
Sementara itu.
Tok ... tok ... tok!
"Tuan Gail."
Terdengar suara kepala pelayan yang memanggil nama Gail sembari mengetuk pintu kamar utama.
"Ya?" sahut Gail dari dalam kamarnya, sambil merapikan kemeja yang sedang ia kenakan.
"Di luar ada nyonya Helena dan ia ingin bertemu dengan Anda," ujar lelaki paruh baya itu.
Gail menghentikan aksinya dengan alis yang saling bertaut. "Tante Helena? Ehm, baiklah. Minta dia untuk menununggu di ruang utama."
"Baik, Tuan."
Baru saja lelaki paruh baya itu membalikkan badan dan berniat meninggalkan ruangan tersebut, tiba-tiba wanita yang bernama Helena itu pun datang dan menghampiri pintu kamar utama.
"Di mana dia?" tanyanya dengan wajah datar.
"Di dalam, Nyonya," sahut kepala pelayan sambil membungkuk hormat.
"Sekarang pergilah!" Wanita itu mengibas-ngibaskan tangannya ke hadapan kepala pelayan, meminta lelaki paruh baya itu agar segera pergi.
"Baik, Nyonya."
Setelah kepala pelayan itu pergi, Nyonya Helena segera masuk ke dalam kamar utama tanpa meminta izin dari si pemilik kamar. Kedatangan Nyonya Helena di dalam kamarnya, sempat membuat Gail terkejut.
"Tante?" Gail tersenyum kecut melihat Nyonya Helena masuk lalu berjalan menghampiri Gail yang masih berdiri di depan cermin.
"Gail, Tante ingin bicara denganmu," ucap wanita itu dengan wajah datar.
__ADS_1
"Ehm, baiklah." Gail mempersilakan adik dari mendiang ayahnya itu untuk duduk di sofa yang terletak di depan tempat tidur berukuran king size tersebut.
Setelah Nyonya Helena duduk di sana, Gail pun segera menjatuhkan dirinya di samping tantenya itu.
"Ada apa, Tante?" tanya Gail sambil menatap lekat wanita itu.
Nyonya Helena mendengus kemudian menegakkan kepalanya. "Batalkan pernikahan ini, Gail!" tegasnya dengan tatapan tajam membalas tatapan Gail.
Gail tertawa kecil sambil menautkan kedua alisnya. "Tante pasti bercanda, 'kan?"
"Aku tidak sedang bercanda, Gail! Sean sudah bercerita padaku bahwa pengantin wanitamu itu cacat! Apa kamu sudah gila, Gail? Apakah tidak ada lagi wanita di dunia ini hingga kamu memilih seorang wanita cacat untuk dinikahi?" ucap wanita itu dengan wajah kesal.
Gail mengusap wajahnya dengan kasar. Ia merasa kesal kepada Sean yang sudah menceritakan hal itu kepada Tante Helena. Ya, walaupun cepat atau lambat, seluruh keluarga besarnya akan tahu bahwa istrinya adalah seorang wanita cacat. Namun, setidaknya Gail masih bisa mengaturnya agar mereka mengetahui hal itu setelah pernikahan terjadi.
"Maafkan aku, Tante. Aku tidak bisa," sahut Gail yang kemudian membuang napas beratnya.
Gail sontak menatap tantenya itu dengan tatapan sinis. "Menggantinya? Memangnya Tante pikir dia itu apa? Sebuah benda tak bernyawa dan tak berperasaan? Lagi pula, dia itu cacat karena sebuah kecelakaan, Tante. Bukan karena cacat bawaan dari lahir," geram Gail dengan wajah memerah.
Wanita itu menggelengkan kepala sambil mendengus kesal. Ia tidak percaya bahwa keponakan tersayangnya sudah berani membantah ucapannya.
"Lihatlah, Gail! Kamu bahkan sudah berani membantah Tante hanya demi membela gadis cacat itu. Apa kamu tahu, seandainya mendiang mommy dan daddy-mu masih hidup, aku yakin mereka pun pasti akan melakukan hal yang sama denganku."
Gail tidak ingin menimpali. Namun, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia masih sangat-sangat kesal dengan ucapan yang dilontarkan oleh tantenya itu.
"Lihatlah dirimu, Gail! Kamu memiliki wajah yang tampan, bentuk tubuh yang sempurna, memiliki kekayaan yang melimpah ruah. Namun, sayangnya harus menikahi wanita cacat! Jika seandainya pilihanmu hanya seorang wanita miskin, mungkin aku masih bisa menerimanya. Tetapi ini? Hmm, benar-benar tidak masuk akal."
Gail meraih tangan Nyonya Helena kemudian menggenggamnya dengan erat. "Aku mohon, Tante. Untuk kali ini saja! Tolong, jangan ikut campur. Biarkan aku dengan keputusanku. Biarkan aku menikahi wanita pilihanku. Ya, walaupun aku tahu, dia bukanlah wanita impian kalian semua," ucap Gail dengan lirih.
"Gail—"
__ADS_1
"Sudah cukup, Tante. Aku tidak ingin mengganti calon pengantin wanitaku. Lebih baik Tante fokus pada kehidupan Sean saja. Carilah menantu idaman yang sesuai dengan kriteria menantu ideal Tante," sela Gail yang berhasil membuat Nyonya Helena tak berkutik.
"Hhh, terserah kamu sajalah! Tapi ingat, Gail! Jangan pernah mengadu padaku jika suatu saat nanti kamu menyesali pilihanmu ini," geram Nyonya Helena dengan wajah menekuk menatap Gail.
Gail tersenyum kemudian melepaskan genggaman tangannya. "Aku tidak akan pernah menyesalinya, Tante. Percayalah," sahut Gail dengan mantap.
Gail bangkit dari posisinya kemudian mengambil jas yang sejak tadi tergeletak di atas kasur empuknya.
"Maafkan aku, Tante. Aku harus pergi. Aku sudah terlambat. Aku yakin calon pengantin wanitaku sudah menunggu sejak tadi," ucapnya sembari memasang jas tersebut ke tubuh kekarnya.
Nyonya Helena mendengus kesal. Ia bangkit dari posisi duduknya lalu berjalan menuju pintu.
"Aku menunggu saat-saat di mana kamu datang padaku dan mengatakan bahwa kamu menyesal karena sudah memilih wanita cacat itu, Gail!" ucap Nyonya Helena sebelum ia meraih gagang pintu dan membuka pintu kamar tersebut.
Gail hanya bisa tersenyum tanpa ingin membalas ucapan dari tantenya itu. Wanita yang merupakan ibu kandung dari Sean–sepupunya. Setelah Nyonya Helena keluar dari ruangan itu, Gail pun segera menyusul dan berjalan dengan cepat menuju halaman depan.
Sebelum ia menginjakkan kakinya di halaman depan rumah, Gail sempat melihat Sean yang sedang asik bersantai di sebuah kursi santai sambil memainkan ponselnya. Gail yang merasa sedikit kesal kepada sepupunya itu, segera menghampiri.
"Heh, sialan kamu!" Gail menepuk pundak Sean dengan cukup keras hingga ponsel yang dipegang oleh Sean hampir saja terjatuh ke tanah.
Sean tersentak kaget lalu menatap Gail dengan lekat. "Ada apa, Gail?" tanyanya heran.
"Tadi mommy-mu datang padaku dan membahas soal Lea. Mommy-mu ingin aku membatalkan pernikahan ini, Sean! Ini semua karena kamu, dasar menyebalkan," gerutu Gail sambil menekuk wajahnya.
Bukannya merasa bersalah, Sean malah tertawa mendengar celetukan Abigail. "Aku hanya bilang bahwa calon pengantin wanitamu memakai kaki palsu. Itu saja! Aku bahkan tidak menceritakan apa pun soal rahasiamu itu," sahut Sean.
"Awas saja kalau kamu berani menceritakan hal itu, Sean! Aku pastikan kamu tidak akan bernapas lagi," kesal Gail lalu kembali melangkahkan kakinya, meninggalkan Sean yang masih duduk di tempat itu.
"Ok, kamu tenang saja, Gail! Rahasiamu akan selalu aman padaku," sahut Sean dengan setengah berteriak karena Gail sudah berada cukup jauh darinya.
__ADS_1
Gail mengacungkan jari tangannya kepada Sean sambil memasang wajah kesal. Ia lalu masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan kediaman mewahnya.
... ***...