
...FOLLOW SEBELUM BACA!!!...
"Caca sudah diberikan obat, untuk sementara biarkan dia istirahat," ujar Karina.
Alvin, kenapa lo begitu bodoh? Dia masih dalam keadaan lemah, baru beberapa jam selesai operasi.
Benda kecil melingkar di pergelangan tangan gue menunjukan pukul dua belas malam. Memang sudah larut malam rupanya. Gue merebah pada sofa yang tersedia di ruangan itu, membiarkan seluruh tubuh terasa rileks seketika.
Karina memang baik. Meski gue tak mampu mendaftarkan Caca sebagai pasien VIP, tapi ia sendiri bersedia memberikan ruangan mewah ini untuk Caca.
Ingat betul apa ucapan Karina waktu itu. "Gue udah banyak salah sama lo, Vin. Biarkan gue menebus semuanya, dengan cara gue sendiri."
"Abang ...." gumam Caca dalam keadaan mata tertutup. "Dari mana Abang tahu Kak Juna?"
Mungkin ia baru ingat dengan pertanyaan itu. Sudahlah, Caca hanya bergumam dalam lelapnya. Gue naikan selimut yang semula agak menurun itu untuk melindungi seluruh tubuhnya dari hembusan pendingin ruangan. Caca menggelisik, mungkin ia nyaman.
...
Alexa sudah berdiri di pintu masuk kantor ketika gue datang pagi ini. Ia menatap cemas, entahlah apa yang tengah ia pikirkan sebenarnya.
"Vin ...." Ia mengekor.
"Please, Lexa. Aku lelah."
"Vin, aku minta maaf atas kejadian kemarin. Aku tahu aku salah, tapi ... apa aku gak jauh lebih baik dari gadis itu?"
Sesaat gue menghela nafas, sebelum akhirnya berbalik dan menggenggam ke dua bahunya.
"Vin, aku udah dapet restu Papa. Kita bisa segera nikah."
Tangan yang semula menggenggam secara lembut itu seketika melorot. Bukan ini yang gue harapkan selama ini. Kenapa ia harus bertindak sendiri? Seolah Alexa yang gue kenal telah berubah.
"Lexa, kamu memang baik, bahkan sangat baik. Tapi cinta gak bisa dipaksakan."
"Apa alasannya karena kehadiran cewek itu?"
__ADS_1
"Lexa, kamu terlalu baik buat aku."
"Alasan klasik. Menolak dengan cara halus. Kamu bilang saja kalo kehadiran cewek itu telah merubah hati kami ke aku kan?!" Kedua matanya sudah siap meluncurkan buliran bening untuk ke sekian kalinya.
Selamat, Alvin. Berkat kebodohan lo, sekarang telah sukses menyakiti hati gadis yang selama ini tulus mencintai lo.
Ya, sekali lagi gue memang bodoh. Membiarkan Alexa terlarut dalam kesalahpahaman selama ini. Sekarang, menjelaskan pun rasanya hanya dapat menciptakan luka menganga di hati Alexa.
Tentu mendapat restu dari bos bukanlah yang gue harapkan selama ini. Gue hanya menginginkan kenyamanan selama bekerja tanpa ada gangguan sedikit pun.
Namun, nampaknya sekarang akan sulit. Para karyawan yang berhambur memasuki kantor, seolah memasang pandangan tak biasanya ke arah kami. Terlebih pada saat sang asisten bos memanggil gue untuk ke ruangan atasannya.
...
"Sudah sejauh mana persiapanmu untuk menikahi anak saya?" Pertanyaan yang tak pernah diduga sebelumnya ini, sontak membuat gue mendongak tak percaya.
Masih berkutat pada kursi di hadapan meja bos yang tengah berdiri. Bingung, entah harus kata apa yang terlontar. Terlihat Alexa menyusul dan hanya mengintip di celah pintu masuk. Itu sedikit terlihat dengan sudut mata.
"Saya masih menunggu jawaban dan kesungguhan kamu untuk Alexa."
Brak!
Segelas kopi itu berguncang hebat hingga memercikan tumpahan pada map biru ketika tangan itu keras memukul meja. Gue terkejut, tampak Alexa pun masih mengawasi di sana.
"Apa maksudmu tidak ada niat?! Bukankah selama ini kamu begitu tidak ingin jauh dari anak saya?!"
Gue memejamkan mata dengan erat sambil menunduk. Sungguh ingin mengatakan jika justru selama ini Alexa yang mengejar-ngejar tanpa henti. Namun, takutnya nanti akan dikatai terlalu sombong.
"Saya masih menunggu jawaban kamu." Nada itu melemah, namun terdengar lebih kejam dari semula.
"Sebenarnya ... selama ini saya tidak ada perasaan sama sekali pada Alexa. Saya sudah menganggap dia seperti adik saya sendiri."
"Omong kosong! Lalu kenapa selama ini kalian begitu sulit untuk dipisahkan?!"
Sekali lagi bentakan itu cukup membuat gue diam tak berkutik. Ini memang salah gue sejak awal. Jika saja tak membiarkan Alexa terus memiliki kesalahpaham berkelanjutan, mungkin tak akan terjadi hal seperti ini.
__ADS_1
"Jadi kami menolak restu saya?"
Perlahan gue mengangguk. Meski kedua tangan ini sudah mulai berkeringat dingin, tapi kesalahan ini harus segera diakhiri.
"Jika seperti itu, silahkan kamu bereskan barang-barangmu sekarang. Saya tidak bisa tetap mempertahankan karyawan yang sudah berani mempermainkan perasaan putri saya. Maaf, Bung. Meski kinerjamu bagus, tapi rasanya jabatan itu harus diisi penggantimu. Silahkan pergi."
Gue menelan kepahitan. Tak ada komplain ataupun jawaban yang membela diri sendiri selain hanya mengangguk lemas dan kemudian berdiri dengan tegap. Cukup lama memang gue bersabar di bawah tekanan memaksakan diri membiarkan Alexa bersalah paham demi mempertahankan jabatan ini. Namun, rasanya jika pun tidak di sini, mungkin saja Tuhan memberi jalan lain untuk kelangsungan hidup gue dan Caca.
"Papa!" Alexa sudah berdiri tepat di ambang pintu. "Kenapa Papa pecat Alvin?"
"Karena dia sudah mempermainkan mu. Mendekatimu demi mendapat simpati Papa, kemudian menjatuhkan. Laki-laki seperti ini yang kamu mau?! Seharusnya sejak lama Papa singkirkan toxit ini!"
Gue terhenti sesaat di depan pintu ruangan itu. Terdengar beberapa pertengkaran antara Alexa dengan laki-laki bernama Surya itu. Memang terdengar beberapa kali Alexa membela gue dan terus menentang papanya. Namun, itu bukan urusan gue lagi setelah perusahaan ini pada akhirnya memutuskan untuk tidak lagi menggunakan tenaga gue.
"Papa, mungkin dia cuma prank ke Papa, atau terkejut karena akhirnya Papa restui aku sama dia," ujar Alexa.
"Keputusan Papa sudah bulat, Alexa!" bentak Pak Surya.
"Tapi tidak etis kalo Papa harus pecat dia karena hal ini, coba Papa pikirkan kembali. Alvin cukup bagus selama bekerja, bukankah tak pernah mengecewakan Papa?" Suara Alexa terdengar parau. Gue yakin jika dia tengah menangis.
"Selama ini Papa pertahankan dia justru karena kamu, Alexa!"
Nafas gue terasa berhenti beberapa saat. Ternyata kenyataan ini lebih pahit daripada yang pernah dialami sebelumnya.
Tak ingin berlama-lama dan terluka lebih dalam. Gue segera berlalu dengan kedua tangan mengepal menahan amarah. Thank's Alexa, mungkin sudah saatnya gue benar-benar tak tergantung pada orang lain.
...
Tak ingin menoleh lagi ke belakang meski hanya sekedar mengucapkan kata perpisahan pada karyawan lain, rasanya terlalu naif jika gue harus berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
Dipecat dari pekerjaan hanya karena hal pribadi. Bahkan lebih sakit lagi ketika keluar ucapan jika dulu dia mempertahankan gue hanya karena Alexa. Apa itu masih termasuk profesional?
"Alvin, jangan pergi!" panggil Alexa menyusul.
***
__ADS_1
Next???