Gadis Kaki Palsu

Gadis Kaki Palsu
GKP 48


__ADS_3

Acara pernikahan Lea dan Gail masih berlangsung. Semakin siang, acaranya pun semakin meriah. Namun, kemeriahan pesta pernikahan mereka sebentar lagi akan dikacaukan oleh seseorang.



Seorang wanita dengan penampilan terlihat kacau tengah berjalan di antara banyaknya tamu undangan. Ia melangkah dengan cepat sambil membawa sesuatu di dalam saku celananya.



"Gail!" teriaknya dengan lantang dan membuat semua mata langsung tertuju padanya.



"Kamu benar-benar jahat, Gail! Jahat!!" teriaknya lagi sambil mengacungkan sebuah senjata api.



Gail dan semua orang yang ada di pesta pernikahan itu begitu terkejut. Mereka tidak pernah menyangka bahwa Martha akan melakukan hal senekat itu.



"Seperti yang aku katakan padamu sebelumnya, Gail. Kamu akan menyesali seumur hidupmu karena sudah memperlakukan aku secara tidak adil," ucapnya lagi.



Gail tampak panik. Ia berdiri di hadapan Lea sebagai tameng agar jika sesuatu terjadi, Lea akan tetap aman di belakangnya.



"Jangan lakukan hal yang tidak-tidak, Martha. Apa kamu tidak kasihan kepada kedua orang tuamu?" ucap Gail, mencoba menenangkan.



Martha tersenyum sinis. "Aku tidak peduli dengan mereka," jawabnya yang berhasil membuat semua orang tercengang.



Martha benar-benar berhasil mengacaukan pesta pernikahan Gail. Semua tamu undangan ketakutan. Mereka takut menjadi target amukan Martha yang sedang kacau tersebut. Bukan hanya para tamu, bahkan para security pun tidak berdaya dengan adanya senjata itu di tangan Martha.



Lea tersenyum sinis sambil mengangkat senjatanya ke atas. Semua orang mulai berkeringat dingin, termasuk Gail dan Lea yang berdiri tepat di hadapan wanita itu.



Perlahan Martha menarik kembali tangannya lalu mengarahkan senjata itu ke dalam mulutnya. "Selamat tinggal, Gail. Semoga hidupmu bisa lebih tenang dengan tidak adanya diriku di dunia ini," ucapnya kemudian.



Martha memejamkan matanya. Bersiap menarik pelatuk pistol tersebut. Namun, tanpa ia duga sebelumnya, ternyata Sean tengah mengintainya dari kejauhan. Perlahan ia berjalan mendekat dan segera menyergap tubuh kurus Martha dengan secepat kilat.



Terjadi pergulatan antara Sean dan Martha hingga akhirnya lelaki itu berhasil meraih senjata api tersebut dari tangan Martha. Setelah berhasil mengamankan senjata itu, Sean segera menyerahkannya kepada para security yang mulai datang membantu Sean.



Martha begitu marah. Ia tidak menyangka bahwa aksi nekatnya berhasil digagalkan oleh Sean dan beberapa orang penjaga keamanan. Ia berteriak histeris sambil menangis seperti seorang bayi.



"Kalian benar-benar keterlaluan! Kembalikan senjataku! Biarkan aku mati di sini, biar dia puas karena sudah menyakiti aku!" teriak Martha.


__ADS_1


Tepat di saat itu kedua orang tuanya tiba di sana. Mereka terlihat malu dengan aksi Martha barusan.



"Martha! Ayah mohon hentikan, Nak. Jangan lakukan hal bodoh itu lagi," ucap sang Ayah. Mencoba mengingatkan putrinya itu.,



"Biarkan, Ayah! Biarkan saja aku mati! Tidak ada gunanya lagi aku hidup," sahut Martha di sela isak tangisnya.



Tanpa pikir panjang, Sean menarik tubuh Martha dan membawanya secara paksa ke sebuah ruangan, di mana ia tidak bisa mengganggu siapa pun lagi.



Martha berontak, ia tidak ingin pergi ke manapun. Ia hanya ingin mengakhiri hidupnya di hadapan Gail. Agar lelaki itu tahu betapa besar rasa cinta yang ia berikan untuknya.



"Lepaskan aku, Sean. Biarkan aku mati!" teriaknya lagi.



Kini Sean dan Martha tiba di ruangan itu. Sean melepaskan pegangannya kemudian mendudukkan tubuh kurus Martha ke sebuah kursi.



"Duduklah!" titah Sean.



"Aku tidak mau!" Martha kembali mencoba berontak. Namun, lagi-lagi Sean menahannya.




Martha yang sudah tidak sanggup menahan rasa kecewanya, kembali menangis lagi di ruangan itu. Sean menyerahkan dadanya untuk Martha mencurahkan seluruh perasaannya.



"Aku kecewa, Sean! Gail sudah keterlaluan padaku," ucap Martha di sela isak tangisnya.



"Sudahlah, Martha. Mungkin dia memang bukan jodohmu. Sebaiknya kamu move on dari Gail. Berhentilah melakukan hal bodoh, karena itu sama sekali tak ada gunanya. Lebih baik kamu fokus pada hidupmu. Temukan hal baru dan mulailah membuka hatimu," tutur Sean sembari mengelus lembut puncak kepala Martha yang kini sedang menangis di dalam pelukannya.



"Itu tidak semudah yang kamu katakan, Sean. Kamu tidak pernah tau bagaimana rasanya berada di posisiku," jawab Martha sambil menyeka air matanya.



"Bisa-bisa! Pasti bisa! Aku yakin karena kamu adalah wanita kuat dan hebat, Martha!"



Tepat di saat itu, kedua orang tua Martha tiba di ruangan tersebut. Mereka segera menghambur dan memeluk tubuh anaknya itu.



"Martha, sebaiknya kita pulang, Nak," ajak sang Ibu dengan mata sembabnya. Sejak beberapa hari yang lalu ia terus saja menangis di buatnya.

__ADS_1



"Ya, Martha. Sebaiknya kamu pulang," sela Sean.



Setelah dibujuk, akhirnya Martha pun bersedia untuk di ajak pulang. Tuan Jaya Prayoga menuntun Martha keluar dari ruangan itu kemudian berjalan hingga ke tempat parkir. Begitu pula Sean, lelaki itu mengantarkan mereka hingga ke tempat, di mana Tuan Jaya memarkirkan mobilnya.



"Terima kasih banyak, Nak Sean. Hari ini kamu berhasil menyelamatkan nyawa anak kami," ucap Tuan Jaya dengan mata berkaca-kaca. Ia mengulurkan tangannya ke hadapan Sean dan segera disambut oleh lelaki itu.



"Sama-sama, Pak." Sean tersenyum sambil menepuk pelan punggung tangan lelaki paruh baya tersebut.



Tuan Jaya masuk ke dalam mobil kemudian segera melajukan benda tersebut menuju kediamannya. Sementara Sean masih berdiri di sana sambil memperhatikan mobil milik Tuan Jaya yang melaju hingga menghilang dari pandangannya.



\*\*\*



Akhirnya acara pernikahan Gail dan Lea pun berakhir. Semua orang sudah kembali ke kediaman masing-masing. Termasuk pasangan pengantin baru itu.



Gail dan Lea baru saja tiba di kediaman mewahnya. Kedatangan mereka segera disambut oleh seluruh penghuni rumah, termasuk Nyonya Helena dan Sean yang memilih menginap di kediaman mewah itu Sementara keluarga besar mereka yang lainnya sudah kembali ke kediaman mereka masing-masing.



"Selamat datang, Tuan Gail dan Nona Azalea," sambut Sean sambil tersenyum hangat.



Sementara Nyonya Helena menatap pasangan itu dengan tatapan malas. Ia berjalan menghampiri pasangan itu lalu memeluk mereka.



"Semoga kamu selalu bahagia, Gail," ucap Nyonya Helena sembari memeluk keponakannya itu.



"Terima kasih, Tante."



Setelah selesai memeluk Gail, kini wanita itu beralih kepada Lea yang sejak tadi berdiri di samping Gail sambil tersenyum menatapnya.



Nyonya Helena segera memeluk Lea sambil mengatakan sesuatu di samping telinganya.



"Semoga Gail tidak salah pilih pasangan dan semoga Gail tidak menyesali keputusan bodohnya ini," ucap Nyonya Helena dengan setengah berbisik hingga Gail tidak dapat mendengar apa yang dikatakan oleh tantenya itu.



Lea menautkan kedua alisnya. Ia tidak mengerti kenapa Nyonya Helena berkata seperti itu padanya.

__ADS_1


... ***...


__ADS_2