
"Lea, sebenarnya aku ... aku ingin mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya kepadamu, Lea. Jujur, aku sangat menyukaimu. Aku menyukai semua yang ada padamu. Semakin aku mengenalmu, semakin aku menyukaimu. Sekarang aku ingin bertanya, maukah kamu menjadi kekasihku, Lea?" tutur Gail sambil tersenyum kecut menatap Lea.
Lea tertawa pelan setelah mendengar pengakuan lelaki itu. "Ya ampun, Gail. Humormu benar-benar garing. Serius!"
Gail hanya diam seribu bahasa. Ia menatap lekat Lea yang masih tertawa dengan begitu serius. Hingga akhirnya Lea menyadari bahwa Gail tidaklah bercanda soal pengakuannya itu.
Ekspresi raut wajah Lea pun berubah. Tawanya tiba-tiba sirna, tak berbekas. Ia menautkan kedua alisnya kemudian berkata,
"Ka-kamu hanya bercanda 'kan, Gail?" tanya Lea dengan terbata-bata.
"Tidak. Aku serius, Lea," jawab Gail dengan mantap.
"Ta-tapi, bagaimana bisa? Sementara kita baru saja kenal, Gail. Kamu bahkan tidak tahu siapa aku yang sebenarnya," jelas Lea, yang masih syok dengan pengakuan lelaki itu.
"Dan satu lagi! Aku ini cacat, Gail! Lalu apa yang kamu lihat dariku?" lanjut Lea.
"Aku tahu siapa kamu, Lea. Dan aku sama sekali tidak peduli dengan fisikmu. Aku juga tidak peduli dengan pendapat orang lain tentang dirimu karena bagiku, kamu adalah wanita yang sempurna," sahut Gail.
Lea terdiam dengan mata berkaca-kaca. Kata-kata yang keluar dari bibir Gail barusan, berhasil membuat hati kecilnya tersentuh.
"Aku menunggu jawabanmu, Lea."
"Apakah aku harus menjawabnya sekarang?" Lea tampak ragu-ragu.
"Ya, harus sekarang," jawab Gail dengan tegas.
"Gail, coba pikirkan sekali lagi. Kamu adalah lelaki yang sempurna. Tampan dan mapan. Aku yakin wanita manapun pasti akan luluh padamu. Sekarang lihatlah aku! Aku hanya gadis biasa dan yang lebih menyedihkan, aku adalah seorang wanita yang cacat. Apa kamu tidak malu jalan denganku yang tidak sempurna ini?"
Gail memutarkan bola matanya. Ia tidak suka mendengar penuturan Lea barusan. "Sudahlah, Lea! Berhentilah menyebut dirimu sebagai wanita cacat. Bagiku kamu adalah wanita yang sempurna dan tidak ada yang bisa mengubah pendapatku itu. Sekarang katakan padaku, apakah kamu bersedia menjadi kekasihku?" ucap Gail dengan begitu serius.
Lea tampak berpikir dengan keras. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Pernyataan yang dilontarkan oleh Gail barusan, terasa begitu cepat bagi Lea. Ia bahkan tidak tahu bagaimana sikap Gail yang sebenarnya.
Lea menghela napas berat. "Ehm, Gail. Maafkan aku, aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu hari ini. Aku butuh waktu untuk memikirkannya, Gail."
Gail menghela napas berat. "Berapa lama?"
__ADS_1
Lea menelan salivanya dengan susah payah. Ia masih belum bisa menentukan berapa lama ia meminta waktu kepada lelaki itu.
"Dua hari?" tanya Gail lagi, karena Lea masih diam sambil menatapnya.
"Satu hari?" Lagi-lagi Gail memberikan pilihan yang membuat Lea semakin kebingungan.
"Besok pa—?"
"Ah, ya! Dua hari," sela Lea.
"Hhh, pilihan yang sangat sulit." Lea membatin.
Gail tersenyum. "Baiklah, akan tunggu jawabanmu dalam waktu dua hari, Lea. Aku berharap kamu bersedia menerima cintaku dan menjadi kekasihku."
Huft! Lea membuang napas berat. Ia hanya bisa tersenyum kecut tanpa ingin menimpali ucapan Gail barusan.
Beberapa menit kemudian.
Di sepanjang perjalanan Lea hanya diam. Sementara Gail terus mengajaknya bicara agar suasana tidak semakin canggung. Tidak berselang lama, mereka pun tiba di depan kediaman Lea. Gail membantu gadis itu turun dari mobilnya dan kini mereka berdiri di depan pagar.
"Lea, aku benar-benar serius kepadamu. Aku ingin sekali menjadi kekasihmu. Bahkan lebih dari itu, aku ingin menjadi pasangan hidupmu, Lea. Aku ingin kamu menjadi ibu dari anak-anakku kelak," ucap Gail dengan lirih.
Lagi-lagi Lea terdiam dibuatnya. Ia benar-benar tidak percaya bahwa lelaki itu begitu serius ingin menjadikan dirinya sebagai pasangan hidup.
"Pikirkanlah dengan baik. Aku sayang padamu, Azalea,"ucap Gail lagi.
Gail meraih tangan Lea kemudian mencium puncak tangannya sambil terus menatap wanita itu dengan lekat.
"Aku harus segera masuk, Gail. Di sini sangat dingin," ucap Lea yang ingin menyudahi kebersamaan mereka.
Gail tersenyum kemudian mengangguk. "Baiklah. Selamat malam, Lea. Mimpi indah! Dan jangan lupa sertakan aku di dalam mimpi indahmu," ucap Gail.
Setelah Gail melepaskan tangannya, Lea pun segera masuk ke dalam rumah. Namun, bukannya menuju kamar, Lea malah berhenti di balik kaca rumah lalu mengintip ke arah luar, di mana Abigail masih berdiri di sana sambil menatap kediamannya.
__ADS_1
"Ya Tuhan, entah kenapa aku ragu menerima lelaki itu. Tapi, aku rasa dia adalah lelaki yang baik. Tidak mungkin dia memiliki niat terselubung di balik kata-kata manisnya, 'kan? Memangnya siapa aku, hingga ia ingin menipuku?" gumam Lea.
Beberapa menit kemudian, Gail pun melanjutkan perjalanannya. Lea menghela napas lega sembari mengelus dadanya setelah Gail pergi. Entah kenapa keberadaan lelaki itu membuat kondisi jantungnya tidak aman. Selalu berdebar-debar tidak karuan.
"Non Lea ngapain di sana?"
Terdengar suara Bi Enah di balik punggungnya dan berhasil membuat Lea tersentak kaget. Lea berbalik lalu menatap wanita paruh baya itu sambil tersenyum kecut.
"Ya ampun, Bibi! Aku kaget," seru Lea.
Bi Enah tertawa pelan. "Memangnya apa yang Non intip di sana?"
"Ehm, itu tadi ...." Lea mengelus tengkuknya kemudian tersenyum. "Gail, tapi dia sudah pergi," lanjutnya.
"Oh, Tuan Gail. Bagaimana makan malamnya, Non? Pasti menyenangkan," celetuk Bi Enah.
Lea terdiam sejenak. Tiba-tiba ia teringat akan penuturan Gail barusan. Ia menghampiri Bi Enah kemudian mengajak wanita paruh baya itu untuk duduk di sofa bersamanya.
"Kemarilah, Bi. Ada yang ingin aku bicarakan."
"Ada apa, Non?" tanya Bi Enah dengan wajah bingung menatap Lea.
"Tadi Gail menyatakan perasaanya kepadaku. Dia bilang ingin menjadi kekasihku, Bi. Menurut Bibi, apa yang harus aku lakukan? Terima atau menolaknya?" Lea meminta saran.
"Wah, serius, Non? Selamat, ya!" Bi Enah begitu bahagia mendengar penuturan Lea.
"Kalau menurut Bibi, sebaiknya terima saja, Non. Bibi rasa, tuan Gail itu baik dan tulus mencintai Non Lea," jawab Bi Enah.
"Masa sih, Bi? Tapi kami baru kenal, loh. Bagaimana bisa dia jatuh cinta padaku secepat itu?" celetuk Lea.
"Ih, bisa dong, Non. Kenapa tidak? Itu namanya cinta pada pandangan pertama. Sama seperti Bibi saat jatuh cinta sama bapak. Jatuh cinta pada pandangan pertama," sahut Bi Enah sambil tersipu malu.
Lea pun ikut tersenyum. "Ciee, Bibi. Baiklah, akan kupikirkan lagi. Lagi pula aku masih punya waktu dua hari untuk memikirkannya."
__ADS_1
"Siap, Non. Tapi, jangan sia-siakan kesempatan ini, Non. Karena kesempatan jarang datang dua kali," celetuk wanita paruh baya itu lagi.
... ***...