
Lea berdiri di dalam kamarnya sambil menatap dinding dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Tatapannya nanar dan sepertinya ia tengah berpikir keras. Bi Enah yang tidak sengaja melihat hal itu, segera datang menghampiri.
"Non Lea kenapa?" tanya Bi Enah yang kebingungan. Ia turut menatap apa yang dilihat oleh Lea di dinding itu. Ternyata foto Lea dan Harris yang tengah berlibur di luar kota pada tahun lalu.
"Sampai sekarang orang yang sudah merenggut nyawa Harris masih berkeliaran dengan bahagia di luaran sana. Para pihak berwajib seperti sengaja menutup-nutupi kasus ini. Entah apa sebabnya, aku pun masih penasaran. Bahkan Pak Andi yang dulunya begitu mendukungku, sekarang malah berpindah haluan dan dengan seenak jidat meminta aku untuk melupakan kasus itu," tutur Lea dengan wajah geram.
Bi Enah mengelus lembut punggung Lea. "Sabar, Non. Yakinlah, Tuhan itu tidak tidur. Suatu hari nanti, kasus ini pasti akan menemukan titik terang dan orang yang sudah merenggut nyawa Den Harris akan segera mendapatkan hukuman yang setimpal."
"Ya, Bi. Aku harap begitu. Aku harap suatu saat nanti ia membusuk di penjara. Kalau perlu hukum mati saja," geram Lea.
Lea meraih tasnya lalu bersiap berangkat. "Aku berangkat kerja dulu, ya, Bi."
"Loh, sekarang? Non tidak sarapan dulu?" tanya Bi Enah lagi.
"Aku tiba-tiba menjadi kenyang setelah ingat kasus itu. Tapi Bibi tidak usah khawatir, aku bisa sarapan di tempat kerja," jawab Lea.
Bi Enah menghembuskan napas berat. "Baiklah kalau begitu. Tapi jangan lupa sarapan ya, Non. Nanti Non sakit," tutur Bi Enah.
"Sipp!" Lea tersenyum lalu melanjutkan langkahnya menuju halaman depan. Di mana Pak Rahman sudah menunggu dirinya.
"Berangkat sekarang, Non?" tanya Pak Rahman karena tidak biasanya Lea berangkat sepagi ini.
"Ya, Pak." Lea masuk ke dalam mobilnya lalu memerintahkan lelaki paruh baya itu agar segera berangkat.
Di perjalanan.
"Pak, kita ke kantor polisi dulu, ya!" ucap Lea sembari menepuk-nepuk jok mobil depan yang diduduki oleh Pak Rahman.
__ADS_1
"Kantor polisi?" Pak Rahman kaget sekaligus bingung. "Mau apa pagi-pagi begini ke kantor polisi, Non?"
"Ada yang ingin aku urus sebentar," jawabnya.
"Oh, baiklah." Tanpa ingin bertanya-tanya lagi, Pak Rahman pun segera mengikuti keinginan majikannya tersebut.
Beberapa menit kemudian, mobil yang dikemudian oleh Pak Rahman pun tiba di depan kantor polisi. Setelah memarkirkan mobilnya, Lea bergegas keluar dan meninggalkan Pak Rahman yang memilih menunggunya di tempat parkir.
Lea memasuki tempat tersebut lalu menghampiri polisi yang tengah bertugas di saat itu.
"Ada yang bisa saya bantu, Nona?"
"Aku ingin melaporkan kasus tabrak lari yang terjadi padaku dan mending adikku beberapa waktu yang lalu," ucap Lea dengan wajah dingin menatap polisi itu.
"Baiklah, sekarang ceritakan kepada kami tentang kejadian yang sebenarnya." Lelaki berseragam rapi dengan tubuh kekar itu bersiap memasang telinganya untuk mendengarkan laporan Lea.
Lea menjelaskan soal kejadian kecelakaan itu dengan sedetail-detailnya. Waktu, tempat dan bagaimana terjadinya kecelakaan tersebut. Polisi yang tadinya tampak begitu serius mendengarkan laporan dari Lea, tiba-tiba mengerutkan kedua alisnya heran.
"Ya! Dan aku ingin membukanya kembali!" tegas Lea.
"Maaf, Nona Lea. Kasus Anda ini sudah pernah ditutup dan dihentikan penyelidikannya karena tidak cukup bukti. Apakah kuasa hukum Anda sudah memberitahu Anda soal itu?" tanya pria bertubuh kekar itu.
"Ya, aku tahu. Tapi aku tidak bisa menerimanya! Buktinya ada! Ada CCTV di tempat kejadian, ada seseorang juga yang sempat melihat kejadian itu dan berusaha menolong kami, Pak! Apakah bukti itu tidak cukup?!" ucap Lea dengan mata berkaca-kaca.
"Ya, itu memang benar. Memang ada CCTV di tempat itu, tetapi alat itu sama sekali tidak berfungsi di saat kecelakaan itu terjadi. Dan saksi yang Anda sebutkan di sini, Anda bahkan tidak bisa menghadirkan saksi itu," jawab pria berseragam itu tak mau kalah.
Lea tak bisa menahan rasa kesalnya. Ia menangis di sana dan mulai mengeluarkan rasa kekesalannya itu. "Aku tidak percaya bahwa CCTV di tempat itu rusak! Aku yakin sekali alat itu berfungsi dengan baik! Aku yakin kalian sengaja menutup-nutupi kasus ini dariku, benar 'kan!"
__ADS_1
"Sudah cukup, Nona Lea! Sekarang pergilah. Jangan buang-buang waktu Anda yang sangat berharga," ucap pria berseragam itu.
"Tidak! Aku tidak akan pernah berhenti sampai aku mendapatkan keadilan untuk nyawa adikku yang melayang sia-sia!" geram Lea.
Karena Lea dianggap hanya membuat keributan di tempat itu, ia pun diusir dengan kasar. Lea tidak peduli, ia terus berteriak dan meminta keadilan untuk nyawa adiknya, akan tetapi para lelaki bertubuh kekar itu tetap tidak ingin mendengarkan kata-katanya.
Lea akhirnya menyerah. Ia terisak lalu melangkah dengan gontai keluar dari tempat itu. Bukannya segera pergi, ia malah duduk di sebuah kursi panjang yang ada di halaman kantor polisi tersebut sambil menangis lirih.
Sebuah mobil mewah melewati tempat itu dan tiba-tiba mobil itu berhenti. Keluarlah sesosok lelaki tampan bersetelan jas hitam. Lelaki itu berjalan menghampiri Lea yang masih menangis dengan kepala tertunduk menatap tanah.
"Lea, apa yang kamu lakukan di sini?"
Suara bariton itu berhasil mengejutkan Lea. Lea sangat mengenali siapa pemilik suara itu. Ia mengangkat kepala menatap lelaki itu sembari menyeka air matanya.
"Tuan Gail, Anda?"
Ya, lelaki itu adalah Abigail, yang tidak sengaja melewati jalan itu lalu melihat sosok Lea yang sedang menangis sedih. Keberadaan wanita cantik itu membuat Gail tidak bisa melewatkannya begitu saja. Padahal saat itu ia ada jadwal meeting dan harus tiba tepat waktu.
"Apa yang kamu lakukan di sini? Dan kenapa kamu menangis?" tanya Gail lagi setelah melihat mata Lea yang terlihat membengkak akibat menangis. Ia lalu menjatuhkan dirinya di samping Lea dan ikut duduk di sana.
"Saya tidak apa-apa. Saya hanya kelilipan tadi, tapi sekarang sudah baikkan, kok." Lea tersenyum kecut lalu melemparkan pandangannya ke arah lain karena pria tampan itu terus menatapnya tanpa berkedip sedikit pun.
"Kelilipan?" Abigail tersenyum tipis. "Memangnya kamu pikir aku ini anak kecil yang bisa kamu bohongi dengan alasan seperti itu? Sekarang katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi padamu," lanjutnya.
Lea melirik lelaki itu lalu menatapnya dengan tatapan dingin. "Saya baik-baik saja," jawabnya.
"Benarkah? Tapi aku rasa kamu sedang tidak baik-baik saja, Nona Lea. Lihat mata sembabmu itu, apakah kamu tidak ingin berbagi cerita denganku?"
__ADS_1
Lea menghembuskan napas berat. "Ya, saya memang tidak sedang baik-baik saja."
***