Gadis Kaki Palsu

Gadis Kaki Palsu
GKP 34


__ADS_3

\[Gail sayang, kamu di mana?\]



Sebuah pesan chat masuk ke nomor ponsel Gail. Lelaki itu sempat membaca pesan dari tunangannya tersebut. Namun, Gail enggan membalasnya karena saat ini ia masih asik menikmati makan siangnya bersama Lea dan Sri.



\[Gail sayang, tadi aku ke kantormu, tetapi kamu tidak ada di sana dan saat kutanya Nick, ternyata dia pun tidak tahu di mana kamu berada.\] Lanjut Martha dengan kesal saat mengetik pesan tersebut.



Namun, lagi-lagi Gail tidak ingin membalas pesan tersebut. Ia hanya membacanya saja kemudian membiarkannya. Melihat pesan chatnya sudah dibaca oleh Gail, Martha pun makin kesal.



"Ish, Gail kenapa sih!" gerutu Martha dengan wajah menekuk sempurna.



Martha kembali menekan-nekan layar ponsel kemudian meletakkan benda pipih itu ke samping telinganya. Ponsel milik Gail berdering dan berhasil mengejutkan ketiga orang yang tengah asik menikmati makanan mereka.



"Kenapa tidak diangkat, Gail? Siapa tahu itu penting," ucap Lea sembari melirik Gail yang masih menatap layar ponselnya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.



"Ehm, ini hanya kerjaan orang iseng. Biarkan saja," sahut Gail sembari tersenyum menatap Lea.



Panggilan itu berhenti sejenak dan setelah beberapa saat kemudian, Martha pun kembali mencoba menghubungi kekasihnya itu.



"Angkat saja, Gail." Lea kembali mengingatkan.



"Memangnya siapa, Tuan? Pasti kekasihnya Tuan Gail," celetuk Sri ikut menimpali.



Gail menggeleng pelan. "Bukan. Seperti yang aku bilang tadi, hanya orang iseng saja."



Lea tidak ingin ambil pusing. Ia tidak peduli, sekalipun Gail berkata bohong soal itu. Lea terus melanjutkan makan siangnya, walaupun ia tahu bahwa Gail tampak gelisah menghadapi panggilan serta chat yang masuk ke nomor ponselnya.



\[Gail, kamu kenapa?\]



\[Kenapa teleponku tidak diangkat?\]



\[Gail, bagi lokasimu sekarang juga!\]



\[Gail, jangan sampai aku melakukan sesuatu yang akan kamu sesali seumur hidup!\]



\[Gail, Sayang!\]



Martha tidak pernah menyerah. Ia terus mengirimkan puluhan pesan yang berisi berbagai pertanyaan serta ancaman, hingga akhirnya membuat Gail merasa bosan. Ia kemudian menonaktifkan ponselnya dan menyimpan benda itu ke dalam saku celananya.


__ADS_1


Lea dan Sri hanya bisa saling lempar pandang tanpa berani berkata apa-apa. Beberapa menit kemudian, akhirnya makan siang mereka pun selesai. Gail melirik jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangannya kemudian pamit kepada kedua wanita itu.



"Sepertinya aku harus pulang, Lea."



"Terima kasih atas bunga serta makan siangnya, Gail." Lea mengulurkan tangannya ke hadapan Gail sambil tersenyum tipis.



Gail bergegas meraih uluran tangan Lea kemudian menggenggamnya dengan sangat erat. "Sama-sama, Lea. Ingat, malam ini aku akan menjemputmu," sahut Gail.



"Ya."



Lea ingin menarik tangannya, tetapi Gail tanpa sadar terus memegangi tanpa ingin melepaskannya. Lelaki itu terus tersenyum dengan kedua netra tertuju pada Lea yang berdiri di hadapannya.



"Gail!"



"Ya?"



"Tanganmu," sahut Lea dengan tatapan dingin.



Gail menunduk kemudian refleks melepaskan tangan Lea setelah sadar bahwa ia masih menggenggam tangan wanita itu.




"Cieee ... Tuan Gail, bisa aja nyuri kesempatan," celetuk Sri.



Gail tidak ingin menimpali. Ia segera melangkah keluar dari butik sederhana itu sambil sesekali berpaling dan menatap kedua wanita itu.



"Sepertinya Tuan Gail suka sama Mbak, deh." Sri melirik Lea yang masih menatap kepergian Gail dengan ekspresi wajah datar.



"Dia?" Lea terkekeh pelan lalu melangkah menuju meja kerjanya.



"Itu sangat tidak mungkin, Sri. Dia itu tampan dan mapan. Aku yakin, pasti banyak wanita yang ingin mau sama dia. Wanita cantik, seksi dan sempurna. Sementara aku? Bahkan Rangga saja meninggalkan aku gara-gara aku yang tidak sempurna," lanjut Lea dengan wajah sendu.



Sri menghampiri Lea kemudian mengelus lembut pundaknya. "Tidak ada yang tidak mungkin, Mbak. Mungkin ada sesuatu yang spesial dari Mbak, yang membuat Tuan Gail jatuh cinta,"sahut Sri.



"Eh, kamu ini, Sri! Jangan bikin aku kege'eran, dong. Nanti kalau itu tidak benar, aku akan malu sendiri, hhh!" Lea menekuk wajahnya.



Sementara itu.



Gail melaju menuju perusahaan besarnya yang terletak di tengah kota. Setelah beberapa menit kemudian, ia pun tiba di sana. Gail bergegas memasuki bangunan super megah itu. Setiap orang yang dilalui olehnya selalu mengangguk hormat dan memberikan jalan untuknya.

__ADS_1



Sementara kaum hawa yang bekerja di perusahaan besar itu, begitu takjub dan terpesona akan ketampanannya. Namun, tak satu pun dari mereka berani mencoba mendekati lelaki itu.



"Selamat siang, Tuan Abigail." Salah satu karyawan wanita memberanikan diri untuk menyapa Gail. Dengan hati deg-degan menunggu balasan dari pemilik perusahaan tersebut.



Namun, Gail tidak membalas. Ia hanya tersenyum kecil sembari melewati wanita itu. Karyawan itu membelalakan matanya dengan mulut menganga. Ia tidak menyangka bahwa Gail akan merespon dirinya yang hanya seorang karyawan biasa.



Ia bergegas menghampiri teman-temannya sambil terteriak kecil. "Aaakkhh! Kalian lihat itu? Tuan Abigail tersenyum padaku! Ya ampun, manisnya."



"Ih, hebat loh kamu berani menyapa Tuan Abigail," sahut yang lain.



"Aku nekat loh ini! Kamu tidak tahu saja bagaimana kondisi jantungku saat ini," ucap wanita itu lagi.



Abigail tiba di ruangannya. Kedatangannya disambut oleh Nick yang ternyata sudah berada di dalam ruangan tersebut.



"Selamat siang, Tuan Abigail. Saya pikir Anda tidak akan masuk hari ini," sapa Nick sembari mempersiapkan kursi untuk Gail duduki.



"Sebenarnya aku tidak ingin masuk hari ini. Tapi sepertinya kehadiranku di sana benar-benar mengganggu mereka. Jadi ya, aku putuskan untuk kembali ke sini," jawab Gail sembari menjatuhkan dirinya di kursi empuk kesayangannya itu.



Nick menautkan kedua alisnya sambil tersenyum kecil. "Memangnya Anda datang dari mana, Tuan?"



"Aku mengunjungi Lea di tempat kerjanya. Ternyata meluluhkan hati wanita itu tidak semudah yang aku bayangkan, Nick. Dia sama sekali tidak tertarik denganku," ucap Gail sambil terkekeh.



"Dia memang berbeda. Jika wanita lain berlomba untuk bisa dekat denganku, dia malah ingin menjaga jarak dariku," lanjut Gail.



Nick tersenyum. "Mungkin saja dia masih trauma, Tuan. Bukankah Tuan bilang, dia pernah dikhianati oleh kekasihnya. Mungkin itu yang membuat dia menjaga jarak kepada setiap laki-laki, termasuk Tuan."



Gail mengangguk pelan. "Ya, kamu benar. Mungkin itu salah satu sebabnya."



"Tuan, tadi pagi nona Martha datang ke sini," ucap Nick.



"Ah ya, Martha! Hampir saja aku lupa." Gail meraih ponselnya di dalam saku lalu mengaktifkan kembali benda itu.



"Aku sengaja menonaktifkan ponselku karena dia terus saja mengangguku," lanjut Gail.



Baru saja benda itu diaktifkan, puluhan pesan chat dari Martha pun kembali masuk. Gail membaca deretan pesan itu dan diantaranya ada satu pesan yang membuat Gail merasa muak.



"Lihatlah, Nick! Wanita ini lagi-lagi mengancam akan mengakhiri hidupnya. Ya Tuhan, aku benar-benar lelah menghadapi sikapnya. Tidak salah jika cinta yang aku rasakan kepada Martha mulai terkikis dan akhirnya habis," ucap Gail sambil mendengus kesal.

__ADS_1


... ***...


__ADS_2