Gadis Di Club Malam Itu

Gadis Di Club Malam Itu
Malam Itu ....


__ADS_3

UDAH FOLLOW KAN? JANGAN LUPA LIKE!!!


"Abang, Abang kenapa?"


Gue dan Caca sudah duduk saling berdampingan dan berhadapan setelah beberapa saat kedatangan gue.


Air mata ini tak hentinya mengalir, hingga menimbulkan kecemasan yang tergambar jelas di raut wajah gadis itu.


Bingung, apa yang sebenarnya bisa gue katakan di hadapan gadis ini. Jujur jika kakaknya meninggal dan dengan pengecutnya gue melarikan diri? Terlalu kejam, bagaimana ini?


"Temen Abang meninggal, Ca." Akhirnya kebohongan itu tercipta.


Rasanya gue tak tega jika harus berkata jujur kalau yang tewas adalah kakaknya. Namun, entah kenapa raut Caca menjadi syok seketika?


Apa yang gue rasakan saat ini? Takut? Ya. Gue takut Caca menjadi kecewa karena kegagalan gue untuk membawa keluarganya kumpul kembali. Harapan yang selama ini dipupuk gadis ini, seketika harus hancur begitu saja.


"Abang, Abang yang tenang ya ... semua akan kembali ke pemiliknya, termasuk kita." Caca memeluk sambil membelai punggung gue dengan lembut.


Gue sendiri baru menyadari jika gadis di hadapan gue ini memiliki tingkat kedewasaan yang tinggi. Gue sendiri yakin jika Caca sebenarnya tahu siapa orang yang dimaksud. Hanya saja ... Entahlah ....


"Bang, Abang ada kabar dari Kak Juna gak? Aku mendadak khawatir, perasaanku gak enak banget ini."


Ucapan Caca sontak membuat gue semakin menggigil. Terlebih mengingat suara letusan peluru tadi, terbayang sudah seperti apa tubuh Juna sekarang. Argh! Kemarahan pada diri sendiri begitu kuat saat ini. Kenapa gue pergi? Kenapa gue lari? Kenapa gue tak turut mati demi selamatkan Juna?


"Bang ...."


Gue segera melorotkan pelukannya. menatap lekat wajah gadis yang kini sendu di hadapan, lalu memeluknya erat dan menciumi pucuk kepalanya tanpa ia berontak sedikit pun.


"Abang akan jagain kamu, sesuai janji Abang ke Juna. Hari ini kita harus pergi dari rumah ini." Gue menyeka air mata yang sedari tadi tiada henti.


"Kenapa?"


"Nanti bakal Abang jelasin semua. Maaf, Caca. Abang gak bisa kasih uang ini buat tebus kamu."


Caca tersenyum. "Aku faham, Bang."


"Maksud Abang, mereka akan tetap memburu kamu meski uang ini sampai ke mereka."

__ADS_1


Caca terdiam. Gue yakin ia mulai merasa makin khawatir dengan kondisi kakaknya. Jika dirinya tidak dapat lepas dari perburuan, tentu Juna pun tak dapat keluar dari cengkeraman.


"Abang udah ketemu Kak Juna? Di mana dia sekarang?"


"Kakakmu hanya menitipkan ini." Sambil gue sodorkan selembar kertas yang sempat Juna selipkan tadi di saku kemeja yang gue kenakan.


Dek, Kakak dan si bungsu baik-baik aja. Kamu jangan lupa jaga kesehatan ya, nurut sama Abang yang baru. Kakak akan sangat sedih kalo kamu ngelawan. Nanti, jika sudah waktunya, si bungsu akan cari keberadaan kamu. Karena Kakak tak bisa jelaskan alamat kami di secarik kertas ini.___Juna.


"Aneh, kenapa hanya si bungsu yang akan cari aku? Abang kepikiran gak?"


Gue menggeleng.


"Emh, Caca."


"Iya?"


"Kamu mau kan, pergi sama Abang?" Gue membingkai wajah indah itu dengan lembut.


Anastasya menatap lekat. Entah apa yang ia cari dari sorot mata gue yang masih sembab ini. Namun, pada akhirnya ia tersenyum dan mengangguk.


...


Ya, ini demi mengelabui para mafia yang mengejar-ngejar kami. Gue dan Caca akan pergi ke Bali, mengingat jika dulu pun gue pernah dibesarkan di sana. Memang mungkin mafia itu bisa saja ke sana. Tapi siapa yang akan mengira jika gue dan Caca bersembunyi di tempat terbuka? Tentu mereka akan mencari ke tempat-tempat yang memungkinkan sebuah persembunyian.


Di hotel ini hanya tinggal tersisa satu kamar untuk kami tempati. Itu pun tarif VIP. Tanpa pikir panjang, segera gue chek in meski Caca terkesan kurang setuju.


"Abang tidur di sofa. Kamu gak perlu khawatir ya."


Gadis itu hanya terdiam sambil memainkan ujung dress yang ia pakai. Mungkin agak kurang meyakinkan jika ia harus tidur menggunakan pakaian santai itu. Gue lemparkan sepasang piyama yang baru saja dirogoh dari dalam koper.


"Anak gadis gak boleh pake baju pendek," ujar gue. Segera Caca menariknya dan berlalu ke kamar mandi.


Gue sudah merebah di atas sofa sambil menghadap ke arah dia akan tidur. Padahal kasur mahal itu cukup besar untuk ditempati tiga orang sekaligus. Hem ... emang nasib lo, Alvin.


Gue tersenyum tipis, membayangkan jika nanti resmi jadi suami istri. Bukan hanya pandangan kasur dengan seorang gadis saja yang menanti, tapi juga pemandangan lain yang dapat menguras tenaga dan peluh kenikmatan.


****! Pikiran gue mulai kemana-mana.

__ADS_1


Caca keluar dari kamar mandi dalam keadaan sudah berpakaian rapih. Baju bekasnya ia masukan kembali ke dalam koper pakaian kami. Sorot matanya tajam, seperti sebuah kode supaya gue tak menghadap ke arah sana.


Ah, mungkin lebih baik ke ruangan lain untuk menonton TV. Gue iseng membuka-buka laci di ruangan itu, terdapat pula beberapa botol minuman mahal bersegel.


"Abang jangan minum!" teriak Caca dari dalam, membuat gue tersenyum geli.


Mengingat bagaimana ekspresi dia pagi itu ketika gue kerjain. Padahal mana mungkin juga gue mengerjai bocah yang lagi mens.


Beberapa tayangan berita lewat begitu saja pada layar pipih itu. Hingga mata gue terhenti pada satu sosok yang tidak asing itu.


Laki-laki itu, dia yang melakukan kekerasan pada Caca malam itu. Ternyata dia merupakan memiliki aset yang cukup berpengaruh dalam bidang property. Ini benar-benar bukan lawan yang mudah untuk dikalahkan. Gue harus mencari jalan lain untuk membuat ia terjebak dalam permainannya sendiri supaya dapat terjebloskan ke dalam penjara. Tunggu, ternyata dia hanya kaki tangannya saja. Ada orang bernama Herman yang tengah ia layani dengan ramah.


Apa mungkin ....


Caca menghampiri, segera gue matikan tayangan itu untuk tidak terlihat olehnya.


"Abang ...."


"Hem?"


"Ada yang mau aku tanyain." Gadis itu berdiri sambil memeluk pintu.


"Kenapa? Kamu mau tanya, apa Abang bolehin kamu pacaran sama pintu?"


"Abang ih." Bibirnya cemberut, lucu sekali.


"Haha, iya kenapa?"


Sesaat Caca menggigit bibir bawahnya. Entah apa yang membuat dia ragu untuk mengemukakan apa yang ada dalam pikirannya.


"Abang ... malam itu ... beneran ada yang terjadi antara kita?"


Seketika jiwa jahil gue kembali timbul. Gue bangkit dari duduk, menghampirinya dan membisikan sesuatu.


"Malam itu ...." Tampak rautnya menegang, menampilkan kemerahan. "Ngorok kamu kenceng banget."


"Abang ...!"

__ADS_1


***


next???


__ADS_2