
Setibanya di lapas. Para petugas itu mulai memberikan hukuman kepada Gail. Mereka memukuli tubuh dan wajah lelaki itu hingga babak belur. Wajah tampan Gail bahkan hampir tidak bisa dikenali karena benjolan serta tanda biru akibat pukulan bertubi yang dilancarkan oleh para petugas.
Namun, Gail sama sekali tidak melawan karena ia sadar semua itu memang salahnya. Ia tahan semua rasa sakit itu dengan membayangkan senyuman bahagia Lea serta wajah mungil putra pertamanya.
Hingga akhirnya tubuh kekar itu pun ambruk dan tersungkur di lantai yang dingin dengan kondisi memprihatinkan. Gail yang sudah tidak sanggup menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, akhirnya terpejam dan tak sadarkan diri di ruangan sempit itu dengan posisi meringkuk.
Beberapa saat kemudian.
Masih belum terlihat pergerakan di tubuh Gail. Karena khawatir, salah seorang petugas memutuskan untuk mengecek keadaannya. Ia memanggil nama Gail dan memintanya untuk segera bangkit. Namun, Gail tetap bergeming.
Akhirnya petugas itu meminta tim kesehatan untuk memeriksa kondisinya. Ternyata kondisi Gail sangat buruk. Denyut nadinya bahkan terasa sangat lemah. Setelah diperiksa lebih lanjut, para tim kesehatan merujuk Gail untuk segera dibawa ke rumah sakit.
Sementara itu, di tempat lain.
"Ya?"
Sean yang tengah menghadiri meeting, tiba-tiba menerima sebuah panggilan dari rumah sakit. Tim medis memberitahu Sean bagaimana kondisi Gail saat ini.
"Apa! Bagaimana bisa?" pekin Sean. "Baiklah, aku akan segera ke sana."
Tanpa pikir panjang, Sean pun segera pergi meninggalkan ruangan meeting tersebut dan disusul oleh Nick yang sejak tadi selalu menemaninya.
Sean melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, menuju rumah sakit tersebut dan setibanya di sana, ia pun bergegas menuju ruangan, di mana Gail tengah dirawat.
Betapa terkejutnya Sean setelah menyaksikan bagaimana kondisi Gail saat itu. Ia meradang kemudian memutuskan untuk menemui para petugas yang mengantarkan Gail ke rumah sakit.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada saudaraku?! Katakan!" ucap Sean dengan wajah memerah menatap para petugas itu.
Salah satu diantara mereka menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada Sean. Sean benar-benar terkejut. Ia meradang setelah mendengar penjelasan dari petugas itu.
"Hukuman?! Apa itu hukuman yang harus ia dapatkan? Aku yakin sekali bahwa saudaraku tidak berniat kabur. Dia hanya ingin menemui istrinya saja. Jika pun dia salah, tidak seharusnya kalian menghukumnya hingga babak belur seperti itu. Ingatlah, jika terjadi sesuatu kepada saudaraku, maka aku tidak akan pernah segan-segan untuk menuntut kalian!" geram Sean sembari mengancam para petugas itu.
__ADS_1
Para petugas itu hanya diam dan tidak berani menimpali ucapan Sean yang tengah emosi tersebut.
Beberapa jam kemudian.
Karena tidak ada kemajuan pada kondisi Gail, akhirnya Sean pun berinisiatif menemui Lea. Ia ingin menceritakan bagaimana kondisi Gail saat ini kepada wanita itu.
"Bertahanlah, Gail. Setidaknya demi istri dan juga bayimu," lirih Sean sambil menatap sedih kepada Gail yang masih belum sadarkan diri.
Lelaki itu masih dalam kondisi kritis akibat hukuman yang ia dapatkan. Beberapa pukulan sempat mengenai saraf di bagian kepalanya hingga mengakibatkan Gail tidak sadarkan diri.
Tanpa pikir panjang, Sean kembali melajukan mobilnya menuju kediaman Lea. Di mana Lea sudah diperbolehkan pulang dan sekarang tengah beristirahat di dalam kamarnya bersama bayi mungilnya.
Lea menatap sedih kepada bayi mungil itu. Mengingat bayi tampannya tersebut tidak bisa merasakan bagaimana hangatnya pelukan seorang Ayah, sama seperti bayi lainnya.
Lea juga teringat akan pesan-pesan yang disampaikan oleh adik serta ibu di dalam mimpinya beberapa waktu yang lalu hingga ia pun mulai memikirkannya kembali.
Tepat di saat itu, Bi Enah masuk ke dalam kamarnya. Sudah berkali-kali wanita paruh baya itu memanggil nama Lea. Namun, Lea tidak mendengar dan masih asik dengan pikirannya sendiri.
"Non Lea, maaf Bibi terpaksa nyelonong masuk karena Non tidak dengar saat Bibi panggil."
Lea tersentak kaget setelah menyadari keberadaan Bi Enah di dalam kamarnya tersebut. Ia tersenyum kemudian membalas sapaan pelayannya itu.
"Ah, Bibi. Maafkan aku, Bi. Aku sama sekali tidak mendengar," jawab Lea.
"Non, di luar ada tamu. Sepertinya salah satu kerabat dari Tuan Gail," ucap Bi Enah kemudian.
"Kerabat Gail? Siapa? Sean?" Lea mengerutkan alisnya.
"Ah, iya. Tuan Sean," jawab Bi Enah.
__ADS_1
"Sean?" Lea terdiam sejenak sambil berpikir. Setelah beberapa saat, ia pun kembali berkata.
"Baiklah, suruh dia tunggu di ruang utama. Aku akan segera menyusulnya ke sana," lanjut Lea.
"Baik, Non." Bi Enah pun segera pergi dan menemui Sean yang sejak tadi menunggu di depan pintu depan.
Setelah beberapa menit kemudian, Lea pun tiba di ruang utama. Ia menatap wajah cemas Sean yang saat itu juga tengah menatapnya.
"Ada perlu apa, Sean?" Lea menjatuhkan dirinya di sofa, di mana Sean juga duduk di sana.
"Lea, aku punya kabar buruk," ucap Sean tanpa ingin berbasa-basi. "Gail sakit dan sekarang ia tengah dirawat di rumah sakit."
"Gail sakit! Sakit apa dia, Sean?" tanya Lea yang begitu terkejut mendengar kabar buruk itu.
"Gail dihukum karena membuat kesalahan. Ia kabur dari tahanan demi bisa melihatmu dan juga bayi kalian, Lea. Akibat hukuman itu, ia jatuh sakit dan sampai sekarang kondisinya masih kritis," tutur Sean menjelaskan.
"Ya, Tuhan!" pekik Lea dengan wajah cemas. "Bisa antar aku menemuinya, Sean?" lanjut Lea, menatap Sean dengan penuh harap.
Sean dengan cepat mengangguk. "Ya, tentu saja, Lea. Siapa tahu dengan kehadiranmu, bisa membuat Gail lebih bersemangat," jawabnya dengan sangat antusias.
"Baiklah, tunggu sebentar!"
Lea segera menemui Bi Enah. Ia ingin menitipkan si kecil kepada wanita paruh baya itu untuk sebentar. Setelah itu, mereka pun segera berangkat ke rumah sakit untuk mengunjungi Gail.
Setibanya di rumah sakit, Sean pun bergegas menuntun Lea menuju ruangan, di mana Gail dirawat. Lea tampak begitu sedih melihat Gail yang terbaring lemah dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.
Seluruh tubuh Gail dipenuhi dengan bekas pukulan. Wajahnya membiru dan ada beberapa bagian yang masih membengkak. Wajah tampan itu hampir tak bisa dikenali dan hal itu benar-benar membuat Lea sakit. Lea bahkan tidak sanggup menahan air matanya hingga ia pun terisak di samping tempat tidur Gail.
"Gail, maafkan aku. Ini semua karena salahku!" ucap Lea di sela isak tangisnya. "Jika kamu mendengar suaraku, maka bangunlah sekarang, Gail! Bangunlah, demi aku dan juga bayi kita," lanjut Lea yang kemudian menjatuhkan kepalanya di samping lengan kekar Gail.
__ADS_1
Namun, Gail tetap bergeming dan tidak merespon sedikit pun. Lea semakin sedih, begitu pula Sean. Lelaki itu hanya bisa menunjukkan kepalanya menghadap lantai dengan sudut mata yang mulai berair.
... ***...