Gadis Di Club Malam Itu

Gadis Di Club Malam Itu
Extra Part.


__ADS_3

Seorang bocah cantik tersenyum dengan manis berusaha untuk berjalan tertatih dengan dibantu besi penopang. Dini, seorang adik kecil yang baru pertama kali gue temui.


Kedua pipinya terdapat lesung pipit cekung ke dalam. Mungkin ia rindu, hingga tak sabar ingin segera sampai ke pelukan kakaknya.


Kita sudah kembali ke rumah gue yang dulu. Inilah keluarga besar, berhiaskan senyum dan tawa ramai memenuhi ruangan.


Jessica tak lagi cemberut, adanya Dini seolah telah menambah kebahagiaan gadis itu. Ingat betul ketika pertama kali bertemu, bagaimana gadis itu telah kehilangan senyumnya. Dan hanya wajah pucat tanpa aura.


Rumah ini terasa lebih ramai. Kandungan Caca sudah berjalan sembilan bulan dan hanya tinggal menunggu sang malaikat kecil hadir di antara kami. Caca dengan cekatan menata beberapa mainan bayi pada kamar yang dulu sempat ditinggalinya. Gue pun terpaksa menambah bangunan beberapa kamar untuk anggota keluarga yang baru.


Ya, ada sekitar enam orang di rumah ini. Gue, Caca, Jessica, Dini dan berikutnya Juna serta Laksmi.


"Abang, bagusan pink atau biru ya?" ujar Caca saat menunjukan wallpaper kamar di pasar online.


"Terserah kamu aja, mau beli yang mana?" gue masih sibuk cat kamar baru buat Dini dan Jessica juga Laksmi. Satu ruangan besar yang sengaja gue beri tiga tempat tidur. Anggap saja hotel versi single bed.


Tak berselang lama, seorang driver ojol mengantarkan pesanan yang baru beberapa menit dipesan Caca.


"Kok cepet banget?" ujar gue.


"Kan tokonya deket. Sebenarnya jalan ke sana juga bisa."


Gue terdiam sesaat. Tangan masih belepotan dengan cat yang belum terselesaikan.


"Kalo deket, ngapain musti pake ojol?"


"Kan panas, aku males kalo musti ke luar."


"Abang kan ada, Ca ...."


"Kasian, Abang kan lagi sibuk."


Istri kecil gue berlalu. Wajahnya tampak ceria serta antusias. Semoga Tuhan tak lagi merenggut kebahagiaan ini dari gue dan Caca.

__ADS_1


Dengan modal yang ada, akhirnya gue memutuskan untuk membuka usaha pembuatan patung ukir dari kayu. Sebenarnya ini usaha untuk Laksmi dan Juna. Tak mungkin juga membiarkan sang kakak ipar hanya menjadi seorang kacung. Sudah masanya Juna menjadi seorang bos sebelum ia menikah kelak.


Uang hasil dari perusahaan, gue dedikasikan untuk keperluan Jessica hingga ia bisa mengelola perusahaan sendiri.


"Kak, aku gak mau mikir tentang perusahaan, Kakak aja yang pusing, aku gak mau," ujar Jessica tempo hari.


Yanwar dan Pratama tak lagi bermusuhan. Gue sendiri yang menghapus permusuhan itu dari keduanya. Kami sekarang adalah saudara, tak akan ada lagi yang namanya saingan.


Ibu, di depan pusaramu dan Ayah Bima, aku mengatakan jika bahagia itu telah datang. Tuhan sudah berpihak, takdir pun tak lagi mempermainkan.


Dan Papa, hatimu aku tahu. Papa hanya ingin anak-anak Papa tetap bersama dan Bahagia. Gadis kecil ini, adik yang bersamaku ini akan selalu aku jaga, Pa.


Dan Caca mengajak gue bicara malam itu.


"Bang, aku mau bilang sesuatu." Dia menarik gue ke kamar.


"Kenapa, sayang? Perutnya kontraksi?"


"Bukan, tapi aku mau jujur sesuatu sama Abang. Emh, waktu aku di Bali ...."


"Abang tahu dari mana? Dokter Karina?"


"Karina?" Gue mengernyitkan dahi, menatap ia yang terlihat polos.


"Iya, Dokter Karina. Malam itu ... di hotel aku pingsan karena tanpa sengaja minum yang mengandung alkohol. Nah, Aslan selamatin aku, Bang."


"Kenapa bisa sama Aslan?"


Caca menunduk. Ia menceritakan bagaimana bertemu dengan seorang wanita yang menawarinya sebagai teman ngobrol di sebuah club malam, untuk laki-laki yang tengah memiliki masalah rumah tangga. Hanya teman ngobrol selama satu bulan.


Gue yakin, Caca tidak berbohong. Sebulan di akhir pertemuannya dengan Aslan, ia tidak sadar kalau dirinya tengah mengandung anal gue, darah daging gue.


Ya, gue percaya jika bayi di dalam kandungannya adalah hadiah dari Tuhan atas cinta kami.

__ADS_1


Inilah, akhir kisah gue yang bahagia. Tak ada lagi rahasia, tak ada lagi kecurigaan. Dia istri gue. Dan hubungan ini harus dilandasi saling percaya, seperti yang pernah Ibu bilang.


"Bang, aduh." Caca meringis.


"Kenapa?"


"Perut aku sakit."


"Kamu mau lahiran?"


"Iya kayaknya. Aduh, sakit banget!"


"Juna ..! Tolongin Caca mau lahiran!"


"Caca lahiran? Bentar, gue ambil mobil dulu."


Telah sampai di rumah sakit dan Caca telah ditangani. Gue ketir menunggu suara tangis bayi segera bergema, tapi tak kunjung pula.


"Vin, lu diem dong. Pusing gue lihatnya," ujar Juna.


"Gue gugup, grogi. Bentar lagi mau jadi ayah."


Tak berselang lama, akhirnya bayi itu lahir juga. Dia yang kelak akan jadi seorang yang gagah, menjadi pelindung ibunya ketika dewasa.


"Gue beri nama. FATHIR YANWAR PRATAMA."


***


BENER² END YA...


JANGAN LUPA BACA NOVEL AKU YANG LAINNYA JUGA ...


-TERPAKSA PELAKOR

__ADS_1


-BABY SITTER CULUN


__ADS_2