Gadis Kaki Palsu

Gadis Kaki Palsu
GKP 41


__ADS_3

Lea masih terdiam seribu bahasa di hadapan Gail yang masih dalam posisi berjongkok, menunggu jawaban darinya.



"Lea, maukah kamu menikah denganku?" Gail kembali mengajukan pertanyaan itu karena Lea masih diam dan tidak memberikan jawaban. Sementara Gail dan yang lainnya sudah tidak sabar menunggu jawaban darinya.



"Terima! Terima! Terima!" Para muda-mudi mulai bersorak dengan kata yang sama. Mereka berharap Lea menerima lamaran dari Gail.



"Ta-tapi, Gail ... apakah ini tidak terlalu cepat?" Lea semakin kebingungan.



"Jawab saja, Lea. Diterima atau tidak? Semua keputusan mutlak ada di tanganmu. Aku tidak akan memaksakanmu," sahut Gail.



Lea kembali terdiam sambil berpikir keras. Ia kembali dibuat bingung dan tidak tahu harus menjawab apa. Suara sorak sorai terdengar semakin ramai. Meminta dirinya agar segera menjawab 'Ya'.



Lea melihat Gail dengan seksama. Menatap tajam ke dalam matanya. Tampak sebuah harapan besar agar dirinya menerima lamaran itu.



"Terima! Terima! Terima!" Suara sorak sorak terdengar semakin ramai dan semakin keras hingga akhirnya Lea pun membuka suaranya.



"Kamu serius, Gail? Kamu tidak sedang mempermainkan aku 'kan?" tanya Lea dengan alis yang saling bertaut.



"Tentu saja aku serius, Lea. Aku sudah memikirkan hal ini dari jauh hari dan sekarang keputusanku sudah bulat. Aku ingin menjadikanmu pasangan hidupku. Yang akan menemaniku hingga di hari tua nanti," sahut Gail dengan mantap.



Akhirnya lea pun tersenyum. Ia mengangguk dan memutuskan untuk menerima lamaran itu. "Yes, I do."



Sorak-sorai dan tepuk tangan pun kembali menggema setelah mendengar jawaban dari Lea. Gail segera bangkit dari posisinya kemudian menghampiri Lea dengan mata berkaca-kaca. Ia meraih tangan Lea kemudian memasukkan cincin emas bertahtakan berlian itu ke jari manis Lea sambil tersenyum hangat.



"Terima kasih, Lea. Terima kasih banyak karena sudah memberikan aku kesempatan untuk menjadi pasangan hidupmu," ucap Gail dengan sepenuh hati.



"Sekarang, bolehkah aku memelukmu? Sekali ini saja, aku berjanji," ucap Gail dengan lirih.



Lea mengangguk perlahan. "Baiklah, sekali ini saja," jawabnya.



Gail pun segera memeluk erat tubuh Lea. Begitu pula Lea, ia seakan hanyut di dalam hangatnya pelukan Gail.



Di tengah keramaian acara lamaran itu, tampak sepasang mata tengah memperhatikan mereka dengan seksama. Seorang wanita yang mengenali sosok Abigail sebagai kekasih Martha.

__ADS_1



"Bukankah itu Abigail, tunangannya Martha? Lalu, apa yang ia lakukan di sana? Kenapa ia melamar gadis cacat itu? Jika benar lelaki itu adalah Abigail, trus bagaimana dengan Martha? Hmm, tidak benar ini! Aku harus kasih tau Martha soal ini. Harus!" gumamnya, yang kemudian mengabadikan momen di mana Gail masih memeluk erat Lea dengan kamera ponselnya.



"Bagus! Sekarang aku harus menelepon Martha," lanjutnya sembari mencoba menghubungi nomor ponsel sahabatnya itu.



Sementara itu.



"Ayolah, Martha! Apa kamu ingin terus begini? Lihatlah tubuhmu, sekarang hanya tinggal tulang belulang berbalut kulit," gerutu wanita paruh baya, yang merupakan ibu kandung dari Martha.



Wajahnya tampak kesal karena lagi-lagi Martha tetap menolak makanannya. Wanita paruh baya itu mencoba menyuapinya, tetapi Martha tetap bersikeras tidak mau makan. Tubuhnya yang dulu seksi, kini terlihat sangat kurus. Ia kehilangan banyak berat badannya karena sakit hati dengan keputusan Gail.



"Aku sudah kenyang," jawab Martha dengan lirih.



Wanita paruh baya itu menghembuskan napas berat. Ia lalu meletakkan makanan itu kembali ke atas nakas.



"Sayang, Ibu mohon berhentilah memikirkan lelaki itu. Kamu harus bisa move on darinya dan mulailah kehidupan barumu," bujuknya, sembari mengelus lembut puncak kepala Martha.




Sang Ibu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Martha memang sangat keras kepala dan jika ia sudah berkata A, maka harus A.



Tiba-tiba ponsel milik Martha yang terletak di atas nakas, berdering dengan cukup keras hingga membuat mereka yang ada di kamar itu tersentak kaget. Wanita paruh baya itu meraih benda pipih tersebut kemudian menatap layarnya.



"Ini temanmu, Martha. Mau diangkat teleponnya?" Sang Ibu menyerahkan ponsel tersebut ke hadapan Martha yang masih terlihat acuh tak acuh.



"Siapa?" tanya Martha balik tanpa melihat ke arah ponsel tersebut.



"Di sini tulisannya Helda. Ini panggilan dari Helda," sahut sang Ibu.



Martha terdiam sejenak sambil berpikir. "Mau apa dia menghubungiku? Tumben banget," batin Martha.



Entah kenapa Martha begitu penasaran. Ia bergegas meraih benda pipih itu dari genggaman sang Ibu kemudian menerima panggilan tersebut.



"Ya, Helda. Ada apa?" tanya Martha.

__ADS_1



"Martha, ada yang ingin aku tanyakan padamu dan ini sangat penting," jawab Helda dari seberang telepon.



"Penting? Ehm, baiklah. Katakan saja," sahut Martha.



"Martha, apa kamu dan Gail masih berhubungan? Maksudku kamu dan Gail masih dalam status bertunangan, 'kan?" tanya Helda.



Tiba-tiba Martha terisak. Buliran bening itu mendadak pecah setelah mendengar pertanyaan dari temannya itu. Luka di hatinya yang mulai mengering kini seakan kembali terkoyak dan rasanya sangat perih.



"M-Martha? Ka-kamu kenapa?" tanya Helda dengan wajah bingung. Ia bingung kenapa tiba-tiba Martha menangis setelah mendengar pertanyaannya.



Martha menyeka air matanya. Ia menarik napas dalam, kemudian menghembuskannya kembali, mencoba mengurangi rasa sesak di dalam dadanya.



"Aku dan Gail sudah putus, Helda. Memangnya kenapa?" jawab Martha dengan lirih.



"Putus? Ta-tapi kenapa?" pekik Helda dengan mata membulat sempurna. Ia tidak pernah menyangka bahwa ternyata Martha dan Abigail sudah mengakhiri hubungan mereka sebagai sepasang kekasih.



Martha hanya diam. Dia tidak ingin memberikan alasan apa pun soal keputusan Gail yang telah mengakhiri hubungan mereka. Menceritakan hal itu, sama dengan membuka lukanya jauh lebih dalam lagi.



"Pantas saja dia berani melamar wanita lain, ternyata kalian sudah putus, toh. Ah, aku lega mendengarnya, aku pikir Gail sudah berkhianat," lanjut Helda sambil menghela napas lega.



"Apa? Melamar wanita lain? Siapa?" tanya Martha dengan mata membulat sempurna. Jantungnya berdebar-debar dan tubuhnya mendadak jadi panas dingin.



"Ya, Martha. Saat ini Gail sedang melamar seorang wanita di taman tengah kota. Acara lamarannya disaksikan oleh banyak orang. Gail benar-benar romantis. Pantas saja banyak wanita yang tergila-gila padanya," sahut Helda dengan begitu antusias.



"Siapa wanita itu, Helda! Katakan padaku, siapa wanita itu?!" tanya Martha dengan geram. Ia benar-benar emosi setelah mendengar berita itu.



"Aku tidak mengenalnya, Martha. Sebentar, biar aku kirim foto-foto mereka kepadamu," sahut Helda, yang kemudian mengirimkan foto-foto yang sudah ia ambil barusan ke nomor ponsel Martha.



Setelah foto-foto mesra Gail dan Lea terkirim, Martha pun bergegas membukanya. Ia tersentak kaget karena apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu adalah benar. Tampak foto Gail yang tengah memeluk mesra tubuh Lea.



"I-ini tidak mungkin!" pekik Martha dengan mata berkaca-kaca.


... ***...

__ADS_1


__ADS_2