bahkan Mami Lola dengan senang hati memintanya untuk dapat tinggal lebih lama, menemani setiap rasa kesepian wanita itu.
Kontrakan ini tidak begitu besar, hanya memiliki satu kamar dengan ukuran dua kali dua meter persegi. Hingga membuat mereka tidur dalam satu ruangan.
"Apa masalah kamu sebenarnya, nak?" kedua matanya lekat menatap Anastasya.
"Saya ... kebetulan karena terpaksa dulu saya dijual ke seorang mafia di Jakarta. Seseorang menyelamatkan saya, hingga rela mengorbankan nyawanya sekalipun ...."
Ucapan Caca tergantung begitu saja. Ingatannya menerawang di mana dulu dengan suka rela Alvin menyelamatkan nyawanya dari genggaman kejam mafia itu.
Ia ingat betul, bagaimana cara pemuda itu memperlakukannya dengan baik, tanpa menginginkan apa pun darinya. Alvin, nama itu tetap terpatri di dalam hati, meski saat ini tidak menutup kemungkinan jika pemuda itu sudah pindah ke lain hati.
Kehadiran Laksmi, nampaknya memang telah membuat Alvin berubah sikap padanya. Terlebih setelah kejadian itu, kejadian pembunuhan Wa Made. Caca lebih memilih menarik diri ketimbang harus membiarkan nyawa orang lain bahaya hanya karena demi melindunginya.
Ia takut, jiwa Alvin benar-benar akan terancam karenanya.
Mami Lola melihat betul garis wajah Caca begitu berbinarnya ketika nama Alvin keluar dari mulutnya. Sesaat tersenyum simpul lalu menghela nafas.
"Mami rasa dia sangat mencintaimu, bahkan ... saat ini tengah menangis karena kamu pergi dengan cara seperti ini." Mulutnya santai menghisap roko yang baru saja ia sulut.
"Tapi ... Laksmi?"
"Gadis itu tidak berarti di hati Alvin. Kamu juga mencintainya kan? Untuk itu kami pergi dari dia."
Caca menunduk, memandangi ring kayu kecil melingkar indah di jarinya.
Semua tergantung pada benda ini, benaknya.
__ADS_1
"Besok pagi Tuan Aslan meminta kamu menemuinya. Bisa?"
...
Aslan memang sedikit tertekan dengan sikap istrinya yang seolah di luar kendali. Wanita yang ia nikahi selama ini, memang terbilang setia, tapi tidak dapat menghilangkan temperamennya dan rasa kecurigaan berlebih Itulah yang membuat ia lelah dan penat di tengah pekerjaan menumpuk, serta satu hal yang harus segera ia selesaikan dalam hidupnya.
Masih sebuah kamar, meski ini lebih mewah dari sebelumnya.
Padma Resort Legian. Merupakan salah satu hotel termewah di Bali. Aslan sengaja menyediakan satu meja bundar serta dua kursi saling berhadapan. Beberapa hidangan tak lupa cairan beralkohol sudah tersedia di atas sajian.
Satu tangannya mengangkat burgundy berisi cairan mewah meliputi setengah ukuran gelas itu. Caca masih sungkan hingga ia tetap menunduk selama melangkah menuju kursi itu.
"Temani saya minum," ujar Aslan.
"Saya tidak minum, Tuan." Berusaha menolak dengan halus.
"Meski saya yang meminta?"
Ini sudah hampir satu bulan semenjak Anastasya bergabung dengan Mami Lola. Selama itu pula Aslan selalu meminta gadis itu untuk menemaninya.
Memang tidak dapat dipungkiri, ia mulai jatuh cinta pada gadis polos itu.
"Saya membayarmu lebih dari biasanya saat ini. Selama satu bulan buang-buang uang hanya untuk melihat wajah polos sendu tanpa senyum. Permainan apa ini?!" Aslan melempar gelas berisi red wine itu hingga membuat Caca terperanjat.
Ini kali pertamanya. traumanya seketika bangkit mengingat bagaimana perlakuan mafia itu yang menyiksanya tempo hari. Tak ingin tubuhnya habis kembali dengan luka lebam dan memar, segera ia meraih burgundy yang tersisa dan mengisikan cairan itu full hingga nyaris meluap.
Aslan membulatkan kedua matanya, gadis ini gila! Memang dia pikir itu sama dengan minuman karbonasi di warung-warung biasa?
Caca meneguk habis tanpa dapat merasakan apa yang nikmat dari minuman itu. Lidahnya terasa pahit, kebas, bahkan ini terbilang cairan terburuk yang pernah ia rasakan seumur hidupnya.
"Aarrgghh ..! Minuman apa ini? Tidak enak!"
Gadis itu meracau tak tentu arah hingga mulutnya mengeluarkan kembali cairan itu dan ia tersungkur, menggenggam perutnya terasa sakit dan terbakar.
Caca meringis, mengguling bahkan wajahnya tampak memerah.
"Aagghh ... sakit ...." ringisnya memukul perut.
Semula Aslan membiarkan saja, hingga ia mulai merasa panik ketika tak ada lagi suara dari mulut gadis itu.
"Anastasya! Anastasya!"
Aslan terus menepuk-nepuk wajah gadis itu. Terasa panas suhu tubuhnya meningkat.
"Anastasya!"
Sesal, ia kemudian membopongnya ke luar menuju area keramaian berharap ada yang menanggapi.
"Tolong, tolong!" Aslan menghampiri beberapa orang di sana.
Kebetulan pada saat itu di hotel memang sedang mengadakan acara. Hingga ia berpapasan dengan seseorang yang menanggapi dirinya.
"Caca!" ujar orang itu menghampiri.
***
__ADS_1
Next