
"Gaun ini milikku? Apa kamu tidak salah? Uang sebanyak itu hanya untuk mendapatkan sebuah gaun yang seperti ini?!" pekik Martha sambil mengacak gaun itu dengan kasar.
"Eh, jangan salah, Martha! Kamu tidak tahu saja, bahan yang digunakan untuk membuat gaun pengantin ini adalah bahan terbaik dan termahal. Terbuat dari sutera asli. Coba sentuh gaun ini, lembut sekali dan pastinya sangat nyaman ketika digunakan," sela Rina dengan mantap.
"Benar 'kan, Julie?" Rina melirik lelaki bertulang lunak itu sambil mengedipkan matanya.
Lelaki itu pun mengangguk pelan sambil tersenyum. "Ya, itu benar, Nona Martha."
"Memangnya aku sebodoh itu, ya! Apa kalian pikir aku tidak bisa membedakan yang mana satin dan yang mana sutera asli!" geram Martha dengan wajah memerah.
"Ish, jangan bicara seperti itu. Coba kenakan gaun ini ke tubuh indahmu terlebih dahulu, setelah itu baru kamu berkomentar," bujuk Rina lagi.
Julie, lelaki gemulai itu segera meraih gaun pengantin tersebut kemudian diserahkannya kepada Martha sambil tersenyum hangat.
"Ini, Nona. Silakan dicoba dulu," ucapnya.
Martha mendengus kesal. Ia meraih gaun tersebut dengan kasar lalu membawanya ke ruang ganti. Sementara Martha tengah mencoba gaun itu, Rina dan Julie kembali bercakap-cakap.
"Gimana ini, Rin? Ternyata temanmu itu tidak sebodoh yang kita pikirkan," ucap Julie dengan wajah cemas.
"Ah, kamu tenang saja. Martha tidak akan berani macam-macam, kok!" jawab Rina dengan begitu yakin.
Tidak berselang lama, Martha pun keluar dari ruangan itu. Ia berjalan menghampiri Rina dan Julie dengan wajah yang terlihat menekuk sempurna.
"Sebenarnya kamu ini designer atau apa, sih? Coba lihat punggungku! Resletingnya bahkan tidak bisa ditutup. Gaun ini kekecilan untukku!" geramnya.
"Rina, lihatlah! Bukankah kamu bilang padaku bahwa dia adalah seorang designer terkenal yang pandai membuat sebuah gaun dengan hanya melihat foto costumernya saja? Sekarang apa ini? Kenapa gaun ini kekecilan untukku?" kesal Martha sembari memperlihatkan punggung mulusnya. Di mana resletingnya masih menganga.
__ADS_1
"Mungkin ini hanya sedikit kesalahan dan kamu tenang saja, masih bisa diperbaiki, kok. Benar 'kan, Julie. Ingat, Martha. Manusia itu tidak ada yang sempurna. Begitu pula dengan Julie, jadi ... harap dimaklumi, ya!" tutur Rina sambil mencoba membujuk Martha.
"Halah, alasan kalian saja! Trus, bagaimana dengan berlian serta mutiara asli yang kamu bilang kemarin, Rina? Tak ada berlian atau pun mutiara asli yang aku lihat di sini! Yang ada hanya mutiara imitasi, yang harganya murahan. Lihatlah, Hanya disentuh sedikit saja, kulitnya sudah mengelupas," geram Martha.
"Ehm, Martha ...."
"Sudah! Aku tidak ingin mendengar apa pun lagi! Aku tidak mau tahu. Pokoknya aku ingin uang yang sudah aku transfer kepadamu, dikembalikan secepatnya dengan jumlah yang sama pula. Ingat itu!"
Martha bergegas masuk ke dalam ruang ganti untuk melepaskan gaun pengantin murahan itu dari tubuhnya. Setelah berhasil melepaskannya, Martha kembali menyerahkan gaun itu ke tangan Julie, si lelaki bertulang lunak.
"Aku tunggu transferan darimu."
Setelah mengucapkan hal itu, Martha pun segera pergi dan kembali melanjutkan perjalanannya.
"Ah, tidak mungkin! Aku kenal Martha dan aku yakin dia tidak akan pernah melakukannya," jawab Rina.
"Ish, kamu, sih! Pake acara ketemuan segala. Seharusnya 'kan biarin saja kita main kucing-kucingan sama seperti sebelumnya. Lalu, bagaimana dengan uang yang ia minta kembali?" celetuk Julie.
"Tidak mungkin kita bisa mengembalikannya. Toh, uangnya saja sudah habis."
Sementara itu.
"Bagaimana ini? Hari pernikahanku sudah dekat, sementara gaun pengantin saja aku masih belum punya. Apa aku harus meminta designer yang kemarin untuk melanjutkan pekerjaannya?" Martha tampak berpikir keras hingga beberapa saat kemudian.
"Jika itu bisa dilakukan, kenapa tidak? Lagi pula, dia pasti tidak akan menolak permintaanku," gumamnya sambil tersenyum miring.
__ADS_1
Martha meraih ponselnya lalu kembali menghubungi Lea. Lea yang tengah sibuk bekerja, tiba-tiba dikejutkan dengan panggilan dari Martha. Ia menatap layar benda pipih itu lalu memutarkan bola matanya. Sebenarnya ia malas berbicara dengan wanita itu. Namun, ia tetap ingin bersikap profesional dan segera menerima panggilan itu.
"Ya, selamat siang, Nona Martha. Ada yang bisa saya bantu?"
"Ehm, aku ingin kamu meneruskan pengerjaan gaun pengantin yang aku order kemarin. Masih dengan model yang sama seperti yang sudah kita diskusikan sebelumnya. Bagaimana? Soal uang ganti rugi yang sudah aku transfer, kamu tidak usah menggantinya. Anggap saja itu sebagai hadiah dan ucapan terima kasihku kepadamu," ucap Martha.
Lea terkekeh sambil memijat pelipisnya. Ia tidak mengerti kenapa Martha bersikap seperti itu. Seolah-olah mempermainkan pekerjaannya. Ia menghembuskan napas berat kemudian membalas penuturan dari wanita itu.
"Maafkan saya, Nona Martha. Sepertinya saya tidak bisa melakukannya. Lebih baik Nona cari saja designer lain yang bisa merancang gaun pengantin untuk Anda. Yang pasti hasilnya jauh lebih mewah dan lebih bagus dari pada gaun pengantin rancangan designer abal-abal seperti saya," sahut Lea.
"Apa?!" pekik Martha yang tidak percaya bahwa Lea akan menolak permintaannya.
"Kamu menolak permintaanku? Heh, kamu tau. tidak? Hari pernikahanku sudah sangat dekat dan tidak akan ada designer yang bersedia melakukan itu. Sementara kamu, kamu hanya meneruskan pekerjaanmu saja dan aku bersedia membayarmu tiga kali lipat!" ucap Martha dengan geram.
Lea kembali terkekeh. "Walaupun Anda membayar saya sepuluh kali lipat, saya tetap tidak akan menerima permintaan Anda tersebut, Nona Martha. Jujur, saya sangat tersinggung dengan keputusan Anda beberapa waktu yang lalu. Yang seolah-olah menyepelekan pekerjaan seorang designer kampungan dan tidak terkenal seperti saya."
"Kamu!" Martha benar-benar kesal. Wajahnya bahkan sampai memerah.
"Sepertinya sudah tidak ada lagi yang ingin Anda bicarakan dan saya pun ingin melanjutkan pekerjaan saya. Selamat siang, Nona."
"Hei, kamu! Sebentar! Dengarkan aku, hei!" teriak Martha dengan kesal.
Namun, Lea segera memutuskan panggilan itu dan kembali melanjutkan pekerjaannya sama seperti sebelumnya. Sementara Martha berteriak kesal di dalam mobilnya hingga membuat sang sopir pribadinya kebingungan.
"Aakhh, sial! Kenapa hari ini aku sial sekali? Pertama, Gail yang marah-marah tidak jelas kepadaku. Ke-dua, Rina dan si lelaki belok itu sudah berhasil menipu dan mengambil uangku. Dan yang ke-tiga, si wanita sombong itu! Belum menjadi terkenal saja, sombongnya sudah seperti itu. Lalu, bagaimana jika suatu saat nanti dia tiba-tiba menjadi terkenal?" gerutu Martha sambil mendengus kesal.
__ADS_1
"Sekarang bagaimana? Apa aku harus menghubungi Gail dan menceritakan masalah ini kepadanya? Ah, bisa-bisa dia semakin marah sama aku," gumamnya dengan cemas.
...***...