
Ternyata Pak Rahman sudah menunggu kedatangan Lea di depan kediaman yang megah itu. Lelaki paruh baya itu tersenyum menyambut kedatangan Lea lalu membukakan pintu untuknya. Setelah Lea masuk, Pak Rahman pun bergegas melajukan mobil tersebut menuju kediaman lamanya.
Di perjalanan.
"Ada apa, Non? Sepertinya Non lagi ada masalah ya sama tuan Gail?" tanya Pak Rahman.
Lea terdiam sejenak dengan raut wajah sedih. Ia tidak tahu apakah ia harus menceritakan yang sebenarnya kepada Pak Rahman atau tidak. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk menceritakan semuanya kepada lelaki paruh baya itu. Berharap beban berat di hatinya sedikit berkurang.
"Ternyata Tuan Abigail adalah seorang penipu ulung Pak Rahman."
Pak Rahman mengernyitkan dahinya. Ia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Lea barusan. "Maksud Non Lea apa, ya? Kenapa Non Lea berkata seperti itu?"
Lea tersenyum sinis dengan tatapan menuju ke arah jalan yang sedang mereka lewati. "Ternyata tuan Abigail adalah orang yang sudah menabrak kami pada malam naas itu, Pak Rahman. Dia adalah orang yang sudah merenggut nyawa Harris. Dia menikahiku hanya karena kasihan melihat nasibku."
"A-apa?!" pekik Pak Rahman dengan mata membola. "Ta-tapi dari mana Non tahu soal itu? Siapa yang sudah mengatakannya?" Pak Rahman makin penasaran.
"Dia sendiri yang mengakuinya, Pak." Lea masih menatap kosong ke arah luar.
"Ya, Tuhan!" pekik Pak Rahman. "La-lalu bagaimana sekarang, Non?"
"Aku akan kembali membuka kasus itu, Pak. Aku ingin dia merasakan bagaimana dinginnya sel tahanan. Dia harus mempertanggung jawabkan semua yang sudah ia lakukan."
Pak Rahman menghembuskan napas berat. "Lalu bagaimana dengan bayi Anda, Non? Biar bagaimanapun bayi itu membutuhkan sosok ayahnya," ucap pria paruh baya itu.
"Aku akan selalu ada untuknya, Pak. Aku akan menjadi sosok ayah sekaligus ibu untuknya," jawab Lea mantap.
Sementara itu.
"Tuan Abigail?"
Nick memberanikan diri untuk masuk ke dalam kamar utama. Ia berjalan menghampiri Gail yang sedang duduk di tepian tempat tidur dengan posisi kepala tertunduk menghadap lantai.
__ADS_1
"Tuan Gail, Anda baik-baik saja?"
Terdengar hembusan suara napas berat. Gail mengangkat kepalanya dan tampak buliran bening itu tengah membasahi kedua pipinya. Seumur hidupnya, ini pertama kalinya bagi Nick melihat sosok lemah seorang Abigail Sebastian.
"Aku hancur, Nick. Aku benar-benar hancur," jawabnya.
"Sekarang apa yang akan Anda lakukan, Tuan Abigail?"
Gail mengusap wajahnya dengan kasar. "Aku akan membuka kasus itu kembali, Nick. Aku akan menyerahkan diriku ke polisi dan meminta mereka untuk memberikan hukuman seberat-beratnya untukku," ucapnya dengan lirih.
Nick hanya bisa menghembuskan napas berat. Ia menatap Gail dan ikut sedih atas semua kejadian yang terjadi kepada big bossnya itu.
Tepat di saat itu, Sean tiba di kediaman Abigail. Dengan langkah yang tergesa-gesa, Sean berjalan menuju kamar utama. Di mana Gail masih berada di dalam ruangan itu bersama Nick.
"Gail! Gail, apa kamu baik-baik saja?" Lelaki itu menerobos masuk lalu duduk di samping Gail yang masih bersedih.
"Kamu harus kuat, Gail! Buktikan pada Lea bahwa kamu benar-benar akan bertanggung jawab atas semua kejadian itu," ucap Sean.
Gail mengangkat kepalanya lalu menatap Nick yang masih berdiri tak jauh dari posisinya berada. "Ada satu hal yang membuat aku heran," ucapnya kemudian.
"Apa itu, Tuan?" Nick mengernyitkan dahinya.
"Siapa yang sudah membocorkan rahasia ini? Aku yakin, ada seseorang yang memberitahu Lea yang sebenarnya," sahut Gail.
Nick menggelengkan kepalanya perlahan. "Coba Anda ingat-ingat lagi, Tuan, siapa saja yang mengetahui rahasia ini," ucap Nick.
Gail tampak berpikir. "Yang jelas kamu, kepala pelayan, orang-orang yang terkait dengan kasus ini, dan ...." Gail menoleh ke arah Sean yang masih duduk di sampingnya. Lelaki itu terdiam dengan wajah memucat.
"Kamu kenapa, Sean?" Gail memicingkan mata ketika menatap sepupunya itu. "Jangan bilang kalau kamu yang sudah membocorkannya kepada Lea, ya!" lanjut Gail dengan wajah serius.
__ADS_1
"E-ehm, itu ...." Sean tampak ketakutan. "Sebenarnya aku tidak pernah memberitahu soal itu kepada Lea. Namun, aku pernah menceritakannya kepada Martha," lanjut Sean dengan bibir bergetar.
"Apa?!" Gail refleks bangkit dari posisinya. Ia berdiri di hadapan Sean dengan wajah yang memerah.
"Jadi kamu sudah menceritakan tentang kejadian itu kepada Martha?!" teriak Gail dengan kesal.
Sean mengangguk perlahan. "I-iya, Gail. Maafkan aku," jawabnya dengan lirih.
"Kurang ajar!" Gail meraih kerah kemeja Sean dengan kasar lalu menariknya hingga lelaki itu sejajar dengannya.
"Sekarang aku tahu dari mana Lea mengetahui rahasia itu!"
Bugkhhh!
Satu pukulan mendarat di wajah Sean dengan cukup keras hingga sudut bibir lelaki itu membiru dan mengeluarkan sedikit darah segar. Merasa belum cukup puas dengan pukulan itu, Gail kembali menghampiri dan melemparkan kepalan tangannya sekali lagi ke sisi lain wajah Sean.
Bugkhhh!
Lagi-lagi Sean terjengkang sambil memegangi pipinya yang membiru. Karena merasa bersalah, Sean pun membiarkan Gail menghukumnya.
"Lakukanlah, Gail. Pukul lah aku sepuas hatimu. Aku tidak akan pernah melawan karena aku tahu, aku salah," ucap Sean sambil meringis kesakitan.
Gail yang sudah tersulut emosi, kembali menghampiri Sean dan ingin memberikan pukulan untuk kesekian kalinya. Namun, Nick menghalaunya. Ia memegangi tubuh Gail lalu mengingatkan lelaki itu.
"Sudah cukup, Tuan. Ingatlah, cepat atau lambat, nona Lea pasti akan mengetahui hal ini. Dengan atau tanpa nona Martha beritahu pun, nona Lea pasti akan mengetahuinya suatu saat nanti," ucap Nick mengingatkan.
Gail yang tadinya tersulut emosi, kini terdiam sambil menelaah ucapan Nick barusan. Ia kembali menjatuhkan dirinya di tepian tempat tidurnya lalu menghembuskan napas berat.
"Kamu benar, Nick. Maafkan aku, Sean!"
__ADS_1
Sean yang masih terjengkang di lantai sambil memegangi wajahnya yang membiru, pun akhirnya tersenyum. "Kamu tidak perlu meminta maaf, Gail. Aku pun akan melakukan hal yang sama jika berada di posisimu," ucap Sean.
... ***...