
UDAH FOLLOW KAN? JANGAN LUPA LIKE!!!
POV AUTHOR
Hadi Yanwar, laki-laki itu mendramprat habis semua anak buahnya yang telah diketahui membelot dari perintahnya. Wajahnya serasa tercoreng, bagaimana bisa orang-orang yang sudah diselamatkan dari maut, kini bagai anjing yang menggigit majikannya sendiri?
"Keparat kalian semua!" Ia menampar keras wajah pemimpin komplotan itu.
"Bagaiman bisa kalian sudah tiga kali nyaris membunuh anakku?!"
"Maaf, Tuan. Tuan Muda terdeteksi akan menjadi ancaman bagi Tuan." Menunduk, laki-laki tambun itu tak berani sedikit pun untuk menatap wajah murka seorang Hadi Yanwar.
"Terdeteksi apa?! Ancaman apa?! Justru karena kalian membuat ia dengan leluasa menjadi bagian dari Aslan, itu yang membuat dia semakin menjadi ancaman!"
BODOH! Atau mungkin memang kelima orang itu telah dibodohi. Kelimanya saling melirik satu sama lain, bahkan dapat dibilang tidak mengerti tugas mana yang sebenarnya harus mereka kerjakan.
Tanpa ragu, Hadi Yanwar mengangkat senjatanya, menodongkan pada bebertapa anak buah yang terbilang membelot itu. Satu persatu, tak ada yang merani mengangkat wajahnya selain hanya menerima konsekwensi, bahwa kesalahan sekecil apapun, tidak dapat terampuni!
DUARRR!
Tarikan pelatuk terakhir berhasil memusnahkan mereka semua.
"Bersihkan mereka semua, bakar jasadnya diperapian." Tanpa ragu ia memerintahkan pada ajudan yang setia berada di belakangnya.
Hadi Yanwar ambruk, ia terisak dalam kesedihan. Beberapa kejadian lalu telah membuatnya menjadi seorang yang kejam tanpa perasaan. Tidak akan ada yang menyangka, raut wajah sehangat itu, bahkan mampu menjadi darmawan terbaik bagi beberapa anak yatim, pun memiliki sisi gelap dalam hidupnya.
"Habis sudah, hancur semuanya! Sudah Alvin kini membenciku, bahkan Jessica tengah berjuang melawan maut. Kenapa?! Keenaapaaaaa ..?!"
...
POV ALVIN
Aslan baru saja menyelesaikan panggilannya ketika gue datang menghampiri di luar ruangan meeting siang ini. Memang sudah jam istirahat, hingga ia tak menunggu waktu lama lagi dan mengajak ke luar untuk makan siang.
Rasanya hari ini pun tidak akan terlalu sibuk karena project sudah berjalan dengan baik. Gue memberanikan diri membuka suara lebih dulu, ketika hidangan makan siang sudah sama-sama tersedia.
"Emh, Pak, hari ini ...."
"Jika memang ada keperluan mendadak, tidak masalah," katanya tanpa menoleh ke arah gue sedikit pun. Mungkin itu memang sudah menjadi kebiasaannya.
"Tapi ... apa hari ini ...."
"Hari ini meeting sudah cukup. Kita bertemu lagi esok hari."
"Maksud Bapak?"
"Untuk hari ini, kamu boleh pulang lebih dulu. Karena projek yang baru berjalan itu, Cukup memberi income yang tinggi bagi perusahaan."
__ADS_1
Ini pertama kalinya gue memiliki atasan yang memberi kebebasan lebih terhadap karyawannya. Hingga ia meraih sesuatu dalam paper bag yang entah apa itu isinya.
"Berikan ini untuk calon istrimu. Semoga kandungannya dalam keadaan sehat."
"Pak, anda ...."
"Ini dari perusahaan. Dia calon istrimu, karyawan terbaik di perusahaan kami."
"Terima kasih."
Jujur, gue agak sedikit terganggu dengan caranya yang selalu mengaitkan perusahaan demi sebuah bingkisan. Mulai dari mobil, cara ia melindungi gue, bahkan bingkisan kecil ini, selalu menggunakan nama perusahaan untuk beberapa hal yang tidak dapat diartikan secara logika.
Mungkn jalanan saat ini memang aman. Sehingga tak ada lagi penguntit yang selalu membahayakan nyawa itu.
Rasanya gue memang jangan terlalu terlena dengan kebaikan tanpa sebab dari seseorang yang baru saja beberapa minggu mengenalnya. Itu pun karakter pribadi yang sangat dingin itu sedikit kontras dengan segala apa yang dia lakukan pada gue.
TUNGGU!
APA MUNGKIN DIA PUNYA MAKSUD LAIN?
"Abang."
Ternyata Caca sudah menunggu di dekat pos satpam apartemen. Gadis itu tampak lebih dewasa dengan dress hamil yang kini dikenakannya. Satu tas tangan berwarna silver berada di genggamannya.
"Abang kok bengong?"
"Kalo sekiranya Abang cape, kita bisa ke dokter lain kali."
Gue gemas mencubit hidungnya. "Abang gak pa-pa. Caca ...."
Sepanjang perjalanan tidak begitu banyak pula yang kami perbincangkan. Karena kebetulan pula gue tak mau membawa Caca untuk terlibat terlalu jauh.
Pada awalnya, gue kira pertemuan di Club malam itu hanya dia yang tengah bermasalah, tapi rupanya tidak. Gue rasa justru permasalahan itu berawal dari diri gue sendiri.
Jemari halus itu menggenggam erat, menempatkannya pada perut yang belum begitu terlihat itu.
"Nanti, di sini akan ada yang nendang-nendang."
"Oya?" Gue antusias, sekali-kali menoleh ke arahnya dan membelai lembut perut itu. "Abang udah gak sabar, Ca."
"Dokter bilang, katanya kalo usia dia udah empat bulan, itu detak jantung udah bisa terdeteksi."
"Sekarang ...."
"Baru dua bulan. Masih rentan."
"Kamu harus jaga anak kita ya. Sebentar lagi kita nikah."
__ADS_1
Entahlah, ada perasaan yang sulit untuk dijelaskan tiba-tiba menelusup ke dalam hati. Perut itu, ruang yang memberi kehidupan melalui sesosok janin yang entah bagaimana, belum pun ia terlahir, mendengar keberadaannya saja mampu membuat gue untuk menaruhkan nyawa demi kelahirannya.
Sesaat gue membukakan seat belt sebelum kami turun dari mobil. Perut itu, kembali ia menarik keinginan untuk sekedar mengusap dan berbicara dengannya.
"Sayang ... Papa sama Mama sekarang lagi mau bawa kamu temuin Tante Dokter. Kamu jangan nakal ya di dalam sana, jangan bikin Mama repot."
Gue mencium perut itu, bahkan unuk beberapa kali tarikan nafas. Sedikit mendongak, melihat ekspresi Caca yang menutup matanya lekat.
"Udah waktunya turun, Tuan Putri," ujar gue yang membuat Caca tertawa lepas.
"Abang."
"Hem?"
"I love you."
"Love you to." Gue mengecup singkat bibirnya yang sejak tadi menantang. "Manis." Sambil menyeka bibirnya.
Seseorang tampak tengah mengawasi kami dari kejauhan. pria itu, seketika langsung menutup kaca mobilnya sambil melaju begitu saja. Gue salah, ternyata masih ada saja yang mengawasi secara diam-diam.
Plat nomor itu sempat terekam dengan jelas, hingga segera mencatatnya pada memo ponsel sebelum melupakannya.
"Ada apa, Abang?"
Caca menyusul gue yang semula berlari hendak mengejar mobil itu. Sailnya, nomor plat itu tak sempat gue rekam selain mengingatnya. Jadi kecil kemungkinan jika polisi dapat menerima laporan ini.
"Tadi, ada orang yang ngawasin kita."
"Terus, orangnya ke mana?"
"Pergi sama mobilnya."
"Tapi Abang gak pa-pa?"
"Gak pa-pa kok. Yuk."
Sekali lagi Caca menoleh ke arah perginya mobil tadi meski gue sudah merangkulnya untuk masuk ke dalam rumah sakit.
...
Gue masih mematung di atas balkon unit sambil menerawang setiap kejadian yang tak masuk di akal akhir-akhir ini. Sengaja seluruh ruangan dibuat gelap, hingga tak ada celah bagi orang lain untuk melihat aktivitas kami dari luar. Ya, jendela kamar memang menjurus langsung ke arah jalan raya.
Tampak sekelebat bayangan yang baru saja pergi dari arah gerbang apartemen.
***
Next
__ADS_1