
"Sayang, bangunlah! Ini sudah siang!" ucap Lea dengan setengah berbisik kepada Gail yang masih terpejam di atas tempat tidur mewah itu.
Lea menggoyang tubuh kekar Gail pelan, agar lelaki itu membuka matanya. Namun, hingga berkali-kali ia mencoba, Gail masih saja larut dalam buaian mimpi indahnya.
Lea memperhatikan wajah tampan itu dengan seksama. Ia pun tersenyum lalu menyentuhnya perlahan.
"Begitu sempurna Tuhan menciptakanmu, Gail. Rambutmu, matamu, hidungmu, dan bibir ini," ucap Lea dan kini jari-jari lentiknya ada di bibir seksi lelaki itu.
Lea mendekatkan kepalanya lalu melabuhkan ciuman hangat di atas permukaan bibir Gail dengan sangat lembut. Gail terperanjat ketika merasakan ada yang menyentuh bibirnya. Ia refleks bangun lalu menjauh beberapa jengkal dari posisi Lea berada.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Lea kebingungan.
Gail tersadar setelah melihat Lea yang duduk di hadapannya. Sekarang ia ingat bahwa dirinya sudah berstatus sebagai seorang suami. Gail terkekeh pelan sambil mengusap wajahnya. Ia mendekat, lalu meraih tubuh Lea dan memeluknya dengan sangat erat.
"Maafkan aku, Sayang. Aku lupa bahwa kita sudah menikah. Aku pikir ada orang asing yang menyelinap masuk ke dalam kamar," ucap Gail.
"Jadi, aku orang asing itu?" celetuk Lea dengan wajah ditekuk.
Gail kembali terkekeh. "Maafkan aku."
"Ya, sudah. Sebaiknya kamu cepat mandi. Tante Helena sudah menunggu kita di bawah," ucap Lea sembari melerai pelukan mereka. Ia bangkit dari posisinya dan mencoba menarik tangan Gail agar lelaki itu cepat bergerak.
"Menunggu kita?" tanya Gail kebingungan.
"Ya, mungkin ada yang ingin dibicarakan oleh tante. Bukankah hari ini tante ingin kembali ke negaranya," sahut Lea.
Gail pun mengangguk. "Oke, baiklah kalau begitu."
Gail menyingkap selimut yang masih menutupi tubuh kekarnya yang hanya menggunakan boxer tersebut. Ia kemudian bangkit dari posisinya lalu berdiri di samping Lea.
Tanpa disengaja, Gail melihat bercak darah perawan milik Lea yang sudah mengering di bedcover. Menyadari hal itu, Lea pun lekas-lekas menutupinya kembali dengan menggunakan selimut.
Lea tersenyum kecut sambil menatap Gail. "Maaf, kamu melihatnya."
Gail kembali meraih tubuh Lea dan memeluknya sekali lagi. "Maafkan aku, Lea. Mungkin saja tadi malam aku sudah menyakitimu," ucapnya dengan raut wajah sedih.
__ADS_1
"Tidak apa, Mas. Lagi pula itu sudah menjadi tugasku sebagai istrimu."
Gail melabuhkan ciuman di kening Lea lalu melerai pelukan mereka. "Terima kasih, Lea. Baiklah, sebaiknya aku mandi dulu. Aku tidak ingin tante Helena kelamaan menunggu. Bisa-bisa nanti dia ceramah dan kalau sudah ceramah bisa-bisa ceramahnya panjang kali lebar," celetuk Gail sambil terkekeh pelan.
"Ya, sudah. Mandi sana, gih!"
\*\*\*
Kini Gail selesai melakukan ritual paginya seperti mandi, berpakaian dan merapikan rambut indahnya. Setelah itu, ia pun mengajak Lea ke lantai bawah untuk menemui Nyonya Helena.
Benar saja, wanita itu sudah menunggu kehadiran mereka sambil bersantai di sofa ruang utama. Nyonya Helena menatap pasangan pengantin baru itu dengan tatapan malas. Bahkan, ketika keduanya sudah berdiri di hadapannya, Nyonya Helena hanya menyambut Gail saja.
"Selamat pagi, Gail."
"Pagi, Tante. Aku hampir saja lupa bahwa hari ini Tante akan pulang. Beruntung Lea mengingatkanku," sahut Gail sambil tersenyum ramah.
Nyonya Helena memasang wajah masam setelah mendengar penuturan Gail barusan. Ia tampak malas ketika mendengar Gail menyebutkan nama Lea.
"Benarkah?" Gail begitu antusias mendengarnya.
"Ya, aku masih ingin menikmati hari liburku Gail. Aku sudah jenuh karena setiap hari harus bekerja. Aku butuh refreshing, otakku butuh penyegaran," sela Sean yang baru saja keluar dari kamarnya dan langsung bergabung bersama mereka.
"Baguslah, kalau begitu." Gail tersenyum lebar.
Tatapan Nyonya Helena kini tertuju pada Lea yang sejak tadi hanya diam dan mendengarkan percakapan mereka tanpa ikut menimpali.
"Oh ya, Gail. Apa istrimu menggunakan alat kontrasepsi?" tanya Nyonya Helena dengan raut wajah serius.
Gail menggelengkan kepalanya. "Entahlah, aku tidak tahu," sahut Gail, kemudian melirik Lea yang duduk di samping tubuhnya.
"Saya tidak menggunakan alat kontrasepsi apa pun, Tante," sahut Lea. "Memangnya kenapa, Tante?"
Nyonya Helena membuang napas kasar. "Kenapa tidak menggunakan alat kontrasepsi, sih, Gail? Bagaimana jika istrimu ini hamil? Apa tidak terlalu cepat untuk memutuskan punya anak? Apalagi ...." Nyonya Helena melirik kaki palsu Lea dengan tatapan sinis.
__ADS_1
Gail mulai merasakan aura yang tidak enak di ruangan itu. Ia tahu bahwa tantenya itu dengansengaja memancing-mancing masalah di antara mereka.
"Tidak apa, Tante. Lagi pula usiaku pun sudah tidak muda lagi. Sudah sepantasnya aku punya anak," jawab Gail, yang berhasil membuat wanita angkuh itu menekuk wajahnya dengan kesal.
"Memangnya ada yang salah, ya, Tante, jika kami punya anak secepat ini?"
Nyonya Helena mendengus kesal. "Bukan masalah sih, Lea. Aku hanya takut kamu tidak bisa merawat anakmu dengan baik. Secara kamu 'kan —"
"Cacat?" sela Lea sambil memasang wajah datar menatap wanita itu.
Sean memutarkan bola matanya, begitu pula Gail. Percakapan pagi ini benar-benar buruk menurut mereka.
"Oh, ayolah, Mom!"
"Sebaiknya kita sarapan. Aku yakin kalian semua pasti sudah lapar," ucap Gail, mencoba menghentikan topik pembicaraan yang mulai memanas itu.
Nyonya Helena bangkit dari posisinya. Ia berjalan melewati Lea sambil menekuk wajahnya.
"Maafkan mommy-ku, Lea. Mommy memang seperti itu," ucap Sean yang tampak serba salah.
Lea tersenyum. "Tidak masalah. Lagi pula aku sudah terbiasa menghadapi sikap orang-orang yang seperti itu," jawab Lea.
Gail terlihat sedih. Ia segera memeluk tubuh Lea lalu kembali menuntunnya menuju ruang makan.
"Maafkan aku, Gail. Aku berjanji, besok akan ke apotek buat beli obat kontrasepsi," ucap Lea dengan lirih.
"Tidak apa, Lea. Biarkan saja tante Helena mau bilang apa. Lagi pula, aku tidak mempermasalahkan hal itu," sahut Gail.
Lea menengadah, menatap Gail yang masih menuntunnya berjalan. "Apa yang kamu ucapkan tadi benar, Gail? Kamu bilang ingin punya anak secepatnya."
Gail tampak berpikir sebelum menjawab pertanyaan Lea. "Ehmm, sekasihnya saja. Jika Tuhan memberikan cepat, ya syukur. Kalau tidak, ya tidak apa-apa."
Jawaban dari Gail barusan membuat Lea sedikit lebih tenang. Setidaknya ia tidak perlu khawatir jika seandainya ia hamil di usia pernikahan yang baru seumur jagung.
__ADS_1
Akhirnya Lea dan Gail tiba di ruang makan. Nyonya Helena sudah duduk di salah satu kursi dan memulai sarapannya lebih dulu dari mereka. Sean lagi-lagi menatap Lea dengan tatapan sendu. Berharap Lea bisa memaklumi sikap mommy-nya yang kadang memang menyebalkan itu.
... ***...