Gadis Di Club Malam Itu

Gadis Di Club Malam Itu
Membawanya Pulang


__ADS_3

...FOLLOW SEBELUM BACA. JANGAN LUPA LIKE JUGA, JANGAN PELIT!!!...


Sebuah pusat perbelanjaan di kota besar memang selalu ramai pengunjung. Sesaat melirik gadis yang masih menunduk polos dengan tubuh penuh memar di beberapa bagian bahkan mungkin area paling sensitif. Entahlah, tak dilihat pula. Meski sebenarnya jika tidak canggung, pasti sudah gue periksa di setiap areanya. Sayangnya, tak berani sekurang ajar itu.


Ingin rasanya melaporkan hal ini ke kantor polisi hingga dapat menjerat para kawanan jahat itu. Namun, mengingat kondisi gue sendiri tengah berantakan dan dalam keadaan mabuk, bukan keadilan yang gue dapat, bisa saja justru menjerat diri untuk dijebloskan ke jeruji besi.


Mungkin sementara waktu hal ini ditunda terlebih dahulu seiring dengan akan membawa ia ke rumah sakit untuk divisum sebagai tanda bukti.


Karena seingat gue pula tak semudah itu melakukan pelaporan pada pihak berwajib. Takutnya yang dihadapi saat ini bukanlah orang sembarangan.


Terlebih gue hanya karyawan biasa di sebuah perusahaan, apa kuasa gue? Tentu akan kalah jika melawan orang dengan banyak uang yang mampu membayar ratusan lawyer ternama.


"Kamu tunggu di sini ya," ujar gue, gadis itu menggenggam erat tangan ini seolah masih merasa takut.


"Kalo takut, kamu tutup semua kacanya, dan tiduran supaya gak ada yang lihat." Ya, kebetulan pula kaca mobil gue berwarna hitam dari luar.


Perlahan genggaman tangannya melorot. Ia nampak sedikit agak tenang juga dengan kalimat yang gue lontarkan tadi.


Seulas senyum ketulusan coba dipancarkan sebelum akhirnya gue ke luar dari mobil itu menuju ke area ramai pengunjung untuk memilih beberapa helai pakaian. Ah, sialnya lupa pula menanyakan berapa ukuran dalaman yang digunakan gadis itu.


"Ukuran BH sama CD kamu berapa?"


Gadis itu melongo, mungkin kaget juga dengan gue yang kembali secara tiba-tiba menanyakan hal yang menurut ia sangat privasi. Perlahan matanya berkedip, mungkin mulai faham dengan maksud gue.


Bibirnya yang berwana pink kemerahan itu berucap beberapa kata. Entahlah, mungkin karena kepala yang masih terasa pusing hingga tak jelas juga apa yang ia ucapkan.


Sesaat menggelengkan kepala mencoba untuk mengusir segala sesuatu yang terasa begitu berisik mengganggu. Namun, langkah ini tetap berusaha untuk senormal mungkin. Ya, malu juga jika nanti pengunjung tempat itu menertawakan karena tubuh gue yang oleng.

__ADS_1


Beberapa pegawai pusat perbelanjaan itu sedikit menatap heran, bahkan ada di antara mereka saling berbisik yang mungkin saling bergosip karena melihat gue yang sibuk memilih pakaian dalam wanita. Masa bodoh. Bahkan dengan sengaja gue beralih ke area keperluan wanita lainnya. Seperti pembalut, kosmetik dan tak lupa obat pelancar menstruasi. Jaga-jaga jika dia mengidap sakit pada saat datang bulan. Karena seingat gue, dulu Ibu pun kerap menggunakan beberapa benda tadi.


Kasir cantik itu tampak mengerutkan dahi pada saat keranjang belanjaan sudah tepat di depannya. Mungkin dalam ekspresi itu dia memiliki beberapa pertanyaan dengan jenis barang yang gue beli malam ini.


Tidak heran memang, karena kebanyakan kaum Adam selalu memiliki gengsi yang tinggi untuk melakukan hal seperti ini.


"Mas serius beli ini?" kasir itu tampak ragu menggenggam beberapa pack pembalut wanita dan obat pelancar menstruasi.


"Kenapa?"


"Buat ... siapa?"


"Adik saya."


Tampak raut tegang itu seperti mengendur. Mungkin dia memiliki perasaan lebih pada paras tampan di hadapannya ini.


Senyum yang nyaris tergambar itu lenyap seketika. Agak geli juga melihatnya. Gue segera menarik belanjaan itu setelah menyelesaikan melakukan pembayarannya tanpa menoleh sedikit pun ke arahnya. Tapi ada tampak sedikit wajahnya mendongak masih memperhatikan terlihat jelas pada bayangan cermin di rak produk kosmetik tempat itu sebelum akhirnya gue ke luar.


Dia, gadis itu tampak meringkuk sambil menutup kedua telinganya. Mungkin ia masih merasa takut jika para kawanan anak buah mucikari kembali mengejar dirinya hingga ke tempat ini.


Ia terperanjat ketika pintu itu terbuka sambil gue duduk menghadap kemudi.


"Kamu mau saya antarkan ke mana?" tangan ini sigap memutar kemudi untuk kemudian ke luar dari area parkir.


Tak ada jawaban. Selain hanya menatap dengan giginya menggigit bibir bagian bawah. Gemas sekali!


"Malam ini nginap di rumah saya dulu, besok saya antarkan pulang."

__ADS_1


"Jangan, aku gak mau pulang."


"Terus bagaimana? Saya tidak mungkin satu rumah dengan seorang gadis. Bisa menimbulkan gosip nantinya."


Terlalu kasar mungkin. Gadis itu menunduk yang gue yakin akan ada tetesan air mata menyusul kemudian. Salah sendiri, kenapa harus turut campur pada urusan orang lain. Tapi, mengingat jika nyokap sendiri dulu memiliki wasiat berkaitan erat dengan ini.


"Saya Alvin, panggil aja Bang Alvin." Menyodorkan tangan ke arahnya.


"Caca, Anastasya," ungkapnya mengulang namanya dengan lengkap.


Tak mendapat sambutan jabatan, gue kembali menarik tangan ini untuk kemudian mengatur laju kemudi. Beberapa tetes rintik hujan yang tak begitu lebat mulai menemani malam kami yang dingin.


Kasihan, gadis itu mengusap kedua bahunya yang terbuka sambil menggigil diterpa hembusan angin dari kaca mobil yang sedikit terbuka. Gue menyodorkan paper bag yang berisi beberapa helai pakaian yang sempat gue beli di tempat tadi. Tidak lupa pula menyembunyikan kantong plastik berisi pembalut serta obat pelancar haid, itung-itung buat surprise ketika dia datang bulan nanti. Biar dikatakan kalo gue cowok keren yang perhatian.


"Di dalam ada pakaian, mungkin sedikitnya bisa melindungi tubuh kamu," ujar gue tak juga menoleh.


Mungkin dia tersenyum sambil meraihnya dengan perlahan, mungkin pula ekspresinya datar saja. Atau bahkan tak menutup kemungkinan juga bisa menampilkan raut amazing setulus hati.


Ah, entah yang mana pula raut sesungguhnya. Namun, sekilas memang terlirik ada seulas senyum di wajahnya. Gadis itu mengeluarkan sebuah kemeja panjang dari dalamnya. Ia seperti ragu, mungkin ingin mengenakan pakaian, tapi takut gue tergoda dengan bentuk tubuh polosnya yang indah.


Tepat di sebuah halte tak berpenghuni. Gue melipirkan mobil dan berhenti. Membiarkan ia sibuk sendiri dengan beberapa helai pakaian lengkap dalaman di dalam mobil itu. Sedangkan gue sendiri untuk sesaat duduk pada kursi besi di halte itu, sambil kepala mendongak ke arah langit gelap malam ini, masih tidak percaya dengan apa yang dilakukan kakak gadis itu terhadap adiknya.


Tepat di hadapan gue. Sebuah mobil mewah berwarna putih itu berhenti, turun seorang gadis cantik yang teramat gue kenal berlari menghampiri. Namun, tangannya yang semula bersiap untuk memeluk itu seketika terhenti pada saat matanya tertuju pada gadis polos yang membuka balutan kain selimut dari tubuhnya terlihat samar dari kaca mobil yang tertutup rapat.


"Vin, kamu ...?"


***

__ADS_1


Next???


__ADS_2