
Lea melampiaskan kemarahannya dengan memukul mobil tersebut dengan menggunakan stik golf yang ada di tangannya. Memecahkan kaca-kacanya dan menghancurkan bodi mobil tersebut hingga penyok, tak meninggalkan satu celah pun.
"Aku akan menghancurkan hidupmu sama seperti aku menghancurkan mobil ini, Gail! Lihat ini, Bajingan!" teriaknya sambil terus memukuli mobil tersebut.
Kepala pelayan itu bangkit dengan tergopoh-gopoh. Ia lalu melangkah keluar sembari menghubungi nomor ponsel Gail. Tidak butuh waktu lama, Gail pun akhirnya menerima panggilan itu.
"Ya?"
"Tuan, pulanglah. Nona Lea tiba-tiba pulang dan mengamuk. Entah apa yang terjadi, tetapi yang pasti Nona Lea melampiaskan kemarahannya dengan menghancurkan mobil kesayangan Anda," ucap Kepala Pelayan itu.
"Apa?!" pekik Gail dengan mata membulat sempurna. Ia yang tadinya duduk di kursi, kini bangkit dan berdiri di sana dengan wajah yang tampak frustrasi.
"Ta-tapi, bagaimana bisa? Bukankah aku sudah peringatkan kepadamu bahwa jangan biarkan Lea memasuki ruangan itu!" lanjut Gail.
"Maafkan saya, Tuan."
Gail segera memutuskan panggilan itu. Ia kemudian menjatuhkan tubuh lemasnya kembali ke kursi. Seketika semangat kerjanya sirna dan ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang.
"Ada apa, Tuan Gail?" tanya Nick heran.
Gail menghembuskan napas berat. "Akhirnya Lea mengetahui semuanya. Sekarang aku habis, Nick! Aku sudah habis," ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Ia mengusap wajahnya dengan kasar kemudian kembali melamun.
"Sebaiknya Anda segera pulang dan temui nona Lea. Ajak dia bicara baik-baik agar masalah kalian bisa diselesaikan dengan damai. Semoga ia bisa mengesampingkan egonya, setidaknya untuk bayi yang ada di dalam kandungannya, Tuan."
__ADS_1
Gail kembali menghembuskan napas berat. "Tapi aku takut, Gail. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kemarahannya saat ini. Menurutmu, apa yang akan ia lakukan padaku, Nick?" ucap Gail dengan lirih.
"Ya, Nona Lea pasti akan sangat marah dan menurut saya itu adalah hal yang wajar. Sebaiknya Anda pulang sekarang dan temui dia. Maafkan jika saya lancang. Namun, apa pun yang terjadi nantinya, itu sudah konsekuensi Anda, Tuan." Nick menjelaskan.
Gail menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Kepalanya menengadah, menatap langit-langit ruangan untuk beberapa saat lalu kemudian memejamkan matanya sambil berpikir dengan keras.
"Baiklah. Aku akan pulang," ucapnya sambil menghembuskan napas berat.
Sementara itu.
Setelah selesai melampiaskan amarahnya kepada mobil pembawa petaka itu, Lea pun kembali ke kamar utama. Ia mulai membereskan barang-barang miliknya dan bersiap untuk pergi dari rumah besar tersebut.
"Sebenarnya obat apa ini? Apa benar obat ini berfungsi untuk meredakan sakit maag sama seperti yang dikatakan oleh Gail?"
Lea membaca tulisan di brosur obat tersebut hingga akhirnya ia menyadari bahwa apa yang dikatakan oleh Gail adalah bohong. Obat itu bukanlah obat maag, melainkan obat untuk menambah gairah ketika berada di atas ranjang.
Tubuh Lea kembali bergetar untuk yang kesekian kalinya. Bagaimana tidak, sekarang ia sadar untuk apa Gail mengkonsumsi obat tersebut. Bukan untuk meredakan sakit maag, melainkan untuk menambah gairah ketika bercinta dengannya.
"Ya, Tuhan! Sekarang aku tahu kenapa Gail selalu mengkonsumsi obat ini sebelum kami memulai percintaan kami. Ternyata dia melakukannya semata-mata agar sandiwaranya terlihat sempurna! Sungguh keterlaluan kamu, Gail!" geram Lea.
Setelah beberapa menit kemudian.
__ADS_1
Mobil yang membawa Gail ke kediamannya itu, akhirnya tiba di halaman depan. Setelah mobil itu berhenti, Gail pun bergegas keluar dan langsung disambut oleh kepala pelayan yang sejak tadi sudah menunggunya.
"Selamat datang, Tuan," sapa kepala pelayan sambil membungkuk hormat.
Gail mengerutkan keningnya ketika melihat luka yang sudah terbalut perban di kening lelaki paruh baya itu.
"Apa yang terjadi padamu?" tanya Gail heran.
"Nona Lea mengamuk dan tidak terima ketika saya menahannya. Nona memukul saya, tetapi Anda tidak perlu khawatir, saya baik-baik saja, Tuan," jawab kepala pelayan itu.
"Apa? Ya Tuhan!" pekik Gail, kemudian mengelus lembut pundak pelayannya itu. "Maafkan Lea, Pak. Sekarang di mana dia?"
"Tidak apa-apa, Tuan. Sekarang non Lea ada di dalam kamarnya," jawab lelaki paruh baya itu.
Gail pun bergegas melanjutkan langkahnya menuju kamar utama.
Sementara itu di ruang dapur.
"Non Lea, kami mohon kembalikan pisau itu," bujuk salah seorang pelayan dengan wajah memelas menatap Lea.
Namun, Lea tidak peduli. Ia terus saja berlalu dengan membawa serta pisau itu di tangannya. Ia kembali ke kamar lalu menutup pintunya rapat.
... ***...
__ADS_1