Gadis Kaki Palsu

Gadis Kaki Palsu
GKP 47


__ADS_3

Tak terasa, hari yang begitu ditunggu-tunggu itu pun tiba. Di mana Gail dan Lea menjadi raja dan ratu sehari di atas pelaminan nan megah itu. Lea terlihat begitu cantik dan anggun dengan balutan gaun pengantin rancangannya sendiri. Sementara Gai mengenakan setelan jas termahal dengan merk yang sudah biasa ia kenakan.



Ribuan tamu berkumpul di satu ruangan yang sangat luas dan diantara banyaknya tamu, ada sepasang suami-istri yang juga ikut menikmati kemeriahan pesta pernikahan tersebut. Mereka adalah Amanda dan Rangga yang mendapatkan kartu undangan dari Lea. Karena rasa penasaran yang amat sangat, mereka pun memutuskan untuk datang ke pesta pernikahan nan megah itu.



"Ternyata benar, Lea menikah dengan boss besar Victoria Group. Beruntung sekali dia," gumam Amanda dengan wajah menekuk.



Rangga hanya diam dan tatapannya masih tertuju pada Lea yang terlihat begitu cantik. Kecantikan wanita itu begitu terpancar dan membuat siapa pun tak sanggup mengedipkan mata ketika melihatnya, termasuk dirinya sendiri.



"Jika seandainya aku tak menikah denganmu, mungkin kamulah yang sudah berada di samping Lea, Mas. Tapi, sepertinya Tuhan memang sudah menyiapkan jodoh yang lebih untuknya. Lebih segala-galanya. Lebih tampan dan lebih kaya dari mantan kekasihnya," celetuk Amanda yang masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa Lea sudah menemukan jodoh yang lebih baik dari jodohnya.



Rangga menautkan kedua alisnya. "Kamu ini bicara apa sih, Manda? Dari kemarin bahasnya itu mulu. Kamu tidak terima ya, jika Lea menjadi lebih baik darimu?"



"Ya tentu saja aku tidak terima, Mas! Secara aku selalu lebih dari dia. Aku jauh lebih cantik, aku jauh lebih sempurna, tapi dia? Dia biasa-biasa aja dan sekarang dia malah menjadi wanita cacat," celetuk Amanda dengan setengah kesal.



Rangga menghembuskan napas berat. "Sebaiknya kita pulang saja, Amanda. Aku yakin, semakin lama kamu berada di sini, semakin aneh saja sikapmu," ucap Rangga sembari bangkit dari posisi duduknya.



"Eh, kamu mau ke mana, Mas?!" Amanda meraih tangan Rangga lalu menahan langkah lelaki itu.



"Mau pulang!" celetuk Rangga.



"Eh, nanti dulu, Mas! Aku masih ingin menikmati makanan yang tersaji di sini. Kapan lagi 'kan kita bisa makan-makan sepuasnya di acara pernikahan orang kaya," sahut Amanda sembari menarik tangan Rangga dan membawanya menuju meja saji.



Akhirnya Rangga mengalah dan mengikuti semua keinginan istrinya itu.



Sementara itu, di salah satu pojok ruangan.


__ADS_1


Nyonya Helena sengaja berdiri dengan jarak yang cukup jauh dari keramaian. Ia tidak ingin bergabung atau pun berbaur dengan tamu-tamu istimewa Gail lainnya.



"Loh, kenapa mommy masih berdiri di sini? Apa Mommy tidak ingin bergabung bersama yang lainnya?"



Pertanyaan dari Sean tersebut berhasil membuat Nyonya Helena tersentak kaget. Ia mengelus dadanya sambil melotot kepada anak semata wayangnya itu.



"Kamu ini, Sean, bikin kaget Mommy saja!"



Sean terkekeh pelan. "Habisnya Mommy lucu. Berdiri di sini lalu memperhatikan jalannya pesta dari kejauhan. Mommy itu bertingkah seperti tamu yang tak diundang."



"Hush, diam kamu!" kesal Nyonya Helena. "Sudah sana pergi! Jangan ganggu mommy di sini," lanjutnya.



Sean pun kembali terkekeh. "Ok, baiklah. Aku akan pergi," sahut Sean sembari melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Nyonya Helena sendiri di pojok ruangan itu.




"Seandainya saja kalian tahu bahwa kaki gadis itu cacat, mungkin kalian akan berpikiran sama denganku! Gail-Gail, memang apa kelebihan gadis itu hingga kamu memilihnya? Cantik itu relatif, masih banyak wanita cantik dengan tubuh sempurna menantimu, Gail. Tapi kamu dengan bodohnya malah memilih gadis itu," lanjut Nyonya Helena sambil membuang napas berat.



Kembali kepada Sean.



Sean berjalan menelusuri ruangan itu sambil melirik gadis-gadis cantik yang sedang menikmati pesta. Sean memang terkenal dengan sifat playboy-nya hingga tidak heran jika ia memiliki banyak mantan kekasih. Bahkan di negara asalnya, Sean dikenal dengan julukan si pemburu perawan.



Karena keasyikan melirik wanita-wanita cantik, Sean tidak sadar bahwa di depannya ada seorang wanita yang sedang berjalan ke arahnya sambil memegang piring berisi makanan. Wanita itu adalah Sri, si gadis manis, karyawan Lea.



Sri baru saja tiba di tempat itu dan langsung mengambil makanan karena kebetulan saat itu ia merasa sangat lapar. Sri mengisi piringnya dengan nasi putih beserta ayam goreng favoritnya. Tak lupa sambal terasi ekstra pedas serta lalapan yang ia ambil di stand makanan.



Sri yang sudah tidak sabar ingin mencicipi makanan itu, segera membawanya menuju meja makan yang kosong di salah satu pojok ruangan. Namun, di tengah jalan tiba-tiba ia menabrak seorang laki-laki bertubuh tinggi besar dengan kulit putih kemerah-merahan.

__ADS_1



Sri begitu terkejut. Piring berisi makanan yang tadi ia bawa bersamanya, jatuh ke lantai. Begitu pula lalapan serta sambel ekstra pedas itu. Sri menatap sedih ke arah makanan yang kini berserak di lantai. Namun, ia belum melihat bagaimana reaksi lelaki bule yang tengah berdiri di hadapannya.



"Oh my god! Lihat apa yang kamu lakukan pada jas mahalku!" pekik Sean dengan wajah memerah menahan amarahnya. Ia menatap Sri dengan tatapan kesal karena aroma parfum mahalnya kalah dengan aroma sambal terasi yang melekat di bagian dadanya.



"Ehm, maafkan saya, Tuan. Saya tidak sengaja," tutur Sri dengan wajah memelas.



"Maaf-maaf! Memangnya dengan meminta maaf, aroma terasi ini akan menghilang dari jasku, begitu?" gerutu Sean lagi.



Beberapa orang pelayan datang menghampiri mereka. Ada yang bertugas membersihkan makanan yang terjatuh tadi. Ada pula yang menawarkan tisu kepada Sean.



Sean meraih tisu itu dengan kasar kemudian membersihkan sisa-sisa sambal terasi yang masih melekat di jas mahalnya.



"Kenapa kamu masih di sini, ha? Masih belum puas membuat jas mahalku menjadi kotor?" ucap Sean lagi dengan kasar kepada Sri.



Sri yang sejak tadi hanya mematung menatap Sean, kini segera pergi meninggalkan tempat itu. Ia memilih sebuah kursi kosong yang berada jauh dari tempat Sean berada.



"Ya Tuhan, cakep-cakep mengerikan! Sekalinya marah, wajahnya berubah menjadi mengerikan," gumam Sri sambil bergidik ngeri.



Sri kembali menghampiri stand makanan. Ia lagi-lagi mengambil menu yang sama seperti sebelumnya. Nasi putih, dua potong ayam goreng, lalapan serta sambel terasi ekstra pedas kesukaannya.



Sementara itu.



Karena aroma terasi masih tercium dengan kuat, Sean pun memutuskan untuk ke kamar mandi. Ia ingin melepaskan jas mahal itu dari tubuhnya kemudian membersihkannya.



"Dasar, gadis jelek! Sudah jelek, menyebalkan pula! Ingat ya, wajahmu sudah aku tandai," gerutu Sean sambil membersihkan jas mahalnya dengan menggunakan air di keran.

__ADS_1


... ***...


__ADS_2