
"Mbak! Mbak Lea," panggil Sri sembari berlari kecil hingga di ambang pintu butik.
Lea terus saja melangkah keluar dari butik itu tanpa mempedulikan Sri yang terus memanggil namanya. Sri masih menatap Lea di ambang pintu hingga wanita itu menghilang dari pandangannya.
"Apa yang sebenarnya terjadi sama mbak Lea. Aku yakin ini pasti gara-gara wanita jahat itu!" gerutu Sri dengan wajah memerah.
Sementara itu.
Lea terus berjalan menelusuri jalan sambil melihat-lihat sekeliling. Hingga ia berhasil menemukan sebuah taksi yang kebetulan lewat di depan matanya. Lea memanggil taksi tersebut dan setelah taksi tersebut berhenti, ia pun segera masuk dan meminta sopirnya untuk mengantarkannya menuju rumah besar milik Gail.
Di perjalanan menuju kediaman mewah itu.
"Apa yang harus aku lakukan jika apa yang dikatakan oleh Martha adalah benar. Apakah aku harus memenjarakan suamiku sendiri? Ayah dari bayi yang sedang ku kandung." Lea terus bergumam dalam hati.
"Tidak! Tidak! Abigail tidak pernah mencintaiku! Dia hanya merasa kasian padaku!" lanjut Lea yang akhirnya menitikkan air matanya. Namun, ia segera menyeka air mata itu. Ia tidak ingin menjadi lemah. Ia harus kuat demi dirinya dan juga anak yang ada di dalam kandungannya.
"Baiklah, Nak! Jika benar apa yang dikatakan oleh wanita itu, maka sah kamu hanyalah milik mommy, bukan milik lelaki itu!" gumam Lea pelan, sembari mengelus perutnya yang masih rata.
Tidak butuh waktu lama, Lea pun tiba di kediaman mewah milik Gail. Setelah membayar taksi tersebut, Lea segera masuk dengan menyeret kaki palsunya, menelusuri halaman nan luas itu.
Kepala pelayan yang melihat kedatangan Lea, bergegas menghampiri. Ia heran kenapa Lea kembali dengan menaiki taksi. Padahal sopir pribadi wanita itu terus siap siaga, menunggu perintah mengantar atau menjemput majikannya tersebut.
Lelaki paruh baya itu membungkuk hormat sembari tersenyum kepada Lea yang berjalan ke arahnya.
__ADS_1
"Selamat datang, Nona Lea."
Namun, Lea tidak menggubris sambutan dari lelaki paruh baya itu. Ia terus melangkah dan melewatinya dengan wajah yang terlihat memerah.
"Nona?" Kepala pelayan itu semakin heran dengan sikap aneh Lea. Karena merasa ada sesuatu yang salah pada istri majikannya itu, ia pun segera mengikutinya dari belakang.
Kepala pelayan itu semakin bingung karena sekarang Lea malah berjalan mengarah ke garasi mobil milik Gail. Karena pernah mendapatkan peringatan dari majikannya, lelaki paruh baya itu pun segera mempercepat langkahnya, menyusul Lea yang ternyata sudah berhasil memasuki ruangan itu.
"Nona Lea, tunggu!" panggilnya sambil berlari kecil. Namun, lagi-lagi Lea tidak menggubrisnya. Ia terus melangkah lebih dalam dan sekarang ia dapat melihat dengan jelas mobil yang masih tertutup cover tersebut.
"Aku yakin ini ada hubungannya dengan mobil yang masih tertutup cover itu! Apa mungkin itu ...." Lea menghentikan ucapannya. Bibirnya bergetar hebat, tanpa bisa ia tahan.
Sempat tersangkut, tetapi Lea tidak akan menyerah. Ia terus menarik cover tersebut hingga akhirnya mobil itu pun terlihat dengan jelas bentuk serta warnanya di depan mata Lea.
"Nona, berhenti!" Lelaki paruh baya itu akhirnya tiba.
Ia berteriak, meneriaki Lea agar menghentikan aksinya. Namun, sudah terlambat. Mobil kesayangan milik Gail tersebut sudah tampak di depan mata Lea.
Lea terdiam di sana dengan tubuh bergetar hebat. Apa yang diucapkan oleh Martha adalah benar. Abigail adalah pelaku tabrak lari pada malam naas itu. Lea begitu hapal bagaimana bentuk serta warna mobil tersebut dan yang lebih meyakinkan dirinya adalah plat nomor mobil tersebut.
"941L ... Ya Tuhan, bodohnya aku!" Tubuh Lea lunglai. Ia terjatuh di depan mobil tersebut sambil menangis lirih. Menangisi kemalangan serta kebodohannya selama ini. Yang dengan mudah mempercayai kata-kata Gail.
__ADS_1
"Abigail!!!" teriak Lea dengan wajah memerah. Ia bangkit dari posisinya lalu menyeka air mata yang masih merembes di kedua sudut matanya.
"Demi adikku, aku bersumpah akan membuat dirimu membayar semua perbuatanmu, Gail!"
Lelaki paruh baya itu mematung dengan tatapan lekat tertuju pada Lea yang mengamuk di dalam ruangan tersebut. Kini Lea kembali melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa, melewati kepala pelayan itu.
Kepala pelayan mencoba mencegah aksi Lea. Namun, ucapannya sama sekali tak dihiraukan oleh wanita itu sama seperti sebelumnya. Lea berjalan menelusuri rumah megah itu sambil melihat-lihat sekeliling.
Hingga akhirnya Lea menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah lemari kaca milik Gail. Di mana di dalamnya terdapat stick golf serta aksesoris lainnya. Ia meraih salah satu stick golf kesayangan Gail lalu membawanya lagi ke garasi.
"Nona Lea, apa yang akan Anda lakukan dengan stick golf tersebut? Saya Mohon dengan sangat, jangan lakukan yang tidak-tidak," ucap lelaki paruh baya itu, mencoba mengingatkan dan menghalangi langkah Lea yang ingin kembali menghampiri mobil kesayangan milik Gail tersebut.
"Jangan ikut campur! Menjauhlah, atau aku akan melakukan sesuatu yang akan kamu sesali nantinya," ancam Lea dengan wajah mengerikan menatap kepala pelayan.
Lelaki paruh baya itu sama sekali tidak mempedulikan ancaman yang dilontarkan oleh Lea. Hingga sesuatu hal yang tak terduga pun terjadi di ruangan itu. Stick golf tersebut melayang dan mendarat di kening lelaki paruh baya itu. Hingga akhirnya lelaki itu pun jatuh ke lantai sambil memegangi wajahnya.
Bugkhhh!
"Akhh!!!"
Kepala pelayan itu meringis kesakitan. Sementara Lea masih berdiri di hadapannya dengan napas yang terengah-engah.
__ADS_1
"Aku sudah memperingatkanmu, Pak! Jadi, jangan salahkan aku jika melakukanya," ucap Lea, yang kemudian kembali berjalan menuju mobil kesayangan Gail itu berada.
... ***...