Gadis Kaki Palsu

Gadis Kaki Palsu
GKP 21


__ADS_3

Sepulang dari rumah sakit.


Lea duduk termenung di dalam kamar sambil menatap gaun pengantin yang sudah ia persiapkan untuk ia kenakan di hari pernikahannya nanti. Gaun indah dengan dihiasi batu-batu permata swarovski yang ia jahit sendiri.


Wajahnya tampak kusut, sekusut hati, jiwa dan pikirannya. Perlahan Lea menghampiri gaun pengantin yang indah itu lalu menyentuhnya.


"Begitu besar harapanku bisa mengenakan gaun ini di hari pernikahanku nanti. Namun, Rangga sudah menghancurkan harapanku hanya dalam sekejap mata," ucap Lea dengan geram.


Ia menarik gaun itu dengan kasar kemudian merobek-robeknya. Tidak cukup sampai di situ, Lea juga melemparkan gaun tersebut ke lantai sambil berteriak histeris.


"Aku benci kamu, Rangga! Aku benci kamu, Amanda! Aku benci kalian semua!" teriaknya sambil menangis histeris.


Bi Enah, pelayan yang bekerja di rumah Lea, segera berlari menuju kamar utama setelah mendengar suara teriakan majikannya itu. Setibanya di ruangan tersebut, Bi Enah pun segera mendekat dan mencoba menenangkan Lea.


"Non, Non Lea! Sabar, Non!" Wanita paruh baya itu memeluk tubuh Lea.


"Aku benci mereka, Bi! Mereka benar-benar kejam! Aku pikir selama ini mereka benar-benar tulus sayang padaku! Ternyata semua itu hanya kebohongan belaka. Mereka sama sekali tidak peduli denganku." Lea menangis di pelukan Bi Enah.


"Biarkan saja mereka, Non. Ingatlah, perempuan yang baik, hanya untuk laki-laki yang baik pula. Begitu pula sebaliknya. Perempuan yang tidak baik, hanya untuk laki-laki yang tidak baik pula. Itu artinya Rangga memang tidak baik untuk Non Lea," tutur Bi Enah.


Lea masih terisak di dalam pelukan wanita paruh baya itu. Wanita yang sudah seperti keluarganya sendiri karena Bi Enah sudah puluhan tahun mengabdi kepada keluarga Lea.


"Yakinlah, Non Lea bahwa Tuhan sedang mempersiapkan seorang laki-laki yang baik untuk menjadi pendamping Non Lea nantinya," lanjutnya sambil mengelus puncak kepala Lea dengan sangat lembut.


"Apakah akan ada laki-laki yang sudi menerima kondisiku yang seperti ini, Bi? Aku adalah perempuan cacat yang selamanya akan seperti ini," tanya Lea dengan bibir bergetar.


"Ada, Non. Pasti itu," jawab Bi Enah dengan mantap. Ia yakin bahwa Tuhan tidak akan membiarkan majikannya yang cantik itu menghabiskan hidupnya dalam kesendirian.


Lea melerai pelukannya bersama Bi Enah, kemudian menatap wanita paruh baya itu dengan lekat.


"Jangan pernah berpikir untuk melakukan hal bodoh itu lagi, Non. Non tidak sendiri. Masih ada kami di sini yang tulus menyayangi Non Lea. Bibi dan Pak Rahman," tutur Bi Enah lagi dengan mata berkaca-kaca.


"Berjanjilah bahwa Bibi tidak akan pergi meninggalkan aku," ucap Lea.

__ADS_1


"Tentu saja tidak, Non. Memangnya kami harus ke mana lagi? Bibi dan Pak Rahman sudah puluhan tahun mengabdi di sini. Bahkan Non Lea saja belum lahir dan kami sudah bekerja di sini," jawab Bi Enah.


"Oh ya, Bi. Bolehkah aku minta tolong padamu? Tolong buang gaun ini ke tempat sampah dan pastikan bahwa aku tidak akan pernah melihat benda ini lagi," ucap Lea.


"Tentu saja, Non." Bi Enah pun bergegas meraih gaun pengantin itu beserta robekan-robekan yang berserak di lantai kamar.


Setelah semuanya bersih, Bi Enah pun segera membawa gaun itu ke luar lalu membuangnya ke tempat sampah.


"Semoga dengan begini, Non Lea bisa sedikit lebih tenang. Setidaknya ia bisa melupakan kisah cintanya yang seperti mimpi buruk itu," ucap Bi Enah.


Beberapa hari kemudian.


Zaskia


"Sepertinya aku harus beli kaki palsu lagi. Aku membutuhkan benda itu untuk membantuku beraktifitas. Setidaknya benda itu lebih praktis digunakan dari pada aku harus menggunakan kursi roda ini," gumamnya sambil memperhatikan kakinya yang cacat.


Ia menyentuh sisa kakinya itu dengan lembut lalu memijatnya perlahan. "Kejadian itu akan terus membekas dalam ingatanku dan kau adalah saksinya. Di mana manusia tak bertanggung jawab itu sudah mengambil nyawa adikku serta menjadikan aku seorang wanita cacat," gumam Lea lagi dengan penuh kebencian.


"Siapa, Bi?"


"Saya kurang tahu, Non. Tapi sepertinya Non kenal sama tuan itu," jawab Bi Enah.


"Oh ya? Baiklah, suruh dia tunggu di luar. Biar aku yang menyusulnya ke sana," lanjut Lea.


"Baik, Non."


Bi Enah kembali menemui tamu itu dan memintanya menunggu si pemilik rumah. Tidak butuh waktu lama, Lea pun tiba di ruangan itu sambil menyeret kursi rodanya. Ia tampak terkejut melihat tamu tak diundang itu. Yang ternyata adalah lelaki menyebalkan, yang sudah menolongnya beberapa waktu lalu.


"Tuan Gail? Apa yang Anda lakukan di sini?" tanya Lea dengan alis yang saling bertaut menatap lelaki itu.


Gail tersenyum. "Aku hanya ingin berkunjung ke sini. Memangnya kenapa? Tidak boleh?"


"Ehm, jujur saja, sebenarnya saya malas bertatap muka lagi dengan Anda. Namun, karena Anda sudah terlanjur berada di sini, ya sudah. Apa boleh buat! Mari, silakan duduk," balas Lea.

__ADS_1


Gail tertawa pelan mendengar jawaban dari Lea tersebut. Ini pertama kali dalam sejarah hidupnya, ada seorang wanita yang berani berkata seperti itu. Bahkan berani menolak dirinya secara mentah-mentah.


"Seharusnya kamu berterima kasih karena aku bersedia berkunjung ke kediamanmu ini. Jarang-jarang aku mau berkunjung ke tempat orang lain," jawab Gail.


Lea tersenyum sinis. "Tetapi saya berbeda, Tuan. Saya ogah dikunjungi oleh Anda."


Lagi-lagi Gail tertawa. "Jadi, kamu tidak menginginkan hadiah ini?"


Tiba-tiba seorang laki-laki bersetelan jas hitam masuk ke ruangan itu dengan membawa sebuah kado berukuran besar. Lea semakin bingung dibuatnya. Apalagi lelaki menyebalkan itu tiba-tiba memberinya sebuah hadiah.


"Apa ini?" tanya Lea, ketika lelaki bersetelan jas berwarna hitam itu meletakkan kado tersebut ke atas mejanya. Setelah meletakkan benda itu, ia pun segera keluar.


"Itu hadiah untukmu. Bukalah," jawab Gail. Ia menjatuhkan diri di atas sofa lalu menyilangkan kakinya.


"Untukku? Hmmm, entah kenapa aku curiga dengan isinya," gumam Lea sambil melirik kado tersebut.


"Apa kamu ingin membukanya atau hanya sekadar memandanginya saja?" tanya Gail lagi.


"Apa isinya?" tanya Lea sembari menatap lelaki itu dengan penuh curiga.


"Buka saja," jawab Gail.


Lea meraih kado itu kemudian membukanya dengan sangat hati-hati. Ia terkejut bukan main setelah tau apa isi kado tersebut. Ternyata sebuah kaki palsu. Kaki palsu miliknya yang sempat ia buang ke sungai yang mengalir di bawah jembatan antah berantah itu.


"Kaki palsuku?" Lea tersenyum lebar dan matanya tampak berkaca-kaca.


"Ya. Anak buahku menemukan benda itu di dasar sungai. Sebenarnya ada beberapa kerusakan dan sebelum mengembalikannya kepadamu, mereka memperbaikinya terlebih dahulu," tutur Gail.


"Terima kasih banyak, Tuan Gail." Lea tersenyum menatap lelaki itu. Ini pertama kalinya Gail melihat senyum manisnya Lea dan ia benar-benar menyukainya.


"Sama-sama."


***

__ADS_1


__ADS_2